
Chapter 41
Suasana gedung di salah satu hotel ternama di ibu kota sudah ramai di penuhi dengan tamu undangan, mulai dari keluarga inti, sanak saudara, rekan kerja dan para artis ternama hingga para wartawan yang berduyun – duyun menghadiri turut memeriah kan acara aqiqahan serta penabalan putrid pertama dari seorang actor ternama alias Restu dan Shahilla.
Shahilla, Restu beserta Zahira putri mereka kompak mengenakan busana couple berwarna Abu – abu yang begitu mewah dan menawan. Restu yang menggendong Zahira berjalan menggandeng tangan Shahilla menyusuri gedung menghampiri para tamu. Zahira terlihat imut – imut mengenakan hijab couple bersama Shahilla, membuat para tamu gemes melihat nya.
Para wartawan sibuk mengambil foto terbaik mereka. Tak sedikit pun Zahira terganggu dengan bising nya berbagai suara serta cahaya flash dari kamera yang menangkap foto nya. Zahira tetap anteng tertidur di gendongan Restu.
“Ini dia bidadari kecil yang selama ini buat kita – kita penasaran, akhir nya bisa ketemu juga he he he”. Salah satu rekan sesama artis nya Restu yang turut memeriah kan acara mereka.
“Oup bro, sudah lama ya kita enggak ketemu?, sehat?”. Restu menyambut rekan nya itu dengan antusias.
“Alhamdulillah gue sehat, loe nya yang jadwal jam terbang nya ngeri, di ajak ngumpul payah nya minta ampun he he he”.
Restu/ “He he he maklum lah bro, gue enggak bisa kalau enggak ngeliat binik sama anak gue sedetik pun he he he”.
“Ahh lebay lu ha ha ha”.
Restu/ “Ha ha ha, maka nya lu nikah sonoh jadi biar tahu gimana rasa nya”.
“Aduuuh kalau gue mah, masih belum kepikiran lagian gue masih mau menikmati masa muda gue”.
Restu/ “Heemmm awas sampai kebablasan saja, ntar bisa karatan tahu rasa lu ha ha ha”.
“Sia**n lu he he he, oh ya binik lu mana?, kenalin lah sama gue”.
Restu/ “Ahh kagak, gue malas ngenali nya sama lu, lu orang nya lemes ha ha ha”.
“Lemes – lemes gini, gue actor papan atas bro he he he”.
“Ha ha ha iya iya saya akuin itu. Sayang . . . .”. Restu berteriak memanggil Shahilla ketika dia melihat nya berdiri di antara keluarga mereka. Shahilla pun menoleh dan Restu melambaikan tangan nya memanggil diri nya.
Shahilla menghampiri mereka.
“Kenapa mas?, Mas sudah capek ya menggendong Zahira?, sini biar adek saja yang menggendong Zahira”. Shahilla ingin mengambil alih Zahira tanpa memperduli kan teman suami nya itu.
“Enggak sayang, mas enggak capek kok, masa iya mas capek ngegendong anak sendiri he he he. Mas manggil kamu karena mas mau ngenalin kamu sama teman mas”. Restu menunjuk kan ke arah teman nya itu, Shahilla pun membalik kan badan nya melihat sosok tersebut.
“Haikal ?”. Shahilla terkejut melihat teman suami nya itu.
“Kamu kenal sama Haikal sayang?”. Restu mengerut kan dahi nya.
Haikal/ “Ya kenal lah, secara kan gue sekarang actor terkenal he he he”.
“Gue serius?”. Restu memberengkan mata nya pada Haikal.
“Haikal satu angkatan sama adek dulu waktu kami santri di siantar”. Tak sedikit pun Shahilla melirik Haikal, dia hanya memandangi Restu saja.
Haikal/ “Ha ha ha, iya bro, dulu gue pernah satu santri sama binik lu. Binik lu dulu santri cewek yang paling popular waktu itu bahkan dia anak kesayangan, ya maklum lah binik lu jenius nya luar biasa, betul enggak La?, he he he”.
