
Hari yang cukup berat di lalui Nabila seharian ini. Dia kehabisan daya dan upaya, tak tahu lagi harus kemana dan melakukan apa?. Apakah dia masih sanggup jika menginjakan kaki di Rumah suaminya setelah apa yang telah terjadi semalam? Entahlah, Nabila juga bingung sampai kapan dia bisa menghindari Bhintara setelah seharian ini ia tolak panggilan telpon dan WA dari suaminya itu berulangkali.
Gus Bhintar
Nabila, mau sampai kapan kamu diemin Mas kayak gini?
Angkat telpon nya, Mas mau bicara.
Sayang... dengerin penjelasan Mas dulu.
Mas jemput kamu ya?
Pulang jam berapa?
Mas mohon... kali ini saja. Jawab!
Nabila mendesah frustasi saat mata nya melirik ke arah meja di mana Hp milik nya bergetar tiada henti, dan ingin sekali berteriak marah saat kembali mendengar getar panjang yang mengantikan nya.
"Astaghfirullah.... lama-lama aku bisa gila sendiri jika terus seperti ini." Gumam nya kesal sendiri, karena sedari tadi benda pipih miliknya begitu berisik mengeluarkan bunyi.
Sampai kapanpun Nabila tidak akan pernah mau membalas atau mengangkat telpon itu sampai dia siap, Nabila sedang marah sekarang dan ingin sendiri. Jadi setelah seharian ini ia sibuk berkutat dengan pasien-pasien nya, dia ingin sekali pergi ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan Bhintara dan kembali memikirkan masalah nya lagi dengan keadaan yang lebih tenang.
Tapi dimana?
__ADS_1
Mungkin itu bisa di pikirkan nya lagi nanti sambil di jalan. Jadi sembari memikirkan tempat yang pas untuk ia kunjungi, Nabila membereskan semua barang-barang nya yang berserakan di meja dan menaruh nya lagi ke tempat semula. Lalu setelah selesai, ia segera beranjak meninggalkan Ruangan nya dengan sedikit tergesa. Sebab Nabila tak mau bertemu siapa-siapa lagi di luar sana, apalagi dokter Aisyah dan Zahra.
Nabila sangat menghindari dua sosok tersebut, sebab selain Bhintara dua perempuan itu juga terus saja mengganggu dengan memintanya bertemu sedari tadi. Mungkin mereka di suruh suaminya? Jadi Nabila tak akan tertipu lagi. Dasar! Memuakkan sekali.
Tinggal selangkah lagi Nabila berhasil menjauh dari mereka semua, langkah kaki nya sudah berhenti tepat di depan mobil nya yang terparkir. tapi....
Dia melihat nya di sana. Laki-laki menyebalkan yang di hindari nya seharian ini, sedang berdiri bersandar di samping Mobil milik nya dengan sibuk memperhatikan Hp. Entah sedang berbalas chat dengan siapa? Nabila sungguh tak ingin peduli, karena sekarang yang ia inginkan hanyalah pergi dari sana secepat mungkin sebelum orang itu menyadari nya.
Dengan cepat Nabila ingin memalingkan badan sebelum laki-laki itu menyadari kedatangan nya, namun terhenti tatkala suara yang tadi malam sangat sekali ia rindukan memanggil nama nya.
"Dek Nabila... " Panggil laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Bhintara suaminya.
Nabila terpaku. Langkah nya tanpa di perintah langsung terseret mundur tepat saat mata elang laki-laki itu melihat dan berjalan ke arah nya.
"Berhenti di sana! Jangan maju lagi. Aku sedang ndak ingin ketemu sama Mas Bhintar? " Nabila ingin sekali menangis, menumpahkan segala kekecewaan yang di rasakan nya saat ini. Tapi ia juga tidak mau di pandang lemah oleh Bhintara, jadi sebisa mungkin dia tahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah agar tak menangis di hadapan laki-laki itu.
