
Hari peluncuran majalah X edisi Ramadhan dan Lebaran pun tiba, dimana semua staf - staf majalah X berserta tamu undangan berkumpul di suatu gedung studio milik majalah x.
Meski rasa gugup namun Aina yakin dan percaya diri bahwa diri nya bisa melampaui Shahilla dan berharap semua orang memberi nya pujian.
Di tengah - tengah tamu undangan tepat nya di meja paling depan, Shahilla duduk semeja bersama Pak Wiguna dan staf tertinggi lain nya sembari melihat sekeliling gedung yang begitu riuh oleh tamu undangan. Mata Shahilla menangkap satu pemandangan yang selalu menghantui pikiran nya yaitu sosok Restu yang baru tiba bersama dengan Ummi dan Resty yang masih di Jakarta.
Shahilla ingin beranjak untuk menghampiri mereka namun terhenti ketika Aina lebih dulu menghampiri mereka. Shahilla tersenyum simpul melihat mereka dan menyadari.
"Emang nya aku siapa?".
Pak Wiguna/ "Shahilla . . .".
Shahilla pun menoleh/ " Ya Pak . . ?".
Pak Wiguna/ "Kamu lagi ngelihatin siapa?".
Shahilla/ "ehe . . Enggak ada Pak, cuma ngelihati antusiasme para tamu Pak he he hw".
Pak Wiguna/ "Ouh . . . Kirain kamu ngelihati jodoh kamu ha ha ha ".
"Ffuufft Pak Wiguna ini ada - ada aja ". Shahilla tertawa kecil mendengar lawakan Pak Wiguna yang agak garing.
Sedang kan . . .
"Mbak Aina . . Mbak Shahilla nya mana?, kok dari tadi kelihatan?". Resty yang sudah duduk di meja Vvip bersama Restu dan Ummi, celingak - celinguk mencari sosok Shahilla yang tidak terlihat oleh mata nya.
Mata Restu pun ikut mencari sosok itu dan dia melihat Shahilla yang duduk tak jauh dari mereka. Restu terpaku menatap nya dari kejauhan.
Aina melirik Restu sedang fokus pada satu pandangan, dia pun melirik ke arah pandangan Restu yaitu Shahilla.
"Huuuuh . . . ". Aina mengendus kesal.
"Assalamualaikum Warrahmatullahhi Wabarakatuh . . . ". Sang MC yang begitu gagah tampan dengan jas putih nya memulai acara tersebut hingga ujung acara tersebut.
Persingkat waktu . . .
"Oke kini kita sudah berada di unjung acara dan Bapak William selaku Ketua dan pemilik Majalah X dan Bapak Wiguna selaku General Manager Majalah X akan memberikan kita kejutan, penasaran kira - kira kejutan apa yang akan mereka kasi untuk kita yaaa he he he. Oke langsung saja kita persilahkan Bapak Willam dan Bapak Wiguna untuk naik ke atas panggung . . ". Ujar MC nya.
Semua staf dan tamu undangan menaruh rasa penasaran sembari bertepuk tangan.
Kedua petinggi tersebut pun sudah di atas panggung.
Pak Wiguna/ "Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh ".
"Waalaikumsalam".
Pak Wiguna/ "Pertama tama saya ucapkan terimakasi dan hormat saya untuk bapak William (menoleh ke arah Pak William yang berada di samping kanan nya) dan seluruh staf majalah X (lalu menoleh ke arah staf - staf yang duduk anteng di sebelah kiri di antara para tamu). Seperti yang di bilang MC ganteng kita, saya dan Pak William punya kejutan untuk kalian semua khusus nya untuk staf majalah x".
__ADS_1
Semua staf saling memandang satu sama lain karena penasaran.
Pak Wiguna/ "Seperti nya saya enggak perlu berlama - lama dan terlihat jelas wajah - wajah penasaran kalian he he he (meledek staf nya). Buk Shahilla saya persilahkan ikut bergabung sama kami untuk naik ke atas panggung ".