Shahilla hanya tertunduk mendengar kan pujian dari lelaki lain selain suami nya.
Restu/ “Oh ya?, Ma Sya ALLAH, terus kalian kok bisa kenal gimana cerita nya?, bukan nya santri cewek sama santri cowok terpisah ya?”. Dia mulai penasaran.
“Hem, kalau soal itu, gue kebalikan dari Shahilla yang terkenal karena kejeniusan nya, lu kan tahu kalau gue anak nya super bandel dan tukang pemberontak, nah akibat dari ulah gue sendiri jadi nya gue di kenal sebagai anak yang paling bandel di pondok. Setiap hari gue di hukum di depan seluruh anak santri, baik santri cewek mau pun cowok. Terus Shahilla juga sering di minta sama mu’alimah untuk membantu mereka menghukum gue. Hmmm betul enggak tu La?”. Haikal melirik Shahilla yang tertunduk sembari mengangguk pelan.
Restu/ “Ha ha ha kalau lu mah gue enggak usah heran, tau enggak sayang, dia ini dulu pernah mengubah alur cerita film yang kami perani seenak jidat nya saja karena dia enggak suka sama alur cerita nya, akhir nya sutradara nya ngamuk – ngamuk dan mengganti kan peran dia ha ha ha”.
Haikal/ “Ya iya lah, abis nya masa cerita nya kekanak – kanakan banget, terlalu lebay enggak realita nya sama sekali, ya gue ubah saja itu alur ha ha ha”.
Restu/ “Ha ha ha, Kal Kal, kalau sudah ingat – ingat masa lalu gue jadi ngakak”.
“Oweeek . . . Owek . . Oweeeek . . .”. Tiba – tiba baby Zahira menangis. Dengan sigap Shahilla mengambil alih menggendong Zahira.
Shahilla/ “Sini Mas, mungkin Zahira haus”.
“Iya, Ssst . . . ssstt . . . . sstttt . . .”. Restu mengelus lembut pipi buah hati nya itu.
Shahilla/ “Ya sudah mas, adek masuk bentar ya, adek mau menyusui Zahira dulu di kamar”.
“Iya sayang”. Restu mengusap kepala Shahilla.
Sedang kan Haikal menatap kepergian Shahilla meninggal kan mereka berdua.
Restu/ “Oh ya lu kenapa enggak bilang sih dari awal kalau lu sama Shahilla satu santri?”.
Haikal/ “Gimana gue mau bilang rang kita juga baru ketemu nya sekarang”.
Restu/ “Iya juga sih”.
Haikal/ “Maka nya gue pura – pura minta di kenali sama binik lu, biar lu kaget sekalian ha ha ha”.
Restu/ “Bisa saja lu he he he”.
.
Acara tersebut berjalan dengan lancar sesuai yang di ingin kan. Tak ketinggalan juga sesi wawancara para wartawan yang ingin kenal sosok putri dari seorang actor yang sedang naik daun tersebut. Rasa lelah yang membuat hati merasa bahagia.
Meski sudah lelah, namun Shahilla masih sibuk mengganti kan pakaian Zahira dan menidur kan nya. Cukup lama Zahira bisa tertidur karena ia juga merasa kan lelah tersebut pada tubuh mungil nya. Zahira mendadak rewel sehingga membuat Shahilla dan Restu harus terjaga.
“Sudah biar mas saja yang ngejaga Zahira, kamu tidur saja”. Restu memegang pundak Shahilla.
“Enggak usah mas, lagian Zahira nya sudah terlelap kok, mas kan juga lelah seharian jadi mas istirahat saja duluan". Shahilla menggenggam tangan Restu yang berada di pundak nya.
Restu memeluk tubuh Shahilla dari belakang dengan manja.
“Kalau bisa mas enggak perlu istirahat untuk menghilang kan rasa lelah mas, karena seperti ini saja rasa lelah mas hilang begitu saja”. Bisik nya.
Shahilla tersenyum sembari tangan nya mengusap – ngusap rambut Restu yang sudah acak – acakan.
“Mas makin hari makin sering ngegombal nya ya he he he”.
