
Chapter 48
Flash back . . .
Haikal berlari kecil melakukan latihan pada tubuh nya alias jogging di pagi hari.
“Kang Haikal ini ada paket untuk kang Haikal”. Security di rumah nya menyodor kan sebeluah paket untuk diri nya.
Haikal mengambil nya.
“Terimakasi ya Pak”.
“Iya kang”.
Haikal membawa paket itu ke dalam kamar nya, ia membaca alamat pengirim.
“RESTU?”. Perlahan namun pasti ia membuka paket tersebut. Ia terkejut melihat isi dari paket tersebut yakni sebuah undangan pernikahan Restu bersama Shahilla.
“Enggak mungkin, ini pasti Shahilla yang lain, enggak mungkin Shahilla yang sama”. Haikal memcampak kan undangan itu ke lantai, ia menyangkal nya dan tak ingin mempercayai undangan tersebut. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”.
Di hari pernikahan Restu dan Shahilla. Haikal memang sengaja tidak menghadiri acara pernikahan mereka. Bukan karena job endorse ke luar negri yang pernah ia cerita kan penyebab nya, melain kan dia hampir frustasi karena patah hati.
Bagaimana bisa, selama hampir 15 tahun ia menungu dan mencintai Shahilla, di saat ia sudah berhasil dan ingin mencari Shahilla, di saat itu juga dia mendapat kan kabar Shahilla akan menikah bersama dengan Restu.
“Ini semua gara – gara loe Na, ini semua gara – gara loe, gara - gara loe aku kehilangan Shahilla”. Haikal geram mengingat di saat mereka masih nyantri, dimana Haikal meminta bantuan pada Aina untuk mendekat kan nya pada Shahilla namun Aina menolak nya, apa lagi di tambah dengan kesalah fahaman mengenai surat yang dia kirim untuk Shahilla tapi Aina malah bungkam, tak ingin memberitahu Shahilla kebenaran nya.
Haikal benar – benar frustasi karena Shahilla sudah menikah dengan teman nya itu. Haikal seperti hilang arah bahkan ia tenggelam di dunia hiburan.
Beberapa bulan kemudian karir Haikal melambung kembali karena konten youtube yang di upload nya. Ia mendadak viral karena itu. Job – job berlimpah luah menghampiri diri nya.
“Kal . . . Ini ada undangan dari si Restu untuk loe, acara aqikahan anak pertama nya”. Manager nya menyodor kan undangan tersebut.
Hati Haikal terasa nyes, ia menyambut nya.
“Thanks bro”.
Manager/ “Ehh elo jangan sampai enggak datang ke acara nya, karena wantu acara nikahan nya elo enggak datang, masa di acara ini elo enggak datang juga. Enggak enak sama Restu, apa lagi kalian temanan baik”.
“Iya gue tahu, elo kosong kan saja jadwal gue di hari itu. Ini kita sudah selesai kan?, gue mau langsung cabut”. Haikal memijat – mijat dahi nya yang terasa berat.
Manager/ “Sudah, emang elo mau kemana lagi?”.
Haikal/ “Gue mau pulang, gue sudah capek banget. Ya sudah, gue duluan ya”.
Manager/ “Iya, hati – hati loe”.
“Hmmmm”.
.
.
Dengan terpaksa Haikal harus datang ke acara aqiqahan Zahira. Ia melihat para tamu yang rata – rata kebanyakan dari kalangan artis seprofesi diri nya, tak lupa ia selalu memberi kan salam hangat kapada artis – artis lain nya.
Mata Haikal liar mencari sosok Shahilla yang sangat ia rindu kan, hingga akhir nya sosok itu tertangkap oleh mata nya.
Ia melihat Shahilla berjalan bersama dengan Restu serta Zahira yang ada di gendongan Restu. Mata Haikal tak berkedip melihat Shahilla dan setiap gerak – gerik nya.
