Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Bertahan/tinggalkan


__ADS_3

Bhintara membuka pelan Pintu kamar milik nya yang berada di rumah pesantren dengan pelan. Raut wajah nya yang lelah dan sedih sangat tercetak jelas di sana.


Nabila menoleh, saat mendengar suara pintu di buka. Mengalihkan tatapan nya pada Bhintara, dan seketika membuat mata nya berkaca-kaca. Masih tak menyangka jika dia di bohongi oleh mereka semua dengan sebegitu hebat nya.


Perempuan itu sangat marah sekarang. Jika saja pikiran serta tubuh nya tidak letih dan lemas, mungkin dia akan memilih pergi meninggalkan tempat ini sejak satu jam yang lalu sesaat setelah ia sadar. Dan entah pikiran itu datang nya dari mana? untuk yang pertama kali nya Nabila mulai menyesali tindakannya dulu yang memilih masuk Pondok Pesantren ini. Andai dia tidak pernah menginjakan kaki nya di sini, mungkin hal-hal yang menyakitkan ini tak akan pernah terjadi.


Dia tidak mau di Poligami! Raung nya dalam hati.


Nabila tak kuasa menitikkan air mata nya lagi. "Kenapa Mas? Kenapa Mas Bhintar mengambil keputusan sejauh ini? Apa tidak ada cara lain lagi untuk berbakti kepada orang tuamu selain dengan cara itu? kenapa harus dengan jalan Poligami. " Tanya Nabila lirih.


Bukanya menjawab pertanyaan Nabila yang seperti nya sedang kesakitan dengan hati nya. Bhintara justru tersenyum teduh ke arah sang istri. Menampilkan wajah tenang nya seperti tak terjadi apa-apa sebelum nya. Dia mengabaikan tatapan benci Nabila. Terus berjalan menghampiri istrinya kemudian mencium kening perempuan itu dan mengusap pipi nya dengan lembut.


"Maakan aku. " Kata Bhintara sambil memandang wajah Nabila dengan mata memerah. Lagi-lagi dialah penyebab dari perempuan itu meneteskan air mata.


Nabila menggeleng lemah, ingin berkata sesuatu namun tak mampu. Pikiran nya buntu.


" Aku tahu aku salah, tapi aku juga tak bisa mengabaikan permintaan Umi ku. Beliau sering sakit-sakit tan semenjak di tinggal oleh Adik ku. Selalu merasa bersalah pada Adam dan dirimu. Lalu suatu hari dia datang dan memohon padaku, agar melamar mu sebagai penebusan dosa atas keputusan nya dulu yang telah menghalangi kalian untuk bersatu. Terus, aku bisa apa Nabila? Dari dulu aku adalah seorang anak yang selalu memprioritaskan kepentingan Umi di atas segala-gala nya. Bahkan jika beliau meminta hidup ku, maka pasti akan ku berikan saat itu juga. Aku tak sanggup menolak permintaan seorang wanita yang sejak dulu selalu merawat dan membesarkan ku. Aku tak bisa Nabila, sungguh tidak bisa. " Terang Bhintara dengan suara bergetar.


Nabila tidak pernah mempermasalahkan rasa berbakti suami nya itu untuk sang Umi, tidak sama sekali. Tapi yang sangat mengecewakan, kenapa harus ada Poligami. Hanya itu saja yang membuat Nabila tak habis pikir.


"Demi Allah. Aku tidak pernah mempermasalahkan rasa berbakti mu pada orang tua mu, justru aku malah senang jika kamu mencintai ibumu sebanyak itu. Tapi...,aku merasa Mas Bhintar sedikit berlebihan dengan menyetujui permintaan Umi untuk menikahi ku. Padahal Jenengan sendiri sudah punya Mbak Aulia lebih dulu. Apa Mas tidak pernah berpikir? jika keputusan kalian ini sungguh menyakiti ku? Hidup dan masa depan ku serasa di permainkan oleh kalian. Aku merasakan sakit mas, sakit. " Lontar Nabila dengan memegangi dada nya yang lagi-lagi berdenyut nyeri.