“Ehh . . . Mas enggak ngegombal lho sayang, mas enggak pandai menggombal sebab mas enggak pandai untuk tidak berkata jujur sama kamu”. Restu melaga kan pipi kiri nya ke pipi kanan Shahilla.
Shahilla mengalih kan badan nya untuk berhadapan pada Restu. Ia memandangi wajah Restu yang sedikit lusuh dan mengelus – ngelus pipi Restu.
“Iya, adek percaya”. Ujar nya dengan senyuman nya yang manis. Restu membalas nya dengan mencium kening Shahilla.
.
.
“Assalamualaikum”. Seseorang mengaget kan Shahilla yang tengah duduk di caffe bersama Zahira yang berada di gendongan nya.
Shahilla melihat sosok tersebut.
__ADS_1
“Waalaikumussalam”. Dia melihat Haikal lah orang tersebut
“Kamu berdua saja di sini?, Restu kemana?”. Haikal celingukan mencari sosok Restu.
“Iya, Restu masih di lokasi shooting yang tak jauh dari sini, bentar lagi dia ke sini”. Shahila menjawab tanpa melihat wajah Haikal.
Haikal/ “Ouh . . . pas banget lha kalau begitu, rencana nya abis dari sini aku memang mau jumpa’ in Restu ada yang mau aku omongin ehh enggak tahu nya ketemu kamu di sini. Aku boleh kan sekalian nunggu’ in Restu di sini?”. Haikal melihat mata Shahilla dengan terang – terangan.
Dengan sangat terpaksa Shahilla mengangguk pelan.
“Iya, silah kan”.
“Terimakasih”. Haikal tersenyum sembari menarik kursi yang berhadapan dengan Shahilla.
Sungguh tak nyaman bagi Shahilla harus duduk bersama dengan laki – laki lain selain suami nya. Di tambah lagi mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung di caffe sebab mereka curiga bahwa lelaki yang berada bersama nya adalah Haikal.
Shahilla mengambil ponsel nya, ia berancana mengirim kan pesan pada Restu.
Shahilla# “Assalamualaikum, Mas masih lama lagi enggak?, soal nya ada Haikal di sini, tadi enggak sengaja ketemu dia di caffe ini, karena dia mau jumpain mas jadi dia mau sekalian nunggu’ in mas juga di sini sama adek, adek merasa enggak nyaman mas, apa lagi kami jadi pusat perhatian di sini”. Send.
Haikal tahu bahwa Shahilla merasa enggak nyaman. Haikal melirik ke sekitar caffe, ia melihat para pengunjung lain nya sudah mencurigai mereka.
“Oh ya, kamu ingat enggak dulu waktu terakhir kali nya aku di hukum sama Mu’alim Harun?”.
Shahilla mencoba mengingat.
“Ouh, waktu kamu ngerjain saya sampai jatuh pingsan?”.
Haikal mengangguk kan kepala nya.
“Iya. Waktu itu aku kesal banget sama kamu maka nya aku ngerjain kamu, aku kesal karena aku sering di banding – banding kan sama kamu dan kamu selalu ada setiap kali aku di hukum, aku merasa terhina, terus di saat aku sudah berhasil ngerjain kamu entah kenapa hati aku tidak merasa puas, yang ada penuh penyesalan, di tambah lagi kamu tidak menyalah kan aku bahkan kamu meminta Mu’alim Harun untuk melepas kan hukuman itu. Di saat itu aku merasa tertampar, karena orang yang sudah aku celakai malah berbuat baik sama aku dan memaaf kan aku begitu mudah nya. Aku minta maaf ya La atas perbuatan aku di masa lalu”.
Di balik cadar nya, Shahilla tersenyum mendengar kan Haikal.
“Saya sudah tidak mempersalah kan lagi soal itu, manusia pasti pernah berbuat kekhilafan, lagian itu sudah berlalu jadi enggak perlu di bahas kembali”.
Haikal/ “Terimakasi banyak ya La”. Senyum nya, sedang kan Shahilla juga tersenyum terlihat dari mata nya.
