
Bhintara terbangun pukul tiga dini hari saat dering panggilan telepon mengganggu tidur nyenyak nya. Dia membuka mata dan langsung menoleh ke samping untuk melihat keberadaan istrinya yang masih terlelap akibat ulahnya sendiri yang menggarap nya sepanjang malam dan baru selesai pukul dua dini hari tadi.
Laki-laki itu tersenyum puas saat pemandangan punggung terbuka istrinya lah yang ia temukan saat pertama kali membuka mata.
Dia menarik rengkuhan tangan nya dari pinggang sang istri dengan sedikit tidak rela, karena sebenarnya ia masih ingin berlama-lama memeluk tubuh wanita itu sampai puas. Tapi sepertinya keadaan sedang tak mau berpihak kepadanya sebab suara Handphone miliknya sedari tadi terus saja berbunyi nyaring tiada henti.
Entah siapa orang yang berani-beraninya mengganggunya sepagi ini? belum tahu apa rasanya mendapatkan siraman qolbu di pagi-pagi buta begini. Mungkin nanti ia akan ceramai si penelpon itu agar tak mengganggunya lagi.
Dikecupnya punggung terbuka sang istri dengan mesra sebelum menjauhkan tubuhnya untuk mengangkat panggilan telpon tersebut.
Bhintara melihat nama Ibrahim tertera di layar Hp miliknya. Dan langsung mengangkatnya.
“ Halo, assalamualaikum Ib? ada apa tumben banget pagi buta kayak gini lo udah telponin gue? Awas aja kalau gak penting!”
“………”
Bhintara mengusap wajahnya gusar.
“ Apa?! kok bisa !!"
Kemudian tangan nya membekap mulutnya sendiri dan menoleh kesamping, saat merasakan pergerakan kecil yang di lakukan istrinya di ranjang.
Terlihat Nabila sedang bergerak menarik selimutnya sampai dada. Mungkin wanita itu merasa terganggu dengan suaranya.
“ Tunggu sebentar Ib. “ selanya pada si Ibrahim sahabatnya dengan suara berbisik. Kemudian sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
Setelah melihat Nabila sudah tenang kembali dalam tidurnya, ia segera menyibakkan selimut dengan hati-hati untuk keluar dari kamar tersebut.
Bhintara sudah menutup pintu. Dan seketika mata Nabila terbuka. Ternyata wanita itu masih terjaga dan mendengarkan semuanya.
Dia membalikan tubuhnya menjadi terlentang. Menatap kerah langit-langit kamar sembari meremas selimut yang menutupi tubuhnya dengan erat, menahan gejolak yang sedikit membuatnya merasakan nyeri di ulu hati.
Sebenarnya sedari tadi ia tidak bisa tidur, sudah berusaha menutup mata namun masih saja hatinya terus terjaga.
Raganya memang seperti tertidur, tapi hatinya berlarian kemana-mana. Sampai Dering Hp milik Bhintara berbunyi dan menambah kegusaran dalam hatinya.
Nabila masih bisa mendengarkan nya dengan jelas, namun ia harus berpura-pura tertidur agar rasa penasaran nya selama ini sedikit menemukan titik temu.
Dia sampai menajamkan telinganya agar bisa mendengarkan siapakah gerangan seseorang yang menelpon suaminya di pagi buta seperti ini.
Dan rasa penasaran nya terbukti. Nabila mendengar nama Aulia di sebut dalam perbincangan tadi.
Lagi-lagi si pemilik nama itu, kenapa selalu dia? dia dan dia. Apakah tidak ada nama wanita lain selain si pemilik nama tersebut? Sehingga selalu saja saling berkaitan dengan masalah suaminya.
Hati Nabila berdenyut nyeri saat nama itu selalu di sebut. Inilah yang di takuti Nabila selama ini. Bahwa semua yang ada dipikiran nya nantinya akan jadi kenyataan.
Dia sangat mempercayai ungkapan cinta dari suaminya, tapi entah kenapa logikanya selalu menolak itu semua. Apalagi ada sosok Aulia yang semakin menambah keraguan tersebut.
Entahlah….kepala Nabila serasa pusing dan sakit jika sudah mendengar nama itu di ucapkan. Tenang Nabila, Rileks... suamimu tak akan tega menduakan mu!
