Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 37


__ADS_3

Chapter 37


#Ting Nong . . .


Terdengar bunyi bel di salah satu apartemen yang berada di gedung menjulang tinggi nan megah, menandakan ada seseorang yang datang dan berada di balik pintu apartemen tersebut.


Seorang wanita muda yang memakai baju daster plus hijab nya dengan sigap ia bergegas menuju pintu, usai dia mendengar bunyi bel tersebut.


Wanita itu pun membuka kan pintu nya dan sedikit menyembunyi kan wajah nya dari balik pintu.


"Assalamualaikum Ya Humairah". Seorang pria tampan bertubuh proporsional berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, ia mengucapkan salam dan tak lupa ia tersenyum manis memandangi wajah wanita yang sedang berbadan dua alias hamil sedang menyambut kedatangan nya. Wanita itu yang tak lain ialah Shahilla Az - Zahra, Sang Istri.


Shahilla pun tersenyum manis menjawab salam nya lalu mencium tangan pria itu yang tak lain sang suami, Restu Muhammad.


"Waalaikumussalam Ya Habibi".


Restu menutup pintu nya dan mendekati Shahilla. Ia mencium kening Shahilla sembari mengelus - ngelus perut Shahilla yang membuncit.


Shahilla tersenyum merasakan sentuhan Restu yang begitu lembut.


"Assalamualaikum anak Abi . . .". Restu membungkuk kan badan nya hingga sejajaran dengan perut Shahilla. Ia mencium perut Shahilla serta mengelus nya dengan lembut.


"Waalaikumussalam Abi . . . ". Shahilla menjawab perwakilan dari sang calon bayi.


Restu/ "Sehat kan nak?".


Shahilla (baby) / "Alhamdulillah sehat Abi".


Restu/ "Alhamdulillah, kalau Ummi nya sehat?". Restu mendongak, melirik wajah Shahilla.


Shahilla/ "Alhamdulillah sehat mas, anak kita anak baik budi he he he".


"Aamiin syukur lah kalau begitu, ya sudah, Abi mau mandi dulu ya sayang, soal nya Abi sudah bau sekali ini he he he, nanti kita main lagi ya". Restu kembali mengecup perut Shahilla.


Shahilla (baby) / "Oke Abi, Abi mandi nya yang wangi ya. Biar Ummi enggak kebau' an he he he".


"Emang nya Mas bau ya?". Restu menciumi aroma tubuh nya sendiri.


"Hu uh . . . Bauk ketek". Shahilla menutup hidung nya dan mengangguk kan kepala nya sembari tersenyum yang di kulum - kulum.


"Serius ?". Kali ini Restu menciumi aroma di bagian ketiak nya.


"Ha ha ha".


Shahilla tertawa melihat expresi panik nya Restu yang sibuk menciumi semua aroma tubuh nya. Restu memicing kan mata nya menatap Shahilla yang berhasil berbuat jahil pada nya.


Restu mendekati Shahilla begitu dekat. Dan mencengkram pinggang milik Shahilla namun sedikit terhalang oleh perut nya.


"Hemm . . . Suka banget ya ngisengin Mas nya". Restu menarik hidung mancung Shahilla.


"He he he . . . Abis nya Mas ngegemesin sih, lagian mana mungkin artis terkenal bauk badan, apa kata orang sekitar nanti hu hu hu". Shahilla menatap wajah Restu.


Restu/ "Hemm . . . Kalau Mas bauk badan gimana?, Apa masih mau sama Mas?".


"Mmm . . . Mau enggak ya . . . ?". Shahilla bergaya sok mikir.


"Enggak usah pakai mikir, sudah ketebak jawaban nya pasti enggak mau dan malu kalau jalan sama mas". Kali ini Restu mencubit gemes pipi Shahilla yang sedikit sembab karena kehamilan nya.


Shahilla/ "Ya harus mikir donk Mas, karena apa pun pertanyaan nya kita harus berpikir sebelum menjawab nya, biar enggak salah ngasi jawaban".


Restu/ "Hem . . . Baik lah Buk Dosen ku yang super jenius, terus jawaban nya apa Buk Dosen?".


