
Chapter 40
“Sayang, aku enggak bisa kita kayak gini terus - terusan. Kamu harus mengambil keputusan yang tepat, tolong jangan buat aku berada di posisi seperti ini terus – menerus, kamu enggak tahu kalau di posisi aku itu enggak enak nya sama sekali”. Di sebuah caffe yang lagi hits di Ibu Kota terdapat seorang laki – laki berbadan tegap memelas di hadapan seorang wanita berhijab yang tak lain adalah Aina.
“Joe . . . please kamu harus nya ngertiin posisi aku gimana. Aku tahu dan ngerti posisi kamu. Posisi kita sama – sama enggak enak, sama di gantungi, tapi paling enggak nya kita harus bertahan sampai waktu nya tiba. Kamu kan tahu gimana Fatih, Fatih itu enggak bodoh, dia pasti sudah menyembunyikan semua bukti – bukti kesalahan dia. Jadi aku mohon sama kamu untuk bersabar, sedikit lagi kita pasti akan menemukan bukti kesalahan Fatih, agar aku menang di pengadilan nanti”. Aina berusaha menenang kan Joe kekasih nya yang sudah mulai lelah dengan hubungan mereka yang enggak tahu kemana arah nya.
“Kalau saja kita enggak ketahuan sama Fatih soal pencarian bukti - bukti itu, mungkin kita sudah menikah dua minggu yang lalu”. Joe mengepal kan tangan nya, ia merasa geram.
“Kita yang sabar ya sayang, kalau bukan karena dukungan kamu, aku enggak tahi harus berbuat apa lagi, bisa - bisa aku roboh dan hancur, jadi aku minta tolong sama kamu jangan ngebuat aku semakin roboh, please aku sangat membutuh kan kamu”. Aina menggenggam tangan Joe.
Joe mengangguk kan kepala nya.
“Maaf ya sayang, aku janji, aku akan tetap sabar menunggu kamu, apa pun itu aku akan berusaha untuk kita, untuk memperjuang kan kebahagiaan kita bertiga bersama”.
Aina tersenyum dan mata nya pun berkaca – kaca.
“Terimakasi ya sayang”.
.
.
Flash Back.
#Kleteeek
Terdengar suara pintu yang di buka kan oleh seseorang dan mengaget kan Aina yang tertidur di sofa ruang tamu rumah nya. Dengan samar Aina melihat ke arah pintu, ia melihat sosok Fatih yang sedang berjalan sempoyongan.
“Mas . . . Baru pulang?”. Aina menghampiri Fatih dan ia memapah nya berjalan menuju ke kamar mereka.
“Ya iya lah, kalau aku belum pulang aku enggak bakalan ada di sini ketemu sama kamu istri yang enggak berguna”. Bentak nya dengan suara berat orang ma*uk dan sesekali menepis tangan Aina. Meski pun begitu Aina tetap merangkul nya untuk berjalan menuju ke kamar mereka.
Aina merebah kan badan Fatih di atas tempat tidur, dengan lembut dia membuka kan sepatu serta menggantikan pakaian Fatih dengan pakaian bersih. Aina mencium aroma alk**ol yang menyengat pada kemeja Fatih.
Setiap malam Aina selalu mendapati Fatih yang setengah sadar dan selalu mencium aroma yang sama pada kemeja nya.
“Mas, kamu kenapa akhir - akhir ini pulang nya selarut ini bahkan kamu sering tidak pulang”. Aina mencoba bertanya di saat Fatih sudah segar di pagi hari. Sedang kan Fatih hanya terdiam dengan wajah kesal nya dan mengacuh kan Aina.
“Mas . . .?”. Aina menarik tangan Fatih untuk menahan nya keluar dari kamar.
Spontan Fatih menggenggam graham Aina dengan kasar. Mata nya memerah menatap Aina yang kesakitan.
“Kamu enggak usah ikut campur Ini semua gara – gara kamu”. Fatih mendorong tubuh Aina hingga terduduk di lantai.
