
Chapter 50
#Bismillahhirrohmanirrohiim . . . Yasiin . . . Wal Qur'anil Hakiim. . . Innakalaminal mursyaliin . . .
Terdengar suara syahdu para pelayat membaca kan surah yasiin di depan mayat. Sanak saudara, tetangga dan rekan kerja berkumpul melayati sang mayat.
Ibunda dari Fatih tak henti - henti nya menangis sembari meratapi anak semata wayang nya itu, sedang kan Aina yang masih lemas terpaksa harus duduk di samping sang mayat, mengingat ia masih istri sah nya Fatih.
Mama Fatih/ "Oh anak ku kenapa kamu ninggalin Mama secepat ini, nak?".
Ia melirik Aina dengan sinis lalu menyalah kan Aina atas kematian anak nya.
"Ini semua pasti gara - gara kamu kan, gara - gara kamu anak aku mati, gara - gara kamu hu hu hu". Teriak sambil menarik - narik baju Aina, sedang kan ia hanya terpaku karena shock bukan shock karena kehilangan Fatih melain kan ia shock gara - gara diri nya Fatih harus menutup usia nya.
Sentak orang - orang sekitar melerai kan Mama mertua dan menantu itu. Aina di bawa ke dalam kamar nya dan di temani oleh Shahilla.
"Ini semua gara - gara aku, Fatih meninggal gara - gara akuuuuuuu". Aina menjerit histeris menyalah kan diri nya sendiri, ia menangis sejadi - jadi nya.
"Na, ini bukan salah kamu, ini sudah takdir ALLAH, kamu enggak boleh menyalah kan diri kamu sendiri, istighfar Na, istighfar". Shahilla memeluk tubuh Aina sembari mengusap - ngusap punggung nya.
"Ini salah aku la, ini salah aku". Ulang nya.
Shahilla/ "Enggak na, memang sudah ajal nya Fatih dan ini kecelakaan bukan salah kamu, sudah kamu jangan seperti ini, nanti orang lain akan dengar, kamu banyak - banyak ber- istghfar, sebut nama ALLAH".
Aina semakin menangis sekukukan, air mata nya membasahi hijab Shahilla.
.
.
# "Bos, kami dapat informasi untuk bos". Di seberang tempat Haikal mendapat telpon dari orang suruhan nya alias kedua preman yang menculik Reynan.
#Haikal/ "Informasi apa?".
#OSH/ "Kami dapat informasi kalau Fatih sudah mati bos".
#Haikal/ "Serius loe berdua?, si Fatih meninggal?".
#OSH/ "Iya bos, kemarin kami kan pergi ke Yogya. Terus hari ini kami enggak sengaja lewat rumah nya, terus kami ada tenda orang mati, jadi kami tanya siapa yang mati ehh enggak tahu nya si Fatih yang mati bos".
#Haikal/ "Hmm . . . Loe berdua tahu dia mati nya kenapa?".
#OSH/ "Kami enggak tahu jelas bos, cuma kata nya karena kecelakaan waktu jalan bersama dengan Aina. Oh ya bos ada yang lebih penting lagi bos. Di sini ada Shahilla dan Restu juga bos".
Haikal terdiam ketika mereka menyebut nama Shahilla dan Restu.
"Hmm . . . Ya sudah, terimakasi informasi nya. Entar kalau ada info - info lain, kalian kabari ke gue secepat nya".
#OSH/ "Beres itu mah, tenang saja bos".
"Hmmm".
Haikal menutup panggilan nya dan masih terdiam di dalam apartemen nya.
"Aku sangat merindu kan kamu La". Haikal menatap sepatu kiri Shahilla yang ia temu kan semasa mereka nyantri, dimana Shahilla pernah meninggal kan sepatu itu.
.
.
"Om . . . Om . . . Om Haikal . . .". Reynan mencari Haikal ke seluruh ruangan apartemen namun tak menemukan Haikal. Reynan membuka pintu kamar Haikal lalu masuk tapi Haikal juga tidak ada di dalam kamar nya.
