Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 39


__ADS_3

Chapter 39


“Shahilla”. Restu tersentak dari tidur nya memanggil nama Shahilla. Keringat bercucuran di wajah nya. Dia berusaha mengatur nafas nya dan bangkit dari tempat tidur.


“Mas kenapa?”. Shahilla pun di kejut kan oleh teriakan Restu. Shahilla memegang pundak Restu berusaha menenangkan nya.


“Mas cuma mimpi buruk saja”. Restu mengusap wajah nya.


Shahilla mengusap punggung Restu dengan lembut.


“Sudah Mas, sekarang Mas pergi berwudhu abis itu kita sholat tahajud, dan minta sama ALLAH agar kita selalu di lindungi sama ALLAH Subhanahu Wataalaa”.


Restu mengangguk pelan dan memeluk Shahilla. Restu dan Shahilla segera melaksana kan sholat tahajud dan tak lupa memanjatkan doa yang terbaik untuk mereka.


“Oweeek . . . oweeek . . . “. Terdengar suara tangisan bayi perempuan, secepat kilat Shahilla menghampiri sang bayi yang berbaring di dalam box bayi. Shahilla mengangkat serta menggendong nya, ia berusaha menenang kan bayi perempuan mereka yang kini sudah berusia hampir dua bulan.


“Ssst . . . sst . . , Ini Ummi nak, kamu haus ya”. Shahilla pun duduk di atas tempat tidur dan memberikan nya ASI. Restu tersenyum melihat kedua orang terkasih nya.


“Uluh . . . uluh . . . anak Abi haus ya . . .?”. Restu mendekati mereka dan duduk di samping Shahilla. Restu mengelus – ngelus pipi mulus sang bayi dengan lembut.


.


.


Flash back . . .


“Pak . . . karena ada nya gumpalan darah pada sekitar rahim Bu Shahilla, itu mengakibat kan rusak nya jaringan reproduksi pada rahim Bu Shahilla. Bu Shahilla masih bisa hamil lagi, tapi itu tak menjamin keselamatan Bu Shahilla dan bayi karena resiko nya sangat besar, jadi saya saran kan Bu Shahilla untuk KB saja, agar tidak ada terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan Bu Shahilla”. Dokter Linda menjelas kan hasil kondisi Shahilla paska ia menangani Shahilla.


Restu menarik nafas nya mendengar kan Dokter Linda dengan seksama.


“Saya mau Dokter lakukan yang terbaik untuk keselamatan istri saya. Saya tidak perduli apakah kami masih bisa memiliki keturunan lagi atau tidak, yang penting istri saya enggak kenapa – kenapa Dok”.


Dokter Linda/ “Baik Pak, saya sangat setuju dengan keputusan Bapak yang begitu bijak. In Sya ALLAH saya akan melakukan yang terbaik untuk istri Bapak. Untuk sekarang kita tunggu sampai Bu Shahilla sadar dan bebas dari masa kritis nya, setelah itu kami akan melalukan nya”.


Restu/ “Iya Dok, terimakasih banyak Dok”.


Dokter Linda/ “Oh iya Pak, saya saran kan kalau bisa Bu Shahilla jangan di beri tahu terlebih dahulu soal ini, karena kalau kita beritahu Bu Shahilla setelah beliau sadar takut nya akan memperburuk kondisi Bu Shahilla, jadi lebih baik kita rahasia kan saja dulu soal ini sampai Bu Shahilla benar – benar sembuh total”.


Restu/ “Baik Dok”.


.


.


Restu kembali ke kamar Vvip dimana Shahilla terbaring tak berdaya paska operasi melahirkan sang bayi. Restu mengecup kening sang istri yang wajah nya begitu pucat bagaikan mayat sembari mengusap kepala Shahilla.


“Sayang . . . cepat bangun ya, anak kita sangat merindukan Ummi nya. Nanti kalau kamu sudah bangun, kita akan ngebuat acara yang besar untuk menabalkan nama anak kita. Nama yang sudah kita pilih waktu itu Zahira Ghania Restu he he he”.


Tiba – tiba seorang suster masuk ke dalam kamar dan mengagetkan Restu. Restu menoleh ke arah suster yang sedang menggendong bayi mungil milik mereka.


“Permisi Pak, saya di minta sama Dokter Linda untuk membawa kan bayi Bapak kepada Ibu nya, agar bisa mensimulasi sang bayi, dan usaha kita agar Bu Shahilla dapat merespon”. Suster tersebut memindai sang bayi pada Restu.