“Oh ya, Aina apa kabar nya dia?”.
Shahilla/ “Saya tidak tahu kabar nya Aina, soal nya sudah lama juga saya lost contact dengan nya”.
Haikal/ “Hmm . . . begitu lah emang, walau pun kita sudah sahabatan dari kecil kalau kita sudah berkeluarga pasti kita punya kesibukan masing – masing sehingga kita enggak bisa berkomunikasi walau hanya sekedar say hai”.
“Iya”. Shahilla pun merasa cemas dengan kabar Aina yang meghilang bak di telan bumi.
Haikal/ “Emm . . . . La sebenar nya ada yang mau aku tanya kan sama kamu dari dulu. Aku mau nanya dan mau tahu alasan nya. Kamu kenapa enggak pernah ngebalas surat aku dulu waktu kita masih nyantri?”.
Shahilla mengerut kan dahi nya.
“Surat?”.
Haikal/ “Iya, surat yang sering aku letak kan di atas meja kelas kamu”.
Shahilla/ “Surat yang amplop nya beraroma parfume itu ya?”.
Haikal/ “Iya, kamu ingat kan?”.
Shahilla/ “Ingat, tapi bukan nya surat – surat itu untuk Aina ya?”.
Shahilla/ “Aku pikir surat itu untuk Aina, karena apa yang kamu tulis semua nya mengenai Aina, di tambah lagi gossip – gossip anak santri bilang kalau kamu suka sama Aina karena perlakuan baik kamu sama Aina”.
Haikal/ “Tidak La, surat itu untuk kamu bukan untuk Aina, aku sama sekali tidak menyukai Aina, aku baik sama Aina karena Aina adalah sahabat kamu, aku berusaha mencari tahu tentang kamu melalui Aina, aku suka nya sama kamu bahkan sam . . . .”.
“Assalamualaikum sayang”. Tiba – tiba Restu muncul memotong ucapan Haikal, ia mengecup kening Shahilla. Sentak mereka terkejut dan berharap – harap cemas, apa Restu mendengar pembicaraan mereka atau tidak.
“Waalaikumussalam”. Seru mereka secara serentak.
“Maaf ya, lama nunggu’ in nya”. Restu menarik kursi yang berada di sebelah Shahilla.
“Tidur Zahira nya?”. Restu mengintip Zahira dari gendongan.
“Iya Mas”.
“Uluuuh uluuuuh sayang, gemesin banget sih kamu”. Restu mengelus pipi Zahira.
Sedang kan Haikal melihat keserasian mereka.
“Eh. . . Bro tadi kata Shahilla ada yang mau loe omongin ke gue maka nya nunggu’ in gue di sini, emang mau omongin apa’an?”. Restu beralih melihat Haikal yang berhadapan dengan nya.
Haikal/ “Ehh . . . iya ini Bang Hanung kan mau buat film baru terus dia lagi nyari pemeran utama di film itu, nah dia nyuruh gue nyoba mujukin lu untuk ikutan main film di project nya. Rencana nya dia mau nemuin lu langsung cuma dia mau nya lu tahu lebih dulu soal ini sebelum dia jumpain lu, ya biar lebih nyaman saja lah”.
Restu/ “Ouh, kenapa enggak lu saja yang jadi pemeran nya?”.
Haikal/ “Enggak bisa bro, soal nya karakter peran nya itu sama persis seperti lu, apa lagi di situ peran utama nya mencerita kan tentang lelaki penghafal Al – Qur’an, lah gue boro – boro penghafal Al – Qur’an baca surah pendek saja gue kadang lupa – lupa ingat ha ha ha”.
Restu menggeleng kan kepala nya/ “Ha ha ha Astaghfirullah, lu itu ya sudah segede ini masih saja enggak berubah”.
Haikal/ “Ha ha ha ada saat nya entar gue berubah. Jadi gimana nih?, Lu mau kagak nerima tawaran nya?”.
Restu/ “Kalau itu gue belum bisa ngasi keputusan nya sekarang lah bro, gue coba diskusi dulu sama si Aan terus mengatur jadwal gue. Entar gue kabarin elu kalau gue sudah punya keputusan nya”.