“Apa salah aku mas?”. Aina mulai menetes kan air mata nya.
“Salah kamu?, Kamu sudah membuat hidup aku jadi sial dan berantakan". Bentak nya.
Aina/ “Mas, kamu benar – benar sudah berubah sejak kamu kehilangan pekerjaan dan usaha - usaha kamu. Kamu enggak seperti yang aku kenal, kamu benar – benar bukan sosok yang dulu lagi”. ia menitih kan air mata nya.
“Mama . . .”. Tiba – tiba Reynan masuk ke kamar mereka dan mengaget kan mereka.
Sentak Aina berdiri dan menghampiri Reynan. Ia menghapus air mata yang ada di pipi nya dan membuang wajah muram nya menjadi ceria.
“Eh . . . Sayang, kamu sudah bangun”.
“Mama sama Papa lagi marah - marahan ya?”. Tanya nya sambil mengucek – ngucek mata nya.
“Enggak kok sayang, Mama sama Papa enggak lagi marah – marahan kok, iya kan Pa?”. Aina melirik ke arah Fatih yang berusaha meredakan amarah nya.
“Iya sayang, enggak kok, kami enggak lagi marah – marahan".
"Tapi tadi kenapa mama duduk di lantai?".
"Tadi mama kamu enggak sengaja terpeleset karena lantai nya licin, iya kan Ma?. (ia melirik Aina). Ya sudah Reynan sekarang mandi ya abis itu sarapan terus berangkat ke sekolah”. Fatih pun bermanis mulut.
“Ya sudah yuk sayang mari kita mandi, biar kamu enggak telat ke sekolah”. Aina mengajak Reynan untuk mandi dan ia pun menurut.
.
.
Seperti biasa nya setelah mengantar Reynan ke sekolah nya, Aina langsung ke kantor nya untuk bekerja. Sejak menikah bersama Fatih dan harus ikut Fatih ke Yogyakarta, Aina harus meminta surat mutasi di kantor nya yang kebetulan Majalah X memiliki cabang di Yogya.
Aina terus kepikiran dengan ucapan Fatih dan kelakuan nya akhir – akhir ini. Aina mengusap wajah nya karena tidak focus pada kerjaan nya.
“Hei . . .”. Tiba – tiba Joe mengaget kan nya dengan secangkir kopi.
Joe sebenar nya kepala direksi di kantor cabang tersebut. Sudah lama Joe menyukai Aina bahkan di saat Aina berada di Jakarta alias di saat Aina masih single dan berstatus wanita bercadar. Dia tahu betul tentang Aina bahkan konflik nya antara Restu dan Shahilla pun dia mengetahui nya, namun tak menggetar kan perasaan nya pada Aina.
Aina tersenyum pada Joe dan menyambut secangkir kopi yang di suguhi Joe di atas meja kerja nya.
“Thanks Joe”.
“Sama – sama. Oh ya muka kamu kok kusut gitu?, are you oke?, apa kamu lagi ada masalah?”. Joe pun duduk di kursi yang ada di hadapan Aina.
“Huuuuffftt”. Aina menghembus kan nafas nya yang terasa berat.
Joe/ “Kenapa sih Na?, coba kamu cerita aku, mana tahu aku bisa bantuin kamu”.
Aina kembali mengusap wajah dan mata nya yang sudah mulai memanas.
“Aku enggak tahu Joe harus mulai dari mana?”.
Joe/ “Pelan – pelan saja Na, enggak perlu terburu – buru. Kalau kamu belum bisa cerita ke aku sekarang, nanti – nanti kamu juga bisa cerita ke aku. Aku siap mendengar kan cerhatan kamu kapan pun yang kamu mau dan juga siap membantu kamu he he he”.
“Makasi banyak ya Joe, kamu memang teman yang sangat baik". Aina meraih tangan Joe.
“Kamu enggak perlu berterimakasi, karena sudah kewajiban aku sebagai teman kamu untuk selalu ada buat kamu dan membantu kamu di saat kamu membutuh kan bantuan he he he he”. Joe tersenyum menatap wajah Aina yang sedikit lusuh.
