
Setelah memastikan motornya terparkir dengan rapi di garasi, Bhintara beralih berlari ke arah gerbang untuk menutupnya kembali dan mengunci pintu rumahnya setelah masuk.
Dengan langkah tergesa-gesa ia melesat cepat menuju ke kamarnya, ingin segera mandi dan mengganti pakaianya yang sudah basah kuyup akibat di terpa hujan malam ini.
Tubuhnya semakin menggigil kedinginan, hujan di luar sana bukanya mereda kini justru malah semakin deras saja yang di sertai dengan angin ribut khas musim hujan pada umumnya.
Sembari mengerlingkan matanya ia mencari-cari keberadaan Nabila di sepanjang jalan menuju ke kamar, tapi tak kunjung menemukanya. Mungkin saja wanita itu sudah selesai membersihkan diri dan sedang ada di depan meja rias mengoleskan beberapa cream malam seperti biasanya. Begitu pikir Bhintara.
Klek!
Dan benar saja, Nabila memang ada di dalam. Tapi ternyata tak seperti apa yang ada di fikiranya tadi, karena istrinya saat ini rupanya baru saja selesai mandi tepat saat Bhintara masuk ke dalam kamar mereka.
Bhintara mematung di tempat, sedikit terkejut saat melihat pemandangan indah yang ada di hadapanya.
Seluruh Aurat yang selama ini Nabila sembunyikan darinya, kini terpampang nyata tanpa halangan.
Wanita itu kini sedang berdiri hanya mengenakan handuk setengah badan, sibuk mengosok2 rambut hitam panjangnya dengan sebuah kain kecil. Belum menyadari kalau ada sepasang mata gelap yang sedang fokus memperhatikanya.
Cantik dan juga sexy. Hanya dua kata itu yang bisa menggambarkan bagaimana sempurnanya wanita di hadapanya sekarang ini.
Rambutnya yang basah membuat Aura wanita itu semakin menjadi-jadi.
Bhintara tak menyangka ternyata di balik jilbab yang di sembunyikan istrinya selama ini, menyimpan sebuah mahkota yang indah di pandangan mata.
Apakah itu yang dinamakan mutiara berkilau yang tersimpan rapat dalam karang?
Dan apakah Bhintara pantas menjadi seseorang yang akan membuka karang tersebut untuk yang pertama kalinya?
Rasa-rasanya dia tak sehebat itu untuk mendapatkanya.
Tapi.....
Melihat keadaan Nabila yang begitu... entah kenapa membuat jiwa kelaki-lakianya yang selama ini terpendam kini mulai berkobar.
Kulitnya yang putih, kaki jenjangnya yang mulus, serta proporsi tubuh yang pas begitu sangat menggoda Bhintara malam ini. Apalagi dengan keadaan basah seperti itu yang terlihat semakin berkilauan saat tersorot lampu kamar.
Bhintara sampai menelan ludah beberapa kali untuk menetralkan degub jantungnya yang menggila. Dia masih laki-laki normal, yang tak mungkin bereaksi biasa saja jika sudah di suguhkan keindahan seperti itu di depan matanya.
Dan ia akui, malam ini Bhintara tak sanggup jika harus menunggunya lebih lama lagi. Sungguh! Dia menginginkan istrinya malam ini seutuhnya menjadi miliknya, tak mau menundanya.
" Dek...... " panggil Bhintara dengan suara yang sudah serak.
Nabila menoleh cepat ke sumber suara.
Yang ternyata suaminya sudah ada di depan sana.
" Astagfirullah haladzim! " pekik Nabila kaget, sampai terjingkat.
Nabila berteriak dengan berusaha menutupi tubuh bagian depan dengan kain kecil yang ia pakai tadi untuk mengeringkan rambutnya.
Bahkan matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis karena seumur-umur baru kali ini ada seorang laki-laki yang melihatnya dengan keadaan tanpa pakaian utuh seperti itu.
Memalukan!
Nabila menunduk malu, sembari merutuki kecerobohanya sendiri, yang bisa-bisanya dia sampai lupa mengunci kamar sebelum mandi seperti biasanya.
Dan sekarang lihat? akibat sikap gusrah-gusruhnya yang tak sabar ingin membersihkan diri, jadi berakibat fatal kan? pada usahanya untuk melindungi seluruh aurat yang selalu ia jaga selama ini.
Memang seharusnya ia tak perlu bersikap berlebihan. Sebab cepat atau lambat, seluruh badan yang ia tutupi rapat-rapat pasti akan di ketahui juga oleh sang suami, karena beliau sudah mempunyai Hak atas semua itu.
Tapi... apakah harus malam ini? sungguh Nabila sama sekali belum menyiapkan diri untuk itu, bahkan sekarang saja rasa canggung masih seluruhnya mendominasi.
