
...Aku selalu yakin bahwa Allah menyayangiku lebih dari apa yang ku tahu...
...Mengabulkan inginku lebih dari apa yang aku mau...
...Dan tak pernah mengujiku di luar batas kemampuanku...
...-Ummu fatih-...
Sabtu sore, akhirnya setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih empat jam Nabila tiba di kota kelahiran nya dengan sehat wal'afiat tanpa kekurangan suatu apapun.
Di sepanjang perjalanan ia habiskan waktunya untuk tidur dan menyibukkan dirinya dengan memotret pemandangan yang di kiranya menarik dengan sesekali bertanya pada sang supir.
Ya, di kepulangan nya kali ini memang ia di temani oleh mang ujang supir pribadi keluarganya. Setelah dengan paksaan dari sang bunda tentu nya.
Dia berencana hanya akan berada di kampung halamanya tiga hari, tak bisa lama-lama mengambil hari libur meski sudah mengantongi Izin selama satu minggu penuh dari dokter Iqbal selaku anak dari pimpinan di rumah sakit dengan sempurna tanpa halangan sedikitpun.
Dan itu semua tak gratis, karena di balik bakwan ternyata ada Udang yang tersembunyi. Yaitu harus menggantinya dengan ajakan makan malam sehari setelah cuti libur itu berakhir.
Dasar es kutub ! bisa aja memanfaatkan keadaan. Gak tahu apa jika sikap nya yang seperti itu bisa saja menimbulkan ke salah pahaman antara dia dan sahabat nya Zahra? andaikan dia tahu yang sesungguh nya, apa mungkin dia akan berubah?
Ketika perjalanan hampir dekat, Nabila terbangun dan merapikan diri. Tidak ada yang mengecewakan dari penampilan Nabila seperti biasa yang selalu menawan dengan tampilan sederhananya.
Wanita ber_gamis syar’i itu turun dari mobil lalu melangkah menuju teras rumah dengan model joglo khas rumah tradisional jawa dengan senyum sumringah.
Semua masih terasa sama seperti terakhir kali ia meninggalkan nya dan tetap terawat dengan baik.
Nabila mengetuk pintu kayu jati yang banyak sekali ukiran di sekelilingnya itu berulang kali, memunculkan seorang wanita tua yang menghampiri dengan lari ter gopoh-gopoh.
“Subhanallah, non Nabila.” Pekik Mbok Lastri sedikit berlari, lalu memeluk wanita cantik itu.
“Assalamualaikum Mbok, gimana kabar nya?” Nabila tersenyum sambil membalas pelukan mbok Lastri.
“ Waalaikumsalam salam, Alhamdulilah sehat non, berkat gusti Allah.” Jawab Mbok Lastri sembari memperhatikan nona muda nya dengan lekat dan mengelus lengan mulus milik Nabila dengan lembut. “ Non Nabila makin Cantik saja sih? mbok sampai pangling .”
Nabila tersenyum lebar pada Mbok Lastri, orang yang telah mengabdi lama pada keluarganya bahkan sebelum Nabila lahir.
“ Apa Bunda ada di rumah Mbok ?”
__ADS_1
“ Ada non, sejak tadi Nyonya sudah menunggu di dalam.”
Dengan mengedarkan pandanganya ke se_isi rumah, dia bergumam “ Ternyata tak ada yang berubah sedikitpun.”
“ Nabila !" pekik ibunya tak kalah histeris dengan Mbok Lastri ketika melihat sang putri berjalan ke arah nya. Dia segera menghambur ke pelukan ibunya dengan tersenyum manis yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan semua orang, yang di yakini jika seorang laki-laki melihat nya akan langsung terpesona.
“ Kangen….” Ucap nya di dalam pelukan bunda.
“ Bunda juga kangen, kenapa jarang sekali pulang hem….sampai-sampai terbawa ngimpi nduk setiap malam.”
Kemudian Nabila menyalami tangan wanita paruh baya itu dan menghujani seluruh wajah sang bunda dengan ciuman gemas yang bercampur genangan air mata.
"Hei... hei... kok malah nangis? " ucapnya sambil menghapus air mata anak nya.
Nabila menatap nya sekilas lalu menggeleng sembari tersenyum, kembali memeluk dan terisak di sana. " Maafin Nabila Bun...Bil...bila sudah jadi anak yang tidak berbakti pada Bunda, seharusnya Nabil di sini menemani dan merawat Bunda bukanya malah jauh di sana. "
" Tidak Nak, tidak. Justru kebalikan nya Nabila selalu jadi putri satu-satu nya Ayah dan Bunda yang sangat berbakti dan membanggakan kami. " jawab nya menenangkan.
Nabila tak mampu menjawab lagi, hanya bisa mengangguk dalam dekapan hangat Bunda yang selalu menjadi tempat ternyaman selain Ayah nya.