“Ini dia bidadari kecil yang selama ini buat kita – kita penasaran, akhir nya bisa ketemu juga he he he”. Akhir nya memiliki kesempatan untuk menyapa Restu setelah banyak nya tamu menyapa nya.
“Oup bro, sudah lama ya kita enggak ketemu?, sehat?”. Restu menyambut nya dengan antusias.
. . . .
.
“Oh ya binik lu mana?, kenalin lah sama gue”. Haikal memberani kan diri nya untuk menanyakan Shahilla pada Restu.
Restu/ “Ahh kagak, gue malas ngenali nya sama lu, lu orang nya lemes ha ha ha”.
Haikal/ “Lemes – lemes gini, gue actor papan atas bro he he he”.
“Ha ha ha iya iya saya akuin itu. Sayang . . . .”. Restu berteriak memanggil Shahilla ketika dia melihat nya berdiri di antara keluarga mereka. Shahilla pun menoleh dan Restu melambaikan tangan nya memanggil diri nya.
Mata Haikal terpaku menatap Shahilla yang berjalan menghampiri mereka.
“Kenapa mas?, Mas sudah capek ya menggendong Zahira?, sini biar adek saja yang menggendong Zahira”. Shahilla ingin mengambil alih Zahira tanpa memperduli kan teman suami nya itu alias Haikal.
“Enggak sayang, mas enggak capek kok, masa iya mas capek ngegendong anak sendiri he he he. Mas manggil kamu karena mas mau ngenalin kamu sama teman mas”. Restu menunjuk kan ke arah teman nya itu, Shahilla pun membalik kan badan nya melihat sosok tersebut.
“Haikal ?”. Shahilla terkejut melihat Haikal.
Batin Haikal/ “Ternyata kamu masih ingat sama aku La”.
“Kamu kenal sama Haikal sayang?”. Restu mengerut kan dahi nya.
Haikal/ “Ya kenal lah, secara kan gue sekarang actor terkenal he he he”.
“Gue serius?”. Restu memberengkan mata nya pada Haikal.
“Haikal satu angkatan sama adek dulu waktu kami santri di siantar”. Tak sedikit pun Shahilla melirik Haikal, dia hanya memandangi Restu saja.
Haikal/ “Ha ha ha, iya bro, dulu gue pernah satu santri sama binik lu. Binik lu dulu santri cewek yang paling popular waktu itu bahkan dia anak kesayangan, ya maklum lah binik lu jenius nya luar biasa, betul enggak La?, he he he”.
Shahilla hanya tertunduk mendengar kan pujian dari lelaki lain selain suami nya.
Restu/ “Oh ya?, Ma Sya ALLAH, terus kalian kok bisa kenal gimana cerita nya?, bukan nya santri cewek sama santri cowok terpisah ya?”. Dia mulai penasaran.
Haikal menjelas kan semua nya pada Restu. “Hmmm betul enggak tu La?”. Haikal melirik Shahilla yang tertunduk sembari mengangguk pelan.
.
.
“Oweeek . . . Owek . . Oweeeek . . .”. Tiba – tiba baby Zahira menangis. Dengan sigap Shahilla mengambil alih menggendong Zahira.
Shahilla/ “Sini Mas, mungkin Zahira haus”.
“Iya, Ssst . . . ssstt . . . . sstttt . . .”. Restu mengelus lembut pipi buah hati nya itu.
Shahilla/ “Ya sudah mas, adek masuk bentar ya, adek mau menyusui Zahira dulu di dalam kamar”.
“Iya sayang”. Restu mengusap kepala Shahilla.
Sedang kan Haikal menatap keserasian mereka berdua dan menatap kepergian Shahilla yang meninggal kan mereka berdua.
.
“Ternyata Shahilla masih ingat sama aku. Awal nya aku takut kalau dia sama sekali tidak mengingat aku, tapi syukur deh dia masih ingat sama aku”. Haikal berbicara sendiri di dalam kamar sembari senyum – senyum mengingat Shahilla masih mengenali diri nya namun di selingi dengan ingatan nya melihat kemesraan Shahilla dan Restu yang membuat nya muak.