"Om . . . Hmm . . . Apa Om Haikal lagi keluar ya". Gumam nya lalu berjalan menuju pintu. Tanpa sengaja mata Reynan melihat selebaran yang mereka buat waktu itu berserakan di lantai. Reynan mengutip selebaran itu.
"Ini kan kertas untuk mencari Mama yang aku buat bersama om Haikal, kok masih ada di kamar Om Haikal?, bukan nya Om Haikal bilang kertas - kertas nya sudah di sebar, apa om Haikal buat lagi ya?". Reynan merasa heran dan memungut sisa - sisa selebaran yang masih tergeletak di lantai. Bukan hanya selebaran itu yang Reynan dapati, Reynan juga mendapat kan beberapa foto - foto dan beberapa barang yang mencuriga kan.
"Ini kan foto Mama sama Onty Cinderella Ninja, kenapa Om Haikal bisa punya foto - foto ini, kan kata om Haikal,dia enggak kenal sama mama apa lagi sama onty Cinderella Ninja".
#kletek . . .
Tiba - tiba terdengar suara pintu seseorang akan masuk ke dalam kamar. Sontak Reynan panik dan langsung bersembunyi di bawah tempat tidur.
Reynan melihat bahwa Haikal sudah kembali.
__ADS_1
"Iya, kalian urus saja semua nya, iya aku masih enggak terima kalau Restu, Shahilla dan Aina belum menderita. Sudah kalian tenang saja, pokok nya aku enggak mau tahu, kalian juga harus berhasil menculik anak si Restu dan Shahilla seperti kalian berhasil menculik si Reynan. Setelah itu kalau bisa kita lenyap kan anak - anak mereka biar mereka semakin menderita". Haikal menelpon kedua preman nya.
Reynan shock mendengar pembicaraan Haikal, ia merasa takut dan tubuh nya gemetar.
Ternyata orang yang selama ini yang ia anggap om baik itu adalah orang yang sudah menculik diri nya karena ingin membalas kan dendam pada orang tua nya.
Tak lama Haikal menelpon, ia pun masuk ke dalam kamar mandi. Secepat kilat Reynan berlari keluar dari kamar Haikal dan langsung masuk serta mengunci pintu kamar nya. Reynan benar - benar ketakutan, tubuh nya bergetar dan menggigil. Reynan enggak tahu harus berbuat apa.
"Ma . . . . Reynan takut Ma, tolong Reynan Ma . . . .". Reynan menangis ketakutan.
"Rey . . . Reynan . . . ". Reynan mendengar suara Haikal memanggil diri nya. Reynan semakin takut dan enggan untuk menyautin nya.
Haikal/ "Rey . . . Kamu lagi tidur ya?, oh ya om pergi keluar bentar ya, nanti kalau kamu lapar makanan nya sudah om siap kan di atas meja, kalau kamu mau ngemil makanan nya juga sudah om letak di kulkas dan lemari tadi om sudah belanja".
Reynan enggan bersuara.
"Rey . . . Om pergi ya . . .".
#kletek . . .
Terdengar suara pintu tertutup, itu arti nya Haikal sudah pergi. Perlahan Reynan memberani kan diri nya untuk keluar dari kamar, ia melirik ke seluruh ruangan untuk memastikan apakah Haikal benar - benar sudah pergi atau belum. Mata Reynan tak menemukan Haikal dimana pun. Reynan berlari ke meja telpon yang ada di sebelah lemari di ruang tamu, Reynan membongkar semua rak buku untuk mencari nomor telpon atau nomor selular yang bisa ia hubungi. Tubuh Reynan semakin gemetar, lembar demi lembaran Reynan mencari nomor tersebut, pada akhir nya ia menemukan nomor selular Shahilla di buku telpon pada lembaran terakhir, dengan cepat Reynan menghubungi nomor tersebut, namun sangat di sayang kan ternyata nomor itu sudah tidak di guna kan lagi alias itu nomor selular Shahilla yang dulu semasa ia nyantri.
Kini Reynan putus asa, ia semakin menangis ketakutan.
"Maaaaaaa . . . Tolongin Reynan Maaaaa hu hu hu".