" M-mma-***... apa yang njenengan lakukan d-disini?!" tanya Nabila terbata sangking gugupnya.
Bhintara hanya diam tak mau menjawab ataupun bersuara, namun masih tetap terus memperhatikan wanita berambut panjang sepinggang itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Membuat Nabila semakin gugup, dan tanpa sadar ia sudah mencengkram lilitan handuk yang ada di dadanya dengan kuat. Seolah takut jika handuk tersebut akan menghilang dari tubuhnya.
Hening kemudian....
__ADS_1
Keduanya membisu, sibuk dengan fikiran masing-masing.
Dan karena tak segera mendapatkan jawaban atas pertanyaanya, Nabila memberanikan diri untuk kembali bersuara “B-b-bisakah M-mas kel-luar dulu?” mohonya sambil menunduk malu, semakin menenggelamkan wajah merahnya menatap lantai.
Lagi-lagi Bhintara tak menyahut sama sekali ucapan sang istri, sebab pendengaranya mendadak tuli dan malah beralih menutup pintu kamar dengan hati-hati.
Melangkahkan kakinya pelan tapi pasti ke arah Nabila, dengan terus menatap wajah istrinya penuh damba.
Mungkin Bhintara sudah gila, karena tak lagi mau mendengarkan apa yang di perintahkan otaknya dan justru malah mengikuti kata hatinya.
Dia ingin sekali berhenti dan berbalik meninggalkan istrinya sendiri saja di sana, tapi ternyata hatinya tak mau mendengarkan itu dan malah menyuruhnya agar terus maju merengkuh kebahagian yang sesungguhnya malam ini bersama sang istri. Ingin merasakan manisnya madu pernikahan dan tak mau menundanya lagi.
"Dek..? " panggilnya lirih.
Mendengar langkah kaki Bhintara yang semakin mendekat dan bukanya menjauh, wanita berkulit putih itu reflek memundurkan kakinya kebelakang untuk menghindar dari jangkauan sang suami. “M- mas……..pliss berhenti di sana jangan maju lagi. ” sargah Nabila di tengah kecemasan hatinya.
Tapi sepertinya suaminya itu tak mau meng-indahkan kata-kata Nabila malam ini.
Nabila semakin mundur, dia di landa kepanikan luar biasa. Sampai melupakan jika kain kecil yang digunakan untuk menutupi tubuhnya tadi kini sudah terjatuh ke lantai tanpa ia sadari.
Tangan Nabila terulur kedepan, mencoba menahan dada Bhintara yang kini semakin mendekat mengikis jarak di antara mereka.
" Masss........ awasss ih !! jangan kayak gini." Cegahnya. Tapi na’as karena sepertinya keadaan sedang tak ingin berpihak kepada Nabila kali ini, Sebab tubuhnya sekarang sudah mentok terhimpit pintu kamar mandi yang berada di belakangnya.
Bukanya minggir dan memberi ruang, Bhintara justru malah semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Nabila. Membuat gadis yang masih perawan itu kalang kabut dan merinding hebat.
“ Selama ini Mas hanya ingin melihat ini saja." Ucapnya sambil menyelipkan rambut basah Nabila kebelakang telinga dengan gerakan pelan, seolah menikmati moment yang tercipta di antara keduanya, " Tapi... kenapa malah kamu memperlihatkan semuanya hem! Dek Nabila mau godain Mas? “ Bisik Bhintara mesra di telinga sang istri, sambil menghirup dalam-dalam aroma bunga mawar yang menguar dari tubuh Nabila.
Nabila memejamkan matanya rapat sudah tak sanggup menahan keintiman itu, gelenyar aneh tiba-tiba saja muncul menguasai dirinya saat tangan dari perayu itu masih saja asyik bermain di rambut dan telinganya seperti menggelitik.
“ Mak-maksud Mas a-apa? ak-aku..aku gak begitu ya. ”
Nabila langsung mendongak ke atas yang ternyata hidungnya malah langsung berada tepat di depan dagu pria itu.
Bhintara menelan ludahnya dengan susah payah, sudah tersulut gairah walau hanya dengan memperhatikan bibir sang istri yang sedang menggigit bibir bawahnya tipis. Sorot matanya tidak menggambarkan kekesalan seperti ucapanya, melainkan lebih kepada rasa penasaran.
“ Fikiranku jadi tak bisa berfikir jernih lagi saat melihat dek Nabila yang seperti ini.” Ucapnya sambil menyelipkan anak rambut yang sedikit mencuat dari tempatnya ke belakang telinga Nabila sekali lagi, sengaja berlama-lama seperti tahu jika kelemahan gadis itu terletak disana.