.
.
Setiap hari Aina selalu mendapat kan perlakuan yang tidak baik dari Fatih bahkan sering kali Fatih memukul Aina hingga babak belur dan jatuh sakit. Hingga kini Aina di lari kan oleh tetangga nya ke rumah sakit dan harus di rawat inap. Rumah sakit tersebut terletak tak jauh dari rumah nya.
__ADS_1
“Aina . . . .”. Joe langsung tergesa – gesa ke rumah sakit usai dia mendapati kabar buruk pada Aina.
Aina tersenyum pada Joe yang terlihat jelas kecemasan pada wajah nya.
“Kamu kenapa bisa seperti ini?, siapa yang membuat kamu seperti ini?, suami kamu mana?”.
“Aku enggak apa – apa kok, aku tadi enggak sengaja terjatuh karena enggak tahu kalau lantai kamar mandi licin, terus aku di lari kan sama tetangga aku ke sini karena mas Fatih sedang banyak pekerjaan di kantor nya he he he”. Aina berusaha untuk bangkit.
“Bohong, kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bohongi, aku tahu kamu tidak terjatuh, aku tahu kamu sedang berbohong”. Joe tahu benar sebab luka lebam yang di dapati Aina dan terlihat jelas bahwa luka tersebut karena di aniaya seseorang.
Aina menelan ludah nya dan mencoba menahan air mata nya.
“Aina please, cerita ke aku, apa yang terjadi sama kamu?, aku sering melihat kamu seperti ini”. Joe bersikeras agar Aina membuka suara.
Kini Aina tak mampu menahan air mata nya, tanpa malu Aina menangis sejadi – jadi nya di hadapan Joe. Dengan sigap Joe mendekati Aina dan memeluk nya dengan hangat sembari membelai kepala Aina. Sejak saat itu Aina memberani kan diri untuk mencerita kan semua nya pada Joe. Dan Joe pun membantu Aina untuk memata – mata’in Fatih.
.
.
Air mata Aina menetes ketika dia mendapati sosok Fatih sedang bermesraan bersama wanita lain di club malam. Aina yang tak sendirian alias bersama Joe mengikuti Fatih bersama wanita tersebut memasuki hotel yang tak jauh dari club malam.
Joe memegang pundak Aina untuk menguatkan Aina yang sudah hampir roboh. Dengan mata kepala Aina sendiri dan dengan jelas Aina melihat Fatih berci**an dengan wanita tersebut di depan pintu kamar hotel yang akan mereka masuki. Dengan gerak cepat Joe membalik kan badan Aina dan memeluk nya untuk mengalihkan pandangan nya.
Joe mengantar Aina pulang ke rumah nya. Kejadian tersebut selalu membayang – bayangi pandangan Aina. Air mata Aina tak kunjung berhenti mengalir ke pipi nya. Sedang kan Joe masih stay menemani Aina di rumah nya. Joe merasa cemas dan mondar – mandir di depan kamar Aina, dia khawatir dengan kondisi Aina.
“Om Joe ngapain ada di depan kamar Papa Mama?”. Reynan yang tiba – tiba muncul dari kamar mengagetkan Joe.
“Eh . . . Rey, kamu kok bangun ?”. Joe menghampiri Reynan dan berlutut.
“Reynan mau ke kamar mandi, Reynan kebelet pipis”. Jawab nya sembari memegang celana nya.
Joe/ “Oh . . . Reynan berani sendirian ke kamar mandi nya?, apa mau Om temenin?”.
“Enggak usah Om, Reynan berani kok sendirian ke toilet, Reynan kan anak laki – laki, terus Reynan juga sudah gede”. Reynan menolak nya.
“He he he good boy, ya sudah kalau gitu, sana gih ke kamar mandi nya”. Joe mengusap kepala Reynan dengan lembut. Reynan pun pergi meninggal kan Joe.
Beberapa menit kemudian.
