
Sayup azdan subuh terdengar dari sebuah Handpond berwarna abu yang berada di atas meja, Sengaja di setel sebagai Alrm pengingat waktu sholat.
Bhintara yang merupakan pemilik dari benda pipih tersebut langsung menggercapkan mata. Meraih dan segera mematikan lalu menaruh nya kembali ke tempat semula.
Dia melirik ke arah samping di mana sang istri masih ter tidur pulas, lengkap dengan penutup kepala berupa khimar kecil yang masih dia pakai meski seharus nya tak perlu lagi.
Laki-laki berumur tiga puluh lebih itu tersenyum, menatap wajah istrinya sambil meringis kecil. Ternyata hubungan mereka masih tak sedekat itu.
Sampai-sampai tidak mau menampilkan sedikit saja aurat di hadapanya meski Bhintar sudah SAH dan halal melihat semua. Bahkan mungkin sampai ke dalam-dalam nya.
Cukup lama Bhintar memperhatikan Nabila dari dekat, memasukan sedikit rambut yang mencuat dari hijab nya hati-hati sekali. takut jika gerakan yang di lakukan akan mengganggu tidur nyaman Nabila.
Entah mengapa melihat pemandangan se indah itu di hadapanya membuat hati Bhintara berbunga-bunga.
Dia mulai tak puas dengan hanya memandangi nya saja, dorongan untuk melakukan lebih ikut menggoda tangan Bhintara agar segera menyentuh setiap lekukan Maha karya Allah yang di ciptakan nyaris sempurna tanpa cela itu dengan segera.
Perlahan Bhintar mulai menyentuh kelopak mata tebal Nabila yang asli lentik tanpa maskara.. mengusap nya lembut, kemudian turun ke hidung mancung nya meraba samar di sana. Setelah puas bermain dengan hidup mungil itu kini ia beralih semakin menurun, berhenti tepat di atas bibir sexy istrinya dan menatap nya lama.
Sekuat tenaga Bhintar menahan diri agar tak lepas kontrol, yang nanti nya akan di benci oleh Nabila jika sampai tahu jika dia sudah lancang menyentuh tanpa persetujuan dari nya.
Merasa ada yang bergerak-gerak di wajah, Nabila langsung membuka mata. kemudian terlonjak kaget saat mendapati perawakan seorang laki-laki begitu dekat denganya.
Karena terkejut, tangan Nabila refleks mendorong dada bidang Suami nya dengan keras. Sampai membuat tubuh Bhintara terjungkal ke samping, dengan kepala yang menghantam pinggiran ranjang. Sungguh serangan mendadak yang di lakukan istrinya cukup membuat kepala Bhintar merasakan pusing dan meringis ke sakitan.
Melihat Bhintara terus mengusap-ngusap kepala, Nabila mulai merasa bersalah. Entah mendapatkan dorongan dari mana ia tiba-tiba saja langsung mendekat ke arah Bhintar dan ikut mengelus rambut suaminya lembut.
"Maaf, saya tidak sengaja tadi. " tutur Nabila sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Bhintara mengernyit, berhenti dari gerakanya yang kini justru malah beralih memperhatikan wajah Nabila. Bisa-bisa nya hanya perkara sepele seperti ini wanita itu langsung ingin menangis. sebegitu cengengkah dia?
Bukanya di awal sudah ia tegaskan, jika dia benci sekali melihat Nabila menangis? sekarang pakai cara apa lagi agar si gadis mellow itu tak menjatuhkan air mata nya lagi.
Seperti nya Bhintar harus menyiapkan seribu satu cara jurus membujuk seorang wanita agar berhenti menangis.
"Hei, hei... kenapa malah jadi kamu yang menangis? bukanya aku yang harus nya minitikan air mata karena seranganmu yang brutal seperti tadi? "
Bhintar mengambil tangan halus Nabila dari kepala lalu menggenggamnya.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya. " pinta Nabila sambil menunduk.
Bhintara hanya diam saja, membuat Nabila jadi merasa tak enak sendiri melakukan itu semua dengan seorang Gus yang seharus nya ia hormati dan patuhi ucapanya. Bukanya malah bertindak kasar dengan berkelakuan seperti wanita BAR-BAR yang sudah di lakukanya tadi.
Apalagi dia juga merupakan anak dari Guru Nabila terdahulu, yang sangat ia segani sosok nya sebagai pemberi ilmu Agama di hidup Nabila. Nyali nya tiba-tiba menciut karena takut akan di marahi oleh sosok laki tersebut.