Nabila menggeleng untuk menyadarkan diri dari keterlenaan, sedikit menjauhkan wajahnya dari Bhintara dan mendorongnya kuat. “Maaf mas, saya...saya tadi lupa membawa pakain ganti ke kamar mandi dan lupa mengunci pintu. Jadi tolong mas menjauh dulu biar aku pakai baju sebentar.”
Nabila ingin sekali cepat-cepat berlari dari kungkungan Bhintara, namun baru berjalan tiga langkah suaminya itu kembali menahanya.
“ Gak usah.” sargah Bhintara cepat dengan suara lembut.
Langkah Nabila terhenti.
Dia memejamkan matanya rapat-rapat, jangan tanyakan bagaimana debar jantungnya saat ini. Karena ia sudah tak bisa lagi untuk mendiskripsikan bagaimana lagi bunyinya.
“ Mas di luar hujan. Plisss...Aku sudah kedinginan, pasti kamu juga kan?”
Bhintara terdiam, ingin sekali mengutarakan keinginan hati yang sudah menggebu. Tapi ia juga tak ingin memaksakan kehendaknya untuk memaksa Nabila yang memang sedari tadi sudah menolaknya secara terang-terangan. Terus dia harus bagaimana?
Tapi, kalau tidak sekarang memangnya mau menunggu sampai kapan lagi? sebab dia harus secepat mungkin mengikat istrinya itu agar tak bisa pergi darinya. Sebelum rahasia yang selama ini di sembunyikanya menguar ke permukaan dan membuat wanita yang di cintainya akan pergi meninggalkanya.
Tidak! Bhintara gak bisa lagi kehilangan cinta pertamanya untuk yang kedua kalinya. Cukup satu kali saja ia merelakan Nabila untuk adiknya, karena selanjutnya... dia gak akan membiarkan wanita itu pergi lagi dari hidupnya.
"Dek....? tolong kali ini aku mohon jangan tolak mas lagi"
Mata Nabila langsung terbelalak kaget, apa yang di khawatirkanya sedari tadi kini terjawab sudah.Suamimu menginginkanmu malam ini Bil ! jadi bersikaplah layaknya seperti seorang istri .
Dia yang tadinya hanya menatap kosong kedapan, kini beralih memandangi pria itu dengan teliti.
“ Mas, bukanya kamu bilang sendiri akan sabar menunggu sampai aku siap. Tapi kenapa sekarang kamu…… “
“Maafkan Mas dek, tapi sepertinya malam ini aku sudah tak bisa jika harus di suruh menunggu lagi.” jawabnya talak.
Dan setelah ucapan itu terlontar, dengan tak sabaran bibirnya segera melingkupi bibir Nabila langsung **********. Lenganya sudah membelit pinggul gadis itu agar semakin mendekat.
Memiringkan wajahnya demi bisa memperoleh seluruh permukaan bibir Nabila dengan sempurna. Dan saat Nabila terengah ingin mengambil udara, Bhintara justru menggunakan kesempatan itu untuk menjelajahi mulut Nabila lebih dalam lagi.
__ADS_1
Nabila terperangah, seumur hidup ia takpernah sekalipun memperoleh ciuman seperti yang tengah ia rasakan saat ini.
Rasa gelenyar aneh yang sempat melintas tadi kini semakin bergelora panas dalam tubuhnya.
Astagfirulah….rasa apa ini ya Allah…
Bulu mata Nabila bergerak turun saat laki-laki itu berhenti dan beralih menyatukan kening mereka berdua dengan hidung yang saling bersentuhan, bahkan hembusan napasnya yang terputus-putus masih bisa ia rasakan menyapu permukaan kulit wajahnya dengan sangat jelas.
“ Mas…plis…berhenti, aku hanya ingin melakukanya jika kamu sudah cin…….”
“ Mas mencintaimu dek, sangat mencintaimu.”
Pria itu langsung menangkup wajah Nabila dengan kedua tanganya. Memiringkan wajahnya lebih jauh untuk mengulangi mencium bibir sang istri kembali.
Sedangkan Nabila hanya bisa memejamkan matanya pasrah manakala Bhintara memporak-porandakan perasaanya saat ini.
Bhintara memanggut lembut bibir merah muda sang istri dengan napas gemetaran menahan gairah, sambil merasakan perasaan yang membuncah karena bahagia. Akhirnya wanita yang sedari dulu di cintainya kini akan menjadi miliknya sutuhnya.
Sedangkan Nabila yang sudah terbawa suasana kini hanya bisa mengikuti saja alurnya dengan Bhintara yang terus membimbingnya. Menaruh kedua lenganya ke leher Bhintara menikmati cumbuan sang suami dan keduanyapun terlena……
Nabila tahu jika suaminya itu tak pernah berbohong atas ucapanya barusan, dia bisa melihat dan merasakanya selama ini bahwa laki-lak itu memang tulus mencintainya.