Tiba-tiba saja Nabila ingin menangis. Entah itu menangisi penyesalan yang sudah menyerahkan mahkotanya atau hanya tangisan kekecewaan saja, karena sudah merasa di bohongi dengan terus-terusan mengelak dan tak mau menjelaskan siapakah sebenarnya Aulia itu di hidup Bhintara.
Dan... sebenarnya seberapa pentingkah kehadiran wanita itu untuk Bhintara suaminya. Sampai-sampai mampu menyita seluruh perhatian sang suami bahkan disaat dia sedang bersamanya sekalipun. Ya Allah….aku sudah mencintainya. Bagaimana nanti hidupku jika ternyata dia masih memberati Aulia untuk terus berada di sisinya.
Tanpa sadar air mata Nabila sudah menetes tanpa henti membasahi pipi. Dia dilanda ketakutan kehilangan akan sesuatu yang entah ia tak tak tahu apa itu.
Nabila terisak di tengah tempat tidur sendirian dengan menggunakan selimut sebagai pegangan nya.
Meringkuk sendiri meratapi rasa sakit hatinya. Apakah ini bentuk dari malam pertamanya? Setelah mendapatkan nya kamu pergi dengan mudahnya untuk Dia Mas…..
__ADS_1
Entah sudah berapa lama ia menangis menumpahkan segala kegalauan nya, dan selama itu pula sang suami nyatanya tak kembali masuk kedalam kamarnya lagi.
Memangnya apa saja yang sebenarnya dibicarakan Bhintara, sampai membutuhkan waktu selama ini dan harus pergi menghindar dari jangkauan Nabila.
Nabila cemas bercampur penasaran. Wanita rapuh itu memukul-mukul bantal di sampingnya dengan membabi-buta.
Menumpahkan segala kekesalan nya pada guling tak berdosa itu sebagai sasaran nya. Sampai ia lelah sendiri.
Setelah dirasa nya puas dan perasaanya sedikit lega. Wanita berlesung pipit itu menyingkirkan selimut yang sedari menutupi tubuhnya ke samping. Terdiam sebentar saat melihat bercak kemerahan di seprai warna birunya yang merupakan salah satu bukti bahwa sekarang dia sudah menjadi milik Bhintara seutuhnya.
Dia kembali menangis tersedu-sedu saat mengingat bagaimana cara suaminya tadi malam mengambilnya, begitu penuh kelembutan serta ke hatihatian. Lalu apa arti tangisan ini Bil?
Nabila menggeleng, mengusap air matanya dengan kasar. Dia tidak pernah menyesal, justru sebaliknya. Nabila ikhlas menyerahkan nya pada laki-laki seperti Bhintara, bahkan Nabila merasa bangga bisa menunaikan kewajiban nya itu untuk suaminya.
Hanya saja..satu yang ia sesali, kenapa bercak darah yang ada di spray itu tak di saksikan langsung oleh sang suami karena keburu pergi meninggalkan nya sendiri.
Padahal menurut Nabila itu sangatlah penting untuk di ketahui. Sebab lewat bercak darah tersebut ia ingin membuktikan, bahwa selama ini dia sudah berhasil menjaga diri hanya untuk ia persembahkan untuk sang suami.
Tapi apa? semuanya sia-sia hanya karena wanita bernama Aulia yang selalu dapat menarik hampir seluruh perhatian suaminya.
bahkan laki-laki itu lebih memilih pergi dari pada harus menghabiskan sisa waktu malam pertama bersama dirinya.
“ Aku benci! benci sekali pada wanita itu dan kamu Mas!! ” geramnya tak tertahankan.
Dengan tertatih sembari menahan rasa perih dan nyeri di antara selangkanya ia mengumpulkan tenaga untuk menarik seprai tersebut dan menyeretnya ke kamar mandi dengan susah payah ingin segera mencucinya. Tak mau menyaksikan bukti kegadisan nya lebih lama lagi, karena entah mengapa rasanya sakit sekali saat melihat itu.
Nabila sedang terduduk lunglai di lantai kamar mandi dengan terus menggosok-gosok noda itu dengan sikat meski mesin cuci sudah tersedia di sana. Dia tak mau menggunakan itu.
Rambutnya masih tergerai acak-acakan, matanya terlihat sembab dan memerah. Dia sama sekali tak memperdulikan keadaanya, karena yang terpenting sekarang ialah bagaimana dia harus membersihkan kotoran itu secepat mungkin sampai bersih. Bahkan kalau bisa ia juga akan ikut membersihkan pikiran dan tubuhnya yang di rasanya kotor seperti kain tersebut.
