
Chapter 42
Flash back . . .
Haikal/ “Kamu kenapa enggak pernah ngebalas surat aku dulu waktu kita masih nyantri?”.
Shahilla mengerut kan dahi nya.
“Surat?”.
Haikal/ “Iya, surat yang sering aku letak kan di atas meja kelas kamu”.
Shahilla/ “Surat yang amplop nya beraroma parfume itu ya?”.
Haikal/ “Iya, kamu ingat kan?”.
Shahilla/ “Ingat, tapi bukan nya surat – surat itu untuk Aina ya?”.
Haikal/ “Bukan, surat itu untuk kamu bukan untuk Aina, memang aku enggak mentertera kan nama aku dan nama kamu di surat itu karena aku takut jika ketahuan, bisa – bisa kamu di hukum. Maka nya aku selalu memberikan tanda pada surat itu biar kamu sadar kalau surat itu dari aku untuk kamu”.
Shahilla/ “Aku pikir surat itu untuk Aina, karena apa yang kamu tulis semua nya mengenai Aina, di tambah lagi gossip – gossip anak santri bilang kalau kamu suka sama Aina karena perlakuan baik kamu sama Aina”.
Haikal/ “Tidak La, surat itu untuk kamu bukan untuk Aina, aku sama sekali tidak menyukai Aina, aku baik sama Aina karena Aina adalah sahabat kamu, aku berusaha mencari tahu tentang kamu melalui Aina, aku suka nya sama kamu . . . .”.
Flash back di santri . . .
Shahilla, Aina dan Ayu masuk ke dalam kelas mereka sebelum santri lain nya masuk. Ayu melihat secarik surat berada di atas meja Shahilla dan Aina.
“Ada surat”. Ayu mengambil nya.
“Hmmm wangi sekali surat nya, wangi permen karet, kira – kira surat ini dari siapa ya?, soal nya enggak ada pengirim nya”. . Sesegara mungkin ia membuka amplop surat itu.
Isi surat #
Assalamualaikum.
Hai, kamu pasti terkejut dengan kedatangan surat ini.
Aku enggak bermaksud untuk mengganggu mu.
Aku hanya ingin mengenal mu lebih dekat lagi sejauh aku mengenal mu selama ini.
Aku ingin jujur sama kamu.
Sejak kejadian waktu itu, dimana hari terakhir ku melakukan kesalahan, aku sadar bahwa aku keliru mengenal diri mu, di saat itu hanya kau yang membela aku dan tidak menyalah kan atas perbuatan aku. Aku malu kepada mu.
Setiap hari aku selalu melihat diri mu lebih bercahaya di banding kan santri lain nya sehingga cahaya itu mengabaikan pandangan ku pada yang lain. Aku pun juga tidak mengerti tentang hal itu. Setelah aku pikir – pikir akhir nya aku menyadari bahwa aku mencintai mu.
Aku tidak berharap jawaban dari mu sebab aku tak bertanya pada mu, aku hanya ingin jujur akan perasaan ku kepada mu.
Seperti nya surat ini aku sudahi sampai di sini.
Terimakasih sudah membaca surat dari ku.
Wassalamualaikum.
By : H
“By H . . . ?, siapa tuh H ?”. Ayu menaik kan alis nya. Sedang kan Shahilla dan Aina masih berpikir siapa sosok H tersebut.
Ayu/ “Ehh . . . Tapi tunggu dulu, surat ini untuk siapa?”. Ayu melirik Shahilla dan Aina.
Shahilla/ “Mana kami tahu ini surat untuk siapa, emang di surat nya enggak ada nama yang di tuju?”.
“Enggak ada, kayak nya ini orang main tebak – tebak kan deh”. Ayu membolak – balikan surat tesebut karena mencari petunjuk.
Shahilla/ “Hmm tapi kita enggak boleh bawa perasaan dulu, bisa jadi surat ini bukan untuk salah satu dari kita, atau bisa jadi surat ini jebakan untuk kita, kita harus hati – hati, jangan sampai orang lain tahu selain kita bertiga, kita tunggu saja lagi, kalau kira – kira pengirim ini ngeletak lagi surat lain nya di tempat yang sama berarti surat ini untuk salah satu dari kita”.
Ayu/ “Ehh kayak nya aku enggak ikutan deh, kan surat nya ada di meja kalian berdua”.
“Coba lihat surat nya”. Aina mengambil surat tersebut dan memperhatikan tulisan nya.
Shahilla/ “Kamu kenal sama tulisan nya Na?”.