.
.
“Hari ini kemana saja jadwal gue?”. Haikal bertanya pada manager.
Manager nya pun membuka agenda nya.
__ADS_1
“Hari ini jadwal loe cuma dua, jam 10 – jam 11 loe ngisi acara di event brand XXX di mall XXX, terus sore nya jam 5 loe nge – vlog social experiment gitu”.
Haikal yang sejak tadi sedang mengering kan rambut nya kini beralih menuju ke lemari baju nya.
“Hmmm . . .di event itu gue dapat kostum enggak dari mereka?”.
Manager/ “Enggak ada sih, cuma mereka minta elo makai baju casual terus warna putih biru gitu, ya sesuai dengan ciri khas warna brand mereka”.
Haikal memilih – milih baju mana yang akan dia pakai, serta memadu padan kan sesuai dengan style nya.
Tepat jam 10 pagi, Haikal turut mengisi acara tersebut dan berlangsung selama satu jam. Para tamu yang berada di event tersebut ber-antusias ingin berfoto bersama dengan nya sebelum Haikal meninggal kan tempat itu. Dengan keramahan nya, Haikal pun menerima mereka dengan hangat dan pasrah saja meladeni mereka. Semakin lama Haikal berada di situ semakin ramai juga orang – orang mengerumuni nya hingga akhir nya dia pun lelah, meminta izin untuk segera pergi.
.
Haikal/ “Bos, kalau lu mau pulang, pulang saja duluan, gue masih mau jalan dulu, sekalian ada yang mau gue cari lagi di sini”.
Manager/ “Elo yakin mau jalan lagi?, sendiri?”.
Haikal/ “Iya yakin lah, kalau enggak ngapain juga gue nyuruh lu pulang duluan”.
Manager/ “Entar elu di kejar – kejar lagi sama fans – fans loe, tadi saja ada gue, elu habis di kerumuni, apa lagi elo jalan sendirian”.
Haikal/ “Sudah, kalau gue bilang enggap apa – apa, ya enggak apa – apa bos. Sudah pulang lu sanah”.
Manager/ “Iye . . . iye . . . awas lu kalau sampai nelpon gue gara – gara minta tolong keluarin dari kerumunan fans lu”.
Haikal/ “Iya, kagak bakal gue nelponi elu, udah sanah pigi”.
Manager/ “Iya, oh ya jangan lupa lu ntar sore, jangan sampai telat lu”.
Haikal/ “Iyaaaa bawel amat dah lu”.
.
Haikal berjalan menyusuri koridor mall dan sesekali memasuki dari toko ke toko lain untuk mencari sesuatu yang dia butuh kan seperti kamera. Hanya beberapa langkah ia baru keluar dari sebuah toko, tiba – tiba seorang wanita berhijab menabrak diri nya. Wanita itu tak lain ialah Aina.
“Mbak enggak apa – apa?”. Haikal menarik tangan Aina.
Sedang kan Aina tak melirik Haikal, mata nya hanya tertuju melihat jalanan yang dia lewati.
“Mbak?”. Ulang nya. Tiba – tiba Aina menyambar tubuh Haikal, ia memeluk Haikal dengan erat tanpa berkata sepatah kata pun dan menenggelam kan wajah nya ke dada Haikal. Sentak Haikal terkejut tiba – tiba wanita itu memeluk nya. Haikal menelan ludah nya.
“Ini perempuan ada aneh – aneh nya deh, di tanya’ in enggak jawab ehh ini malah meluk gue sembarangan. Apa jangan – jangan ini cewek modus lagi sama gue”. Batin Haikal berkata – kata, ia menaruh curiga. Haikal terpaku karena diri nya, cukup lama adegan pelukan itu berlangsung.
“Maafin saya ya mas”. Aina tersenyum kikuk dan melepas kan pelukan nya.
