Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 49


__ADS_3

Chapter 49


“Apa . . . ?, Reynan di culik. . . .?”. Shahilla terkejut mendengar ucapan Aina yang tanpa sengaja ia dengar. Sentak Aina menoleh ke arah Shahilla tepat di belakang nya.


"Apa maksud kamu Reynan di culik Na?, cerita ke aku". Shahilla mengulangi pertanyaan nya sembari menarik nya masuk ke dalam kamar tamu.


Aina bingung harus bilang apa.


"Na tolong jawab, maksud kamu apa tadi?". Shahilla menatap wajah Aina yang tertunduk.


Air mata Aina pecah tak tertahan kan, ia memeluk tubuh Shahilla.


"Aku enggak tahu harus cerita ke siapa La, aku enggak tahu harus berbuat apa. Sudah hampir dua bulan Reynan hilang". Aina menangis sejadi - jadi nya dan menceritakan semua awal kejadian.


Shahilla shock mendengar kan nya dan menitih kan air mata nya, bagaimana bisa Aina menyembunyi kan nya selama ini bahkan dia sama sekali tak terlihat sedang punya masalah yang lebih buruk dari masalah nya.


"Kenapa kamu enggak cerita ke aku dan Restu Na?".


Aina/ "Sebenar nya aku ingin sekali cerita sama kalian tapi apa lah daya di saat itu kalian juga sedang ada masalah, di tambah lagi masalah itu aku juga terlibat, jadi aku enggak mau menambah beban kalian lagi".


Shahilla/ "Ya ALLAH Na, kita ini sduah seperti saudara. Lagian sudah selama ini. Astaghfirullah Na. Ini enggak bisa kita biar kan, kita harus bertindak cepatbdan berusaha keras untuk menemu kan Reynan. Sebentar . . . Aku mau panggil mas Restu dulu". Shahilla keluar dari kamar meninggal kan Aina untuk memanggil Restu dan kembali bersama dengan Restu beberapa menit kemudian.


Restu merasa bingung ada apa sebenar nya, kenapa dia di panggil masuk ke dalam kamar tamu yang sudah ada Aina di dalam nya.


"Ada apa ini sayang?, kenapa kita bertiga di kumpul kan seperti ini?, apa kamu sedang mencurigai mas dan Aina sama seperti yang ada di berita itu?". Restu melirik kedua nya secaraa bergantian.


Shahilla/ "Enggak mas, adek manggil mas ke sini bukan karena itu, dan enggak ada hubungan nya dengan itu, adek manggil mas karena ada yang kami sampai kan ke mas".


Restu/ "Apa itu?".


Shahilla menelan ludah nya sembari melirik Aina yang hanya terpaku dengan berurai air mata.


"Mas, Reynan di culik".


"Apa?". Sentak Restu terkejut.


Shahilla/ "Iya mas, Aina bilang sudah hampir 2 bulan Reynan di culik, mereka sudah berusaha untuk mencari nya namun belum menemukan Reynan dengan pasti".


Restu/ "Astaghfirullah hampir 2 bulan Na?, oh Ya ALLAH . . ., kenapa kamu enggak bilang Na?, kenapa kamu bilang nya baru sekarang?".


Aina hanya menangis tak mampu berkata - kata.


Restu/ "Terus kamu sudah melapor kan ke kantor polisi soal ini?".


Aina/ "Sudah, tapi pihak polisi juga masih belum mendapat kan hasil, yang ada cuma orang - orang iseng yang mau mengambil keuntungan".


Restu/ "Fuuuht . . . Ya sudah, kamu tenang saja, kami pasti akan membantu kamu menemukan Reynan. Kami yakin Reynan pasti baik - baik saja. Oh ya si Fatih sudah sampai mana mencari Reynan?".


Aina hanya menggeleng kan kepala nya. Gelengan kepala nya membuat Restu menjadi bingung.


Restu/ "Maksud kamu?".


Shahilla ingin sekali menjawab nya tapi ia lebih mengingin kan jika Aina langsung yang menceritakan nya.


Aina/ "Aku akan cerai dengan mas Fatih".


Restu/ "Apa?, jadi soal pernyataan kamu di video itu bohong?".


Aina mengangguk kan kelapa secara perlahan.