“Bentar”. Aina mengambil buku nya dari dalam tas, dan membuka pada halaman buku yang sudah penuh dengan coretan tangan yang tulisan nya sama dengan surat tersebut.
Shahilla dan Ayu pun ikut meneliti kedua tulisan itu.
“Sama . . .”. Seru mereka secara serentak.
Shahilla/ “Ini tulisan siapa Na?”. Shahilla menunjuk kan tulisan yang ada di buku Aina,
Aina/ “Tulisan nya Haikal waktu itu dia pernah minjam buku ini”.
Ayu/ “Jangan – jangan surat ini dari Haikal untuk kamu Na”. tebak nya.
Aina/ “Apa?, enggak mungkin lah”.
Shahilla/ “Ehh bisa jadi Na, aku baru ingat waktu kejadian dia ngerjain aku kan abis itu dia kan ngedatangi kamu Na dan di hari itu juga dia minta maaf sama aku terus itu hari terakhir kali nya dia di hukum di pesantren ini. Jadi kemungkinan dia menyukai kamu Na soal nya dia berubah karena kamu Na”.
Ayu/ “Iya iya aku juga baru nalar, berarti selama ini dia ngedekati kamu karena dia suka sama kamu. Waaah so sweet banget sih kalian bikin aku iri saja”.
Aina/ “Iih apa’ an sih kalian, enggak usah deh suka nya ngambil kesimpulan kayak gitu”.
Ayu/ “Kita kan menyimpul kan seperti itu berdasar kan fakta lho Na. Oh ya gimana kalau kamu balas saja surat nya, kan dari situ kita tahu gimana kelanjutan nya lebih jelas lagi, dan ngebuktiin juga kalau kesimpulan kami berdua itu benar”.
Shahilla/ “Ide bagus juga itu, sekalian kita kasi tahu ke dia bahwa cinta – cintaan sebelum waktu nya itu haram hukum nya”.
Ayu/ “Betul itu”.
“Enggak mau, enak saja kalian, kalau kalian mau, kalian saja yang balas surat itu, kalau aku mah ogah”. Aina meremuk kan surat itu lalu melempar nya ke dalam tong sampah alias membuang nya.
Flash On . . .
Shahila duduk terdiam di balkon kamar nya usai dia menidur kan Zahira. Ia mengingat masa lalu nya di saat dia menjadi seorang santri. Dia masih mengingat pasal surat yang selalu ada di meja nya bersama Aina. Meski pun itu adalah masa lalu, bagimana pun juga Shahilla masih kepikiran mengenai surat itu, ia menyadari bahwa benar surat itu tertuju untuk diri nya bukan untuk Aina.
__ADS_1
“Kenapa dulu aku sama sekali enggak kepikiran kalau surat itu untuk aku ya?, tapi iya juga sih kalau di cerna surat itu tertuju untuk aku bukan untuk Aina. Ya ALLAH . . . Kesalah fahaman yang terjadi belasan tahun yang lalu baru sekarang menemukan kebenaran nya. He . . .”. Shahilla tertawa mengingat nya.
#Ting nong . . . .
Terdengar suara bel apartemen nya berbunyi. Shahilla pun segera bergegas keluar kamar. Sebelum ia membuka pintu Shahilla sudah bersiap – siap memakai set cadar nya karena dia yakin bahwa yang datang adalah tamu bukan lah Restu.
Shahilla membuka kan pintu tersebut, ia melihat sosok wanita berhijab yang manis.
“Aina . . .?”. Seru nya dan langsung menyambar tubuh wanita itu alias Aina.
“Ma Sya ALLAH Na, aku rindu sekali sama kamu”.
Aina/ “Aku juga rindu sama kamu La”.
Shahilla melepas kan pelukan nya. “Yuk kita masuk saja”. Shahilla mempersilah kan Aina masuk ke dalam apartemen nya. “Duduk Na, aku mau nyiapin minum dulu buat kamu”.
Aina pun duduk. “Enggak usah repot – repot La”.
“Enggak kok, masa iya kamu datang jauh – jauh ke sini aku nya enggak nyuguhi apa pun, bentar ya”. Shahilla meninggal kan Aina. Sedang kan Aina melirik ke seluruhan apartemen Shahilla dan Restu.
“Oh ya, kamu apa kabar?, kamu ke sini sama siapa?, Reynan kok enggak di ajak?. Kan aku jadi banyak nanya sama kamu, abis nya aku rindu banget sama kamu he he he”. Shahilla muncul dengan membawa nampan yang berisi minuman dingin beserta cemilan.