Nabila merasa di tinggalkan setelah apa yang di lewatinya malam tadi bersama Bhintara sang suami. Merasa seperti menjadi wanita malam yang hanya akan dibayar setelah selesai melakukan tugasnya, yang pada akhirnya laki-laki itu tetaplah akan kembali pada sosok Aulia yang entah harus ia sebut apa wanita itu sekarang ini. Begitulah perasaan Nabila sekarang, KECEWA.
Ditengah lamunan nya, ia sampai tak sadar jika tenaganya begitu kuat dan cepat menggosok-gosok kain tersebut hingga sikat yang digunakan nya terlepas dan membuat pergelangan nya tergelincir.
Tok ! tok ! tok !
“Sayang! kamu kenapa? buka pintunya !! “
Terdengar suara gedoran pintu dan teriakan Bhintara dari luar yang memanggil-manggil namanya dengan tak sabaran.
Nabila terkejut, mendapati suara sang suami yang ternyata masih ada di dalam rumah dan tak pergi meninggalkan nya sendiri saat ini.
Sedikit senyuman terpatri di wajah sendunya, ia segera menghapus sisa-sisa air mata dan segera beranjak keluar mengabaikan tangan nya yang sakit.
Perasaanya membuncah bahagia saat netra matanya menemukan Bhintara yang berdiri tak jauh dari pintu dengan raut muka cemas menatap ke arahnya.Memangnya apa lagi yang di harapkan Nabila saat ini selain kepedulian suaminya? bisa melihat raut wajah kecemasan Bhintara saja sudah bisa membuat hatinya lega.
Nabila membuka pintu kamar mandi dengan kasar “ Mas, kamu masih disini? tidak per……”
Bhintara refleks menangkap tubuh Nabila yang menghambur ke pelukan nya dengan sigap “ Awas hati-hati dek lantainya licin, nanti jatuh kamu. “
Kemudian meneliti wajah sang istri dengan seksama. Dan dia bisa melihat jika perempuan itu terlihat berantakan dengan mata sembab seperti habis menangis namun masih terlihat cantik seperti biasanya.
Nabila hanya tersenyum menanggapinya " Aku kira tadi mas pergi. "
Bhintara mengernyitkan dahinya menatap Nabila,kemudian beralih menggigit kecil hidung kemerahan Nabila dengan gemas.
“ Memangnya Adik kira mas pergi kemana hem? Mas masih di sini kok gak kemana-mana. Hanya saja tadi harus menjawab telpon sebentar di keluar karena takut kamu ke ganggu. Eh gak taunya sayangnya Mas ini udah bangun.” jawab Bhintara yang berhasil membuat Nabila melengkungkan bibirnya ke atas sambil tersipu malu.
See, bagaimana dia tak semakin cinta pada laki-laki itu? jika terus di perlakukan bagai ratu setiap waktu.
__ADS_1
“ Kamu lagi ngapain di dalam, kenapa menjerit, dek Nabila gak kenapa-napa kan?” tanya Bhintara cemas sambil mengintip sedikit ke dalam kamar mandi.
Nabila menggeleng “ Ndak. Aku ndak apa-apa Mas, cuman lagi nyuci seprei aja di dalem "
"Kan bisa besok pagi dek, ini masih petang loh lebih baik dibuat istirahat aja. Besok berangkat pagi kan?" ucap Bhintara serat akan perhatian.
Nabila tersenyum sebentar, kemudian menggeleng" Aku gak papa kok mas, udah puas juga tidurnya. Dari pada gak ngapa-ngapain mending aku cuci aja seprainya sekalian, takutnya nanti Mas Bhintar jijik jika melihat kasurnya berantakan dan kotor kena darahku.” kata Nabila menunduk ragu.
Bhintara mengernyitkan matanya menatap tajam ke arah Nabila dengan muka memerah seperti menahan amarah, menyentuh ujung dagu Nabila keatas untuk memperhatikan nya.
“ Apa yang sedang kamu katakan dek? darimana bisa punya pemikiran sepicik itu.Asal dek Nabila tahu saja, Mas tadi bahkan sempat berfikir untuk menyimpan nya kedalam almari jika saja kamu belum mencucinya. Akan ku jadikan barang itu sebagai kenang-kenangan bahwa kamu sekarang sudah menjadi miliknya Mas seutuhnya.” jelas Bhintara pada Nabila dengan menggebugebu, namun hanya di balas anggukan saja oleh Nabila.