Hanya saja yang tak ia mengerti, kenapa beliau seperti kesulitan untuk mengungkapkanya. Apa gerangan yang sebenarnya menahanya? itulah yang selama ini belum ia ketahui dan membuatnya ragu.
Hidup suaminya seperti tertekan dan tak bebas, penuh dengan rahasia yang membuat Nabila penasaran di buatnya.
Di antara derasnya air hujan dan guntur yang datang mengglegar, Nabila bisa merasakan jika tangan sang suami kini sudah berpindah mengurai lilitan handuk yang sedari tadi ia pertahankan agar tidak terjatuh.
Kemudian ia didesak mundur hingga tubuhnya menyentuh pinggiran ranjang yang jika di dorong terus menurus maka pada akhir ia akan terjerambab juga di atasnya dengan tubuh lunglai tak berdaya.
“Cantik “ Bisik Bhintara yang memperhatikan Nabila dari atas sampai bawah.
Kontan Nabila langsung membuka mata, ia sedikit tersadar. Tanganya langsung mencari-cari handuk yang ternyata sudah tak lagi menempel pada tubuhnya. Huft! habislah sudah dia malam ini.
Dia pikir, masih ada kesempatan untuk meminta Bhintara berhenti dan membicarakan satu hal penting untuk memastikanya hatinya kembali. Namun sepertinya sudah tak ada lagi ruang untuk dia berbicara sesuatu yang masih mengganjal dengan hati ke hati.
“ Mas, bisakah kita berhenti dulu? aku benar-benar belum siap dan malu sekali.” Nabila mencoba beringsut menjauh dan menutup muka dengan kedua tanganya agar tercipta jarak di antara mereka, tapi tetap saja gagal karena posisi Bhintara yang sudah berada di atasnya menutup segala akses untuknya bergerak leluasa.
Bhintara menggeleng kuat “ Kali ini Dek Nabila percaya sama mas ya?” kemudian dia beralih melucuti kancing kemejanya sendiri satu persatu sampai terlepaslah semuanya.
“Mas,” mata Nabila membulat kaget melihat dada bidang suaminya ada di hadapanya. Dia menggeleng panik saat tangan laki-laki itu kini sudah beralih melepaskan ikat pinggangnya.
Nabila terisak, dan gerakan Bhintara tiba-tiba saja berhenti. Laki-laki itu menatap mata Nabila lama, ingin memastikan jika wanitanya sudah benar-benar siap dan ikhlas menyerahkan segalanya untuknya.
Tapi sayang sekali, karena bukan senyuman kerelaan yang kini ia jumpai. Melainkan sebuah tetesan air mata yang kini memenuhi wajah sang istri.
Sungguh! Bhintara jadi tak tega untuk melakukanya. Dia terpaksa harus beringsut perlahan dari atas tubuh Nabila dan ingin secepatnya turun dari tempat tidur mengurungkan niatnya yang sudah di ujung tanduk. Hanya demi Dia.
“ Apakah dek Nabila tidak ikhlas jika mas meminta Hak seorang suami malam ini?”
Menyaksikan keputus asaan terpampang jelas di wajah Bhintara yang sampai membuat raut wajahnya berubah kemerahan, Nabila jadi tak tega dan akhirnya mengangguk, meng-iyakanya.
“ Lakukanlah mas, aku serahkan segalanya untukmu malam ini” Ucapnya pasrah sembari memejamkan mata dan menggigit bibirnya keras-keras.
Akhirnya Nabila tak bisa lagi mengelak, membiarkan saja semuanya mengalir bagaikan air. Dia terhanyut di dalamnya, siap mengikuti arus yang telah di buat sang suami dengan kerelaan hatinya.
Dan malam ini terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi.
Malam pertama bagi keduanya yang sudah di tunggu-tunggu sekian lama... Akhirnya dirasakan jua.
.........
Hai...., Nabila menyapa kalian lagi nih !. Bagaimana kabar kalian semua para readers? kangen gak sama cerita aku? lama ya nunggu Upnya hehe.....
Sorry banget karena baru bisa Updete sekarang, jujur di kehidupan nyata banyak sekali kerjaan yang harus aku kelarin dulu sampai tuntas, yang gak bisa untuk di tinggalin.
So.... untuk menebus kekecewaan kalian aku persembahin 2438 kata untuk Bab kali ini, dan besok insya Allah bakalan di Up lagi kalau gak ada halangan. Biar bikin kalian seneng.
Jadi plis....... jangan lupa tinggalkan like, comen ataupun votenya yang banyak yah, biar tambah semanget aku ngehalunya.
__ADS_1
Dan kalau bisa 100 like untuk Bab ini.
...Terimakasih....