“Haikal?”.
Alis mata Haikal mengkerut menatap wajah Aina yang tak di kenali nya.
“Aku Aina, teman kamu waktu di pesantren”. Aina mencoba mengingat kan nya.
“Oh ya ampun, Aina, Nurul Aina kan?”. Haikal mengingat nya.
Batin nya/ “Jadi ini wujud asli loe Na, ternyata loe cantik juga”. Haikal melirik keselurahan Aina dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Aina/ “Iya, kamu apa kabar?”.
Haikal/ “Aku baik Na, ehh kita ke sana yuk, enggak enak kalau ngobrol nya di sini”. Haikal menunjuk kan caffe yang ada di ujung koridor mall. Aina mengangguk.
Mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi pojokan agar tak banyak yang melihat mereka, mengingat Haikal adalah seorang actor. Mereka asyik mengobrol, mulai menanyak status, pekerjaan mau pun masa lalu.
Haikal/ “Oh ya aku mau nanya sama kamu, waktu aku nanya ke Shahilla soal surat yang sering aku letak di atas meja kalian dulu, nah terus kenapa Shahilla mikir nya itu surat untuk kamu ya Na?”.
Aina mendadak terdiam.
Batin Haikal/ “Enggak bisa jawab loe kan?, lagian gue emang sudah tahu, gara – gara elo surat itu enggak pernah untuk Shahilla”.
“Pantesan saja surat – surat aku enggak pernah ada balasan”. Haikal sebenar nya hampir terpancing emosi melihat tampang Aina tampang tak berdosa.
Aina/ “Sorry ya Kal, tapi Shahilla baca juga kok surat – surat itu”.
Haikal/ “Huffft, sama saja, kalau pun Shahilla juga membaca nya tapi kan dia enggak merasa kan nya jadi sama saja dengan bohong Na”.
Aina/ “Maaf”.
Haikal/ “Ya sudah lah, lagian semua kesalah fahaman sudah menemukan kebenaran nya, dan akhir nya Shahilla juga tahu soal perasaan aku, yaaa walau pun sudah terlambat”.
Aina/ “Maksud kamu?, kamu masih punya perasaan sama Shahilla?”.
Haikal mengangguk pelan.
“Sampai sekarang?”. Aina sulit mempercayai nya.
Haikal/ “Iya Na, aku masih memiliki perasaan itu, tak berkurang sedikit pun malah semakin hari semakin bertambah. Waktu aku tahu Shahilla akan menikah bersama Restu, jujur aku ngerasa sakit dan patah hati, aku mau menghindar karena aku enggak sanggup melihat mereka bersanding, tapi itu enggak mungkin secara aku teman baik nya Restu, mau enggak mau aku harus hadir. Sampai akhir nya keadaan berpihak sama aku, di hari itu juga sebuah produk parfume bermerk menawar kan aku endorse dan photo shoot nya harus ke Korea, tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran mereka, jadi aku punya alasan untuk tidak melihat mereka di hari yang berbahagia mereka. Kayak anak ABG aku nya pakai galau – galau’ an he he he”. Ucapan nya ini pun tidak benar alias bohong.
“Ya ampun, aku pikir perasaan kamu hanya perasaan cinta – cinta monyet yang bakal sirna dengan seiring nya waktu, enggak tahu nya hmmm”. Aina merasa salut pada perasaan Haikal.
Haikal/ “He he iya, aku pun juga berpikir seperti itu. Tapi ya sudah lah, sekarang Shahilla sudah menemu kan kebahagiaan nya bersama Restu. Aku enggak boleh menentang itu, yang harus aku lakukan sekarang aku harus belajar dan berusaha untuk menghilang kan perasaan ini”.
Aina/ “Hemm . . . kamu yang sabar ya. Aku yakin kamu bisa melupa kan perasaan kamu ke Shahilla, dan mengganti kan nya dengan wanita yang terbaik untuk kamu”.