"Rey . . . Kamu kenapa?, kok kamu nangis". Tiba - tiba Haikal kembali lagi ke apartemen nya karena ia tidak sengaja meninggal kan kunci mobil nya. Ia mendekati Reynan yang sedang duduk menyudut ketakutan serta air mata yang masih membasahi.
Reynan menepis tangan Haikal sebelum tangan nya hinggap ke pundak Reynan. Sentak Haikal merasa heran.
"Om . . . Jahat, om jahat, om pembohong". Teriak nya membuat mata Haikal terbelalak.
"Ternyata om orang jahat, ternyata om orang yang menculik aku dan om juga mau mencelakai aku. Om jahat".
Haikal masih bersikap santai.
"Hey Rey . . . Itu tidak benar, siapa yang bilang seperti itu ke kamu?".
Kini kesabaran Haikal sudah hilang mengingat juga Reynan sudah mengetahui semua nya. Kepalang tanggung Haikal berhasil menarik tangan Reynan lalu mencengkram tangan nya.
"Lepasin tangan aku, lepasin, tolong . . . Tolong . . .". Reynan memberontak, ia berusaha melepaskan diri nya.
Secepat kilat Haikal membungkam mulut Reynan.
"Kalau kamu sampai kabur atau melapor pada orang lain, om pasti kan mama kamu akan nyusul papa kamu ke syurga". Ia mengancam.
Reynan terkejut.
"Papa?". Batin nya.
Haikal/ "Kamu mau mama kamu meninggal nyusulin papa kamu yang sudah meninggal?, kalau kamu enggak mau itu terjadi, sebaik nya kamu nurut sama om".
Air mata Reynan mengalir serta erangan suara tangisan yang tertahan kan.
.
.
Seminggu setelah wafat nya Fatih. Restu, Shahilla, Aina dan Joe kembali mencari Reynan, segala usaha telah di tempuh oleh mereka. Mereka mencari di tiga kota besar di Indonesia yakni kota Medan, Surabaya dan Jakarta, namun mereka belum juga menemukan Reynan.
Setelah seharian mencari Reynan. Di malam hari nya Shahilla dan Restu kini duduk berdua di ruang tamu apartemen nya
Shahilla/ "Mas, seperti nya kita enggak bisa meninggal kan Aina di rumah nya sendirian dengan kondisi nya yang seperti itu, apa lagi dia masih shock atas kepergian Fatih dan Reynan belum juga ketemu".
Restu/ "Iya sayang, mas juga cemas, mas juga kepikiran soal itu, karena enggak mungkin kita meninggal kan Aina bersama Joe sementara mereka belum menikah, kalau Aina tinggal sama kita, takut muncul fitnah".
Shahilla/ "Gimana kalau adek saja yang sementara nemeni Aina di rumah nya mas?, mungkin kalau seperti itu tidak akan menimbul kan masalah atau fitnah untuk kita".
"Terus mas di tinggal sendirian gitu di sini?". Restu memasang tampang menyedih kan.
Shahilla mengangguk.
Restu/ "Masa mas di tinggal siiiih? Hiks hiks hiks". Rengek nya.
__ADS_1
Shahilla tertawa kecil.
"He he he, Kan cuma sebentar sayang, paling sampai Aina benar - benar fit kembali. Izin ya sayang, zuji alhabib".
Restu/ "Huh . . . Iya deh iya zawjati alhabibat".
"Syukron zuji alhabib". Shahilla melingkar kan tangan nya ke pinggang Restu dengan manja.
"Afwan zawjati alhabibat yang ngegemesin". Restu menciumi pipi Shahilla berulang - ulang kali.
"He he he".
Restu mengantar Shahilla dan Zahira ke rumah Aina, meski ia masih tidak rela membiar kan anak dan istri nya tinggal bersama dengan Aina namun ia menurun kan ego nya demi membantu sahabat istri nya itu.
Restu membantu Shahilla membawa kan barang - barang nya ke dalam rumah Aina, karena tak ingin menimbul kan fitnah, Restu langsung pamit pulang.
