
Di kantor, Aina buru - buru berjalan menuju ruangan kerja Shahilla. Tiba di dalam dia dapati Shahilla dan Dewi yang sedang sibuk membereskan sisa - sisa barang milik Shahilla.
"Kalian lagi ngapain?, kok semua barang - barang nya di masuki ke dalam kotak ?, mau ada renovasi ruangan ya?". Aina mengerutkan dahi nya.
Shahilla dan Dewi saling memandang satu sama lain bingung harus bilang apa ke Aina. Tapi belum sempat Shahilla berucap . . .
"Ahh . . Tapi itu enggak penting, ada yang lebih penting lagi dan harus aku tanya ke kamu langsung, Apa benar kamu mau resign ?". Dengan semangat Aina bertanya.
Shahilla dan Dewi terkejut, dari mana Aina tau padahal kan enggak ada siapa pun yang tau selain Pak Wiguna, Pak Ketua dan Dewi, bahkan sekretaris Pak Wiguna pun enggak mengetahui hal ini.
"La . . . Enggak mungkin kan La ?, soal nya tadi pas aku mau ke ruangan Pak wiguna, aku enggak sengaja dengar Pak Wiguna nelpon sama seseorang terus Pak Wiguna bilang kalau kamu mau resign, La betul enggak sih ? ". Makin penasaran dan gregetan.
Hmm mau cemana lagi, mau enggak mau Aina harus di beritahu soal ini.
Shahilla menganggukan kepala nya.
Aina/ "Itu kamu ngangguk - ngangguk apa?".
Shahilla/ "Iya aku mau resign".
Hati Aina rasa mau lompat kesenangan ternyata yang dia dengar benar nyata kalau Shahilla bakal resign dari kantor.
Aina/ "Jadi benaran La ?, kenapa kamu enggak bilang - bilang ke aku ?". Pura - pura simpati.
Shahilla/ "Iya Na, beneran aku mau resign, rencana nya aku mau bilang ke kamu Na, tapi kan kamu lagi sibuk - sibuk nya ngurusi edisi, belum lagi kamu harus ngurusi nikahan kamu, maka nya waktu nya belum pas untuk bilang ke kamu, maaf ya kalau kamu tau nya kek gini".
Aina/ "Huh . . Sahabat macam apa kamu, terus alasan kamu resign apa?".
Shahilla/ "Aku capek Na berjauhan terus sama Mama Papa, selama ini aku enggak punya waktu untuk mereka, belum lagi kalau entar aku nikah, sudah pasti kan waktu aku untuk suami aku entar, jadi sebelum itu aku mau ngehabisi mada gadis aku sama mereka he he he".
Aina/ "Iya sih, aku juga mikir nya gitu La, apa lagi entar kalau aku sudah nikah sama Restu, pasti aku tinggal nya di sini enggak di Medan lagi dan bakal ninggalin bunda dan ayah di sana. Ya sudah apa pun keputusan kamu, aku selalu dukung kamu kok he he he".
__ADS_1
"Makasi ya Na ". Shahilla memeluk Aina dengan hangat sedang kan Aina memasang tampang kegirangan di balik penglihatan Shahilla.
Sedang kan Dewi hanya mendengarkan dan melihat mereka berdua tak ketinggalan Dewi mendapati tampang Aina yang terlihat jelas dari mata nya yang paling bahagia usai mengetahui Shahilla resign dan Dewi merasa aneh melihat tampang itu.
Tak lama Aina pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Shahilla dan Dewi di dalam nya.
Dewi/ "Mbak . . . Mbak yakin bakal nge promosiin buk Aina jadi pengganti nya Mbak ?".
Shahilla/ "In Sya ALLAH yakin, Kenapa kamu nanyak nya gitu Dew ?".
Dewi/ "Ya . . Aku ngerasa ya mbak, kalau Buk Aina itu enggak cocok deh jadi pengganti nya mbak, liat deh sampek sekarang edisi bulan Ramadhan masih siap 30%, itu pun karena di bantu sama mbak padahal waktu nya tinggal seminggu lagi lho mbak ".
Shahilla/ "Ya mungkin karena Aina nya juga sibuk ngurusi pernikahan nya, maka nya waktu dan pikiran nya terbagi - bagi, enggak bisa sepenuh nya fokus".
Dewi/ "Mau cemana pun mbak, Buk Aina tuh harus profesional donk Mbak, kayak mbak aja walau pun mbak lagi enggak masuk kerja kayak kemarin tapi masih bisa ngehandle kerjaan di kantor, padahal itu bukan tugas nya mbak. Harus nya sudah tau deadline kayak gini Buk Aina jangan banyak molor nya mbak, belum lagi Buk Aina banyak banget merintah tim nya ini itu, sampek - sampek yang lain cerita ke Dewi soal keluhan mereka yang jadi tim nya Buk Aina ".
Shahilla/ "Hmm . . . Ya sudah De, kamu enggak usah mikirin itu dan kita enggak usah ghibah lagi, yang penting enggak ada sangkut pawut nya sama kamu ".
Shahilla/ "Ouh iya ya ha ha ha, saya lupa, tapi tenang aja kamu, aku kan baru ngerekomendasi nya aja, keputusan kan ada di tangan Pak ketua dan Pak wiguna. Lagian kalau Aina yang gantiin aku juga enggak apa - apa kok, Aina baik kok orang nya".
Dewi/ "Hufft . . . Mudah - mudahan aku di jauhi dari yang buruk - buruk ya mbak ".
Shahilla/ "He he he Aamiin, mbak doain yang terbaik buat kamu ".
Dewi/ "Aamiin, makasi ya mbak ".
Shahilla/ "Iya sama - sama".
#triiing . . . Suara notiv terdengar dari hp Shahilla.
Shahilla mengambil ponsel nya yang ada di atas meja dan melihat chat dari nomor yang tak di kenal nya.
__ADS_1
Chat #
"Assalamualaikum Mbak Shahilla, ini Resty Mbak 😚 ".
Shahilla/ "Waalaikumussalam, iya Resty, kamu minta nomor hp mbak ke mbak Aina ya?".
Resty/ "Bukan Resty yang minta mbak tapi kak Restu yang minta sama mbak Aina".
Shahilla terhenti membaca chat nya.
Resty/ "Ya emang sih, Resty yang nyuruh kak Restu minta'in he he he, oh ya mbak lagi ngapain?".
Shahilla/ "Ouh gitu, Mbak lagi kerja, Resty sendiri lagi ngapain?".
Resty/ "enggak lagi ngapa - ngapain mbak, bosan di apartement, kak Restu shooting, Ummi tidur".
Shahilla/ "Ouh, kenapa kamu enggak jalan - jalan aja sama Ummi?".
Resty/ "Ummi enggak mau mbak, Ummi takut kalau pigi nya cuma berdua saja ".
Shahilla/ "hmm . . . Gimana kalau ntar sore abis mbak pulang kerja, kita jalan - jalan trus buka puasa bersama, ajak Ummi juga".
Resty/ "Mau mau mau mbak, mau banget 😆 ".
Shahilla/ "Ya udah, nanti In Sya ALLAH jam 4 mbak jemput ya, jangan lupa bilang kan ke Ummi ".
Resty/ "Iya mbak siap, di tunggu jam 4 sore mbak, Assalamualaikum 😘".
Shahilla/ "Iya waalaikumussalam".
Selesai . . .
__ADS_1