Semua mata tertuju pada Shahilla yang terlihat terkejut dan kikuk. Perlahan Shahilla melangkahkan kaki nya untuk naik ke atas panggung. Para tamu dan staf semakin penasaran kecuali Aina yang punya filling ini pasti perihal resign nya Shahilla dan sertijab (serah terima jabatan) untuk diri nya.
Shahilla pun sudah berada di samping kiri pak Wiguna yang sedikit jauh jarak nya.
Pak Wiguna/ "Saya mengundang Buk Shahilla ke atas panggung karena saya ingin memberitahukan bahwa malam ini adalah malam terakhir beliau bergabung bersama kita di perusahaan ini, sebenar nya saya tidak menginginkan hal ini tapi saya juga tidak bisa menahan beliau untuk tetap berada di tengah - tengah kita karena alasan beliau meruntuhkan ego kita, beliau rindu pada orang tua nya dan lelah berjauhan dengan mereka, itu lah alasan beliau. Ma Sya ALLAH saya malu pada diri saya sendiri ketika beliau memberikan alasan tersebut, karena saya untuk ketemu dengan orang tua saya sendiri pun payah bahkan pun di saat lebaran saya tidak bisa pulang menemui orang tua saya karena lebih mementingkan yang di sini dan saya sadar bahwa kita harus mengutamakan orang tua kita ketimbang dunia kita, kita enggak pernah tau umur kita sampai mana dan kita juga enggak akan mampu untuk membalas upaya orang tua kita yang tak terhingga. Buk Shahilla sosok yang kita ketahui dan sosok yang saya anggap seperti anak saya sendiri telah memberikan pukulan telak untuk saya dan menyadarkan saya".
Mata Shahilla meneteskan air sehingga membasahi niqob hitam nya karna terharu dan para staf yang sudah mengetahui ikut merasa sedih dan menangis.
Sedang kan Restu, Resty dan Ummi terkejut mendengar nya dan turut meneteskan air mata.
"Buk Shahilla . . Terimakasi untuk semua nya dan kami ingin memberikan penghargaan serta cindera mata untuk dedikasi atas prestasi dan kerja keras Buk Shahilla selama bekerja di Majalah X ". Pak Wiguna mengarah ke arah sekretaris nya yang sudah berdiri di belakang nya dengan membawa sebuah penghargaan serta cindera mata tersebut.
Pak Wiguna dan Pak William memberikan nya secara bersamaan dan dengan rasa hormat Shahilla menyambut nya.
Shahilla. "Terimakasi Pak ".
"Proook prook prok . . . ". Seruan tepuk tangah riuh mengisi seluruh gedung untuk Shahilla.
"Mohon sebentar, kami juga punya kejutan lain nya untuk kalian". Pak Wiguna kembali membuat mereka penasaran.
Pak Wiguna/ "Saya juga ingin memberitahukan, malam ini juga saya dan Pak William akan memperkenalkan sosok baru pemimpin redaksi kita ".
Seluruh staf semakin riuh, berbisik - bisik dan menerka - nerka bahwa Aina yang akan menggantikan posisi Shahilla.
Aina yang sudah percaya diri sudah siap - siap ingin naik ke atas panggung namun terhenti.
Pak Wiguna/ "Saya panggilkan Buk Airilly Nathaly William untuk naik ke atas panggung ".
Mereka terkejut kenapa yang di panggil bukan Aina dan siapa wanita berparas cantik blasteran, berambut pirang nan indah, bertubuh tinggi putih langsing yang di tutupi dengan gaun yang menawan, ia sedang berjalan anggun menuju ke atas panggung.
Pak Wiguna/ "Beliau adalah anak tunggal dari bapak William, beliau baru kembali dari pendidikan nya di UK dan mulai sekarang beliau yang akan menggantikan posisi Buk Shahilla ".
Aina merasa geram dan beranjak keluar dari gedung tersebut meninggalkan Restu, Ummi dan Resty tanpa kata.
Shahilla melihat Aina berjalan keluar.