Restu/ "Astaghfirullah Aina, kalau mereka tahu kalau itu bohong, kita bakal dapat masalah lagi dan kita tidak akan mendapat kan kepercayaan mereka lagi. Astaghfirullah".


Aina/ "Maaf Tu, aku enggak ada maksud seperti itu. Aku hanya ingin urusan itu kelar, lagian mas Fatih juga enggak masalah soal itu, dia juga enggak mau nama aku di jelek - jelekan oleh publik meski kami sudah enggak bersama lagi".


Shahilla berdiri menghampiri Restu.


"Mas, sudah lah, kita enggak usah membahas itu lagi, kita harus berpikir dan berusaha mencari Reynan sampai ketemu, sekarang Reynan yang paling penting". Tutur nya sembari mengusap - ngusap lengan Restu.


Restu menarik nafas nya secara perlahan.


"Fuuht . . . Ya sudah, apa kalian sudah mendapat kan petunjuk atau mereka pernah menelpon kamu untuk meminta tebusan gitu?".


Aina/ "Mereka enggak ada menelpon atau meminta tebusan ke aku. Tapi Joe sekarang sudah mengetahui Reynan sekarang ada dimana, Joe bilang, dia melihat rekaman dari cctv di Bandara Kuala Namu dan di Bandara Soekarno Hatta. Di situ terekam jelas kalau Reynan sekarang ada di Jakarta bersama dengan dua orang pria yang berbadan tegap seperti preman".


Restu/ "Ya sudah, besok pagi kita temui Joe untuk melihat langsung rekaman itu".


Aina/ "Tidak usah, biar aku suruh saja Joe yang ke sini, aku takut kalau kita bertiga yang keluar menemui Joe, bisa - bisa kita terkena masalah lagi, aku yakin wartawan tidak akan diam meski masalah itu sudah di klarifikasi. Aku enggak mau kalian terkena gosip - gosip yang tidak - tidak lagi".


Shahilla/ "Iya juga sih mas. Kalau Joe yang ke sini, mereka enggak akan mencurigai nya karena mereka tidak mengenali Joe".


Restu/ "Ya sudah, lagian wartawan pasti masih memburu kita, jadi sebaik nya Joe saja yang ke sini".


Aina/ "Ehh tapi di sini kan masih ada Ummi, Mama, Abah, Papa dan Resty. Mana mungkin bisa kita membahas nya di sini. Aku enggak mau mereka tahu soal ini. Aku takut mereka akan memberitahu Ayah dan Bunda".


Shahilla/ "Oh iya ya. Tapi sih kata Ummi sama Mama sih rencana nya mereka besok pulang, Mama di penerbangan jam 10 pagi, Ummi jam 1 siang".


Restu/ "Oh ya sudah, kalau gitu setelah kita mengantar mereka pulang saja, baru kita ketemuan dan membahas soal ini".


Aina dan Shahilla mengangguk pelan.


Acara Syukuran pun sudah selesai, para tamu sudah tak terlihat lagi. Shahilla dan Restu sesegera mungkin membersih kan piring - piring dan sampah - sampah yang masih berserakan dimana - mana. Mereka membagi tugas nya masing - masing. Tak ketinggalan Ummi dan Mama ikut membantu mereka. Sedang kan Resty berada di dalam kamar menemani Zahira.


"Ummi, Mama, sudah biar Shahilla saja yang mengerjakan nya. Ummi sama Mama istirahat saja, kalian pasti sudah lelah seharian membantu Shahilla". Shahilla mengambil alih sapu yang di pegang oleh Mama nya.


Ummi/ "Ndak apa - apa toh ndok, biar Ummi saja yang mengerjakan nya. Kasian kamu sendiri yang mengerjakan pekerjaan sebanyak ini".


Mama/ "Iya nak, sejak pagi kamu tidak ada istirahat nya sedikit pun, nanti kamu nge - drop lagi, kamu kan baru sembuh, sudah kamu saja yang istirahat gih".


"Enggak Ummi dan Mama ku tercinta, Shahilla segar bugar kok, Shahilla sudah sembuh total, Shahilla kan wanita kuat he he he, jadi Ummi sama Mama go to bed, kasian Abah sama Papa di tinggalin di kamar sendirian, go go go he he he". Shahilla mendorong masing - masing dari mereka ke kamar masing - masing. Sedang kan kedua ibu nya menggeleng kan kepala nya. Mereka menuruti Shahilla.


