Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 45


__ADS_3

Chapter 45


“Maaaaaaaas . . .”. Shahilla berteriak histeris memanggil Restu yang masih di dalam kamar mandi.


Restu pun terburu – buru keluar dengan mengenakan handuk nya.


“Ada apa sayang?, kamu kenapa teriak – teriak?”.


Shahilla menyodor kan ponsel nya, ia menunjuk kan berita online di ponsel nya. Mata Restu terbelalak setelah dia membaca artikel tersebut. Artikel gossip yang menambah api di berita sebelum nya. Artikel tersebut menyata kan bahwa Restu telah kembali pada sang mantan calon istri nya alias Aina dan mengakibat retak nya rumah tangga Aina bersama suami nya. Bahkan artikel itu juga mengaet – ngaet kan tentang gossip kedekatan Haikal dan Shahilla.


“Astaghfirullah, coba’an apa lagi ini ya ALLAH”. Restu mengusap kepala nya sembari mendongak kan kepala nya ke langit – langit.


Shahilla sudah menitih kan air mata nya, ia mendekati Restu lalu memeluk nya.


“Mas”. Shahilla menangis tersedu – sedu.


“Kita yang kuat ya sayang, ALLAH bersama kita, kita harus sabar menghadapi fitnah – fitnah ini. Kita pasti bisa melewati nya”. Restu mengusap punggung Shahilla untuk menguat kan Shahilla.


Tak lama ponsel Restu berdering, ia pun segera mengangkat telpon tersebut.


“Hallo Assalamualaikum”. Dengan lembut Restu menjawab telpon dari Aan.


#Aan/ “Waalaikumussalam, Tu gawat Tu, gawat”. Terdengar dengan jelas kepanikan Aan.


#Restu/ “Gawat kenapa An?, soal berita pagi ini?”.


#Aan/ “Iya Tu, gara – gara berita pagi ini, semua PH ngebatalin kontrak kerja sama kita, bahkan sinetron yang sudah mau tamat ini pun juga, mereka mengeluar kan kamu dari film itu dan mencari pengganti nya dan para sponsor juga tadi datang ke lokasi, mereka ingin menuntut kita untuk mengembali kan uang mereka 50%. Nanti siang, In Sya ALLAH aku akan nemui kamu di apartenen. Oh ya kamu jangan kemana – mana dulu, banyak wartawan, aku minta jendela apartemen kamu tutup, karena mereka sudah mengguna kan kamera drown di sekitar apartemen kalian dan pihak keamanan belum bisa mengatasi mereka”.


Lutut Restu terasa lemas, wajah Restu berubah menjadi pucat pasih, tubuh nya seperti mengambang mendengar kabar buruk dari Aan. Tanpa sadar Restu menjatuh kan ponsel nya ke lantai (untung ponsel mahal jadi kalau kebanting di lantai tuh ponsel sehat – sehat saja he he he), sentak Shahilla terkejut.


“Mas . . . Mas kenapa?, Mas? Siapa yang menelpon barusan? Mas?”. Shahilla menggoncang pelan tubuh Restu yang sudah lemas. Restu tak mampu berkata lagi. Ia langsung menyambar tubuh Shahilla hingga mereka terduduk di lantai. Kini Restu tak mampu membendung air mata nya, mereka pecah di dalam pelukan Shahilla.


“Mas, tolong bicara ada apa mas? Mas?”. Dengan lirih dan penuh air mata Shahilla mengulangi pertanyaan nya, sedang kan Restu hanya menangis tersedu – sedu tanpa kata.


.


.


Tak jauh berbeda dengan Aina. Ia hampir frustasi memikirkan Reynan kini bersama Fatih.


“Joe . . . Aku harus temui mas Fatih, Aku enggak bisa diam saja di sini tanpa tindakan”.


“Kamu tenang sayang”. Joe mengusap lengan Aina.


Aina/ “Bagaimana aku bisa tenang kalau anak aku sama dia, bisa – bisa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Reynan kalau aku enggak bertindak cepat”.