Aina/ “He he he iya La, kabar aku Alhamdulillah baik La, Aku sendirian saja La ke sini, oh ya aku bawa’ in sesuatu untuk anak kamu, maaf ya La soal acara anak kamu, aku enggak datang”. Aina menyodor sebuah bingkisan untuk Zahira.
Shahilla yang sudah melepas kan cadar nya turut duduk bersama Aina. Ia menyambut bingkisan itu.
“Ma Sya ALLAH, jadi ngerepoti kamu Na, terimakasi banyak ya Na. Enggak apa – apa Na, lagian kan ada perwakilan kamu, Reynan ikut sama bunda ke acara nya Zahira he he he”.
Aina/ “Oh ya . . .?, aku minta maaf banget sama kamu, aku pun juga baru tahu nya kemarin karena aku ketemu sama asisten nya Restu si Aan, ternyata dia masih ingat sama aku, terus dia bilang kalau kamu dan Restu berusaha menghubungi aku tapi enggak bisa, maka nya aku minta alamat kalian dan ke sini untuk minta maaf sama kalian”.
Shahilla/ “Sudah lah Na, aku enggak mempersalah kan itu kok. Aku pikir kamu tahu nya karena bunda yang ngasi tahu ke kamu”.
Aina/ “Enggak La”.
Shahilla/ “Oh ya, Fatih apa kabar Na, sehat dia kan?”.
Aina/ “Aku enggak tahu La, kabar dia gimana”.
Dahi Shahilla mengerut.
“Lho kok kamu enggak tahu?”.
“Iya La, aku sudah lama enggak ketemu sama dia, hubungan aku bersama Fatih sudah di ujung tanduk”. Aina menunduk kan kepala nya.
“Maksud kamu?”.
Aina/ “Hubungan aku bersama Fatih sudah hancur La, aku mau cerai sama dia”.
“Astaghfirullah Adzim, kamu kan tahu Na kalau perceraian itu perbuatan yang di benci oleh ALLAH?”. Mata Shahilla terbelalak mendengar nya.
“Aku tahu La, tapi mau bagaimana lagi, aku enggak bisa mempertahan kan nya, aku sudah enggak sanggup menghadapi perlakuan dia sama aku La”. Mata Aina mulai berkaca – kaca dan ia mencerita kan semua nya pada Shahilla.
Shahilla shock mendengar semua cerita Aina. Shahilla mendekati Aina lalu memeluk nya.
Aina/ “Terimakasi ya La”.
Shahilla/ “Aku doa’ in semoga ALLAH memberi kan kamu kemudahan untuk melewati ujian dan cobaan ini dan memberi kan jalan keluar yang terbaik, Aamiin”.
“Aamiin”. Aina berusaha untuk tersenyum, hati nya terasa lebih ringan setelah dia mencerita kan semua nya pada Shahilla.
Shahilla/ “Tapi Na, sebaik nya kamu kabari Bunda dan Reynan. Mereka pasti sangat merindu kan kamu terutama Reynan, kamu enggak kasihan sama Reynan?”.
Aina/ “Aku masih belum siap La, aku merasa bersalah sama Reynan. Setiap kali aku melihat Reynan, wajah mas Fatih selalu membayangi”.
Shahilla/ “Na kamu jangan sampai membuat Reynan merasa kecewa sedini mungkin, kasihan dia masih kecil, dia masih membutuh kan kamu, dia masih membutuh kan kasih sayang seorang ibu”.
“Astaghfirullah, iya La, ln Sya ALLAH, aku akan menghubungi mereka secepat nya”. Aina mengusap wajah nya, frustasi.
Shahilla mengusap – ngusap punggung Aina untuk menenang kan nya.
#Oweek . . . . Oweeek . . . Oweeeek . . .
Terdengar suara tangisan Zahira di dalam kamar.
“Bentar ya Na”. Secepat kilat Shahilla berlari ke kamar. Aina menghapus air mata nya dan membuang wajah sedih nya.
Shahilla pun muncul bersama Zahira. Aina bangkit dari duduk nya menghampiri mereka ketika dia melihat Shahilla menggendong Zahira membawa nya keluar.
“Ma Sya ALLAH cantik nya kamu nak, ngegemesiiiiin”. Aina mengelus pipi tembem Zahira.
“Terimakasih banyak Amah yang cantik”. Shahilla menggerak – gerak kan tangan mungil Zahira.