Kini Shahilla beralih ke wastfel untuk mencuci piring yang sudah tertumpuk.


Satu per - satu ia mencuci piring - piring itu lalu membilas nya dan sesekali ia menyeka keringat nya yang bercucuran di wajah nya. Shahilla terkejut tiba - tiba ia merasakan sepasang tangan telah melingkar kan ke pinggang nya.


Shahilla/ "Maaas, lepasin, adek lagi nyuci piring lho ini". Ujar nya sembari melaga kan pipi nya ke kepala Restu yang sudah bertopang di bahu Shahilla.


Restu menggeleng kan kepala nya dan mengerat kan lingkaran tangan nya.


"Enggak mau, mas mau nge - cas tenaga mas dulu".


"Mas, enggak enak lho kalau sampai di lihatin, masih ada mereka lho di sini, nanti mereka lihat, malu ih mas". Shahilla mencoba melepas kan tangan Restu usai dia mencuci tangan nya, namun usaha nya gagal. Cengkraman Restu lebih kuat dari tenaga nya.


Restu/ "Mereka enggak akan lihat kok, kan mereka sudah tidur".


Shahilla/ "Iiiih mas sok tahu mereka sudah tidur atau belum. Lagian Resty lagi di kamar kita ngejagain Zahira mas, sudah pasti Resty belum tidur, nanti kalau tiba - tiba keluar gimana hayo, kan malu mas".


Restu malah mencomot mulut Shahilla dengan tangan nya, agar Shahilla terdiam.


"Ssst bising banget, kalau kamu bising, itu akan membuat mereka bangun. Jadi kamu diam saja, tenang dan jangan banyak protes, mas lagi konsen nge - cas tenaga mas". Tegas nya dengan senyuman nya yang di kulum - kulum. Shahilla memanyun kan bibir nya, sedikit kesel.


Restu/ "Oh iya, mas punya cara untuk nge - cas tenaga mas dengan cepat".


"Haaaah??".


Restu/ "Kamu mau tahu enggak cara nya gimana?".


Shahilla mengexpresi kan wajah keingin tahuan nya.


Restu membisik kan ke telinga Shahilla bagaimana cara yang ia maksud itu.


Sentak Shahilla menolak nya.


"Aaah, enggak, adek enggak mau, nanti kepergok sama mereka, apa lagi sama Resty, ia masih kecil, bisa - bisa dia keluar dari kamar terua enggak sengaja ngelihat kita. Cara mas ngacok tau enggak".


Restu/ "Hmm . . . Biasa nya mah bebas - bebas saja tuh, enggak ada masalah".


Shahilla/ "Maaaaas, sekarang ini kondisi nya berbeda. Di sini bukan cuma kita berdua saja, tapi ada ummi, abah, mama, papa dan Resty. Ngerti?".


Restu/ "Hmm ya sudah kalau gitu mas enggak akan ngelepasi pelukan nya sampai besok pagi, lagian suami nya sendiri minta kiss untuk ngefull kan tenaga pun enggak di kasi, hufft".


Shahilla/ "Ha ha ha, mas kayak anak kecil pakek ngambekan. Sudah lah mas, beresi rumah nya belum siap lagi, besok pagi kita mau ngantar mereka ke bandara terus lanjut ketemu sama Aina dan Joe, masih banyak lagi hiks hiks hiks".


"Heemm ya sudah deh kalau gitu, Eeemmmuuach".


Restu melepas kan tangan nya dari pinggang Shahilla, lalu secepat kilat ia mencium Shahilla.

__ADS_1


"Maaaaaaaaaaaaaas". Shahilla mempelototi Restu yang sedang kegirangan sembari mengepel lantai.


"Yeeeay akhir nya full juga tenaga nya hi hi hi".


.


.


Keesokan pagi nya mereka di sibukan oleh kedua orang tua mereka yang akan kembali ke kota mereka masing - masing. Jam 9 pagi mereka harus mengantar Mama dan Papa mereka ke bandara untuk berangkat ke Medan, dan jam 1 siang mereka harus mengantar Ummi, Abah dan Resty ke bandara untuk berangkat ke Surabaya.


Meski pun begitu, namun tak merepot kan bagi mereka.


Tepat di jam 2 akhir nya mereka kelar berada di bandara, lalu melanjut kan agenda mereka menuju ke tempat Aina.