Restu/ "Sayang mas langsung balik saja ya".
"Iya mas, mas hati - hati di jalan".
Restu tangan kiri nya meraih tangan Shahilla sedang kan tangan kanan nya mengelus pipi Zahira.
"Iya, nanti kalau ada apa - apa langsung hubungi mas, oh enggak usah nanti mas akan menelpon kamu setiap saat, nanti mas suruh Aan nyari orang untuk memantau dan berjaga - jaga di depan rumah, terus bilang sama Aina, nanti Joe jangan sering - sering datang ke sini".
Shahilla tersenyum simpul.
"Iya mas. Nanti setiap sebelum jam makan siang adek akan ngirimin makanan untuk mas, terus kalau tidur, mas jangan lupa pakai selimut nanti mas bisa masuk angin".
Restu memanyun kan bibir nya.
"Huft, mas sudah pasti bakal masuk angin, soal nya selimut hati mas sedang tidak menyelimuti mas beberapa hari kedepan".
"He he he, mas nya lebay". Shahulla memukul pelan dada Restu.
"He he he, ya sudah, mas pamit ya". Restu mengecup dahi Shahilla dan tak lupa menciumi wajah Zahira.
"Iya, Hati - hati mas". Shahilla melihat kepergian suami nya. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah Aina.
Shahilla memberes kan barang - barang nya ke dalam lemari baju di kamar tamu Aina.
Aina berjalan dengan tergopoh - gopoh menemui nya dan duduk di atas tempat tidur tepat di samping Zahira berbaring sambil mengoceh.
Aina/ "Maaf ya La, sudah merepot kan kalian, gara - gara aku, kamu dan Restu jadi terpisah tidur nya".
Shahilla membalik kan bdan nya melihat Aina.
"Enggak kok Na, kami enggak ngerasa di repotin kok".
Aina/ "Terimakasi ya La".
Shahilla menyungging kan senyuman nya.
"Oh ya, tadi mas Restu bilang, nanti kamu kasi tahu si Joe kalau dia jangan sering - sering datang ke rumah kamu, bukan karena ada aku dan Zahira juga sih Na, tapi mengingat kalian belum menikah, biar enggak menimbul kan fitnah banyak orang".
Aina/ "Iya La, aku ngerti kok, lagian Joe juga jarang ke sini karena dia ngerti soal itu. Kami lebih sering ketemu di luar ketimbang berdiam di rumah".
Shahilla/ "Hmm gitu. . . Kalian punya rencana untuk nikah kan?".
Aina/ "Ada La, tapi aku enggak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak dengan semua yang terjadi".
Shahilla/ "Kok kamu ngomong nya kayak gitu, kamu harus tetap optimis dan semangat Na".
Aina/ "Entah lah La, sejak Reynan menghilang, aku ngerasa hidup aku sudah mati sebagian, aku enggak bisa menjalan kan hidup seperti ini, tanpa Reynan. Aku enggak tahu kondisi Reynan sekarang bagaimana. Rasa nya aku mau mati saja kalau aku hidup tanpa Reynan hu hu hu". Lirih nya.
Shahilla merangkul Aina.
"Kamu enggak boleh ngomong kayak gitu, kamu berpikir yang positive Na, Reynan pasti baik - baik saja, mungkin Reynan sedang menunggu kamu. Kamu juga pikirin Joe yang selalu ada buat kamu, yang selalu menampung beban kamu, kamu hargai perjuangan Joe, kamu enggak boleh patah semangat seperti ini. Ingat Na, ALLAH lebih besar dari pada masalah kita, ALLAH selalu ada untuk kita. Kita doa kan Reynan baik - baik saja di sana dan selalu di lindungi oleh ALLAH SWT".
Aina/ Terimakasi banyak ya La untuk semua nya".
Aina menangis tersedu sembari menikmati tangan Shahilla yang mengusap - ngusap bahu nya. Ia sedikit merasa tenang dengan ada nya sahabat nya itu.
Reynan# "Ma . . . Cepat jemput Reynan Ma, Reynan takut di sini".
__ADS_1