Aina/ “Sini Amah gendong”.
Shahilla menyodor kan Zahira untuk beralih ke Aina.
Aina pun menggendong nya.
“Uluuuh . . . Uluuhhh, iiih gemes banget sih La, sudah berapa bulan La?”.
Shahilla/ “In Sya ALLAH tanggal 15 ini pas tiga bulan Na”.
Aina/ “Emm . . . ASI La?”.
Shahilla/ “Alhamdulillah ASI Na, rezeky nya Zahira ASI aku banyak”.
Aina/ “Enak banget kamu ya, dulu Reynan cuma sebulan saja dapat ASI aku setelah itu susu formula, soal nya ASI aku kering, sudah di pancing makan dan minum ini itu pun masih enggak ada hasil nya juga, jadi ya sudah lah Reynan di kasi susu formula deh”.
Shahilla/ “Enggak apa – apa Na, yang penting sehat. Sekarang Reynan sudah sekolah lah ya?”.
Aina/ “Sudah La, dia sudah TK, cuma karena aku tinggalin dia di tempat bunda jadi terpaksa putus sekolah nya, mau aku sekolahin di Medan, Reynan nya enggak mau. Jadi aku enggak bisa terlalu memaksa dia”.
Shahilla/ “Pelan – pelan saja Na, mungkin nanti Reynan nya sendiri yang akan minta”.
Aina/ “Iya La”.
__ADS_1
Tanpa terasa waktu sudah mulai sore. Aina pun segera untuk pamit pulang.
“Aku pamit ya La, terimaksih banyak untuk hari ini”. Aina memeluk Shahilla.
Shahilla/ “Kamu enggak perlu berterimakasih Na. Lain kali kamu harus cerita ke aku, kalau kamu butuh bantuan datang ke kami, In Sya ALLAH aku dan Mas Restu akan membantu kamu semampu kami. Kamu jangan sungkan – sungkan”.
Aina mengangguk kan kepala nya.
“Iya La, Terimakasih ya, ya sudah aku pamit ya. Assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam”. Shahilla melihat kepergin Aina, lalu dia masuk kembali ke dalam apartemen nya.
.
.
“Tadi ada yang datang ya sayang?”. Restu melihat sebuah bingkisan di atas meja rias ketika dia meletak kan jam tangan nya di dalam laci.
“Em . . .?”. Shahilla menoleh dan ia melihat Restu sudah memegang bingkisan tersebut.
“Oh . . . Iya mas, tadi siang Aina datang ke sini, terus itu kado dari dia untuk Zahira”.
“Hmmp . . . Kok Aina bisa tahu apartemen kita?, kan dia belum pernah ke sini terus mas juga enggak sempat ngasi alamt kita ke dia waktu kemarin ketemu”. Restu meletak bingkisan itu kembali ke tempat semula, ia menghampiri Shahilla dan duduk di samping nya.
Shahilla/ “Iya mas, Aina bilang kalau dia tahu alamat kita dari Aan, kemarin mereka enggak sengaja ketemu terus Aan ngasi tahu ke Aina kalau kita sedang mencari nya, maka nya dia minta alamat kita terus datang ke sini. Dia minta maaf sama kita karena dia enggak datang pas acara Zahira”.
Restu/ “Oh gitu, bagus lah”.
“Oh ya Mas. Emm . . . .”. Shahilla sedikit ragu ingin bercerita.
“Kenapa sayang?”.
“Enggak jadi deh Mas he he he”. Shahilla bingung mau gimana cerita nya.
Restu menggenggam tangan Shahilla.
“Kalau ada yang mau kamu cerita’ in ke mas, cerita’ in saja. Kenapa kamu ragu?, Mas selalu siap mendengar kan kamu”.
Shahilla menghembus kan nafas nya.
“Mmm . . . Mas . . .”.
Restu/ “Iya sayang, cerita lah”.
Shahilla/ “Mmm Adek bingung mau gimana cerita nya ke Mas hu hu hu”. Rengek nya.
“Ha ha ha . . . Kamu itu ya, mesti mas paksa dulu nih Nampak nya baru kamu berani cerita ke mas”. Restu tertawa dan ia siap – siap untuk menggelitiki pinggang Shahilla.
“Kalau kamu enggak cerita juga Mas gelitikin ini”. Dengan semangat Restu menggelitikin tubuh Shahilla. Shahilla menggelinjang kegelian dan tertawa.