“Saya permisi Pak, nanti saya akan menjemput bayi nya kembali”.


“Terimakasih ya Sust”. Restu menyambut sang bayi. Sang suster pun keluar dari kamar meninggal kan mereka betiga.


“Assalamualaikum anak Abi”. Bisik nya dan menciumi wajah sang bayi. Bayi itu menggeliat.


“Sayang…, ini anak kita ada di sini nih, dia mau ketemu sama Ummi nya, Assalamualaikum Ummi”. Restu mendekatkan anak nya ke wajah Shahilla. Tanpa sengaja tangan mungil sang bayi yang di tutupin dengan sarung tangan mengelus – ngelus wajah Shahilla dan lidah nya pun melet – melet seperti kehausan.


“Oweeek . . . oweeek . . .”. Mendadak sang bayi menangis karena tak sanggup menahan rasa haus.


“Ssstt . . . Ssttt . . . sayang, anak abi”. Restu kwalahan mendiam kan sang bayi, dia sibuk menimang – nimang nya agar segera berhenti menangis.


“Sssst sayang . . ., sayang . . . Sholatullah Salamullah, Alaa Toha Rasulillah . . .”. Restu bersholawatan di telinga bayi nya. Sang bayi terdiam mendengar kan Restu namun kembali menangis.


“Anak kita haus Mas”. Terdengar suara Shahilla yang sedikit berat mengejutkan Restu. Sentak Restu menoleh dimana Shahilla terbaring. Air mata nya berkaca – kaca melihat Shahilla sudah sadar dan secepat kilat dia mendekati Shahilla.


“Alhamdulillah Ya ALLAH . . . .”. Restu memeluk Shahilla dan sesekali menciumi wajah nya.


“Sini Mas, biar adek kasih ASI, dia haus itu”. Shahilla menadah kan tangan nya. Restu menyodorkan sang bayi kedekapan Shahilla.


Masih kondisi yang lemah, Shahilla berusaha untuk memberikan ASI pada bayi mereka. Dengan lahap nya sang bayi menyantap ASI sang Ummi yang di rindu kan nya.


“Haus banget ya anak Ummi?, maafin Ummi ya sayang”. Shahilla mengelus – ngelus pipi lembut sang bayi.


Restu yang masih terharu merangkul Shahilla lalu mencium kening Shahilla.


“Terimakasi ya sayang”. Shahilla hanya tersenyum menyandarkan kepala nya ke dada bidang milik Restu.


.


.


Flash On . . .


Restu duduk termenung di balkon kamar nya sembari menatap langit yang begitu gelap namun di taburi dengan bintang – bintang yang berkelap – kelip di tambah lagi dengan udara yang sejuk menusuk hingga ke tulang.


“Mas . . .??”. Shahilla menghampiri Restu sembari membawakan selimut hangat untuk Restu.


Restu tersentak dari lamunan nya, ia menoleh ke arah Shahilla yang kini sudah duduk di samping nya sembari memakai kan nya selimut hangat tersebut.

__ADS_1


“Dingin lho Mas di sini, ntar Mas kedinginan”.


“Kalau ada kamu Mas enggak pernah merasa kedinginan he he he”. Restu menggenggam tangan Shahilla. Begitu terasa dingin nya tangan Restu menggenggam tangan Shahilla.


“Dasar gombal”. Shahilla mengulum – ngulum senyum nya karena tersipu.


Restu/ “He he he, Zahira sudah tidur?”.


Shahilla/ “Sudah. Mas lagi banyak pikiran ya?, soal nya akhir – akhir ini Mas adek perhatiin lebih banyak diam nya, terlebih lagi Mas selalu mengigau tiap malam”.


Restu tersenyum menatap Shahilla. Ia merangkul Shahilla meletak kan kepala Shahilla ke dada nya.


“Mas, enggak apa – apa kok sayang, mungkin karena factor kecapekan sama jadwal shooting yang makin padat”.


“Beneran enggak ada terjadi sesuatu yang enggak di ingin kan?”. Shahilla masih penasaran.


Restu/ “Beneran sayang, kamu jangan mikirin yang lain apa lagi yang aneh - aneh, kamu cukup focus sama Zahira dan kesehatan kamu yang masih belum stabil”.


Shahilla/ “Berarti adek enggak di bolehi mikirin Mas?”.