Haikal/ “Iya sih, ya sudah lu pikirin saja dulu dengan matang, apa pun keputusan nya elu harus tetap kabarin ke gue jangan diam – diam saja”.
Restu/ “Iya In Sya ALLAH gue kabarin lah”.
Haikal/ “Ya sudah lah, gue langsung cabut saja ya, soal nya setengah jam lagi gue ada photo shoot endorse’ an ha ha ha”.
Restu/ “Ha ha ha iya iya yang sekarang sudah jadi youtubers yang endorse’ an nya banyak”.
Haikal/ “Ha ha ha. Alah lu bikin gue malu saja. Ya sudah gue cabut luan ya, La aku duluan ya. Assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam”. Secara serentak mereka menjawab salam dari Haikal yang sudah berjalan keluar caffe.
“Kamu sudah pesan makanan?”. Restu mengambil daftar menu di café itu.
Shahilla/ “Belum mas, tadi cuma mesan minum saja”.
“Lho kenapa kamu cuma mesan minum saja sayang?, kamu kan belum makan siang dan lagi kamu sudah lama menunggu mas di sini. Ya sudah sekarang kamu pesan makanan nya”. Restu membolak – balik kan menu tersebut.
Shahilla/ “Enggak Mas, adek enggak selera sama menu makanan di sini”.
Restu/ “Ya sudah kalau gitu kita keluar saja dari caffe ini, kita cari makanan yang menggugah selera kamu”. Shahilla mengangguk.
Mereka pun keluar dari caffe tersebut, mereka mencari tempat makan yang ngebuat selera makan Shahilla muncul.
__ADS_1
“Kita mau makan dimana nih?”.
Shahilla menggeleng kan kepala nya.
“Lha kok kamu geleng kepala sih sayang?”. Restu mengusap kepala Shahilla.
Shahilla/“Adek lagi enggak mau makan dimana – mana, adek mau nya makan di rumah saja”.
Restu/ “Ya sudah kita bawa pulang saja makanan nya terus kita makan di rumah”.
Lagi – lagi Shahilla menggeleng kan kepala nya.
“Adek enggak mau”.
Restu/ “lah terus?, kita mau makan apa di rumah sayang, sedang kan kita enggak masak di rumah?”.
“Adek mau makan masakan mas”. Shahilla menyengir lebar meski tak kelihatan.
Restu tertawa dengan permintaan istri nya itu.
“Mas enggak pande masak loe sayang, emang nya adek mau makan masakan mas yang enggak enak?”.
Shahilla/ “Enak enggak enak, adek bakal makan masakan mas, jadi sekarang ayok kita belanja ke pasar, ehh enggak usah ke pasar, di pasar pasti rame banget, kita belanja di supermarket saja”.
Restu/ “Ma Sya ALLAH jadi ini seriusan sayang?”.
Shahilla/ “Iya lho mas ku sayang, adek seriusan. Ya sudah ayok kita ke supermarket yang ada die pan komplek rumah kita saja, di situ enggak begitu rame pengunjung nya kalau jam segini”.
“Ya ALLAH, naaaaaak ada – ada saja permintaan Ummi mu ini nak”. Restu menuruti Shahilla dan memutar arah menuju ke rumah.
Tak lama Restu dan Shahilla tiba di parkiran supermarket. Dugaan Shahilla benar, tak banyak pengunjung yang datang, sehingga Restu merasa nyaman berjalan menggandeng istri nya. Mereka memasuki area supermarket dan di sambut oleh SPG dan SPB di supermarket tersebut.
Mata mereka terbelalak menyambut sosok Restu, rasa nya mereka ingin foto bareng dengan actor tampan tersebut apa lagi bersama dengan Shahilla sosok yang selalu membuat para fans Restu penasaran. Mereka harus menahan keinginan nya itu karena professional bekerja.