"Sayang, kamu telpon saja Aina, bilang kalau mereka enggak usah ke apartemen kita. Kita ketemu di luar saja, nanggung juga kan kita lagi di luar".


Shahilla/ "Iya Mas". Ia segera mebgambil ponsel nya.


"Tapi kita ketemuan nya dimana mas?".


Restu/ "Emm . . . Di resort kita saja, di sana In Sya ALLAH aman untuk kita, kamu kirim saja alamat nya ke mereka".


Shahilla mengangguk/ "Iya Mas".


.


.


Sesuai rencana dan tempat yang sudah di setujui. Aina dan Joe pun tiba di depan resort megah nan mewah. Mata Aina terpukau melihat keindahan resort tersebut.


"Permisi, Maaf, Ibu Aina dan Bapak Joe?". Seorang pegawai resort mengaget kan mereka.


Aina/ "Eh . . . I iya".


"Ibu Bapak silah kan ikut saya ke dalam. Pak Restu dan Buk Shahilla sudah menunggu di dalam". Pegawai itu berjalan menunjukan jalan memasuki resort itu dan ikuti oleh Joe serta Aina.


Mata Aina liar melihat ke sekeliling resort itu, sama seperti Shahilla dulu di saat ia pertama kali datang ke resort itu.


"Silah kan Pak Buk". Pegawai itu menyuruh mereka masuk ke salah satu area resort, bisa di bilang tempat khusus di resort itu. Dimana di area itu memiliki hanya beberapa kamar serta jarak nya juga terbilang jauh tidak seperti di area yang sudah mereka lewati yang kamar nya cukup berdekatan.


"Aina". Shahilla berteriak memanggil Aina yang terlihat sedang berjalan memasuki area itu.


"Shahilla". Aina berlari menghampiri nya serta di susul oleh Joe.


Shahilla/ "Akhir nya kalian datang juga".


Aina/ "Iya, maaf ya sudah lama menunggu".


Shahilla/ "Enggak apa - apa kok".


Aina/ "Oh ya Zahira enggak di bawa?".


Shahilla/ "Di bawa kok, tadi mas Restu bawa Zahira lihat - lihat mini zoo di sana". Shailla menunjuk kan area yang ada di ujubga jalan dan terlihat dari jauh sosok Restu yang sedang menggendong Zahira.


"Emm kira' in enggak di bawa he he he".


Shahilla/ "Ya enggak mungkin lah, Zahira enggak di bawa, mau di tinggal sendiri".


Aina/ "Oh iya ya, kalian kan enggak pakai baby siter".


Shahilla/ "Iya, tapi walau pun aku pakai baby siter, aku pasti tetap ngebawa Zahira kemana - mana".


Aina/ "Ha ha ha iya iya. Oh ya lupa kenalin ini Joe. Joe ini Shahilla sahabat aku sekaligus mantan kepala redaksi majalah x di pusat, ini dia orang nya yang sering aku ceritain ke kamu".


Joe yang sejak tadi berdiri di samping Aina, tersenyum pada Shahilla.


"Iya, aku tahu, siapa yang enggak kenal dengan seorang kepala redaksi yang selalu ngebuat orang - orang penasaran he he he. Aku Joe". Joe melipat tangan nya dengan santun.


"Shahilla". Shahilla hanya melirik nya sekilas.


"Ehh . . . Sudah datang ternyata kalian". Restu pun muncul.


Aina/ "Iya Tu, oh ya ini kenalin, ini Joe".


Restu/ "Jadi gimana?, apa kita langsung bahas soal Reynan di sini atau kita bisa sambil makan malam? Lagian bentar lagi mau masuk waktu magrib nih". ia melihat jam tangan nya.


Aina/ "Terserah kalian saja, mana yang terbaik".


Restu/ "Ya sudah, kalau gitu kita sholat magrib dulu abis itu kita makan malam, biar agak santai juga. Gimana?".


"Terserah, kami ngikut saja".


"Hmm ya sudah yuk". Restu mengajak mereka ke ruangan yang sudah di siap kan oleh nya, tak lupa ia menggandengan tangan Shahilla.