Nabila menyembunyikan wajah nya di antara kedua lutut nya, memeluk nya erat sambil terisak lirih. Rasa sakit nya berkali kali lipat dari saat ia kehilangan Ustadz Adam ataupun sang Ayah.


Bhintara membeku di tempat nya saat melihat istri nya menangis sahabat itu, membuat seluruh indra di tubuh nya juga ikutan kaku. Ya Allah ya Rab, Bhintara benar-benar tidak bohong saat ia mengatakan bahwa dia sangat mencintai istri nya. Dan melihat perempuan berambut panjang itu terus meraung kesakitan, tubuh nya juga ikut merasakan panas nya.


"Nabila, sayang. " Bisik Bhintara yang langsung menghambur memeluk dan mendekap sang istri dengan erat. Meski mendapat penolakan kuat dari Nabila.

__ADS_1


"Ceraikan aku. "


"Tidak akan" kata Bhintara "Kamu boleh membenci dan menghukum ku sebanyak yang kau mau. Tapi tidak dengan permintaan yang satu itu. " Lanjut nya dengan tegas.


" Kalau begitu pilih salah satu, aku atau Mbak Aulia. "


"Nabila aku mohon, kita bisa bicarakan ini lagi dengan baik-baik. Aku yakin kita akan mendapati jalan keluar nya. " Mohon


Bhintara dengan sungguh-sungguh.


Nabila menggeleng lemah, sedangkan Bhintara semakin mendekap tubuh sang istri dengan erat. Bagaimana bisa dia di suruh melepaskan salah satu dari mereka? Itu pilihan tersulit. Dia mencintai Nabila tapi juga tidak bisa jika harus meninggalkan Aulia.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kedua pundak Bhintara dari belakang. Membuat nya seketika menoleh.


"Bunda... " Panggil Bhintara dengan tatapan tak berdaya nya. Dia sedang butuh pertolongan ibunda Nabila saat ini, untuk membujuk istri nya itu agar tak meminta sesuatu hal yang tidak mungkin bisa di turuti oleh Bhintara sampai kapanpun.


"Bunda, tolongin Bhintar." Mohon nya pada perempuan yang telah melahirkan istri nya. ia yakin Nabila akan menuruti segala omongan yang di ucapkan Ibu nya. Apapun itu. " Bujuk kin Nabila Bund.... dia_"


Pernikahan mereka berdua bisa terjadi bukan karena keinginan Bhintara sendiri, melainkan tumbuh dari keegoisan nya yang diam-diam tanpa sepengetahuan putri nya, dia mendatangi Umi Khadijah dan Kyai Abdullah untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk Nabila anak nya.


Waktu itu Bunda puspita sedang di landa ketakutan luar biasa setelah mendengar vonis dokter, yang memberitahu nya bahwa mungkin harapan hidup nya tak akan lama lagi. Sedangkan saat itu dia juga tahu betul, bahwa putri nya belum sekuat itu jika harus mengalami kembali sebuah perpisahan. Beliau tidak tega jika harus meninggalkan anak nya itu hidup sendirian di dunia ini tanpa seseorang yang menjadi tumpuan nya. Mungkin beberapa keluarga ada, tapi mana bisa mereka menjaga putri nya itu dua puluh empat jam selalu di sisi nya.


Maka dari itu demi kebaikan Nabila. Bunda Puspita harus mencarikan teman hidup untuk anak nya. Dan kemudian terjadilah pernikahan itu. Meski hanya akan di jadikan istri ke dua, tapi keluarga Bhintara menjanjikan pernikahan tersebut satu-satu nya yang akan terdaftar di KUA. Dan itu cukup adil menurut nya. Jadi meskipun semua orang tahu nya Nabila adalah istri ke dua, tapi yang sebenarnya dialah satu-satu nya istri yang sah di mata hukum dan Negara.


Bunda Puspita tak apa-apa, Asal putri nya ada seseorang di sisi nya yang bisa di gunakan untuk berbagi beban hidup setelah dia tiada nanti nya.


Perempuan paruh baya itu tahu betul, bahwa keputusan nya nanti pasti akan menyakiti hati sang Putri. Tapi dia juga tahu, bahwa nanti nya Nabila akan berada di tempat dan tangan yang benar jika bersama Bhintara, dan dalam lindungan keluarga besar Kyai Abdullah.