Haikal/ “Aamiin, terimakasih ya Na”.
. . . .
.
“Oh ya aku balik duluan ya, soal nya bentar lagi aku ada jadwal mau nge – vlog, bil nya biar aku saja yang bayar”. Haikal melihat jam tangan nya.
Aina/ “Oh jadi kamu nge – vlog juga?”.
Haikal/ “Iya donk, kan lumayan duit nya hi hi hi”.
Aina/ “Hmm duit saja yang di pikirin, jodoh kamu tuh yang harus nya di pikirin ha ha ha”.
“Kalau itu mah gampang, kalau duit sudah gendut tuh jodoh bakal datang sendiri, bahkan jodoh jadi – jadian pun datang juga ha ha ha”. Haikal menjentik kan jari nya.
Aina/ “Ha ha ha, bisa saja kamu, ya sudah kamu pergi sanah”. Aina mendorong tubuh Haikal dengan pelan.
Haikal/ “Aih mak, di usir aku bah”.
Aina/ “Ha ha ha, kok jadi keluar batak mu?”.
Haikal/ “Ha ha ha iya, sudah rindu sekali aku sama Medan. Kapan – kapan kalau ke Medan kita barengan ya”.
Aina/ “In Sya ALLAH”.
“Ya sudah, aku jalan duluan ya, bye . . . .”. Haikal melambai kan tangan nya dan berlalu meninggal kan Aina sendirian di dalam caffe.
.
.
Dari kejauhan Haikal melihat Aina berlari ketakutan seperti di kejar – kejar setan. Ternyata Haikal belum beranjak dari tempat itu karena dia hampir kehilangan tiket parkir nya.
Haikal merasa heran ketika dia melihat dan mendengar Fatih berlari mengejar mobil Aina sembari meneriakin nama Aina.
__ADS_1
“Seperti nya Aina bohong soal dia di kejar – kejar sama lakik orang, masa iya gara – gara ice cream sampai segitu nya prian itu mengejar nya, seperti mengejar pencuri saja. Hmm . . . kayak nya aku mesti cari tahu apa yang terjadi sama Aina dan siapa orang yang mengejar nya”. Haikal bergumam melihat Fatih berjalan kembali ke parkiran.
Haikal masuk ke dalam mobil nya, ia melajukan mobil nya hampir melewati Fatih. Dengan sengaja Haikal menyenggol kaki Fatih dengan mobil nya.
“Woiiii . . . kalau bawa mobil yang bener lu”. Fatih meneriakin Haikal dengan emosi sembari memukul body mobil Haikal.
Haikal menghenti kan mobil nya, lalu keluar meghampiri Fatih dengan tampang memelas.
“Ya ampun, maaf mas, maaf, saya tidak sengaja, mas enggak kenapa – kenapa?, saya bawa mas ke rumah sakit ya?”.
Fatih/ “Enggak usah, saya enggak apa – apa, lagian saya juga yang salah jalan enggak pakai lihat – lihat”.
Haikal/ “Beneran enggak apa – apa mas?, atau kita ke rumah sakit saja ya biar mas nya di periksa”.
Fatih/ “Enggak usah mas, benaran saya enggak apa – apa”.
Haikal/ “Mmm . . . ya sudah kalau gitu mas nya saya antar pulang ke rumah gimana?”.
Fatih/ “Enggak usah, saya bisa sendiri kok”.
Haikal/ “Ouh mas nya bawa mobil sendiri ya?”.
Fatih/ “Enggak kok, saya tadi ke sini naik taxi online”.
“Oh ya sudah, kalau gitu saya antar saja mas nya, ngitung – ngitung sebagai bentuk perminta maafan saya sama mas nya”. Haikal kekeh memaksa Fatih. Dan akhir nya Fatih pun mau di antar oleh Haikal.
Haikal menyungging kan senyuman nya karena dia berhasil membuat Fatih memberikan peluang untuk mendapat kan tujuan nya. Ia menghidupkan mesin mobil dan keluar dari parkiran mall tersebut.