Usai mereka melaksanakan sholat magrib, mereka langsung di persilah ksn masuk ke ruangan yang begitu anggun, dengan suasana lampu yang berkilau serta di hiasi dengan interior serba klasik, meja makan yang sudah tersusun rapi dan cantik dengan hidangan - hidangan yang mewah dan menggugah selera. Aina semakin terpukau melihat ruangan itu, mengingat dia jarang bahkan tak pernah sekali pun masuk ke resort mewah. Mereka begitu menikmati makanan - makanan tersebut. Joe yang tak banyak bicara namun sesekali ia memuji betapa lezat nya makanan tersebut.


"Kamu kok sedikit sekali makan nya sayang?". Restu melihat Shahilla berhenti makan dan beralih menggendong Zahira yang ada di gendongan Restu.


"Iya mas, gantian, mas kan juga belum makan dari tadi mas memegang Zahira. Iya kan nak, abi belum makan, jadi sekarang gilaran abi yang mau makan, Zahira sama Ummi ya kan nak". Shahilla mengajak anak nya mengobrol dan sahut oleh Zahira dengan ocehan nya.


Restu/ "Ya sudah, mas suapi saja ya".


Shahilla/ "Enggak usah mas, mas makan saja".


Restu/ "Enggak, pokok nya mas suapi kamu makan, sekalian mas makan juga nih, kalau enggak, ya sudah mas enggak mau makan ini". Ancam nya.


Shahilla/ "Iish mas, malu tauk di lihatin sama Aina dan Joe". Ia melirik Aina dan Joe sudah tertawa kecil melihat mereka.


Restu/ "Lho ngapain mesti malu, paling mereka entar sedikit baper lihat kita he he he, bercanda Na, Joe".


Mereka tertawa.


Aina/ "Sudah lah La, ngapain pakai malu - malu segala sih, biasa saja sama kami, he he he".


Restu/ "Tuh kan, mereka biasa saja, sudah nah Aaaaa". Restu menyingkap cadar Shahilla di bagian tak terlihat oleh Joe lalu menyodor kan nya sesendok nasi beserta lauk pauk nya. Shahilla pun menyantap mereka sembari melirik ke arah Aina dan Joe, dia tersipu malu.


Mereka sangat menikmati hidangan tersebut, sangkin nikmat nya, mereka sampai enggan untuk membahas masalah hidup mereka di hadapan hidangan yang begitu Ma Sya ALLAH. Hingga akhir nya mereka membahas hal tersebut di saat mereka menyelesai kan makan malam mereka dan Sholat Isya mereka.


Kini mereka berkumpul di ruangan tadi, tempat dimana mereka makan malam.


Restu/ "Jadi gimana cerita awal nya, kenapa Reynan bisa sampai di culik?".


Aina/ "Aku juga enggak tahu bagaimana kronologi nya. Awal nya aku pikir Reynan di bawa oleh mas Fatih karena bunda bilang ke aku kalau mas Fatih menjemput Reynan di rumah bunda, terus aku sama Joe pergi menemui mas Fatih, tapi mas Fatih bilang kalau Reynan tidak bersama nya, ia mengaku kalau dia menemui Reynan di hari itu tapi dia sama sekali tidak ada keinginan untuk membawa Reynan ikut bersama nya".


Shahilla/ "Kamu yakin Na dan percaya dengan omongan Fatih?".


Aina/ "Aku juga bingung La, harus percaya atau enggak sama dia, karena sampai sekarang pun mas Fatih sama sekali acuh soal ini, dia enggak merasa khawatir dengan keadaan Reynan atau pun berusaha mencari Reynan dan lagi Joe mendapat kan petunjuk bahwa Reynan di bawa sama dua orang pria berbadan tegap seperti preman". Air mata Aina mulai membasahi pipi nya.


Joe/ "Iya, kalau aku sih berpikir bahwa kedua preman itu pasti suruhan nya si Fatih, karena kalau memang Reynan di culik sama penculik asli, mereka pasti akan menghubungi Aina untuk meminta tebusan, tapi sampai sekarang mereka enggak ada meminta atau mengancam gitu".


Restu/ "Hem . . . Kalau gitu kita temui saja Fatih sekali lagi, kita tanya kronologi terakhir kali dia ketemu dengan Reynan".


Aina/ "Iya, aku setuju soal itu, karena yang terakhir kali nya ketemu Reynan itu dia".


Shahilla/ "Oh ya, bunda sama ayah, tahu soal ini?".


