
...Kita harus percaya, bahwa apa-apa yang terjadi telah di takdirkan...
...Dan apa- apa yang di takdiran pasti punya kebaikan....
...Jika bukan untuk hari ini semoga kelak di masa depan....
...-Ummu Maryam-...
Setiap manusia, hidup dengan takdir masing-masing yang akan terus berputar dan berubah-ubah di setiap waktu. Namun sepertinya, itu tak terjadi pada takdir Nabila yang seperti berhenti pada satu tempat. Tak mau maju ataupun berubah, selalu terhubung ke masa lalu yang penuh rasa pilu.
Seperti saat ini yang kembali mendatangkan orang-orang di masa lalu ke masa depan seorang Nabila, seakan takdir senang sekali bermain-main denganya.
Apa memang takdir sebercanda itu?
Kenapa dari banyaknya manusia yang hidup di kota jawa timur, setelah empat tahun berlalu mengapa ia kembali dipertemukan dengan sosok Umi Khadijah yang seharusnya cukup muncul di masa lampau nya saja?
Lantas sekarang kalau sudah seperti ini Nabila bisa apa? jika takdir menginginkan itu.
Tanda tanya dan akan terus tanda tanya, Nabila sampai tak tahu lagi harus meminta jawaban pada siapa? yang bisa dia lakukan sekarang ialah hanya menerima saja, memasrahkan semua pada sang maha pencipta dan mengikuti alur cerita takdir yang sudah ALLAH tuliskan untuknya.
Nabila bertasbih lirih (Subhanallah) saat mobil yang di kendarai mereka bertiga memasuki pekarangan Pondok Pesantren, pandanganya langsung tertuju pada Masjid yang dulu sering ia gunakan bersama para santriwati untuk sholat berjama’ah. Juga menjadi saksi bisu awal dari kisah cintanya bersama Ustadz Adam terdahulu. Ternyata ngak banyak berubah walaupun bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali ia menginjakan kaki di tanah pesantren ini.
Nabila menghela napas, menatap hujan deras yang mengguyur bumi padahal tadi saat keluar rumah cuaca sangat cerah, sepertinya rerintikan air sedang menyambut kedatanganya yang memang sedang menangis di dalam sana.
Bahkan seperti ingin menyempurnakan dukanya, lagu CINTA DALAM HIDUPKU dari Rossa mengalun merdu di radio. Menambahkan air cuka pada luka yang masih menganga.
Meskipun langit t’lah memisahkan cinta kita, aku akan slalu untukmu…
Cinta akan selalu bersemi di hidupku…
__ADS_1
Malam-malamku tanpa dirimu terbuai sepi di hias rindu…
Resah di dada ingin berjumpa, ku tak berdaya terbang kesana…
Deras hujan di iringi lagu nostalgia membuat Nabila seketika terlempar ke masa lalu, suatu masa dalam hidupnya yang masih ia sesali hingga saat ini.
Jika saja Nabila bisa memutar waktu sebentar saja, mungkin ia akan mengubah satu akar utama yang menjadi penyebab duka laranya selama ini yaitu jatuh Cinta. Bukan ingin mengubah rasanya, melainkan merubah caranya dalam mencinta.
Seharusnya dulu Nabila mencintai Ustadz Adam pada porsinya, tak melibih-lebihkan dan terlalu berharap pada manusia.
Sebab setelah sepenggal kisah pilu itu berlalu, Nabila baru tersadar kalau menaruh pengharapan selain pada ALLAH Azza Wajalla maka semua akan sia-sia dan berujung kecewa.
Nabila akui dia salah kaprah dan kurang pengetahuan tentang itu, maklum saja ia dulu hanya seorang remaja yang baru mengenal dan merasakan apa itu cinta untuk yang pertama kali, jadi layaknya seorang remaja pada umumnya dia terlalu menggebu-gebu saat merasakanya. Hingga mungkin ALLAH murka dan mendatangkan musibah itu sebagai teguran untuknya.
Wanita berlesung pipi itu sesekali melirik ke arah Zahra yang ternyata dia juga sedang diam-diam mencuri pandang ke arah Nabila berada, seperti tahu jika keadaan sekarang sedang tak baik untuk hati dan jantung sahabatnya.