Restu dan Shahilla ber’antusias mengambil bahan – bahan makanan mentah yang akan Restu masak. Mulai dari daging, ayam, sayur – sayuran, bumbu dapur, buah – buahan dan banyak lagi. Troly sudah penuh dengan bahan – bahan yang mereka butuh kan, mereka pun berjalan menuju kasir untuk membayar.
“Kamu nunggu di sana saja biar mas saja yang bayar, kamu pasti lelah keliling – keliling di tambah lagi gendongin Zahira”. Restu menunjuk kan ke arah kursi tunggu yang berada tak jauh dari kasir.
“Iya mas, adek sama Zahira duduk ke sana ya”. Shahilla mengangguk kan kepala nya berjalan menuju kursi tersebut. Tak perlu mengantri lama, kini giliran belanjaan Restu yang akan di hitung oleh sang kasir. Satu per satu sang kasir mentotal kan belanjaan nya dengan alat mesin kasir.
“Semua nya delapan ratus ribu Sembilan puluh tujuh ribu pak”. Sang kasir menyebut kan semua jumlah total belanjaan nya.
Restu pun mengeluar kan dompet nya untuk mengeluar kan kartu debet nya sebab uang cash nya tidak mencukupi. Sedang kan Shahilla, ia memerhati kan suami nya dari jauh. Ia melirik ke sekitar bahwa pengunjung semakin rame berdatangan. Shahilla merasa sedikit cemas, di tambah lagi ibu – ibu yang duduk di sebelah nya merasa curiga ketika dia sekilas melihat Zahira.
“Kamu Shahilla kan?, istri nya Restu?”. Tebak nya dan tebakan nya benar.
“I . . .”.
“Mas sudah siap, yok kita pulang”. Belum selesai Shahilla menjawab pertanyaan ibu tersebut tiba – tiba Restu muncul bersama belanjaan nya.
“Nah benar kan”. Ibu – ibu itu sembringah tebakan nya benar ketika dia melihat Restu menghampiri Shahilla. Restu tersenyum getir melirik ibu itu.
“Kamu Restu kan?”. Ibu tersebut bangkit dari duduk nya menarik tangan Restu.
“I . . . Iya buk”. Restu mencoba untuk melepas kan tangan ibu tersebut namun usaha nya tak berhasil, ibu itu malah menggandeng nya.
“Ibu nge – fans banget sama kamu Restu, setiap hari ibu nonton sinetron kamu, ibu mau foto bareng sama kamu”. Ibu itu mengeluar kan ponsel nya untuk mengambil foto selfie nya bersama dengan Restu. Cukup lama Restu foto bareng bersama dengan para ibu – ibu yang sudah mulai makin ramai mengerumuni mereka. Shahilla merasa sesak dan khawatir dengan Zahira karena berada di kerumanan itu. Restu melihat Shahilla berusaha untuk menjauh tapi tidak mudah bagi nya untuk keluar.
“Mohon maaf ya ibu – ibu saya harus balik ke rumah saya, karena kasihan anak dan istri saya, mereka butuh istirahat, saya permisi dulu ya, terimakasi, Assalamualaikum”. Restu merangkul Shahilla untuk berjalan keluar supermarket melewati segerombolan umat manusia yang rata – rata para ibu – ibu. Secepat kilat Restu berlalu bersama dengan mobil nya meninggal kan supermarket itu.
“Maaf ya sayang, gara – gara mas kalian jadi seperti tadi”. Restu merangkul pinggang Shahilla yang mungil.
“Enggak apa – apa mas, nanti suatu saat kami akan terbiasa dengan seperti itu, apa lagi Abi nya Zahra makin lama makin terkenal, jadi kami harus menyiap kan mental dan fisik untuk menghadapi seperti tadi he he he”. Shahilla menarik hidung Restu.
Restu/ “Heem . . . iya, tapi mas kasihan sama kalian apa lagi sama Zahira, dia masih kecil sudah merasa kan berdesak – desakan seperti tadi. Mulai hari ini mas janji kalau mas jalan sama kalian mas pastikan kalian tidak akan merasa kan seperti tadi”.
Shahilla/ “Cara nya?”.
Restu/ “Ya . . . menyamar seperti di saat kita pacaran he he he”.