“Om Joe mau nginap di sini ya?”. Dia mengaget kan Joe kembali.
Joe/ “He he he, emang nya Om boleh nginap di sini?”.
Reynan/ “Kalau Reynan sih boleh – boleh saja kalau Om nginap di sini supaya ada kawan Reynan tidur lagi soal nya Papa sudah jarang nemeni Reynan tidur, malah papa sudah jarang pulang ke rumah”.
Joe tersenyum menatap kepolosan Reynan dan merasa kan kalau Reynan sedang kesepian.
“Ya sudah malam ini Om nginap di sini ya, Om bakal nemani Reynan tidur”.
“Beneran Om?”.
“Iya”.
“Yeaaaaay . . . Asiiiiiiik, Reynan ada teman tidur nya”.
Joe/ “Ya sudah yuk, sekarang mari kita tidur karena sudah malam, entar takut nya Reynan telat ke sekolah besok”.
“Iya Om . . .”. Reynan mengajak Joe masuk ke kamar nya untuk tidur bersama.
.
.
Aina membuka kan mata nya yang sembab sembari melihat sekeliling nya dengan samar. Ia menyadari bahwa diri nya telah tertidur duduk bersandar di dinding dengan kondisi yang berantakan dan tanpa mengganti pakaian nya terlebih dahulu. Aina meregang kan pinggang nya yang terasa pegal karena posisi nya tertidur. Ia melirik ke arah jam yang ada di dinding kamar nya, yang jarum jam nya menunjuk kan pukul 04.40.
Ia berusaha berdiri dan berjalan tergopoh – gopoh menuju ke kamar mandi.
Tak lama Aina keluar dari kamar nya dengan penampilan nya yang lebih fresh dari sebelum nya. Seperti biasa dia menyiap kan sarapan serta keperluan Reynan dan Fatih di pagi hari. Seakan tak pernah terjadi apa pun, meski ingatan itu masih membayangi lantas tak membuat nya lupa dengan kewajiban nya di pagi itu.
Usia membuat kan sarapan dan lain nya, Aina berjalan menuju ke kamar Reynan untuk membangun kan anak semata wayang nya itu. Dengan pelan Aina membuka pintu kamar Reynan yang tak terkunci. Mata nya terbelalak ketika dia melihat sosok Joe tidur di samping Reynan. Seperti Ayah dan Anak. Aina menelan ludah nya, tanpa sadar air mata nya menetes ke pipi nya.
Aina menyeka air mata nya dan mendekati mereka. Dengan lembut Aina membangun kan Reynan.
“Rey . . . Bangun nak, ini sudah pagi, yuk kita siap - siap ke sekolah”. Aina mengusap – ngusap kepala Reynan, dan di respon oleh Reynan dengan gerak kan malas.
“Rey . . .”. Ulang nya.
“Hmp . . .?”. Reynan pun bangkit dengan mata yang masih tertutup alias setengah sadar. Tanpa membangun kan Joe, Aina langsung membawa Reynan ke kamar mandi dan menyiap kan semua keperluaan nya ke sekolah.
“Kok Om Joe enggak di bangunin sih?”. Joe mengaget kan Aina dan Reynan yang sudah duduk di meja makan.
“Maaf Om Joe, tadi Reynan mau ngebanguni Om tapi mama yang enggak ngasi, kata mama biarin saja Om Joe tidur dulu, jangan banguni soal nya Om Joe lagi kecapekan, maka nya Reynan enggak jadi membangun kan Om Joe, iya kan ma?”. Reynan melirik Aina.
“Eh . . . Iya sayang”. Aina tersenyum kikuk.
“Oh ya Joe, kita sarapan yuk, aku sudah siap kan sarapan nya”.
“Iya Na, terimakasi”. Joe menarik kursi yang bersebelahan dengan Reynan sembari melirik Aina yang tengah sibuk dengan hidangan nya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Joe menatap Aina yang begitu lihay memperlakukan Reynan dengan ke ibuan nya.