Restu/ “Lho siapa yang bilang?”.


Shahilla/ “Lah tadi Mas sendiri yang bilang, enggak boleh mikirin yang lain, cukup focus sama Zahira dan kesehatan Adek, berarti adek enggak boleh mikirin Mas lah”.


Restu/ “He he he. Kalau itu enggak perlu di suruh, karena kamu harus mikirin Mas setiap detik he he he”.


Shahilla/ “Wuuu . . . enggak konsisten ngomong nya, tadi kata nya cukup Zahira dan Adek, ini malah bilang harus setiap detik mikirin Mas”.


Restu/ “Ha ha ha . . . Emang ya Bu Dosen ini mesti hati – hati berbicara biar enggak salah ngomong”.


Shahilla/ “Iya lah, karena kita harus berbahasa yang baik dan benar”.


“Baik lah Bu Dosen ku”. Restu menunduk kan kepala nya seperti orang korea atau jepang memberi hormat kepada orang lain.


“He he he he, jadi rindu ngajar hufft”.


“Yang sabar ya sayang, nanti ada waktu nya kamu bisa ngajar lagi seperti dulu”. Restu mengelus pipi Shahilla yang sudah terasa dingin karena cuaca.


“Iya Mas”.


Restu/ “Oh ya . . . persiapan untuk acara akikahan Zahira pekan depan sudah hampir 100%, Mas juga sudah minta tolong sama Aan menyebarkan undangan untuk rekan – rekan kerja Mas, kalau keluarga atau saudara di Surabaya sudah Ummi dan Abah yang menghandle dan keluarga di Medan juga sudah di handle sama Papa dan Mama. Tinggal menunggu kedatangan mereka saja lagi”.


Shahilla/ “Hemm, Alhamdulillah kalau gitu Mas. Adek juga sudah mengundang teman – teman adek, paling teman – teman yang ada di Jakarta saja, kalau yang di Medan adek sudah enggak tahu keberadaan mereka, maklum lah Mas sudah lama sekali lost kontak”.


Restu/ “Iya lah, yang bisa di hubungi saja yang di undang”.


Shahilla/ “Iya Mas. Eh, tapi Mas, adek enggak bisa ngehubungi Aina, nomor ponsel nya enggak aktif”.


Shahilla/ “Sudah Mas, tapi bunda sendiri pun enggak tahu kabar Aina bahkan bunda juga enggak tahu Aina sekarang dimana, bunda bilang sudah hampir tiga minggu dia enggak ngabari ke Medan, setiap bunda nanya keberadaan dia dimana, dia nya enggak jawab”.


Restu/ “Reynan masih sama bunda?”.


Shahilla/ “Masih Mas, maka nya bunda cemas sekali, malah kata bunda si Fatih juga begitu, dia enggak bisa di hubungi”.


Restu/ “Emm . . . Mas pun akhir – akhir ini sudah enggak pernah lagi melihat Aina di caffe dekat Mas shooting”.


Shahilla/ “Fuuht, mudah – mudahan enggak terjadi apa – apa ya Mas sama mereka”.


Restu/ “Aamiin, kita doa kan saja yang terbaik untuk mereka. Ya sudah kita masuk yuk, kasihan Zahira di dalam sendiri”.


“Iya Mas”. Shahilla mengangguk pelan menuruti Restu sembari tersenyum dan di sambut Restu dengan kecupan mesra di dahi Shahilla.


.


.


“Assalamualaikum . . .”. Terdengar suara lembut dari seorang wanita paruh baya, ia mengejutkan Shahilla yang sedang berdiri menggendong baby Zahira tepat di depan rumah sakit ibu dan anak.


Shahilla pun menoleh.


“Waalaikumussalam, Ma Sya ALLAH Mam Aisyah”. Shahilla menyambar tubuh Mam Aisyah, memeluk nya dengan hangat tanpa membuat baby Zahira terjepit.


Shahilla/ “Apa kabar Mam?”.


Mam Aisyah/ “Alhamdulillah saya sehat, kamu sendiri apa kabar nya?”. Dengan logat ke bule’an nya.


Shahilla/ “Alhamdulillah saya juga sehat Mam. Mam kapan datang ke sini?”.