"Nabila... Mas mohon. "
"Silahkan jenengan pulang saja, karena aku memang benar-benar gak ingin melihat wajah Mas Bhintar sekarang! "
Ada sedikit keterkejutan di wajah Bhintara saat ini, mungkin karena penolakan Nabila yang di tunjukan nya secara terang-terangan.
"Kita masuk Mobil dulu ya? Nanti Mas jelaskan semua sama dek Nabila. " Ucap Bhintara yang langsung menahan tangan Nabila agar tidak menghindar lagi dari nya. Dan tentu saja Nabila menolak dengan terus ingin melepaskan genggaman itu dari tangan nya.
__ADS_1
"Lepasin Mas. Aku gak mau! Lepas!! " Tolak Nabila terus menerus sampai ia di dudukan paksa di dalam Mobil milik Bhintara dan menutup pintu nya. "Mas jahat! Mas tega sama Aku. "
Bhintara hanya melihat Nabila dengan helaan napas panjang. Mengabaikan semua teriakan dan penolakan Nabila, kemudian melajukan Mobil nya meninggalkan area parkir Rumah sakit.
Mungkin sekarang ini Bhintara terlihat kasar di pandangan Nabila, tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah tak tahan di abaikan terus menerus oleh sang Istri seharian ini. Jadi, terpaksa ia harus melakukan pemaksaan ini agar wanita kesayangan nya itu tidak kabur-kaburan lagi.
Bhintara sudah kehilangan akal untuk membujuk istrinya itu agar mau mendengarkan nya. Bahkan saat ia meminta tolong Aisyah dan Zahra pun, mereka tetap tak bisa membantu apa-apa sebab sepertinya Nabila juga ikut mendiamkan ke dua nya.
Bhintara tahu dia salah. Dia akan meminta maaf pada perempuan itu meski harus bersimpuh di hadapan nya. Ini semua terjadi karena kebodohan nya yang tak bisa bersikap tegas menolak permintaan Umi nya pada waktu itu. Dan akhirnya terjadilah malapetaka ini.
"Maafkan Mas." Ucap Bhintara pelan sambil mengusap kepala Nabila sayang.
Nabila hanya diam memalingkan muka. Rencana yang sudah di susun nya dari siang kini berakhir berantakan. Dia gagal menghindari Bhintara hari ini.
Setelah sekian lama mereka hanya saling diam, Bhintara yang memang sudah tak sanggup lagi menahan kebungkaman sang istri. Perlahan ia melirik ke arah kiri di mana Nabila terus saja menghadap jendela, menatap ke jalanan dengan tangan mengepal di atas pangkuan. "Sayang..." Panggil nya lembut " Hei? " Bhintara mencoba membuka pembicaraan. Ingin meraih tangan itu namun kembali mendapat penolakan.
"Mbok ya ngambek nya di sudahi dulu, ndak baik loh memunggungi suami nya terus menerus seperti itu. Dosa. " Bujuk Bhintara lagi.
Perempuan itu hanya diam mendengar nya, masih tetap bersikukuh enggan menatap nya, namun terlihat mengusap mata yang basah dengan punggung tangan nya. Nabila sedang menangis, dan Bhintara sungguh tak menyukai itu.
Bhintara tercekat saat melihat nya, lalu menepikan mobil dan memilih berhenti di pinggir jalan kemudian meraih dagu sang istri lembut agar mau menghadap nya. " Apa ini dek? Mas ndak suka sampean seperti ini. Jangan, Mas mohon. " Geleng Bhintara dengan sorot mata putus asa saat menyaksikan air mata itu kembali menetes dari dagu Nabila.
__ADS_1
"Kenapa mas? Kenapa Mas Bhintar tega bohongin Nabila. " Dia tahu bahwa pada akhirnya ia akan membahas hal mengerikan itu cepat atau lambat. Hanya saja yang di sayangkan kenapa harus secepat ini. Harus nya Bhintara memberinya waktu dulu untuk mencerna dan menenangkan pikiran, agar dia tidak salah mengambil keputusan.