Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 44


__ADS_3

Chapter 44


#“Hari ini kita mendapat kan berita yang mengejut kan dari seorang actor yang baru – baru ini terjun ke dunia vloger yaitu Haikal Setyo yang kata nya sedang dekat dengan seorang wanita bercadar dan yang kata nya lagi sang wanita tersebut itu berstatus istri orang”.


#“Waaah . . . itu berita yang mengejut kan banget buat kita, apa lagi dengar – dengar kata nya wanita tersebut itu istri nya dari actor Indonesia juga yang ber-insial RM”.


#“Iya, mengejut kan banget kan, nah mereka itu tanpa sadar tertangkap oleh kamera salah satu wartawan swasta, mereka sedang duduk bareng di satu caffe gitu”.


#“Waah jadi penasaran sama berita nya”.


#“Ya sudah, dari pada kita penasaran – penasaran, lebih baik kita lihat saja langsung berita selengkap nya”.


Sepasang Host infotainment tv membicara kan berita terkini yang sudah beredar ke seluruh Indonesia. Shahilla dan Restu shock mendengar berita gossip yang memberita kan kedekatan istri nya bersama Haikal.


Entah dari mana tiba – tiba artikel gossip tentang Haikal dan Shahilla tersebar ke seluruh Indonesia. Dan entah bagaimana mereka mendapat kan foto Haikal dan Shahilla ketika mereka sedang menunggu Restu di caffe beberapa hari yang lalu dan membuat artikel dari sudut pandang nya, nama nya juga gossip.


“Astaghfirullahhal’adzim”. Shahilla dan Restu berulang kali ber – istighfar untuk menenang kan diri mereka masing – masing.


“Kamu enggak usah pikirin soal berita – berita fitnah seperti itu, ini coba’an untuk kita, mas yakin kita pasti bisa melewati semua ini. Mas akan selalu melindungi kalian”. Restu memeluk Shahilla sembari tangan nya mengusap – ngusap punggung nya.


“Adek takut mas”.


“Kamu jangan takut, kita pasrah kan saja semua nya sama ALLAH”.


Restu menguat kan Shahilla lalu mengecup dahi nya.


.


.


Sedang kan Haikal sendiri sedikit stress karena ada nya artikel tersebut. Sejak muncul nya artikel tersebut, rumah nya sudah di tongkrongi oleh para wartawan untuk meminta tanggapan nya soal artikel itu.


“Bos jemput gue, gue enggak bisa keluar nih dari rumah, banyak wartawan di depan rumah gue. Iya lah, bentar lagi gue ada jadwal nge – vlog bareng Pak Gubernur dan keluarga, masa iya gue cancel gitu saja jadwal nya, iya, tadi si Bogel sudah nelpon ke pihak Pak Gubernur, alhamdulillah nya mereka enggak masalah sama artikel itu. Maka nya tolongin gue, biar gue bisa keluar dari rumah. Ya sudah gue tunggu elo, hmm iya”. Haikal menghubungi rekan kerja nya untuk meminta bantuan agar dia bisa lolos dari wartawan.


Haikal mengintip dari balik jendela kamar nya yang berada di lantai dua, ia melihat betapa antusias nya para wartawan ingin memangsa buruan nya.


“Huuuuuuufffft”. Haikal mengendus panjang sembari mengacak rambut nya.


Setengah jam ia menunggu akhir nya yang ia tunggu untuk menjemput diri nya datang juga, mereka masuk dari pintu belakang bagai kan maling. Sebelum nge – pick up Haikal, mereka sudah membuat strategi pengalihan para wartawan. Mereka membuat sedikit penipuan agar wartawan terkecoh. Salah satu dari rekan kerja Haikal berpura – pura berpenampilan yang mencuriga kan seolah – olah bahwa diri nya lah Haikal.


Mereka berhasil mengecoh kan para wartawan, mereka sibuk mengejar orang yang mencuriga kan itu keluar dari pintu utama. Di saat mereka terkecoh, di saat itu juga Haikal dan yang lain sibuk berlarian keluar menuju ke mobil yang sudah menunggu di sebrang jalan.


“Mas Haikal . . .”.


“Mas Haikal . . .”.