Aina/ "Enggak la, aku takut memberi tahu mereka. Aku enggak mau ngebuat mereka khawatir, aku cemas dengan kondisi mereka yang sudah tua".


Shahilla/ "Bagus lah kalau begitu, aku juga setuju dengan keputusan kamu Na".


Cukup lama mereka membahas masalah tersebut serta melihat rekaman cctv itu. Hingga mereka enggak sadar kalau waktu sudah menunjuk kan pukul 11 malam.


Restu dan Shahilla memutus kan untuk tetap tinggal di resort nya tapi tidak dengan Aina dan Joe. Mereka memutus kan untuk kembali pulang meski berulang kali Shahilla menahan serta memaksa nya untuk tidak pulang.


Di dalam kamar, Zahira sudah tertidur pulas dengan kompeng nya yang masih ia kenyot. Sedang kan Shahilla menghampiri Restu yang tengah sibuk memperhatikan rekamana cctv itu. Shahilla meletak kan tangan nya di atas pundak Restu.


Shahilla/ "Mas istirahat lah, besok saja di lanjuti, hari ini sudah banyak yang mas kerja kan jadi kini waktu nya kita istirahat".


Restu menarik tangan Shahilla dan mengarah kan tubuh Shahilla untuk duduk di pangkuan nya. Ia memandangi wajah Shahilla yang terlihat lesu sembari membelai rambut nya yang hitam.


"Iya sayang. Zahira sudah tidur?".


Shahilla/ "Sudah mas".


Restu/ "Hemm, Zahira pasti lelah juga itu gara - gara ikut sama Abi dan Ummi nya seharian, kasihan".

__ADS_1


Shahilla/ "Anak kita anak yang kuat mas he he he".


Restu/ "Iya mirip seperti Ummi nya he he he. Oh ya, sebenar nya Joe itu siapa nya Aina sih, kok mas lihat mereka seperti nya dekat banget".


Shahilla/ "Emmm . . . Joe ituuuu, pacar nya Aina".


Mata Restu terbelalak mendengar nya.


"Apa?, pacar Aina?, jadi selama ini Aina selingkuh?. Oh faham mas sekarang kenapa Aina akan bercerai dengan Fatih".


Shahilla/ "Ehh mas jangan salah faham dulu, bukan karena itu mereka mau bercerai".


Restu/ "Kalau bukan karena itu, jadi karena apa sayang?".


Shahilla/ "Mereka mau bercerai karena memang Fatih nya sendiri yang memulai duluan".


Restu/ "Maksud kamu, Fatih yang duluan selingkuh, terus di balas Aina juga dengan selingkuh?".


Shahilla/ "He he he, enggak gitu mas cerita nya. Gini lho cerita nya mas, sejak Fatih di pecat terus usaha - usaha nya pun juga harus tutup gara - gara terlilit hutang, si Fatih itu berubah, dia jadi sering pulang tengah malam bahkan enggak pulang sekali pun, terus si Fatih pun jadi kasar, dia sering memukul Aina bahkan pernah ia memukul Aina sampai ia harus di rawat di rumah sakit, nah sedang kan si Joe ini memang teman sekantor nya si Aina di cabang Yogya, sebenar nya sih adek juga kenal sama dia tapi cuma kenal nama nya saja karena dia kepala cabang majalah X".


"Ouh . . .". Restu mendengar kan istri nya itu dengan seksama.


Shahilla/ "Terus si Joe memang dari dulu dekat sama si Aina bahkan si Joe care banget sama si Aina. Nah di saat itu Aina semakin sering curhat sama si Joe, ya sudah deh sampai akhir nya mereka pacaran".


Restu/ "Hmm tapi sama saja donk sayang, benar yang mas bilang gara - gara selingkuh".


Shahilla/ "Tidak mas. Bukan karena perselingkuhan juga, cuma Aina memang sudah tak tahan lagi menghadapi perlakuan Fatih ke dia. Fatih setiap hari mukulin Aina, belum lagi uang Aina habis di buat nya untuk hura - hura di club malam, yang parah nya Aina melihat dengan mata kepala nya sendiri kalau Fatih sedang berhubungan dengan wanita lain di ranjang mereka sendiri di saat Aina tidak ada di rumah".