Tatapan mereka bertemu sebentar, sebelum mobil benar-benar berhenti. Lalu Zahra menginjak Rem saat sudah menemukan tempat parkir yang pas untuk di tempati.
Zahra menoleh kebelakang saat sudah melepas sabuk pengamanya, lalu meraih tangan Nabila untuk ia genggam, yang langsung di sambut oleh sang empunya.
" Hati gimana? aman? " Celetuknya mencairkan suasana, menerbitkan seulas senyum di wajah ayu Nabila yang sendu.
Zahra tahu, sahabatnya itu sekarang ini sedang tegang, di lihat dari wajah dan gestur tubuhnya yang pucat pasi dan tak tenang sedari tadi.
Nabila melirik kesamping dimana umi Khadijah sedang tertidur tenang dengan menyandarkan kepala di pundaknya, lalu menaruh satu jari telunjuk ke arah bibir. "Syuuuut..... pelan-pelan, nanti Umi bangun. " ucapnya lirih nyaris berbisik.
Zahra langsung membungkam mulutnya cepat, kemudian mengangguk mengerti. " terus ini gimana? kamu yang turun dulu atau aku? " tanya Zahra lagi.
Ke dua dokter muda itu masih diam di dalam mobil sembari berfikir, hingga sebuah ketokan pada kaca mobil membuat jantung salah satu dari mereka berdegub dengan kencang.
__ADS_1
Tok.... tok... tok.....
" Astagfirullah haladzim. " kaget Nabila terjingkat.
Melihat Nabila terjingkat, zahra jadi ikutan." Apaan sih Bil, gitu aja kaget jadi ikutan kaget juga nih gara-gara ngelihat kamu!!" Sahut Zahra, menatap Nabila dengan memicingkan satu matanya mengejek.
Zahra lalu memincet salah satu tombol untuk membuka kaca tersebut, yang disana sudah berdiri seorang santriwati dengan memegangi satu buah payung besar berwarna hitam.
Santriwati itu mengucapkan salam setelah kaca mobil terbuka, yang di balas dengan senyuman ramah oleh ke duanya.
" Asalamualikum. " ucap santriwati tersebut.
" Waalikum salam. " jawab Zahra dan juga Nabila bersamaan.
Dia tampak melongo sebentar seperti terpesona dengan kecantikan mereka berdua, lalu menggercapkan mata dengan cepat saat Nabila bertanya. " Mau jemput Umi Khadijah ya dek? " tanya Zahra pada santriwati itu.
Gadis itu mengangguk salah tingkah kerena sudah ketahuan basah menganga saat melihat mereka." i..i.. iya mbak." jawabnya gugup.
Nabila tersenyum anggun pada santriwati itu lalu berbicara dengan Zahra. " Ra, kamu turun duluan gih, bilang sama Kyai Abdullah Umi sedang tertidur kasihan kalau di bangunin, atau suruh beliau nyuruh orang aja mengangkat Umi Khadijah. " suruh Nabila.
" Oke. " jawab Zahra sembari membuka pintu mobil, berteduh di bawah payung bersama santriwati tersebut lalu menemui Kyai Abdulah agar membawakan seseorang yang halal untuk mengangkat Umi Khadijah yang sedang tertidur.
Terlihat dari dalam Mobil dimana Nabila duduk sekarang, Kyai Abdulah sedang masuk ke dalam rumah sebentar lalu keluar lagi dengan di ikuti satu sosok yang perawakanya begitu tak asing di pandangan Nabila.
Dia menajamkan penglihatanya yang terhalang oleh derasnya air hujan, sehingga tak bisa dengan jelas memperhatikan wajah dari sosok tersebut, yang dia tahu orang itu jelas laki- laki jika di lihat dari penampilanya.
Tak perduli dengan siapa orang tersebut, Nabila mengalihkan pandanganya kesamping memilih melihat ke arah serambi masjid di mana cinta antara Nabila dan Ustadz Adam dulu berawal dari sana.
Nabila menghembuskan napasnya lelah, lalu menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata, hingga suara bass seseorang membuatnya membuka mata. " Permisi. "
__ADS_1
Nabila menoleh, dan.............
Deg !