Joe/ “Ya enggak mungkin lah sayang, mau sebejat apa pun manusia, dia tidak akan mencelakai anak nya sendiri, darah daging nya sendiri”.


“Kamu enggak tahu siapa dia”. Aina pergi meninggal kan Joe.


“Sayang, kamu mau kemana?”. Joe mengejar Aina dan meraih tangan nya.


“Aku mau anak aku kembali, jadi aku harus temui Fatih sekarang juga ke Yogya”. Gigi Aina merapat karena geram.


“Oke . . . oke . . . Aku ikut sama kamu, kita temui Fatih sama – sama. Aku enggak mau kamu sendirian ke sana, aku juga enggak mau kalau terjadi sesuatu sama kamu dan Reynan, jadi aku ikut sama kamu untuk temui Fatih ke Yogya”. Joe melembut kan hati Aina. Ia memegang wajah Aina dengan lembut.


Perlahan Aina mengangguk kan kepala nya menyetujui Joe.


.


.


Aina dan Joe berangkat ke Yogya dengan penerbangan siang ini. Setiba nya di kota Yogya, mereka langsung menuju ke rumah Aina bersama Fatih.


Joe/ “Kamu yakin, Fatih ngebawa Reynan pulang ke rumah kalian?, Bisa jadi Fatih membawa Reynan ke tempat lain agar kamu tidak mudah menemukan Reynan”.


“Aku yakin Joe”. Aina langsung masuk ke dalam rumah nya yang tidak terkunci.


“Reynan . . . . Rey . . . Mama pulang nak . . .”. Aina menerobos pintu masuk sembari memanggil nama Reynan. Aina mencari keseluruh ruangan, namun Reynan tak juga di temukan.


“Rey . . . . .”. Sentak Aina terkejut melihat kamar nya. Aina memergoki Fatih sedang bersama wanita lain di ranjang mereka. Joe yang juga terkejut melihat mereka ternyata ia bergerak cepat untuk diam – diam merekam yang terjadi untuk sebagai bukti di persidangan nanti.


Fatih terperanjat dari tempat tidur, ia buru – buru memakai pakaian nya dan menghampiri Aina.


“Ini enggak seperti yang kamu lihat sayang, ini salah faham. Wanita itu sudah ngejebak mas sayang”. Pembelaan nya, sedang kan sang wanita idaman lain merasa geram dengan apa yang di ucap kan Fatih. Wanita itu pun menutupi tubuh nya dengan selimut lalu menghampiri Fatih.

__ADS_1


#Ketepaaaaaaaaak . . . .


"Dasar laki - laki baji***n


Wanita itu menampar pipi Fatih dengan keras, lalu memungut pakaian nya yang berada di lantai dan keluar dari kamar.


“Sayang, mas di jebak sama wanita ja**ng itu, dia hanya butuh uang mas saja”. Fatih masih membela diri nya.


#Plaaaaaaak . . .


Sekali lagi pipi Fatih menerima tamparan, kali ini Aina yang menampar pipi nya.


“Cukup . . .! Aku ke sini bukan untuk mendengar omong kosong kamu, aku ke sini mau mengambil anak ku kembali dari kamu. Dimana Reynan?, Dimana kamu sembunyi kan anak aku?”.


Fatih/ “Reynan enggak ada di sini, Reynan enggak ada sama mas, bukan nya Reynan ada di rumah bunda?, kan kamu sendiri yang menitip kan nya”.


“Kamu jangan bohong sama aku, bunda bilang Reynan ada sama kamu, kasi tahu aku dimana Reynan . . . . . .”. Aina histeris menjerit yang di iringi dengan air mata nya.


Fatih/ “Sumpah demi ALLAH, Reynan enggak ada di sini. Memang mas pernah mengunjungi nya beberapa hari yang lalu ke tempat bunda tapi mas tidak ada niat untuk membawa nya ikut bersama mas. Kalau kamu enggak percaya kamu boleh menuntut mas ke pengadilan”.


“AaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAaAaaaaaaaah hu hu hu . . . Reynan . . . kamu dimana naaaaaaaaaaak”. Aina menangis tak karuan hingga terduduk di lantai. Fatih mencoba meraih tangan Aina namun di tepis oleh Aina. Ia merasa jijik pada Fatih.


“Jangan coba – coba sentuh aku lagi”. Meski kaki nya sudah lemas dia mencoba untuk berdiri, dengan sigap Joe memegang tangan Aina untuk membantu nya berdiri.


“Dan lagi, tunggu kedatangan surat cerai kita yang akan di kirim kan oleh pengadilan”.


Aina mengajak Joe untuk pergi.


Fatih mengusap wajah nya.


“Aaaaaaarrrrrrggggght si*l".


.


Aina menangis sejadi – jadi nya.


“Kalau Reynan tidak bersama mas Fatih lalu Reynan ada dimana Joe?”.


“Coba kamu telpon lagi bunda kamu, kamu tanya kan lagi sama bunda atau kita langsung datang saja ke rumah bunda?. Atau enggak kita lapor kan saja ke kantor polisi bahwa ini kasus penculikan atau orang hilang?”. Joe menyodor kan ponsel Aina.


Aina menyambut ponsel nya dan mengusap air mata nya.


Joe/ “Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang?”.


Aina/ “Entah lah Joe, aku juga masih bingung harus berbuat apa. Rasa nya aku ingin mengadukan semua nya pada Shahilla, tapi itu enggak mungkin, karena mereka juga lagi tertimpah musibah dan enggak mungkin aku menambah beban untuk mereka”.


Joe menggenggam tangan Aina.


“Iya, kita jangan menambah beban mereka lagi, lagian kalau kamu sampai ke sana menemui mereka, itu akan mempersulit mereka dan akan memperkeruh masalah mereka, karena . . . .”.


Aina menoleh melihat wajah Joe yang sedikit tertunduk.


“Karena apa Joe?”.


Joe/ “Karena tadi pagi, ada yang membuat artikel gossip tentang kamu dan Restu semasa kalian dulu gagal menikah”.


Mata Aina terbelalak.


“Apa?”.


Joe menunjuk kan artikel gossip tersebut dan Aina pun membaca nya.


“Astaghfirullah . . . Ya ALLAH . . . cobaan apa lagi ini, kenapa semua nya terjadi dengan bertubi – tubi seperti ini”. Aina kembali menitih kan air mata nya.


Joe mengusap punggung Aina.


“Kamu yang sabar sayang, semua akan baik – baik saja. Sekarang lebih baik kamu jangan temui mereka dulu, kita tunggu sampai semua nya sedikit mereda baru kita temui mereka, nanti aku akan menghubungi pihak mereka bagaimana rencana mereka untuk mengatasi ini semua dan sebisa mungkin aku akan membantu mereka”.


“Terimakasih banyak ya Joe, kalau enggak ada kamu, mungkin aku . . . .”. Joe menghenti kan ucapan Aina.


Joe/ “Stop..! aku enggak mau dengar itu lagi, karena bagi aku, kamu dan Reynan itu kewajiban aku, kewajiban aku ubtuk melindungi kalian”.


Air mata Aina mengalir, ia terharu mendengar kan kata – kata Joe yang begitu menyentuh di hati nya.


.

__ADS_1


.


“Mas ..”. Dengan lembut Shahilla memegang pundak Restu dan membangun kan Restu dari lamunan nya menatap ke arah jendela yang di tutupi oleh horden berwarna coklat susu.


Restu meraih tangan Shahilla dan menyuruh nya duduk di samping Restu. Ia meletak kan kepala Shahilla ke bahu nya sembari menggenggam tangan Shahilla.


“Zahira sudah tidur?”.


Shahilla mengangguk pelan.


“Sudah mas”.


“Mmm!!. Dek . . .”.


“Hmm?”.