Nabila ingin sekali menjawab terimakasih pada sang suami atas segala niatnya itu, namun suaranya tertahan saat ia menyadari jika laki-laki di hadapan nya saat ini sudah berpakaian rapi seperti mau pergi.
Lengkungan bibir yang sejak tadi terangkat kini perlahan mulai turun, dia hanya bisa memeluk tubuh laki-lakinya dengan erat.Menyembunyikan rasa kecewa yang sebenarnya tidak rela jika harus melepaskan dia pergi. Aku masih butuh kamu mas disini, untuk menghilangkan rasa gundah ku terhadapmu.
“ Maafkan aku atas ketidak tahuan ku membaca pemikiran mu" Sindirnya pada Bhintara yang sama sekali tak disadari oleh laki-laki itu.
Nabila tahu suaminya itu pasti akan pergi, entah kemana tujuan nya tapi yang pasti ada kaitan nya dengan Aulia.
Dia bisa merasakan hembusan napas kelegaan dari Bhintara di atas kepalanya yang di susul dengan kecupan lembut di dahinya. “ Mas sangat mencintai dek Nabila. Kamu harus tau itu dan jangan pernah sekalipun meragukan nya, karena kalau sampai kamu meragu.. maka aku akan sangat sedih. Mengerti?"
Nabila mengangguk“ Iya Mas aku mengerti. Apa Mas Bhintar akan pergi, kenapa sudah rapi?”
Bhintara menguraikan pelukan nya, kemudian meraup wajah Nabila untuk mencium bibir istrinya. “ Iya, ada urusan sebentar di luar sama Ibrahim, tolong tunggu Mas di rumah oke! “
“ Apakah itu urusan yang sangat penting? apa gak bisa menunggu besok pagi saja Mas, ini kan masih petang. Aku takut jenengan kenapa-napa nanti di jalan.”
“ Iya, urusan ini sangat penting dan Mas harus segera datang. Karena ini menyangkut hidup dan mati………”
Nabila melepaskan rengkuhan tangan Bhintara di wajahnya dengan raut kecewa “ Pergilah mas jika urusan itu memang sangat penting. Aku gak apa-apa, lagian setelah mencuci dan mandi aku akan kembali tidur. Tubuhku sakit semua dan lelah sekali, mungkin tidur satu jam lagi sedikit bisa menguranginya ” tutur Nabila mencoba tersenyum dan baik-baik saja.
Bhintara tidak buta, ia jelas sekali bisa melihat semburat raut kekecewaan di wajah istrinya. Ingin sekali rasanya tinggal dan kembali merengkuh tubuh ringkih itu dalam dekapan nya. Menenangkan nya bahwa semua akan baik-baik saja selama ada dia disisinya.
Tapi Ia tak boleh egois, karena di luar sana juga ada satu sosok wanita rapuh tak berdaya yang saat ini lebih membutuhkan nya di banding Nabila.
“ Oke kalau begitu, Mas pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah, aku usahakan secepatnya pulang jika urusan nya sudah selesai.”
“ Iya mas pergilah.” jawab Nabila sambil memutar tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi.
“ Sayang? tunggu! “
Bhintara masih berat melepas istrinya dengan keadaan seperti itu, satu tangannya ia gunakan untuk menyugar rambutnya ke belakang karena bingung dan frustasi. Sedangkan yang satunya lagi sudah bergerak menarik tangan Nabila agar berhenti.
“ Aku mohon, kali ini tunggulah Mas pulang. Jangan menghindar ataupun menjauh lagi.” Ucapnya dengan sorot mata penuh permohonan, seolah takut wanitanya akan pergi.
Menyaksikan kegusaran di wajah suaminya, Nabila mencoba tersenyum meski hati berteriak tak rela. Dia mencoba percaya dan berprasangka baik saat ini.
“ Iya Mas, aku pasti tungguin kamu di rumah.”
.........
Yuhuuuu........ Nabi ( Nabila dan Bhintar)datang lagi.
Jangan lupa kasih like, komen dan vote nya yang banyak.
Terimakasih.
Untuk Bab selanjutnya 150 like bisa gak ya?
Sama spam komen ' Next donk!.......
__ADS_1
Ayo donk! tunjukkin ke aku dengan meninggalkan like yang banyak di setiap part nya, biar jadi cambukan buat akunya agar lebih semangat lagi nulisnya.