Teriak mereka. Setelah mendapat pemberitahuan bahwa Haikal sudah aman, oaring yang mencuriga kan tersebut membuka topi jaket nya dan menoleh ke para wartawan. Sentak wajah – wajah mereka menjadi kecewa.


“Jiiiiiiiiaaaaah, kira’ in Mas Haikal”. Mereka merasa kecewa.


“Kang Haikal?. Kang Haikal nya mah sudah dua hari enggak pulang ke rumah atuh, kata nya sih dia nge – vlog di luar negri”. Laki – laki itu sengaja berlogat sunda.


“Mas nya siapa Mas Haikal?”. Salah satu wartawan bertanya.


“Saya?. Saya mah tukang kebon di sini. Nuhun, saya lagi buru – buru mau ke warteg soal nya saya laper, permisi”. Laki – laki itu berjalan cepat meninggal kan para wartawan. Ia berlari menuju ke mobil yang di dalam nya sudah ada Haikal.


“Haduuuuh . . . . Yuk jalan”.


Haikal/ “Thanks ya bos he he he”.


“Gara – gara berita lu, gue hampir di keroyok sama tuh wartawan – wartawan”. Dumel nya melirik Haikal yang duduk di samping nya.


Haikal/ “Sorry lah bro, kayak enggak tahu wartawan saja, gimana mereka”.


“Jadi nih gimana?, elu mau diemin saja tuh berita atau mau lu tanggapin?”.


Haikal/ “Gue masih belum kepikiran, kita biarin saja dulu, nanti gue pikirin lagi, lagian enggak penting banget tuh wartawan, paling diem sendiri tuh mereka”.


“Iya, tapi lu mesti klarifikasi soal berita itu, kalau berlarut – larut entar rating vlog lu turun”.


Haikal/ “Iyeeee, tenang saja lu, yang penting sekarang kita ke rumah Pak Gubernur dulu, baru kita pikirin soal berita ini”.


.


.


Bukan hanya di depan rumah Haikal saja yang gandrungi oleh wartawan. Area apartemen Restu pun sudah di penuhi oleh para wartawan. Pihak keamanan seperti nya harus bekerja keras, karena mereka harus mengaman kan para wartawan yang menorobos masuk ke dalam gedung apartemen.


Restu mendapat telpon dari pihak keamanan apartemen bahwa di bawah sudah banyak wartawan yang menunggu mereka. Dan pihak keamanan pun meminta Restu agar tidak keluar terlebih dahulu sebelum para wartawan pergi.


“Siapa yang nelpon mas?”. Tanya nya sembari menggendong Zahira untuk menenang kan tangisan nya.


“Pihak keamanan apatemen. Mereka bilang kita enggak boleh keluar dulu, soal nya banyak wartawan di bawah”. Restu mengusap wajah nya.


Tiba – tiba terdengar suara nada dering dari ponsel Restu.


Restu meraih ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.


Restu# “Hallo Assalamualaikum, Iya An?”.


Aan/ “Waalaikumussalam, kamu jangan ke lokasi shooting dulu, soal nya lagi banyak wartawan yang nunggu’ in kamu dari subuh tadi”.


Restu memijat dahi nya mendengar kabar dari Aan.


#Iya An, di sini pun juga lagi banyak wartawan, pihak keamanan juga meminta supaya aku dan Shahilla tidak keluar dulu”.


Aan# “Hmm . . . Ya sudah sebaik nya kalian berada di dalam apartemen saja dulu, aku handle yang di sini dulu, nanti kalau di sini sudah aman, aku langsung ke tempat kalian”.


Restu# “Iya An, terimakasi banyak ya An”.


Aan# “Iya, Ya sudah Assalamualaikum”.


Restu# “Waalaikumussalam”.

__ADS_1


“Aan mas?”. Shahilla sejak tadi ternyata mendengar kan obrolan Restu dengan sepihak.


“Iya, Aan bilang, Mas enggak usah ke lokasi shooting dulu, soal nya di sana juga lagi banyak wartawan, dia juga minta kita jangan kemana – mana dulu”. Restu bangkit dari duduk, ia menghampiri Shahilla yang masih menenang kan Zahira.