“Kalau nanti mas enggak jadi artis lagi, apa enggak masalah buat kamu?, apa adek masih mau sama mas?”.


Shahilla mengangkat kepala nya lalu menatap wajah Restu yang sedikit sembab.


“Maksud mas apa ngomong kayak gitu?”.


Restu menarik nafas nya begitu panjang. Mata nya pun mulai berkaca – kaca. Restu mencoba kuat untuk memberitahu Shahilla. Dan Restu pun mencerita kan pada Shahilla apa yang di beri tahu oleh Aan lewat ponsel barusan. Shahilla terdiam tak berdaya mendengarkan kabar buruk tersebut.


“Mas minta maaf, mas minta maaf sama kalian, kalau bukan karena mas kalian tidak akan mengalami hal buruk seperti ini dan kalian tidak harus bersembunyi seperti ini”. Lirih nya.


Shahilla memeluk Restu.


“Enggak mas, mas enggak perlu minta maaf, mas sama sekali enggak bersalah, mas sendiri yang bilang ke adek kalau ini ujian dan cobaan dari ALLAH untuk kita, agar kita bisa berada di tahapan yang lebih tinggi lagi di mata ALLAH, dan mas juga bilang, ALLAH tak akan memberi kan suatu ujian pada hamba nya melebihi kemampuan nya”.


Restu mengangguk pelan.


Shahilla/ “Lagian kan ada hikmah nya juga di balik ini semua, mas jadi nya lebih banyak menghabis kan waktu nya bersama adek dan Zahira, terus mas juga bakal sering – sering manja’in adek he he he”.


Restu tertawa kecil, lalu mengecup dahi Shahilla.


“He he he, terimakasih ya sayang, kalau tidak ada kamu mungkin mas enggak tahu mau gimana lagi, mungkin mas tak kan setegar ini”.


Shahilla tersenyum.


“Sudah mas, sekali lagi, kita harus kuat, kita harus semangat, kita tunggu keadaan agak mereda dan mendapat kan kabar dari Aan apa yang harus kita lakukan, kita pasti bisa menghadapi mereka semua dan yakin ALLAH akan melindungi kita, dan lagi, mas enggak boleh menyalah kan diri mas sendiri atas terjadi semua ini, ini sudah takdir nya ALLAH, ALLAH punya rencana yang begitu indah untuk kita di balik ujian dan cobaan yang kita alami ini, mungkin bagi kita ini masalah besar tapi kita harus ingat, ALLAH lebih besar dari masalah kita, ALLAH lah yang memberi kan masalah ini untuk kita dan ALLAH juga yang akan membantu kita untuk menyelesai kan masalah ini”.


“Iya sayang. Kita tunggu kabar dari Aan dan konfirmasi dari Haikal, mudah – mudahan kita di beri kan kemudahan sama ALLAH”.


“Aamiin. . . . ALLAHHU AKBAR. . . .!!!”. Shahilla bertakbir dengan penuh semangat sehingga mengaget kan Restu.


“Ha ha ha ah. ALLAHHU AKBAR”. Restu menggeleng kan kepala, lalu menyundul pelan dahi Shahilla.


Nangis – nangis gula jawa.


Abis nangis tertawa.


Ha ha ha ha . . . .


#Sungguh menakjub kan urusan orang beriman!


Sesungguh nya urusan nya baik, dan yang demikian tidak dapat di rasa kan oleh siapa pun selain orang – orang beriman.


Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur.


Dan bersyukur itu baik bagi nya.


Jika ia di timpa mudharat/ musibah, maka ia bersabar.


Dan bersabar itu baik bagi nya.


(H. R. Muslim)


#Semakin tinggi level kehidupan.


Semakin sulit juga ujian yang di beri.


ALLAH tak kan memberikan suatu ujian kepada hamba nya melebihi kemampuan nya.


ALLAH yang memberikan kita suatu masalah.

__ADS_1


ALLAH juga yang akan menolong kita untuk mampu melewati nya.


ALLAH lebih besar dari masalah kita.


__ADS_2