"He he he . . . Hmm jawaban nya . . .". Shahilla mendekat kan wajah nya ke telinga Restu.


"Apa pun aroma Mas akan Adek terima Lillahhi Taala". Bisik nya.


"Seriously ?". Restu mengulum senyum nya menatap Shahilla sembari menaiki alis nya sebelah.


"Yes . . . Of course . . .!".


Restu semakin menatap wajah Shahilla yang sembab namun masih terlihat sendu sembari mengelus nya dengan lembut.


Shahilla/ "Ya sudah Mas mandi dulu sana, Adek mau nyiapin makan malam untuk kita".


Restu mengangguk pelan sembari mengusap kepala Shahilla dengan manja.


.


.


Flash Back . . .


Di pagi hari di London Shahilla sudah di ingat kan soal janji nya.


"Iya Pa . . Shahilla masih ingat kok sama janji Shahilla, iya . . Nanti malam Shahilla berangkat, sudah, sudah Shahilla beli, Mama tenang aja, he he he Shahilla juga enggak sabar mau kangen - kangenan sama Papa dan Mama, iya Assalamualaikum".


Lebih kurang selama hampir 13 jam perjalanan Shahilla dari London menuju kota kelahiran nya yakni kota Medan. Shahilla berjalan keluar dari pintu kedatangan international sembari mendorong troly berisi barang bawaan nya yang menumpuk.


Shahilla melihat sekeliling area Kuala Namu Airport lantai dasar mencari sosok yang akan menjemput diri nya yang tak lain orang tua nya. Shahilla tak menemukan kedua orang tua nya dan berjalan keluar dari gedung dan berpikir mungkin orang tua nya masih berada dalam perjalanan menuju bandara.


Seperti biasa, kebiasaan itu masih melekat dalam diri Shahilla.


Shahilla tak sengaja melepas kan sepatu nya yang sebelah kanan dan menyadari nya.


Mata Shahilla liar mencari sepatu nya yang entah kemana wujud nya.


Tak lama seorang pria berlutut di hadapan nya. Sentak Shahilla terkejut dan mematung melihat pria yang wajah nya tak terlihat karena tertunduk. Pria itu menyodor kan sepatu milik Shahilla dan menampak kan wajah nya melihat sosok Shahilla yang mata nya terlihat jelas terkejut.


Pria tersebut tersenyum melihat Shahilla dan . . . .


"Assalamualaikum Cinderella Ninja ".


Shahilla terpaku melihat sosok Restu yang sedang berlutut di hadapan nya. Suara jantung Shahilla bagaikan suara bedug di saat berbuka puasa. Meski pun tak terlihat oleh kasat mata siapa pun, sebenar nya wajah nya sudah merah padam karena malu. Mereka berdua menjadi pusat perhatian sekitar, terlebih lagi kali ini Restu tanpa memakai style penyamaran nya, sehingga semua orang yang ada di bandara sibuk mendekati ketika mereka menyadari keberadaan Restu. Semua orang pada heboh ingin mengerumuni mereka namun di halangi oleh Aan dan para pengawal lain nya. Tak lupa mereka berlomba - lomba mengambil foto aksi Restu terhadap Shahilla di muka umum.

__ADS_1


Shahilla yang masih terpaku serta malu, ia melirik ke sekitar yang semakin ramai mengerumuni mereka dan berteriak memanggil nama Restu.


Restu menyungging kan senyum nya sembari meletak kan sepatu kanan milik Shahilla di dekat kaki nya. Shahilla merasa bingung, sesekali ia menelan ludah nya karena gugup. Perlahan ia memakai sepatu nya dan masih melirik mencari sosok orang tua nya.


Restu pun bangkit berdiri di hadapan Shahilla. Dan mengajak Shahilla pergi menjauh dari keramaian alias pulang ke rumah Shahilla.


Shahilla mengerut kan dahi nya karena masih bingung, meski begitu dia tetap menuruti nya mengingat enggak mungkin ia bisa keluar dari kerumunan tanpa Restu dan para oengawal nya.