“Sssstt . . . sssttt sayang . . .”. Restu mengelus pipi Zahira.


“Sini biar mas saja yang gendong Zahira”.


Shahilla pun mengalih kan Zahira pada Restu.


Kini Restu telah menggendong Zahira.


“Anak kita tahu kalau kita lagi dapat coba’an. Dia ngerasa sedih maka nya rewel saja sejak tadi”. Restu menimang – nimang Zahira yang masih menangis.


“Anak Abi dan Ummi yang shalihah, yang baik budi, yang cantik dan yang pintar. Enggak usah sedih – sedih sayang, jangan di rasa kan hati Abi dan Ummi. Anak Abi dan Ummi kan anak baik budi nih, enggak boleh nangis – nangis, enggak boleh cengeng, kita harus semangat, iya kan?, Uluh . . . uluuuuh”.


Restu seperti memujuk anak nya, sentak Zahira berhenti menangis seakan dia faham maksud sang Abi. Shahilla menetes kan air mata nya, ia mendekati mereka dan mengusap kepala Zahira.


“Kita harus semangat sayang”. Restu merangkul Shahilla. Shahilla pun mengangguk kan kepala nya dengan pelan.


.


.


“Ummiiiiiiiiiiiiii . . . Abaaaaaah”. Resty berteriak memanggil Ummi dan Abah.


“Apa sih teriak – teriak toh ndok?”. Ummi dan Abah pun berlari mengejar Resty yang sedang duduk mantengi tv.


“Lihat itu berita nya Mas Restu dan Mbak Shahilla, masa ada gossip bilang nya Mbak Shahilla selingkuh sama Mas Haikal teman nya Mas Restu”. Resty menunjuk ke arah tv.


Ummi dan Abah shock melihat berita tersebut di tv.


“Astaghfirullah . . .”.


Ummi/ “Coba hubungi mas mu ndok”.


Resty menyambar ponsel nya lalu menghubungi Restu.


“Lagi sibuk Mi . . .”.


Abah/ “Coba ke nomor Shahilla”.


Resty kembali mencoba nya.


“Enggak di angkat”.


“Ya ALLAH Gusti, apa yang terjadi sama mereka”. Ummi merasa benar – benar cemas dan lemas.


“Sabar toh Dek, ini pasti berita nya tidak benar. Kita tunggu saja nanti dan kita doa kan mereka semua nya baik – baik saja”. Si Abah mengusap – ngusap lengan Ummi untuk menguat kan nya.


Sedang kan Resty masih sibuk berusaha menghubungi mereka.


.


.


“Astaghfirullah ya ALLAH . . .”.


.


.


“Sayang . . . ini kan Shahilla sahabat kamu istri nya Restu kan?”. Joe menyodor kan ponsel nya untuk menunjuk kan artikel serta foto gossip Shahilla bersama Haikal.


Aina pun mengambil ponsel itu lalu membaca nya artikel tersebut.


“Ya ALLAH, apa – apa’ an ini berita. Ini berita enggak benar, ini bohong, ini berita sampah. Kurang ajar banget yang buat berita fitnah kayak gini”.


Joe/ “Kok kamu yang jadi emosi sih beb?”.


“Gimana enggak emosi, mereka se-enak nya saja menyebar kan fitnah seperti itu demi mendapat kan keuntungan. Jangan – jangan abis ini ada berita aku dan Haikal pada saat kami ngobrol di caffe waktu itu lagi”. Aina berpikir sejauh itu.


Joe/ “Ngobrol di caffe?, kalian saling kenal?”. ia mengerut kan dahi nya.


Aina menepuk jidat nya.


“Astaghfirullah, maaf aku belum cerita ke kamu soal Haikal dan pertemuan kami beberapa hari yang lalu he he he”.


Sedang kan Joe hanya memandang nya datar.