__ADS_1


Pertama kali Bunda Puspita melihat Bhintara. Dia sudah yakin bahwa laki-laki itu baik budi pekerti nya. Terlepas dari dia adalah laki-laki beristri. Tapi kembali lagi pada keyakinan awal nya, bahwa menantu nya itu pasti akan bersikap adil pada ke dua istri nya. Apalagi Bhintara pernah bilang pada nya kalau dia mencintai Nabila dari sebelum Adam datang melamar nya. Dan sekarang, setelah dia bisa melihat betapa kacau nya Bhintara saat ini. Bunda Puspita semakin yakin jika keputusan beresiko nya ini tidaklah salah.


Mungkin di awal-awal Nabila butuh penyesuaian dalam pernikahan poligami ini. Tapi nanti setelah seiring berjalan nya waktu, Nabila pasti akan tahu bahwa putri nya lah sang pemilik hati Bhintara sesungguh nya. Apalagi setelah nanti dia mengetahui kebenaran yang selama ini di pendam sendiri oleh Bhintara. Nabila pasti akan mengerti dan memaklumi. Se_yakin itu memang Bunda Puspita pada menantu nya.


"Nabila, sayang. " Dengan menggigit bibir nya kuat-kuat menahan tangis, Bunda Puspita mendekati sang Putri. Mengelus puncak kepala nabila pelan penuh ke Hati-hatian.


Nabila mendongak. Kemudian beralih menghambur ke pelukan sang Bunda dan terisak di sana. "Nabila gak bisa Bun, Gak bisa. "


"Pasti bisa sayang, Pasti! " Bunda Puspita menghembuskan napas nya panjang. Kemudian berdiri menyambar bergo yang ada di di atas meja sebelah kasur lalu memakaikan nya pada Nabila. "Nabila adalah anak kuat nya Ayah. Bunda yakin kamu pasti bisa menjalani dan melewati ini semua sayang. "


Dan begitulah memang keegoisan orang tua. Mereka selalu mempunyai pemikiran dan jalan sendiri untuk memikirkan kebahagian Anak-anak nya, tanpa mau tahu dan mengerti mau nya mereka itu apa.


Pada akhir nya mereka bertiga turun dan berjalan menuju ke ruang tamu. Langkah kaki Nabila berasa gamang saat semua mata kini mulai tertuju ke arah nya. Di sana sudah duduk Abah, Umi Khadijah dan Mbak Aulia di depan nya. Tak lupa ia memejamkan mata nya sebentar, saat melihat keberadaan dokter Aisyah bersama suami nya juga ikutan ada bersama mereka. Sungguh! Mereke semua benar-benar jahat banget sama Nabila.


Nabila memilih duduk di singel sofa sebelah mertua nya, sedangkan Bhintara memilih duduk di samping Ibrahim yang di mana sebelah kiri nya Ada Mbak Aulia dan dokter Aisyah yang menggenggam terus tangan wanita itu.


"Bismillahirrahmanirrahim. Berhubung semua nya sudah hadir, bisakah kita mulai saja membahas permasalahan ini agar segera mendapatkan jalan keluar dan ketenangan untuk kita semua?. " Tutur Kyai Abdullah mengawali nya.


Kyai Abdullah tersenyum, lalu menarik napas nya panjang. Kemudian melihat ke arah Nabila yang sejak pertama menginjakan kaki nya di sana terus saja menunduk.


"Nduk. Pertama-tama Abah ingin tanya padamu. Bagaimana kesediaan mu atas Poligami ini. "


Nabila semakin menunduk dalam. Mengapa dari beberapa orang yang hadir di sana, kenapa diri nya yang di tanyai pertama.


"Ngapunten Abah, Nabila ndak bisa. Saya takut tidak sanggup untuk menjalani nya dan malah bisa menjadikan mas Bhintar berdosa nanti nya. "


__ADS_1


**Gimana? masih mau lanjut...


Kasih dukungan nya dulu jangan lupa😝**


__ADS_2