Restu/ "Astaghfirullah, kok sampai sejahat itu si Fatih. Mas enggak nyangka kalau Fatih bisa berbuat seperti itu. Berlipat ganda dosa yang akan ia tanggung jika ia tidak segera bertaubat. Nauzubillahhiminzaliq". Ia merasa ngeri - ngeri gimana gitu.


Shahilla/ "Tuh kan mas, Apa enggak mendzolimin tuh nama nya mas, kan memang pantas untuk di hempas kan itu si Fatih".


Restu/ "Iya memang sudah sepantas nya Aina meninggal kan laki - laki seperti Fatih akan tetapi alangkah baik nya Aina juga jangan menjalin hubungan terlebih dahulu bersama Joe sebelum mereka benar - benar sah bercerai, dan lagi, Aina harus nya jangan mengambil hubungan berpacaran dengan Joe tapi langsung menikah, jika memang belum waktu nya maka bersabar. ALLAH paling membenci yang nama nya perceraian dan pacaran sebelum menikah".


Shahilla/ "Iya mas, tapi mau gimana lagi, kita juga enggak bisa menasihati mereka dengan segampang pemikiran kita karena apa yang kita pikir kan belum tentu dapat di terima oleh pikiran mereka".


Restu/ "Iya dek, tapi paling tidak, kita harus mencoba untuk mengingat kan mereka, agar mereka tidak terjerumus dari hal - hal yang dimurkai oleh ALLAH dan juga agar kita tidak kecipratan dari dosa itu".


Shahilla/ "Iya mas, In Sya ALLAH, pelan - pelan adek akan menasihati Aina".


Restu menarik pipi Shahilla.


"Uuummmm gemeeeeeez nya Ummi nya Zahira ini".


"Umm . . . Sayang sakit tauk". Shahilla mengusap pipi nya yang sedikit memerah.


Restu/ "Iih kok tumben manggil sayang, biasa cuma manggil mas mas. Enggak pernah dengar manggil sayang".


Shahilla/ "Jadi enggak boleh adek manggil mas sayang?".


Restu/ "Oh boleh donk, boleh banget, kalau bisa setiap detik manggil nya sayang he he he he".


"Huft itu mah mau nya mas". Shahilla mencubit pinggang Restu.


"Aduh sakit sayang". Rintih nya, lalu menarik tubuh Shahilla ke dalam dekapan nya.


.


.


Shahilla, Restu, Aina dan Joe berangkat ke Surabaya untuk menemui Fatih. Shahilla dan Restu sengaja mengajak Aan dan istri nya dan meminta bantuan mereka untuk bisa menjaga Zahira selama mereka menyelidiki kasus ini. Kini mereka sudah sampai di kediaman Aina dan Fatih yang dulu.


Shahilla/ "Kalian yakin, si Fatih masih tinggal di sini?".


Aina/ "Yakin lah, lagian dia mau pergi kemana lagi selain di sini, cuma rumah ini yang dia punya sekarang. Ya sudah ayuk kita masuk".


Joe menarik tangan Aina menahan nya membuka pintu pagar yang sedikit terbuka.


"Kamu yakin bakal masuk?, kamu enggak takut kalau . . .".


Aina/ "Aku yakin Joe, lagian aku sudah terbiasa melihat hal itu, aku siap kok".


Shahilla dan Restu saling lirik - lirikan karena enggak faham apa maksud kedua pasangan ini. Setelah membuka pintu pagar, mereka pun masuk ke dalam rumah yang pintu nya pun tidak terkunci.


Gelap, berantakan, semua barang - barang berserakan dimana - mana, seperti kapal pecah serta mencium aroma yang tak sedap, itu lah yang mereka lihat kondisi di dalam rumah. Restu menggenggam erat tangan Shahilla sembari menyusuri ruangan.


"Fatiiiiih, Fatiiiiih". Aina berteriak memanggil Fatih. Mereka mencari seisi rumah namun Fatih tidak di temu kan.


Joe/ "Mungkin Fatih lagi enggak ada di rumah".


Aina/ "Dengan meninggal kan rumah yang tidak terkunci?".


Joe/ "Ya bisa jadi, kamu kan tahu Fatih gimana orang nya".


Restu/ "Ya sudah, kita balik saja dulu ke hotel, nanti sore kita balik lagi ke sini, mana tahu entar sore Fatih sudah ada di rumah".


Aina mengangguk, ia merasa kecewa tidak mendapat kan hasil.


#Ha ha ha ha . . . .