Aina/ "Aaaaaaaaaaaaaaah . . . Sialaaaaaaaan, kenapa bukan aku ?". Teriak nya yang sudah berada di dalam mobil yang terparkir rapi.
"Ini semua pasti karena Shahilla, kenapa kau selalu jadi penghambat aku ". Kali ini Aina memukulin stir mobil nya dan menghidupkan mesin mobil untuk pergi menjauh.
Sedang kan di dalam gedung tepat nya acara tersebut usai. Semua para tamu membubarkan barisan nya dan para staf juga panita pun berhamburan menghampiri Shahilla. Mereka memberikan hadiah kecil pada Shahilla untuk kenang - kenangan, mereka merasa sedih harus di tinggal sosok Shahilla yang begitu Ma Sya ALLAH bagi mereka tak ketinggalan Dewi sang asisten yang memeluk tubuh Shahilla sembari menangis tersedu - sedu karena harus kehilangan sosok kakak bagi nya.
Usai sedih - sedihan Shahilla menghampiri Restu, Ummi dan Resty yang sudah menunggu diri nya.
__ADS_1
"Mbak . . . . ". Teriak nya manja menyambar tubuh Shahilla sehingga barang - karang (kado yang dikasi para staf) bawaan Shahilla berjatuhan. Dengan sigap Restu memungut nya.
Ummi/ "Resty . . . Liat itu barang - barang mbak Shahilla jadi berjatuhan gara - gara kamu".
"Maaf mbak". Resty melepaskan pelukan nya dan melihat ke lantai.
"Enggak apa - apa Ummi ". Shahilla pun ingin memungut barang - barang nya namun sudah keduluan Restu yang menyodorkan pada nya. Shahilla menundukan pandangan nya sembari tangan nya meraih barang - barang tersebut.
Shahilla/ "Aina mana Mi? ". Celingukan mencari.
Ummi/ "Ummi juga enggak tau, tadi dia keluar tapi belum kembali juga sampai sekarang".
"Hmm . . Shahilla coba hubungi dia ya Mi, mungkin dia lagi sama panita lain nya ". Shahilla mencoba menghubungi Aina tapi nomor nya di luar jangkauan.
Shahilla/ "Hp nya Mati . . . ".
Salah satu panita pun berlalu melewati mereka.
"Sarah . . . Kamu lihat Buk Aina tidak ?". Shahilla menghentikan langkah wanita itu alias Sarah.
Sarah/ "Tadi liat buk di parkiran trus pergi enggak tau kemana ".
Shahilla/ "Ouh . . Makasi ya Sarah ".
Sarah/ "Iya buk sama - sama, saya permisi buk ".
Shahilla/ "Iya . . ".
Resty/ "Mungkin mbak Aina pulang tuh ".
Ummi/ "Restu . . Tadi Aina ada pamit enggak sama kamu?".
"Enggak ada Mi". Restu menggelengkan kepala nya.
Shahilla merasa khawatir kepada Aina yang tiba - tiba menghilang entah kemana.
"Laa Ilaa Anta Subhanaka Innikuntu Minadzholimiin".
Karena Aina sudah pulang membawa mobil meninggalkan Shahilla akhir nya Shahilla pulang bersama Restu, Ummi dan Resty mengingat waktu sudah larut dan enggak mungkin membiarka Shahilla untuk naik taxi sendirian.
Resty/ "Mbak . . . Kenapa enggak bilang - bilang sih dari kemarin - kemarin kalau mbak mau balik ke Medan ?".
Shahilla/ "Maaf ya, mbak enggak cerita soal ini karena mbak ngerasa, ngapain mbak harus cerita - cerita karena enggak penting juga buat kalian he he he ".
"Siapa bilang mbak enggak penting?, mbak itu penting tauk, mbak itu udah Resty anggap seperti mbak Resty sendiri ". Resty memeluk Shahilla.
Shahilla tersenyum bahagia mendengarnya sembari tangan nya membelai hijab Resty.
__ADS_1
Ummi yang duduk di depan bersama Restu juga tersenyum.
Sedang kan Restu yang sedang menyetir melirik mereka melalui kaca.