Aina/ “Aku, Shahilla dan Haikal itu dulu nya pernah satu santri, nah kebetulan aku dulu nya temanan dekat sama Haikal terus Haikal suka sama Shahilla, karena dia enggak bisa ngedekati Shahilla maka nya dia minta tolong sama aku untuk ngedekati mereka. Tapi aku enggak mau karena aku tahu Shahilla itu gimana. Nah setelah belasan tahun tanpa sengaja akhir nya kami ketemu lagi, aku ketemu sama Haikal di mall karena aku enggak sengaja nabrak dia pas aku lari dari Mas Fatih yang ngejar – ngejar aku, nah kalau ketemu sama Shahilla itu karena kebetulan Haikal itu teman nya si Restu. Jadi gitu cerita nya. Maka nya aku bilang itu berita sampah”.


Joe/ “Ouh gitu. Ehh tunggu dulu, kamu bilang kamu di kejar – kejar sama Fatih?”.


Aina/ “Iya, ternyata Mas Fatih ada di Jakarta, dia ke sini karena nyariin aku, maka nya pas enggak sengaja ketemu dia di mall, aku langsung kabur. Mungkin dia enggak bakal nyerah nyariin aku sampek ketemu”.


Joe/ “Ouh pantesan saja aku dapat informasi dari karyawan lain kalau Fatih pernah datang ke kantor untuk mencari kamu”.


Aina/ “Terus mereka ngasi tahu kalau aku ada di sini?”.


Joe/ “Enggak, mereka enggak ada ngasi tahu, cuma aku heran dia kok bisa tahu kalau kamu ada di sini?”.


Aina/ “Aku juga enggak tahu, apa jangan – jangan dia juga tahu kalau aku pindah ke kantor ini?”.


Joe/ “Semoga saja enggak. Oh ya . . . yang tahu kamu ada di sini siapa?”.


Aina/ “Restu, manager nya, terus Shahilla. Astaghfirullah . . .”. Aina mengusap wajah nya, dia mengingat sesuatu.


Joe/ “Kenapa?”.


Aina/ “Reynan, aku lupa kalau Reynan tahu aku di sini, dia tahu aku di sini pasti dari Reynan. Ya ALLAH”.


Joe/ “Kalau dia tahu dari Reynan, berarti dia juga tahu Reynan ada dimana dan kemungkinan mereka sudah bertemu”.

__ADS_1


Aina semakin frustasi kenapa dia enggak kepikiran sejauh itu, ia langsung menyambar ponsel nya.


Aina# “Hallo Assalamualaikum bunda”.


Bunda# “Waalaikumussalam, siapa ini?”.


Aina# “Ini Aina bunda”.


Bunda# “Aina .. .?, Ya ALLAH . . kamu kemana saja?, enggak ada ngabari bunda, terus bukan nya kamu yang ngejemput Reynan ke sini ini malah kamu pakai nyuruh Fatih segala untuk menjemput Reynan”.


Aina# “Apa?. Eh iya bunda maaf . . .”. Hal yang di takuti oleh Aina terjadi.


Bunda# “Kamu sehat nak?, Reynan sama Fatih sudah di rumah kan?”.


Aina# “Sehat bunda, sudah, mereka lagi tidur bunda he he he. Bunda sama Ayah sehat kan?”. Ia berbohong.


Bunda# “Alhamdulillah bunda sama ayah sehat nak. Oh ya bunda tutup dulu ya telpon nya soal nya ada tamu yang datang”.


Aina# “Iya bunda”.


Bunda# “Ya sudah, kamu jangan lupa ngabar – ngabari bunda”.


Aina# “Iya bunda”.


Bunda# “Assalamualaikum”.


Aina# “Waalaikumussalam”.


Kaki Aina terasa bagai tak berpijak, ia terduduk lemas di lantai dan air mata nya pun mengalir.


“Sayang kamu kenapa?, Reynan gimana?”. Joe panik.


Aina menangis sejadi – jadi nya.


“Reynan ada bersama Mas Fatih, Joe”.


Joe langsung memeluk Aina.


Aina/ “Aku harus gimana Joe?”.


Joe/ “Kamu tenang saja, nanti kita cari jalan keluar agar Reynan kembali sama kita”.


.


.


.


Restu terdiam memandangi Shahilla yang tertidur bersama dengan Zahira setelah ia menidur kan Zahira. Restu membelai rambut Shahilla yang lembut dan sesekali ia menghela kan nafas nya.


“Maafin mas, gara – gara mas kalian harus seperti ini”.


#Ting Nong . . .