" Udah donk! jangan nangis terus, masuk kamar gih mandi terus siap-siap buat sholat magrib, istirahat sebentar sebelum makan malam. Pasti capek kan?"
Nabila berjalan menuju kamar nya, salah satu bagian rumah yang dulu sangat menjadi tempat favoritnya. Walaupun sudah beberapa tahun berjalan sejak terakhir kali ia tempati nuansanya masih sama. Bahkan semua perabotan nya tetap di letakan di tempat yang sama. Rapi, apik dan juga terkontrol.
" Selamat datang kembali Non." Ucap Mbok Lastri yang sedang sibuk menata barang bawaan Nabila ke dalam lemari.
" Iya Mbok, barang-barang saya letakan saja di sana biar nanti Nabila yang membereskan nya. Si mbok siap-siap saja berangkat ke Masjid, udah mau magrib juga kan? " Jawab nya tersenyum, sambil berjalan mengikuti ke dua kaki nya menuju ke sebuah meja kecil terletak di sudut ruangan yang tanpa ia sadari sudah menarik seluruh atensi nya.
" Ya udah kalau begitu Mbok keluar dulu ya nduk, nanti kalau ada apa-apa panggil si Mbok saja."
" Iya Mbok. " Mbok Lastri pun keluar.
Jarinya menarik sorok kayu yang ada di depan dengan Was-was, bola mata nya langsung tertancap pada sebuah kotak kardus berukuran 50 sentimeter persegi. Dengan hati-hati Nabila membawanya ke atas tempat tidur lalu membuka nya.
Sejenak ia menahan napas sebab di sanalah semua tentang Ustadz Adam tersimpan dengan rapi, di mulai dari sepasang Cincin, surat-surat cinta, bahkan tulisan kaligrafi dan foto nya ada di dalam kotak tersebut.
Begitu banyak kenangan yang sengaja Nabila kumpulkan dalam kotak itu. Tak di sangka pandanganya tiba-tiba saja mengabur, kesedihan yang bertahun-tahun lalu ia simpan meluap dari dalam dada.
__ADS_1
Tangan nya bergetar saat memegang beberapa foto dan satu buah kotak kecil berwarna merah berbahan bludru. Dia mendekap barang tersebut erat lalu membuka nya.
Mengambil salah satu dan memasangkan di jari manis nya" Cantik, sangat Cantik Mas." Gumam nya lirih.
Kenangan itu langsung saja berhamburan di depan mata, dia langsung tenggelam dalam sejarah indah yang tercipta dulu di pondok pesantren.
Sebuah getaran dari ponsel menarik nya dari kenyataan, tanpa beranjak tangan nya langsung meraih ponsel yang telah ia simpan di atas meja. Melihat sekilas nomer tanpa nama telah muncul di atas layar.
0856217........: Assalamualaikum.
Nabila mengernyitkan dahi nya, memilih mengabaikan pesan tersebut karena enggan membalas nya. Hingga sebuah panggilan telepon dari orang yang selalu mengirimkan nya pesan tanpa henti sejak tadi membuat nya tersenyum mengejek.
" Dasar laki-laki posesif" Gumam nya sebelum memencet tombol hijau kemudian mengangkat nya. " Halo Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam, apa sudah sampai? "
"Hu'em.. iya sudah. "
"Kenapa tidak langsung mengabari? aku sampai cemas nungguin kabar dari kamu. lagian kenapa gak terima tawaran aku saja untuk anterin? hitung -hitung kenalan sama ibu mertua? "
Mendengar banyak nya rentetan pernyataan dari laki tersebut membuat Nabila mendengus kesal.
" Kakak..! kenapa sih kalau ngomong harus kayak gitu terus? gak capek apa? "
"Nabila... "
Huft....... " Kak, aku baik-baik saja oke ! Dan sudah sampai dengan selamat tak kekurangan suatu apapun, jadi stop kawatirin aku secara berlebihan kayak gini Oke ? dan....... "
"Dan apa? "
" Dan terimakasih sudah mengkawatirkan diriku sebanyak itu, kak Iqbal memang kakak terbaik aku. "
" Bee, kamu tahu aku ingin lebih dari sekedar itu " Jawab dokter Iqbal mengeluh lesu.
"Ya, aku tahu itu. tapi kakak juga tahu kan seperti apa jawabanku? maafkan aku kak....Ak...."
" Ya... ya... aku mengerti. Cukup balas dengan jangan hindari dan jauhi Aku. Karena bagiku itu semua lebih dari cukup"
__ADS_1
Rasanya pedih sekali selalu menolak seseorang yang dari dulu selalu menawarkan cinta dan kasih sayang tiada henti, ingin sekali Nabila menerima dengan tangan terbuka meski belum tumbuh rasa.
Tapi..... ia bisa apa? ini demi kebaikan semua.