Mam Aisyah/ “Oh saya sudah dua bulan yang lalu ke Jakarta karena saya harus ikut suami saya ke sini, saya mau mengabari kamu di saat itu juga, tapi saya tidak bisa menghubungi kamu, sampai akhir nya saya mendengar berita soal musibah yang terjadi pada kamu dua bulan yang lalu, jadi saya bingung harus menghubungi kamu kemana, saya ingin mendatangi kamu ke rumah sakit tapi suami kamu telah membuat keamanan yang begitu ketat di rumah sakit agar kalian tidak merasa di ganggu, saya turut sedih atas kejadian yang terjadi pada kamu waktu itu”.


Shahilla/ “Iya Mam, maaf ya sudah membuat enggak nyaman soal ke amanan yang Restu buat”.


Mam Aisyah/ “Enggak masalah, Restu melakukan hal tersebut untuk kebaikan kalian”.


Shahilla/ “Iya Mam, oh ya ngomong – ngomong Mam ke rumah sakit ini ngapain, apa ada keluarga atau saudara yang ada di rawat di sini?”.


Mam Aisyah/ “Tidak, saya ke rumah sakit ini karena saya mau check up kehamilan saya”.


Shahilla/ “Ma Sya ALLAH, jadi Mam lagi hamil?”.


Mam Aisyah/ “Iya, Alhamdulillah akhir nya ALLAH memberikan saya dan suami saya kepercayaan untuk memiliki karunia ini dan kini kehamilan saya sudah memasuki enam minggu”.

__ADS_1


Shahilla/ “Ma Sya ALLAH, saya turut senang mendengar kabar bahagia ini mam”.


Mam Aisyah/ “Terimakasi Shahilla, oh iya, saya sampai lupa”. Ia menepuk jidad nya dengan pelan.


“Saya lupa kenalan dengan anak kamu he he he”. Beliau sedikit menyingkap kan kain gendong Shahilla untuk mengintip bayi mungil yang ada di gendongan Shahilla.


“Ma Sya ALLAH Mam he he he, kira’in Mam lupa apa’an”. Shahilla pun memperlihat kan baby Zahira.


“Ma Sya ALLAH, cantik nya, she is cute like her mom, Zahira kan nama nya?”. Mam Aisyah gemes melihat Zahira yang imut – imut sembari mengelus – ngelus pipi chuby Zahira.


“Ma Sya ALLAH, terimakasi grandma he he he, iya grandma Zahira nama nya”.


.


.


Cukup lama berbincang - bincang dengan Mam Aisyah. Shahilla pun tiba di apartemen mereka.


“Assalamualaikum”. Ucap nya sembari menutup pintu dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka nya sedang kan Zahira masih tetap anteng di gendongan nya.


Shahilla menidur kan Zahira di atas tidur dan sesekali menepuk – nepuk pelan pinggir paha Zahira agar ia tetap terjaga.


#Triiiing . . .


Shahilla menyambar ponsel dan melihat notiv yang masuk ke ponsel nya.


#My Habibi / “Assalamualaikum sayang, sudah sampai di rumah?, gimana check up nya tadi sayang?, maaf Mas enggak bisa nelpon soal nya abis ini Mas mau take scene terakhir biar Mas bisa pulang cepat – cepat, Mas rindu he he he”.


#My Habibah / “Waalaikumussalam, Alhamdulillah kami sudah di rumah kok Mas, ini Zahira lagi bobo cantik. Soal hasil check up tadi nanti saja cerita nya pas Mas sudah di rumah, biar Mas makin rindu hi hi hi :-p ”.


#My Habibi / “Ouh gitu yaaaah, awas nanti kalau Mas sudah di rumah he he he. Ya sudah ini sudah waktu nya scene nya Mas, tunggu Mas di rumah ya. Mas mencintaimu”.


#My Habibah/ "Iya mas 😘".


Shahilla tertawa kecil setelah berbalas chat dengan sang suami alias Restu. Sesekali dia mengelus punggung Zahira setiap kali dia menggeliatkan tubuh nya.


.


.


“Sadakallahhul A’dziim”. Restu melantun kan ayat suci Al – Qur’an pada telinga Zahira.


“Semoga kelak kamu menjadi anak yang Shalihah dan akan membawa Abi dan Ummi ke syurga”.


Shahilla/ “Aamiin”. Seru nya sembari tersenyum melihat ke dua kekasih hati nya berada di atas tempat tidur.


“Oh ya Mas, tadi pas pulang nunggu’ in taxi online adek ketemu Mam Aisyah lho”.


Restu/ “Oh ya?, jadi Mam Aisyah lagi di sini?”.