Dengan sigap para pengawal menghalangi para fans untuk mendekati mereka. Para fans nya sibuk berhamburan mengeremuni sembari teriak - teriak.


"Restuuuuuuuuuu".


"Kak Restuuuu".


"Bang Restuuuuu".


Shahilla dan Restu benar - benar di lindungi oleh para pengawal. Mereka berjalan cepat menuju mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan.


Mereka pun sudah berada di dalam mobil. Shahilla merasa pengap serta nafas nya terasa sesak melewati ombak kecil para fans Restu, ia melihat keluar jendela mobil, dimana para fans Restu begitu riuh dan gigih pantang menyerah agar bisa mendekati sang idola.


Shahilla menghela kan nafas nya. Ia merasa kikuk dan terkejut dengan kejadian barusan.


Restu yang sudah duduk di depan bersama Aan menyodor kan sebotol air mineral kepada Shahilla, dan di sambut oleh Shahilla.


"Maaf ya, aku mengejut kan kamu dan ngebuat kamu mengalami situasi seperti ini". Ujar nya.


Shahilla menyeruput air mineral tersebut dengan sedotan yang selalu dia bawa kemana pun. "Iya, enggak apa - apa kok".


Selama perjalanan, mereka larut dalam keheningan karena rasa canggung. Sesekali Restu melirik Shahilla melalui kaca mobil. Ia melihat Shahilla begitu canggung dan tidak nyaman berada di dalam mobil bersama dua orang laki - laki yang bukan makhram nya.


Setiba nya di kediaman keluarga Razaq. Shahilla mengerutkan dahi nya ketika dia turun dari mobil dan melihat ramai nya orang - orang yang berada di rumah nya.


Dengan kebingungan nya, ia berjalan menyusuri halaman rumah nya melewati orang - orang yang tak dia kenal. Pandangan Shahilla tertunduk dan hanya fokus pada satu tujuan yakni masuk ke dalam rumah menemui orang tua nya.


"Assalamualaikum . . .?". Ucap nya dan terkejut pandangan nya mendapati beberapa orang yang sangat dia kenal. Semua mata tertuju pada Shahilla yang berdiri di depan pintu.


"Mbaaaaaaaak". Terdengar suara gadis muslimah yang cantik yakni Resty meneriakin nya dan berlari menyambar tubuh nya. Shahilla masih terpaku dalam pelukan Resty dan bertanya - tanya. "Ada apa yang sebenar nya?, Kenapa mereka semua ada si sini?".


"Mbak . . . Resty kangen banget sama mbak, sudah 5 tahun kita enggak ketemu". Resty menatap Shahilla. Shahilla melirik ke arah orang tua nya dan orang tua Restu yang tersenyum melihat kepulangan Shahilla. Mereka menghampiri Shahilla dan Resty.


Ummi/ "Resty . . . Mbak mu baru saja nyampek lho".


Resty memanyunkan bibir nya. Dengan sigap Shahilla mencium tangan kedua orang tua nya dan orang tua Restu.


"Sehat kamu di sana nak?". Sang Mama mengusap badan Shahilla di saat memeluk tubuh nya.


Shahilla/ "Alhamdulillah sehat Ma".


Mama/ "Kamu jangan pergi - pergi lagi ya".


Shahilla menitihkan air mata nya, sembari mengangguk kan kepala nya di pundak sang Mama. Rasa rindu selama 5 tahun pecah dengan seketika. Air mata rindu telah berganti menjadi air mata bahagia.


.


.


"Shahilla . . . Kamu pasti merasa bingung setiba nya kamu di rumah melihat pada ramai orang - orang berdatangan, dan di tambah lagi ada nya Restu dan keluarga nya di rumah kita". Sang Papa memulai membuka pembicaraan.


Shahilla hanya tertunduk diam mendengar kan dengan seksama.


Papa/ "Dan kamu juga pasti sangat terkejut ketika Restu yang menjemput kamu di bandara bukan nya Papa dan Mama. Papa sama Mama memang sengaja menyuruh Restu yang menjemput kamu di bandara soal nya kami ingin memberi kan kamu kejutan hi hi hi. Sebenar nya kedatangan Restu serta keluarga nya ke rumah kita karena mereka ingin melamar kamu menjadi istri nya Restu".