“Oh ya mas, saya sampai lupa, nama saya Haikal, maaf ya mas, saya enggak bisa mengulur kan tangan saya, soal nya lagi nyetir he he he”. Haikal melirik Fatih.
Fatih/ “Iya enggak apa – apa. Nama saya Fatih”.
Haikal/ “Hm, ini mau saya drop kemana mas Fatih nya?”.
Fatih/ “Antar saya ke Hotel Xxx saja".
Haikal/ “Lho . . . mas tinggal di hotel?”.
Fatih/ “Sebenar nya saya bukan tinggal di Jakarta, saya asli dari Yogya, saya ke sini karena saya mau jemput istri saya, maka nya saya nginap nya di hotel”.
Haikal/ “Ouh gitu, wah istri nya lagi liburan pakai di jemput – jemput segala ya mas he he he”.
Fatih/ “He he he, sebenar nya istri saya enggak lagi liburan di sini, istri saya kabur dari rumah, terus saya dapat informasi dari anak saya kalau dia ada di sini maka nya saya susul dia ke sini”.
Haikal/ “Ya ampun, terus mas nya sudah ketemu sama istri mas?”.
Fatih/ “Tadi nya ketemu waktu saya nyari di mall itu, cuma pas dia ngelihat saya, dia nya malah kabur menjauh dari saya”.
Batin Haikal/ “Benar dugaan aku”.
Haikal/ “Emang mas enggak tahu alamat nya di sini?”.
Fatih/ “Saya enggak tahu mas, saya juga sudah nanya ke anak saya dan mertua saya, mereka pun juga enggak tahu istri saya dimana”.
Haikal/ “Lah jadi anak nya mas enggak sama istri mas?”.
Fatih/ “Enggak mas, istri saya menitip kan nya di rumah mertua saya di Medan, itu pun saya baru tahu karena saya menghubungi mertua saya”.
Haikal/ “Ya ampun, yang sabar ya mas, semoga semua masalah mas dan istri mas bisa terselesai kan”.
Fatih/ “Aamiin”.
Haikal menghentikan mobil nya setiba di depan hotel yang di maksud Fatih.
“Terimakasih banyak ya mas, dan maaf sudah merepot kan”. Fatih pun keluar dari mobil.
Haikal/ “Ahh tidak mas, seharus nya saya yang minta maaf, gara – gara saya mas hampir kenapa – kenapa he he he”.
Fatih tersenyum membalas senyuman Haikal.
“Ya sudah mas, saya langsung masuk duluan ya, sekali lagi terimakasi”.
“Iya mas, sama – sama. Saya permisi ya mas”. Haikal berlalu menjauh dari hotel tersebut.
“Benar dugaan gue, ternyata dia suami nya, ck. Gue jadi penasaran bagaimana kehidupan mereka”. Haikal ber- inisiatif untuk mencari tahu tentang kehidupan Aina bersama dengan suami nya. Dia menyuruh orang – orang suruhan nya untuk melacak keberadaan Aina dimana dan tempat kerja nya. Hingga akhir nya dia mendapat kan semua info tentang kehidupan Aina bahkan hingga sampai kisah konflik antara Aina, Shahilla dan Restu pun dia ketahui.
“Hh . . . Ternyata segitu rumit nya kisah hidup loe Na tapi menarik juga untuk menjadi sutradara nya, gue akan membantu kalian untuk membuat hidup kalian semakin rumit dan merasa kan derita yang kalian buat pada gue dulu, dimana gue kehilangan semua yang gue punya terutama cinta gue, Shahilla”. Haikal tertawa puas di dalam kamar nya sembari memegang informasi – informasi yang ia dapati dari orang – orang suruhan nya.
.
.
"Kal, lu sudah lihat belum berita hari ini?". Manager yang selalu ia panggil itu menyodor kan ipad nya untuk membaca sebuah artikel gosip mengenai Restu dan Aina serta pemboikotan seluruh kontrak kerja Restu.