Reynan/ “Ma . . . Papa kenapa sih jarang pulang?, Reynan rindu lho sama Papa".
Pertanyaan Reynan membuat Aina terdiam membatu sedang kan Joe melirik Aina yang juga melirik nya. Aina berusaha untuk tidak menunjuk kan kesedihan nya di depan Reynan.
“Sayang, Papa lagi banyak kerjaan nya. Reynan doa kan saja Papa sehat – sehat ya nak dan secepat nya menemui Reynan”.
Reynan mengangguk pelan.
"Aamiin".
Aina/ “Ya sudah, Reynan cepat sarapan nya karena sebentar lagi jemputan nya tiba, kan enggak enak kalau kamu telat masuk ke sekolah”.
“Reynan malas lah ma kalau di antar jemput nya naik bus sekolah, Reynan mau nya di antar jemput sama mama papa kayak dulu”. Reynan memonyong kan bibir nya.
Aina menarik nafas nya.
__ADS_1
“Reynan sayang, kamu kan tahu kalau papa sama mama kamu lagi banyak kerjaan. Papa sama Mama kamu bukan nya enggak mau lagi ngantar jemput kamu ke sekolah tapi emang lagi belum bisa sayang. Tapi nanti kalau papa sama mama kamu sudah enggak banyak lagi kerjaan nya pasti mereka bakal ngantar jemput lagi kayak dulu. Iya kan Ma?”. Joe menyambung untuk membujuk Reynan.
Aina/ “I .. . Iya sayang, mama janji, nanti pasti Mama antar jemput kamu lagi”.
Reynan/ “Janji ya ma?”.
“Janji”.
Joe/ “Ya sudah gimana kalau hari ini, Om Joe dan mama yang ngantar Reynan?”.
Reynan/ “Beneran Om, ma?”.
“Iya”. Seru mereka secara serentak.
“Asiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik”.
Aina dan Joe tertawa kecil melihat tingkah Reynan.
.
.
.
“Daaaa Ma . . . Daaaa Om Joe . . . .”. Reynan melambai kan tangan pada Aina dan Joe yang berada di dalam mobil.
Aina/ “Daaaa sayang. Nanti mama enggak bisa jemput ya sayang, Reynan pulang nya sama bus sekolah saja ya nak?”.
“He em iya ma .. .”. Reynan mengangguk pelan dengan tampang murung nya.
Joe/ “Kok Reynan murung gitu?, Reynan harus semangat donk, ntar Om Joe enggak mau lagi nih nemenin Reynan, kalau Reynan cemberut gitu wajah nya”.
Reynan menyungging kan senyum nya.
Joe/ “Gitu donk, itu baru baru nama nya anak cakep, ntar Om Joe janji bakal bawa’ in Reynan jalan – jalan ke tempat yang Reynan mau”.
“Janji ya Om?”.
“Janji”.
Wajah Reynan Nampak sembringah karena imingan Joe. Joe emang pintar mengambil hati anak kecil dan dia juga sangat menyukai anak kecil.
“Asiiiiik, ya sudah Reynan masuk dulu ya ma om?, daaaaaa”.
.
Aina/ “Kamu enggak perlu sampai kayak gitu Joe ke Reynan?”.
Wajah Joe mendadak berubah menjadi getir menatap Aina.
“Kenapa?, kamu enggak suka kalau aku dekat sama Reynan?”.
Aina/ “Bukan begitu Joe, Cuma aku yang merasa enggak enak sama kamu karena selalu ngerepoti kamu, dan aku juga enggak mau Reynan terus – terusan manja sama kamu seperti itu”.
Joe bernafas lega dan tersenyum simpul.
“Aku enggak masalah kok Na, justru aku senang bisa manja’ in Reynan kayak gitu. Jujur aku paling senang sama anak kecil, apa lagi sama tingkah mereka yang begitu polos he he he”.
Aina mulai bersimpati terhadap Joe yang begitu penyayang terhadap anak kecil terlebih lagi dengan anak semata wayang nya..