Sentak pandangan Shahilla menoleh melihat wajah Papa nya.


Papa/ "Yaaa . . . Sebenar nya 5 tahun yang lalu setelah kejadian batal nya pernikahan Restu dan Aina. Restu datang ke rumah kita untuk melamar kamu, Restu juga sudah menjelas kan ke Papa atas kesalah fahaman yang terjadi pada kalian, tapi karena kamu berada di London sendirian, dan Papa enggak mau kamu hilang konsentrasi di sana, jadi Papa belum bisa menerima lamaran nya dan belum bisa memberitahu kamu soal ini. Terus akhir nya Restu memutus kan untuk menunggu kamu sampai kamu menyelesai kan tugas kamu di London dan ini lamaran nya ke kamu untuk yang ke dua kali nya. Bagaimana?, apa kamu bersedia menerima lamaran Restu atau tidak nak?".


Nafas Shahilla seakan terhenti, betapa terkejut nya diri nya. Sedang kan Restu terlihat jelas harap - harap cemas menanti jawaban dari Shahilla.


Shahilla memejam kan mata nya dan sesekali menghela kan nafas nya.


Abah/ "Bagaimana Shahilla? Apa kamu mau menerima menjadi menantu di keluarga kami?". Sambung nya.


Satu persatu Shahilla melirik orang - orang yang berada di hadapan nya tak terkecuali Restu. Ia tertunduk kembali. Dengan menyebut nama ALLAH dan kemantapan serta petunjuk – pentujuk yang ALLAH beri kan pada nya dalam istikharah nya, Shahilla mengangguk kan kepala nya dengan pelan menandakan bahwa ia menerima lamaran Restu.


"Alhamdulillah". Seru mereka. Raut wajah mereka sembringah, terlebih lagi Restu yang terlihat jelas wajah nya begitu cerah. Ia melirik Shahilla dengan tersipu malu lalu menunduk kan pandangan nya kembali.


Papa/ "Ya sudah, karena lamaran Rastu sudah di terima oleh Shahilla, maka Restu boleh melihat wajah Shahilla. Apa kamu sudah siap melihat wajah Shahilla Tu?". Beliau melirik Restu yang tersipu malu.


"In Sya ALLAH siap Om".


Papa/ "Shahilla silah kan kamu buka niqob kamu agar Restu bisa melihat wajah kamu".


Shahilla menuruti nya, tangan nya gemetar ketika dia ingin membuka niqob nya dan menampak kan wajah nya pada sang calon suami alias Restu yang juga gemetar siap melihat wajah Shahilla.


Mata Restu berbinar - binar ketika dia melihat wajah Shahilla yang begitu cantik bak bidadari syurga turun dari kayangan. Restu terharu melihat sosok yang di rindu kan nya kini berada di hadapan nya. Penantian nya pun kini akan berakhir.


.


.


"Bismillahhirrohmanirrohiim . . . Saya terima nikah nya Shahilla Az - Zahra Razaq dengan mas kawin tersebut di bayar tunai". Dengan lantang dan satu nafas pemilik suara merdu itu yang tak lain adalah Restu mengucapkan ikrar janji yang begitu suci.


"Sah . . ? Sah . . ?". Pak Penghulu bertanya kepada seluruh saksi.


Dan dengan semangat nya mereka mengucapkan.


"SAH".


"Alhamdulillahhirobbil'alaamiin . . . ". Pak penghulu pun melanjutkan doa nya.


Ketegangan dan rasa gugup pecah menjadi rasa bahagia dan haru. Tak lama Shahilla pun di persilah kan keluar dari kamar untuk di duduk kan bersama serta menandatangani yang harus di tanda tangani.


Dengan lemah lembut Shahilla melangkah kan kaki nya satu persatu penapaki anak tangga dan di gandeng oleh Dewi. Gugup?, pasti.

__ADS_1


Restu pun menoleh ke arah Shahilla dengan senyum bahagia namun tersipu malu.