Haikal pun mengambil ipad itu.
"Artikel apa?". Ia membaca artikel tersebut.
Batin nya/ "Hhh si boy emang benar - benar bisa di andalin, good job boy, enggak salah gue mempercayai loe".
Manager/ "Kasian juga gue sama si Restu, sudah jatuh ketimpa tangga pula lagi, gara - gara berita hoax ini karir nya jadi hancur, gue enggak ke bayang bisa jadi dia".
Haikal melirik nya/ "Jadi menurut lu ini berita enggak benar?".
Manager/ "Ya iya lah, nih ya walau pun gue enggak begitu akrab dengan Restu tapi gue cukup tahu dia orang nya gimana, mana mungkin dia mau menyakiti hati perempuan apa lagi hati binik nya, sudah pasti lah ini berita enggak benar, lu tahu lah di dunia hiburan ini gimana, kalau karir si artis sudah melambing tinggi sudah pasti banyak bermunculan berita - berita sampah kayak gini".
Haikal/ "Ouh . . . Iya lah, mana mungkin si Restu ngelakui itu, enggak mungkin banget, dia kan cinta dan sayang banget sama istri nya. Lagian itu perkara masa lalu nya".
Manager/ "Betul kan, enggak mingkin kan kalau Restu melakukan hal seburuk itu?".
"Hmmm".
.
.
Haikal berdiam sendiri di dalam ruang ganti nya di lokasi syuting. Haikal enggak sampai pikir kalau manager nya sendiri enggak percaya dengan berita yang ia buat itu.
"Si Surya saja enggak percaya sama berita itu, gimana yang lain nya ya, apa jangan - jangan mereka juga sepemikiran sama si Surya? Bisa gawat juga kalau mereka enggak percaya dengan berita itu. Bisa sia - sia usaha gue selama ini". Dumel nya berpikir keras.
.
.
Haikal tak henti nya berpikir mencari cara untuk usaha nya berhasil. Dia benar - benar ingin Restu dan Aina hancur, dan untuk menghancur kan mereka berdua dia juga rela menghancur kan hidup Shahilla, wanita yang ia cintai. Ia bersama dengan mobil sedan nya menyusuri jalanan ibu kota yang penuh dengan kemacetan. Hampir satu jam ia bosan menunggu kemacetan yang tak kunjung usai dan di iringi dengan musik keras yang dia nyala kan sejak tadi. Haikal mengikuti alunan musik keras tersebut serta melakukan gerakan - gerakan alias goyangan anak - anak dugem.
Haikal berhenti menggoyang kan tubuh nya serta mematikan musik itu ketika mata nya mendapati peristiwa yang sangat dia ingin kan, dimana peristiwa di saat Restu di hujat serta di ludahi habis - habisan oleh para sekelompok ibu - ibu garong.
Ia tertawa kemenangan melihat kejadian itu.
"Dugaan gue salah, ternyata banyak juga yang percaya dengan berita itu Hh".
"Shahilla?". Wajah nya berubah menjadi sedih ketika dia melihat Shahilla tiba - tiba muncul untuk melindungi Restu bahkan rela terluka untuk Restu.
"Segitu besar nya cinta mu untuk nya La, sampai - sampai kamu rela di hujat dan terluka demi dia. Andai aku La yang ada di samping kamu, mungkin kamu enggak akan mengalami peristiwa buruk ini, andai aku La".
#Teeeeeeen . . . teenn . . . teeeen . . .
__ADS_1
"Woiii jalan wooiii, sudah longgar tuh jalan nya".
Terdengar suara klakson mobil dari mobil yang ada di belakang dan berteriak pada nya. Ia menyuruh Haikal untuk berjalan sebab jalanan sudah mulai longgar. Sentak Haikal terkejut lalu segera melaju kan mobil nya dan pergi meninggal kan peristiwa tersebut.