Terdengar suara bunyi bel. Dengan segera Restu keluar kamar untuk membuka kan pintu. Restu melihat dari layar untuk mengetahui siapa yang datang. Ia melihat Aan lah orang nya lalu ia membuka kan pintu untuk nya.


Aan/ “Assalamualaikum”.


Restu/ “Waalaikumussalam, masuk An”.


.


Kini mereka sudah duduk di ruang tamu. Tak lupa Restu menyuguh kan secangkir teh hangat.


Restu/ “Kamu tadi ke sini enggak ketahuan sama wartawan?”.


Aan/ “Alhamdulillah enggak, aku pura – pura jadi salah satu pemilik apartemen saja, lagian mereka juga enggak tanda sama aku kalau aku melepas kan kaca mata dan mengacak rambut aku seperti ini, karena kan mereka tahu nya aku pakai kaca mata dan rambut klimis he he eh”.


Restu/ “He he he, iya aku saja sampai pangling awal nya. Oh ya, maaf ya sudah merepot kan kamu An”.


Aan/ “Enggak masalah, itu sudah tugas aku. Oh ya, tadi di lokasi shooting, aku dan tim mengadakan rapat kecil karena ada nya berita kalian seperti itu. Terus tim mengusul kan kalian untuk melakukan konferensi pers. Biar berita ini enggak berlarut – larut. Kalau kita diam – diam saja, takut nya berita ini akan semakin menjadi – jadi dan merusak reputasi kamu”.


Restu/ “Aku juga mikirin nya seperti itu An. Aku enggak mempersalahi soal reputasi aku, yang aku pikirin itu anak dan istri aku, aku kasihan sama mereka harus mengalami hal – hal buruk seperti ini, apa lagi dengan fitnah yang mereka lempar kan ke Shahilla An”.


Aan/ “Iya Tu, aku faham kok, kalian tenang saja, semua akan kita lewati dengan baik”.


Restu/ “Aamiin, terimakasi ya An”.


Aan/ “Oh ya tadi aku sudah nelpon ke pihak nya Haikal, tapi enggak bisa di hubungin. Jadi menurut aku kalau soal ngehubungi dia, aku serah kan ke kamu, karena kan kalian teman dekat tuh kemungkinan dia bakal mau ngangkat telpon dari kamu. Rencana nya kita mau minta ke Haikal untuk sama – sama mengklarifikasi soal ini”.


Restu/ “Hemm . . . Ya sudah, nanti aku coba menghubungi dia, In Sya ALLAH dia pasti mau”.


Aan/ “Mudah – mudahan. Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu. Kalian enggak usah cemas, In Sya ALLAH semua nya akan berlalu”.


Restu/ “Aamiin, sekali lagi terimakasi ya An”.


Aan tersenyum. “Assalamualaikum”.


Restu/ “Waalaikumussalam”.


.


.


Suasana riuh di lokasi shooting dimana itu adalah tempat Haikal sedang nge – vlog bersama Pak Gubernur dan keluarga nya. Sebelum mereka berpamitan kepada beliau, mereka harus memberes kan peralatan yang mereka bawa.


“Woi Kal, tadi ada telpon dari manager nya Restu, tapi enggak terangkat”. Manager Haikal yang sering ia panggil Bos itu memberitahu nya.


Haikal/ “Hmm . . . paling dia mau ngebahas soal berita itu. Ya sudah nanti aku telpon balik dia. oh ya abis pamit entar lu drop gue ke hotel dan jangan sampai ada yang tahu”.


“Iya . . . Iya . . .”.


Mereka pun usai. Sesuai permintaan Haikal, ia di turun kan di hotel yang sudah dia booking atas nama manager nya. Haikal berhati – hati memasuki hotel tersebut, ia berusaha untuk tidak terlihat bahkan reseptionis hotel pun tak mengenali diri nya, setelah check in, secepat kilat ia masuk ke dalam kamar hotel yang ia pesan.

__ADS_1


Haikal melepas kan semua penyamaran nya lalu merebah kan badan nya di atas tempat tidur. Haikal menatap langit – langit kamar yang cat nya berwarna putih serta di hiasi lampu gantung di tengah – tengah nya.


__ADS_2