Kini Shahilla sudah duduk di samping Restu. Mereka di minta untuk menanda tangani berkas - berkas tanda pernikahan mereka. Tak ketinggalan cahaya dari kamera para photografer dan wartawan berlomba - lomba mengambil foto terbaik mereka.


Serangkaian tradisi adat istiadat mereka jalani satu persatu, yakni adat jawa dan minang. Tak lupa mereka melakukan wawancara para wartawan awak media.


Dan berita pernikahan mereka menjadi viral dan menjadi trending topik.


.


.


Usai sudah acara Raja dan Ratu sehari. Meski terasa lelah namun tak menghilang kan rasa bahagia mereka. Shahilla terdiam duduk di atas tempat tidur mereka melihat sekeliling kamar yang berisi bunga mawar putih yang membuat suasana kamar menjadi romantis. Bunga - bunga tersebut mengeluar kan harum yang semerbak sehingga merelaxasi kan tubuh.


"Kamu sudah ngambil wudhu?". Restu mengaget kan Shahilla.


"Sudah". Singkat nya.


Restu/ "Kita sholat yuk". Ajak nya. Shahilla mengangguk menuruti nya.


Usai mereka sholat, Shahilla kembali duduk di atas tempat tidur di sisi kanan dan menyusul Restu yang duduk di samping nya. Shahilla merasa gugup dan sesekali ia menelan ludah nya. Begitu pun juga Restu.


"Umm . . . Kamu . . . ". Secara serentak.


Restu/ "Eh he he he kamu duluan saja".


Shahilla/ "Kamu duluan mas".


Restu/ "Kamu saja he he he".


Sangkin gugup nya mereka jadi salah tingkah. Restu melirik Shahilla dan pelan - pelan tangan nya ingin menggapai tangan Shahilla yang berada di atas paha Shahilla. Belum sempat tangan nya sampai pada tujuan, tiba - tiba Shahilla bangkit dari duduk nya, ia mengetahui bahwa Restu ingin menggapai tanga nya.


Shahilla/ "Aku . . . Aku mau ngambil air minum dulu, aku haus".


"I . . . Iya . . .". Restu mengangguk.


Shahilla/ "Kamu . . . Mau aku ambilin air juga mas?".


"Iya . . . Boleh".


"Bentar ya mas. . . ". Shahilla pun keluar kamar meninggal kan Restu sendiri di dalam kamar.


"Huuuufffft". Restu menghela kan nafas nya sembari menepuk - nepuk pelan dada nya untuk meredakan rasa gugup nya. Shahilla kembali ke kamar tanpa membawa air minum. Restu merasa heran melihat Shahilla dengan tangan kosong.


"Air minum nya mana?, bukan nya tadi kamu bilang mau ngambil air minum?".


Shahilla semakin kikuk dan tersenyum getir.


"Aku lupa, kalau di kamar sudah tersedia dispenser air bahkan juga kulkas hi hi hi". Shahilla menunjuk ke arah dispenser air serta kulkas yang berada di samping lemari tv.


Restu menoleh ke arah tersebut dan baru menyadari nya.


"Fftt . . . Ha ha ha ha". Restu tertawa geli. Sedang kan Shahilla tertunduk malu.


Restu tertawa bukan menertawakan Shahilla, akan tetapi karena dia merasa geli, efek rasa gugup, mereka sama - sama jadi salah tingkah. Restu tersenyum dan menghampiri Shahilla. Kali ini Restu memiliki keberanian untuk menyentuh tangan Shahilla. Ia menggenggam tangan Shahilla yang dingin membeku.


Jantung Shahilla berdegup dengan kencang ketika Restu sudah berada di depan nya berjarak sekitar 20 centi meter.


"Kamu pasti lelah. Kita tidur yuk . . .". Tutur nya dengan lemah lembut.


Bukan hanya berani menggenggam tangan Shahilla, Restu pun mempunyai keberanian untuk menyentuh wajah Shahilla yang lembut. Shahilla memejam kan mata nya merasa kan sentuhan tersebut sembari mengangguk pelan, mengiyakan ajakan sang suami.