Tiba - tiba terdengar suara orang sedang tertawa, dan suara nya semakin keras memasuki rumah.


Sentak mereka terkejut melihat Fatih yang baru muncul bersama dengan seorang wanita sexy dari pintu luar.


Fatih berjalan sempoyongan sembari merangkul wanita itu dan sesekali mencium wanita itu. Sedang kan Shahilla dan Restu enggan melihat kelakuan Fatih, berulang kali mereka beristighfar di dalam hati mereka masing - masing.


#Prook prook proook . . .


Aina menepuk tangan nya untuk kelakuan Fatih yang semakin menjadi - jadi. Spontan Fatih dan wanita itu terkejut melihat mereka berempat di dalam rumah.


#Ketepaaaaaaak


Aina menampar nya begitu keras sehingga meninggal kan bekas pada pipi nya. Aian benar - benar sudah geram dan muak dengan tingkah Fatih. Spontan mereka terdiam.


"Hebat kamu ya bisa senang - senang dan enak - enakan bersama wanita ja**ng ini". Aina menunjuk ke arah wanita itu.


"Eh mulut lu itu di jaga ya, sembarangan ngatain gue ja**ng". Wanita itu terpancing emosi.


"Heh . . . Sudah, lu enggak usah ikut campur urusan orang, gue enggak ada urusan nya sama lu. Mending lu pergi jauh - jauh sanah". Aina mengusir wanita itu. Dan Fatih pun juga menyuruh nya pergi, ia menyetujui nya.


"Kalian ke sini mau ngapain lagi, bukan nya urusan kita sudah selesai?". Fatih melirik ke arah Restu dan Shahilla.


Aina/ "Urusan mereka memang sudah selesai tapi urusan kita belum selesai".


Fatih/ "Urusan apa lagi sih Na?, surat cerai?, kan sudah aku tanda tangani bahkan aku juga sudah mengirim nya kepengadilan. Urusan kita sudah selesai".


Aina benar - benar sudah tidak tahan lagi. Secepat kilat ia menyambar pas bunga yang ada di atas meja lalu ia memukul nya ke kepala Fatih hingga pingsan. Aina benar - benar sudah di rasuki syaitan. Mereka benar - benar terkejut melihat reaksi Aina.


Shahilla dan Restu/ "Astaghfirullah Aina. . . .".


"Beb . . . Apa yang kamu lakukan?". Joe mencengkram tubuh Aina dengan erat serta menenang kan nya.


"Beb . . . Istighfar beb istighfar, astaghfirullahhal'adzim astaghfirullah".


Aina yang tadi nya seperti orang kesetanan kini sedikit lebih tenang dan mengikuti Joe untuk beristighfar. Tubuh Aina melemah dan sedikit terkulai hingga akhir nya ia jatuh pingsan.


Fatih dan Aina segera di lari kan ke rumah sakit yang tak jauh dari perumahan nya. Mereka di tangani dengan masing - masing dokter. Restu menenang kan Shahilla yang begitu panik dan ketakutan, sekujur tubuh nya bergetar tak tenang menunggu dokter tak kunjung keluar.


Restu/ "Tenang sayang, enggak akan terjadi hal yang buruk pada Aina, kita doa' in saja". Ia menggenggam tangan Shahilla yang dingin membeku.


Beberapa menit kemudian dokter pun keluar.


Dokter/ "Siapa keluarga kedua pasien?".


Joe menghampiri dokter itu.


"Kami dok, bagaimana keadaan nya dok?".


Dokter/ "Kondisi Buk Aina tidak apa - apa, Buk Aina hanya lelah dan terlalu banyak pikiran saja sehingga ia menjadi stres. Tapi kalau Pak Fatih . . . .". Dokter itu menghenti kan ucapan nya sembari menunduk kan kepala nya.


Restu/ "Kenapa dengan Fatih dok?, kondisi nya bagaimana?".


Dokter/ "Mohon maaf, Pak Fatih tidak bisa di selamat kan, karena terjadi nya benturan keras mengenai pada otak nya, sehingga otak Pak Fatih tidak dapat berfungsi kembali dan mengakibat kan kematian. Saya sangat menyesal dan turut berduka cita pada seluruh keluarga atas meninggal nya Pak Fatih. Permisi".


#Innalillahi wainna ilaihi rojiun

__ADS_1


__ADS_2