Shahilla/ “Emang nya kita pernah pacaran?”.
Restu/ “Pernah lah, Pacaran setelah nikah he he he”. Bisik nya.
“Heeemmm, ya sudah ngobrol nya kita harus tutup sekarang juga, karena chef harus segera memasak he he he”. Shahilla mendorong tubuh Restu dengan pelan.
“Ya ALLAH . . ., terus Zahira gimana?, di tinggal di kamar sendirian?”. Restu melirik Zahira yang tertidur pulas di box bayi.
Shahilla/ “Iya mas, lagian Zahira nya tidur enggak apa – apa di tinggal, ketimbang dia di bawa ke dapur entar bau makanan mending Zahira nya di sini”.
“Tapi enggak apa – apa tuh dek?”.
“Enggak apa – apa, lagian entar adek pantau – pantau juga kok. Sudah sekarang ayok kita ke dapur, mari kita eksekusi belanjaan kita tadi”. Shahilla menggandeng Restu, menarik nya berjalan ke dapur. Restu memulai untuk memasak tak lupa Shahilla memakai kan Restu celemek agar masakan nya tidak mengotori baju Restu.
Kerempongan pun tejadi di dapur mereka, dapur nya menjadi kotor dan berantakan oleh sisa – sisa bahan yang Restu potong. Restu begitu kwalahan menghadapi minyak panas yang meletup – meletup. Sedang kan Shahilla tertawa melihat tingkah suami nya di saat masak untuk pertama kali nya dan sesekali ia menolong Restu.
Kerempongan di dapur pun berlalu selama dua jam. Masakan pun selesai dan di saji kan di atas meja makan.
“Hmmmmp . . . Wangi nya masakan Abi nak”. Shahilla yang baru muncul bersama dengan Zahira berjalan cepat menuju meja makan karena sudah tidak sabar makan masakan sang suami.
Restu tersenyum dengan wajah nya yang sedikit lusuh. Ia memamer kan masakan pertama nya pada Shahilla, suatu kebanggaan bagi nya akhir nya dia berhasil memasak untuk sang istri meski dia tak tahu apa kah masakan nya layak untuk di makan atau tidak.
“Silah kan duduk ratu ku dan tuan putri ku”. Restu menarik salah satu kursi untuk Shahilla.
“Terimakasih Abi”. Shahilla pun duduk bersama Zahira yang berada di gendongan nya. Ia melihat begitu banyak makanan yang tersaji di meja makan itu.
Restu mengambil kan sepiring makanan yang dia masak untuk Shahilla dan memberikan nya pada Shahilla untuk mencicipi nya. Shahilla mulai mencicipi masakan Restu lalu mengunyah nya dengan habis. Sedang kan Restu menatap nya dengan harap – harap cemas.
Restu/ “Gimana rasa nya sayang?”.
“Emm . . .enak mas, cuma rasa nya ada rasa aneh – aneh gitu tapi masih bisa di makan sih, kalau rasa untuk orang yang baru pertama kali masak, itu sudah paten banget mas he he he, terus satu lagi, agak asin he he he”. Shahilla emang enggak bisa berbasa – basi dulu sebelum member komentar, ia langsung menjelas kan apa yang lidah nya rasa kan.
Restu pun mencicipi masakan nya. Dan benar apa yang di bilang Shahilla.
“Iya, kamu benar dek he he he, maaf ya mas enggak berhasil masakin kamu masakan yang enak”.
Shahilla/ “Apa’ an sih mas, masakan nya mas lumayan enak kok, bisa di makan, adek akan menghabis kan semua masakan mas tanpa sisa, soal nya selain enak, ini masakan pertama sang suami tercinta khusus untuk adek he he he”. Shahilla tertawa kecil dan menyomot daging lada hitam masakan Restu.
Restu tersenyum dan duduk di samping Shahilla.
#Bahagia itu sederhana.
Sesederhana kamu tersenyum dan bersyukur dengan apa yang kamu punya.
Bahagia melihat mu tersenyum bahagia.
__ADS_1