Shahilla/ “Iya mas, suami nya dapat tugas di sini, dan terus Mam Aisyah akhir nya hamil juga setelah sekian lama menanti”.


Restu/ Ma Sya ALLAH kita enggak pernah tahu rencana ALLAH, ALLAH punya rencana nya yang begitu indah”.


“Iya Mas, senang banget dengar kabar bahagia seperti itu”,


Restu/ “Iya, Mas juga senang. Oh ya dek, gimana hasil check up tadi?, kata nya mau cerita kalau mas sudah di rumah”.


“He he he iya, Alhamdulillah mas semua nya sudah normal hanya saja . . .”. Ucapan Shahilla terputus mengingat di saat dia check up.


“Hanya saja apa dek?”. Dahi Restu mengkerut penasaran.


Shahilla tertunduk.


“Sayang?”. Restu meraih dagu Shahilla untuk melihat wajah nya.


“Lho kok kamu nangis sayang?”. Restu melihat mata Shahilla sudah berair. Sentak Shahilla memeluk tubuh Restu dan tak mampu menahan air mata nya. Shahilla menangis sejadi – jadi nya mencerita kan semua nya.


Flash back . . .


Usai di periksa oleh dokter Linda, Shahilla segera menyusul dokter Linda ke ruangan nya.


Tangan Shahilla yang ingin mengetuk pintu terhenti ketika dia mendengar kan pembicaraan dokter Linda bersama asisten nya.


Asisten Dok Linda/ “Hemm . . . Kasian ya Mas Restu gara – gara Mbak Shahilla punya penyakit pada rahim nya, jadi nya Mas Restu enggak bisa punya keturunan lagi, enggak ada deh yang jadi penerus nya Mas Restu, karena kan biasa nya kalau yang seperti itu pasti anak laki – laki nya yang harus jadi penerus nya sedang kan anak mereka yang baru lahir ini anak perempuan”.


Dok Linda/ “Wuuuussh, kamu ini ngomong apa sih, omongan kamu kok kayak enggak punya Tuhan, kamu enggak boleh seperti itu, itu sudah kehendak nya ALLAH, lagian siapa juga yang mau mendapat kan musibah seperti itu, kalau sudah ALLAH yang berkehendak kita tidak bisa mengelak nya. Kita itu harus nya mendoa kan mereka terutama Bu Shahilla agar beliau secepat nya pulih dan sembuh total, bukan nya malah mengasihani mereka. Saya kasih tahu ke kamu ya, kamu jangan cerita – cerita ini lagi ke orang – orang, apa lagi sampai kamu menggosip. Emang nya kamu mau saya pecat?”.


Asst Dok Linda/ “Ehh . . . enggak dok, masa gara – gara ini saya di pecat”.


Dok Linda/ “Maka nya mulut kamu itu harus di jaga, jangan ngasal ngomong saja”.


Asst Dok Linda/ “Iya dok, maaf, saya janji enggak akan mengulangi nya lagi”.


Flash on . . .


Restu/ “Mas minta maaf karena mas belum cerita ke kamu soal ini karena mas masih nunggu’ in kondisi kamu sudah sembuh total baru mas bakal cerita ke kamu, mas minta maaf kalau kamu mengetahui nya dengan cara seperti ini”. Lirih nya sembari membelai rambut Shahilla.


Shahilla/ “Enggak mas, Mas sama sekali enggak salah, yang salah adek karena adek enggak akan bisa memberikan mas keturunan lagi, adek istri yang enggak berguna buat mas”.


“Sssttt Sssst . . . kamu enggak boleh ngomong kayak gitu sayang”. Restu menutup mulut Shahilla dengan jari telunjuk nya.

__ADS_1


“Apa pun itu enggak akan mengubah kamu bagi mas, kamu tetap Shahilla istri mas yang mas cintai, mas mencintai kamu karena ALLAH bukan karena apa pun. Ini ujian buat kita untuk melangkah ke tahap lebih tinggi lagi, kita harus Ridho. Walau pun kita sudah tidak bisa mendapat kan keturunan lagi, tapi mas sangat bersyukur karena mas memiliki kalian, adek dan Zahira. Memiliki kalian sudah lebih dari cukup bagi mas. Kamu dan Zahira sangat berarti bagi mas”. Restu kembali memeluk tubuh Shahilla dengan erat bersama isak tangis mereka.


__ADS_2