“Ha ha ha, ampun ampun ampun mas, Zahira sudah tidur mas, entar Zahira kebangun ha ha ampuuuun, iya iya adek ceritaaaa, udah gelitikin nya”. Shahilla memang enggak bisa mengelak gelitikan Restu. Bagaimana bisa rang Restu begitu cekatan menenggelam kan tubuh Shahilla ke tubuh nya yang lebih besar dari tubuh Shahilla.
Restu menghenti kan gelitikan nya.
“Kenak kan? Ha ha ha. Ya sudah, ayo cerita ke mas”. Restu menagih janji nya.
“Huh . . . Huh. . .”. Shahilla mengatur nafas nya yang ngos – ngos’ an. Restu pun menyodor kan nya segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja. Air putih berselancar di tenggorokan Shahilla tak sampai 5 detik, mereka larut ke dalam nya.
“Pelan sayang, nanti kamu tersedak”. Restu melihat istri nya begitu lelah karena diri nya.
“Huh . . . ternyata di gelitikin itu banyak menguras tenaga dan ion dalam tubuh ya huh”. Shahilla masih ngos – ngos’ an.
“Maka nya kalau enggak mau di gelitikin sama mas, kamu tuh kudu cerita. Coba kamu cerita dari awal kan enggak perlu di paksa seperti ini”. Restu mengulum senyum nya.
“Hmmmp”. Shahilla memanyun kan bibir nya.
“Ya sudah cerita, mas nunggu’ in lho, atau mau mas gelitikin lagi nih?”. Tangan Restu siap – siap menghampiri tubuh Shahilla.
“Enggak – enggak mas, iya iya adek cerita tapi tunggu dulu adek masih ngatur nafas dulu, pengap”. Shahilla menarik nafas nya lalu menghela kan nya.
Restu merasa gemes, ia mencubit pipi Shahilla.
“Ummm . . . ngegemesin banget kamu”.
Tak butuh waktu lama, Shahilla sudah siap ingin bercerita pada Restu.
“Mas, adek mau cerita soal Haikal”.
“Haikal?”. Alis mata Restu berkerut.
“Iya, sebenar nya mas, dulu Haikal pernah suka sama adek waktu kita masih nyantri. Adek pun juga baru tahu nya sekarang waktu nunggu’ in mas di caffe, Haikal cerita soal perasaan nya ke adek waktu dulu. Dulu Haikal sering meletak kan surat di atas meja adek dan Aina, tapi dia enggak pernah meletak kan nama penerima nya. Terus gara – gara itu kami semua salah faham, kami kira surat itu untuk Aina dan dia menyukai Aina, ternyata kami salah, surat itu ternyata untuk Adek. Adek juga enggak nyangka waktu Haikal cerita kebenaran nya kemarin. Malah adek enggak sampai kepikiran kalau itu surat bakal untuk adek”. Shahilla mencerita kan semua nya pada Restu. Sedang kan Restu hanya mendengar kan nya dengan seksama.
Shahilla/ “Adek cerita ini karena adek enggak mau ada yang di tutup – tutupin di antara kita, apa lagi sampai mas salah faham dan kehilangan kepercayaan ma”.
Restu menyentuh pipi Shahilla sembari menebar kan senyum nya.
“Sayang, mas percaya kok sama kamu, terimakasih ya karena kamu sudah mau terbuka untuk mas, sebenar nya mas sudah tahu soal ini, mas juga mendengar semua nya di saat Haikal cerita ke kamu di caffe dan mas juga tahu lanjutan dari ucapan Haikal yang mas potong he he he, mas enggak sanggup mendengar lanjutan ucapan Haikal maka nya mas langsung muncul dan memotong nya he he he. Lagian suami mana yang sanggup mendengar laki – laki lain berkata suka pada istri nya. Tapi bagaimana pun juga Mas enggak salah faham kok sama kamu, mas selalu percaya sama kamu”.
Shahilla merasa tersentuh, ia memeluk tubuh Restu dan di balas oleh Restu.
“Terimakasih mas”.
Restu membelai rambut Shahilla lalu mencium ubun – ubun nya.
#Kepercayaan sulit untuk kita dapati.
Sekali nya kita mendapat kan nya,
Lalu kita memiliki tugas yang lebih sulit dari pada sulit nya kita mendapat kan nya.
Bahkan hanya 2 banding 10 yang berhasil menjalan kan tugas itu.
Tugas sulit itu yang tak lain ialaha . . .
MEMPERTAHANKAN NYA.
__ADS_1