Lebay. Itulah sikap yang akan di tunjukan Nabila jika ada salah satu orang-orang terdekat nya mengalami musibah, selalu melebih-lebihkan hal kecil menjadi sesuatu yang besar. Padahal itu tidak perlu, hanya saja trauma kehilangan orang-orang di masa lalu membuat nya merasakan kepanikan hebat seperti sekarang ini.
Bhintara menghembuskan napas nya kasar. " Apa menurutmu sebuah benjolan kecil bisa membuat seseorang mengalami gagar otak, dan pendarahan hebat? aku hanya kejedot bukanya ketabrak mobil. "
" Syuuuut "
Nabila di landa panik, langsung membungkam mulut Bhintara yang berbicara ngawur dengan jari telunjuk nya, tidak mau mendengarkan lagi segala ucapan laki-laki tersebut karena tak tahu kenapa kata-kata nya mengingatkanya pada kecelakaan yang menimpa Ustadz Adam delepan tahun silam.
"Aku mohon jangan di teruskan lagi. " ucap Nabila lirih,memandang lekat tepat kewajah suaminya dengan tatapan sayu.
Bhintara langsung bungkam, balas mendongak menatap Nabila dengan lekat. Tak menyangka jika Nabila se_perhatian itu padanya, pusing yang di rasa entah sudah pergi kemana. Berganti dengan buncahan rasa bahagia.
Merasakan tangan halus istrinya menyentuh bibir nya memunculkan desiran hebat dan hawa panas mulai menguar dari dalam tubuh di sertai deguban jantung yang menggila. Perasa'an apa ini?
__ADS_1
Tanpa sadar Bhintara terhanyut oleh suasana, mengambil jari Nabila dari mulut nya lalu melebarkanya. Kemudian mencium punggung tangan sang istri sambil memejamkan mata.
Merasai momen- momen indah yang tercipta antara ke duanya, yang mungkin dua atau tiga menit kedepan tak akan pernah terulang lagi.
Nabila terkesiap, ingin segera menarik tanganya namun malah di tahan dengan kuat oleh Bhintara. Dan beralih membawanya ke pipi sebelah kiri sambil mengusap nya perlahan dengan jari jempol penuh kasih.
"Aku mohon, biarkanlah tetap begini. Sebentar saja. " mohon Bhintar dengan wajah memelas, tak mau lepas dari wajah Nabila sedikit pun.
Berada dekat wanita itu Bhintara merasa di sayangi, di kasihi dengan penuh. dia tahu ini tidak seperti perjanjian yang sudah di sepakati dari awal, tapi.. Bhintara bisa apa? jika hati nya menginginkan Nabila.
Pesona wanita itu begitu kuat, nihil rasanya mengabaikan itu semua. Dia cantik, seorang dokter, penuh kasih, dan lucu saat di goda. satu paket lengkap untuk menjadi wanita impian para laki-laki. Dan yang pasti berada di dekat nya Bhintara merasa nyaman, sama seperti....... khumairah ku. yang lucu dan sama-sama menggemaskan mirip Nabila.
Nabila mengangguk " Oke. Sebentar saja. "
Lagi-lagi Nabila tak bisa menolak ketika sudah melihat laki-laki di hadapanya menampilkan wajah seperti itu, membiarkan Bhintara melakukan ke inginanya meski dia harus mati-matian menahan napas.
Waktu semakin berlalu, setelah hampir tiga menit membiarkan tanganya terus di genggam oleh Bhintara dengan posisi yang membuat punggung Nabila terasa pegal, akhir nya dia terpaksa menarik tanganya karena sudah tak tahan lagi menahan nyeri.
Bagai mana tidak? jika dia harus menopang tubuh nya yang tidak tidur ataupun duduk, alias membungkuk.
Bhintara sih enak bisa memposisikan badan dengan nyaman. Sedangkan Nabila?
Boro-boro nyaman, yang ada genap lima menit dia masih dengan posisi itu, bisa di pastikan ia akan mengalami nyeri encok ke esokan pagi nya.
Seneng gak tuh? di Up bab baru lagi. jarang-jarang loh aku satu hari bisa up dua bab kayak gini...
Ini semua berkat comen positif kalian ya, jadi kalau mau aku cepet-cepet Up lagi jangan lupa tinggalkan like, comen dan masukin cerita ini ke favorit kalian biar aku semakin semangat......atau bisa banget bantuin aku buat ngesare cerita ini ke temen-temen kalian sebanyak mungkin. pasti aku bakal berterimakasih banyak ke kalian. hehe
terimakasih all.....
__ADS_1