Joe/ “Oh ya . . . kamu mau aku antar ke rumah atau kita langsung ke kantor?”. Joe menghidup kan mesin mobil nya dan keluar dari area sekolah Reynan.
Aina/ “Emm . . .?, antar ke rumah saja Joe, soal nya aku lagi mau sendirian di rumah. Lagian tadi aku sudah ngasi tahu ke Risma sekretaris aku kalau aku hari ini enggak masuk”.
“Ouh . . . Ya sudah”. Joe melirik Aina yang wajah nya sedikit tertunduk.
Sesampai nya di area perkomplekan rumah Aina. Mereka melihat sosok Fatih sedang duduk di depan pagar rumah nya dengan kondisi nya yang sangat berantakan. Joe memarkir kan mobil nya dan menghentikan nya. Aina pun keluar dari mobil dan berjalan mendekati pintu pagar.
“Kemana saja kamu?, sudah dua jam aku panas – panasan nunggu’ in di sini”. Fatih membentak Aina bahkan menarik tangan nya dengan kasar.
Aina memutar bola mata nya.
“Aku abis ngantarin Reynan ke sekolah”.
“Sama dia?”. Fatih menunjuk kan jari telunjuk nya ke arah Joe yang berdiri tegak tak jauh dari mereka.
“Iya”.
Fatih/ “He . . .h, sudah mulai melunjak kamu ya, mentang – mentang suami enggak ada di rumah terus kamu berani bawa laki – laki lain ke rumah haaa…?”. Fatih meremas dagu Aina sekuat tenaga nya sehingga meninggal kan bekas pada dagu Aina.
Hati Joe terasa mendidih melihat wanita yang sangat dia cintai di perlakukan seperti itu. Namun begitu sungguh Joe tak berdaya dan tidak memiliki hak untuk ikut campur.
“Sini tas kamu”. Fatih merampas tas kecil yang di sandang oleh Aina di bahu nya. Fatih mengeluar kan semua isi dompet Aina alias semua uang cash serta kartu kredit milik Aina.
“Aku pulang karena aku butuh duit”. Fatih melempar tas itu ke wajah Aina setelah dia merampok semua isi dompet Aina.
“Jangan coba – coba bawa laki – laki lain ke rumah aku, ngerti kamu?”. Fatih kembali meremas dagu Aina dan pergi meninggal kan mereka.
Air mata Aina mengalir tak terhingga. Joe yang tak berdaya secepat kilat menghampiri Aina dan menuntun nya masuk ke dalam rumah. Joe tak tahu harus berbuat apa menghadapi Aina yang terpaku dengan air mata nya. Dia hampir frustasi dan sesekali ia mengacak rambut nya.
“Please Na tinggal kan dia, dan datang lah pada ku. Aku enggak sanggup melihat kamu selalu di perlakukan tidak baik sama Fatih”. Karena sudah tak sanggup melihat penderitaan yang alami Aina akhir nya Joe mengungkap kan semua isi nhati nya dan menyambar tubuh Aina dengan hangat sembari mengusap – ngusap kepala Aina dengan lembut.
“Please Na, aku akan ngebahagiakan kamu dan Reynan, aku enggak akan membuat kamu menangis seperti ini, tolong tinggalin dia”. Sedang kan Aina semakin terisak dalam tangisan nya. Aina pun mengangguk kan kepala nya di bahu Joe dan membalas pelukan Joe.
Awal mula kisah cinta terlarang Aina dan Joe. Meski pun terlarang namun itu lah yang terbaik untuk Aina dan Reynan.
Orang bilang cinta itu buta.
Orang bilang cinta itu tuli.
Salah…!!
Bukan karena cinta yang membuta kan kita.
Namun karena cinta lah yang membuka kan mata hati kita.
__ADS_1
Bukan pula karena cinta yang menutup telinga kita sehingga membuat kita tuli.
Namun karena cinta lah kita mendengar dan mengikuti kata hati kita yang tak pernah salah.