Restu tersenyum dan menuntun Shahilla ke tempat tidur. Tanpa berkata sepatah kata pun mereka hanyut dalam keheningan, rasa haus dan rasa gugup hilang seketika, yang ada hanya nafas mereka yang menggebu - gebu.


.


.


Flash On . . .


Shahilla dan Restu kini sedang makan malam berdua di apartemen mereka.


Seperti biasa nya, Restu selalu lahap dengan santapan yang siap kan oleh Shahilla.


Shahilla/ "Gimana kerjaan kamu hari ini Mas?".


Restu/ "Alhamdulillah lancar, Mas juga sudah bilang ke sutradara dan produser nya kalau mulai lusa, Mas sudah ngosongi jadwal shooting, karena kamu kan enggak lama lagi mau lahiran bahkan tinggal nunggu hari saja lagi, jadi Mas harus stand bye untuk kamu".


Shahilla/ "Hemm . . . Oh ya Mas, Adek enggak mau ya, nanti ada wartawan atau pihak media yang heboh ngeliput tentang kelahiran anak kita. Karena Adek takut entar anak kita terkena penyakit AIN kalau terlalu dini di publik".


Restu/ "Iya sayang . . . Mas juga sudah was - was soal itu dan Mas juga sudah mengatur semua nya dan di bantu sama Aan, jadi kamu enggak perlu khawatir, yang penting kamu dan calon anak kita sehat - sehat terus, Aamiin".


Shahilla/ "Aamiin . . .".


Restu/ "Oh ya lupa . . . Aina lagi di Jakarta ya?, soal nya tadi pagi Mas enggak sengaja melihat Aina bersama seorang laki - laki di cafe dekat lokasi shooting, tapi Mas lihat laki - laki nya bukan si Fatih suami nya, terus pas Mas mau ngedatangi mereka ehh sudah giliran scene nya Mas, enggak jadi deh mas menghampiri mereka".


Shahilla/ "Mm . . . Adek enggak tahu soal Aina ada di Jakarta Mas, soal nya kami sudah jarang juga berkomunikasi. Mungkin dia lagi ada kerjaan di sini, tapi entar Adek coba hubungi dia".


Restu/ "Hemm Iya. . . ".


Usai makan malam dan memberes kan meja makan. Mereka duduk di balkon apartemen. Sudah menjadi rutinitas mereka berdua sebelum tidur. Duduk santai sembari menikmati indah nya malam hari di tengah - tengah ibu kota.


Shahilla yang duduk di depan Restu, bersikap manja dengan bersandar pada dada Restu yang bidang. Restu pun memanjai nya dengan membelai - belai rambut Shahilla yang terurai panjang nan lembut, dan sesekali ia menciumi aroma harum dari rambut Shahilla.


Restu/ "Mas ingat banget dulu waktu pertama kali ketemu sama kamu, kamu lari - lari enggak jelas sama Aina dan akhir nya kamu ninggalin sepatu kamu di koridor mall he he he. Sebenar nya Mas itu berharap dan yakin kalau Cinderella Ninja itu kamu, tapi karena sikap Mas yang terlalu terburu - buru Mas jadi enggak melihat dan enggak sadar kenyataan yang sebenar nya. Mas minta maaf ya karena kekeliruan Mas he he he".


Shahilla/ "Sudah lah Mas, itu sudah berlalu, Mas enggak perlu minta maaf terus - terusan. Sekarang kita jalani apa yang kita jalani dan berusaha melakukan yang terbaik agar kelak masa depan kita bersama anak - anak kita jauh lebih baik dan enggak mengulangi kesalahan apa pun di masa lalu. Lagian kan sekarang hingga nanti Mas sudah menjadi milik Adek dan Adek sudah menjadi milik Mas".


Restu mencium pelipis mata Shahilla dari samping sembari melingkar kan tangan nya di atas dada milik Shahilla.


"Umm . . . Ngegemesin nya Buk Dosen ini, makin sayang Mas di buat nya he he he".


"He he he".

__ADS_1


Shahilla tertawa kecil dan ia mencium tangan Restu.


__ADS_2