
Nabila masuk ke dalam Mobil. Duduk di samping kemudi dengan rasa canggung yang sudah mulai menguar seiring dengan Benteng kokoh penyekat antara dirinya dan Gus Bhintar yang coba Nabila bangun sejak tadi.
Bahkan bersebelahan sedekat itu membuat nya bingung harus berbuat apa untuk mengusir kecanggungan di antara meraka agar lekas sirna.
Sepanjang perjalanan Nabila hanya diam saja, menatap lurus ke depan sambil menyandarkan pelipis nya ke kaca mobil. Malam ini terlalu melelahkan dan menyakitkan, diam adalah satu-satu nya cara terbaik menghindari percakapan untuk situasi saat ini.
“Kamu mau saya antar kemana? Rumah sakit atau Rumah?” tanya Bhintara memecahkan keheningan.
Nabila menggeleng, ingin sekali menoleh ke arah samping tapi kepalang malu. “ Ke rumah sakit saja.” Jawab nya hanya melirik.
Sepersekian menit dari Nabila masuk ke mobil, Bhintara memasang seatbelt , kemudian menyalakan mesin. Mata nya sempat melirik ke arah Nabila yang hanya diam sambil memijit-mijit kecil kening karena merasa pening.
Terdengar Bhintara menghela napas kasar “ Sejak kapan merasakan pusing ?” jeda sejenak “ Seorang dokter tapi kok lalai dengan kesehatan badan sendiri.” seloroh nya sambil menjalankan laju Mobil.
Perkataan Bhintar begitu sangat menohok, membuat Nabila yang tadi nya sibuk dengan sakit kepalanya kini menoleh “Mending anda diam saja, dari pada selalu berbicara tapi terus memojokan. Memang nya anda kira saya ini apa? Dokter juga manusia yang juga bisa sakit.” Jawab Nabila ketus. Kemudian memejamkan mata nya untuk menghindari perdebatan yang Unfaedah.
“Itu tahu ! “
Nabila menghela napas nya lelah.
” Terserah Gus Bhintar saja mau bicara apa.” katanya nya lirih masih tetap menutup mata.
__ADS_1
Dia sudah benar-benar lelah di tambah harus mendengarkan perkataan yang serat akan ejakan itu terus-menerus sejak tadi membuat nya semakin pusing. Dia akui terkadang ucapan yang di keluarkan laki-laki menyebalkan itu ada benar nya juga, tapi... apakah tidak bisa cara penyampaianya di perhalus lagi? kenapa selalu terdengar menyakitkan di telinga Nabila.
Bukanya dia seorang Dosen di perguruan tinggi yang lumayan terkenal? tapi kenapa cara penyampaian kata-kata yang keluar sejak tadi kok gak ada lembut-lembut nya sama sekali. Nabila yakin jika para mahasiswa nya di berikan hak untuk protes, pasti mereka semua sudah ber bondong-bondong membakar kampus secara masal karena tak tahan.
Gak Vika, gak Bhintara keduanya kenapa bisa semenyebalkan itu? apa mereka tak tahu jika berbicara di depan umum dengan sopan itu sangat mempengaruhi di dalam pekerjaan mereka yang notabenya adalah seorang dosen?
Nabila masih dengan segala fikiranya dan mengabaikan keberadaan Bhintara sejenak, sebelum laki-laki yang sejak tadi membuat kesal itu kembali berucap.
“Sabar itu ada dua macam, 1. Sabar atas apa yang tidak kau inginkan dan 2. Sabar menahan diri dari sesuatu yang kamu inginkan.” cetus Bhintara sambil terus melajukan mobil dan fokus pada jalanan di buat sesantai mungkin.
Mata Nabila terbuka, bertemu sejenak dengan mata Bhintara sebelum kedua nya sama-sama membuang muka.
Nabila benar-benar malas berfikir, sebenar nya apa hubungan antara macam-macam sabar dengan keadaanya. Benar-benar ngebleng yang seketika menjadi O’on dan bodoh ! padahal jika situasinya tak semrawut ini Nabila yakin akan langsung konek dengan perkataan penuh maksud tersebut.
“Maksud saya begini, kamu pasti sudah pernah mendengarkan jika jodoh, Rizki dan maut itu sudah di atur sama yang di atas. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas penyakit yang menimpa Bunda sekarang ini, saya tahu kamu itu seorang Dokter tapi.. jangan lupa bahwa seorang dokter itu juga manusia dan bukan tuhan seperti yang telah kamu katakan tadi. Cukup perbanyak doa, minta sama Allah agar di berikan yang terbaik untuk kesalamatan Bunda. Tak perlu menyalahkan profesimu sedalam itu.”
Bhintara menoleh ke arah Nabila, berhenti melajukan mobil karena lampu merah menyala.” Seharus nya kamu bangga dengan gelar tersebut, sebab di luaran sana banyak sekali yang mengincar posisi itu dengan susah payah. Tapi...kamu malah membenci takdirmu itu? tak mau bersyukur atas karunianya dan justru malah menyalahkan Allah atas segala pemberian nikmat yang ia beri? Andai kamu tahu betapa bangga Bundamu saat menceritakan sosok anak nya yang menjadi seorang dokter, kamu pasti akan menangis seketika.
Lagian bukanya itu merupakan salah satu impian ayahmu juga yang kepingin sekali menjadikan anak satu-satu nya orang yang bermanfaat bagi banyak orang? ” tutur nya pada Nabila. Membuat wanita itu tertegun lama, meng iyakan segala ucapan Bhintar tanpa ada satupun yang terelakan.
" Tambahkanlah kesabaranmu, Allah sudah tahu kok takaran dan porsi yang pas untukmu. Se isi dunia bukan hanya kamu saja yang menanggung, jadi jangan terlalu mengkhawatirkan segalanya sendiri."
__ADS_1
Sekarang Nabila sadar, memang seharus nya dia tak selebay itu membesar-besarkan masalah hanya karena merasa telah di bodohi dengan tak mengikut sertakanya dalam rencana lamaran tersebut. Emosi sesa'at telah menyesatkan. Membuat Nabila menyesali segala ucapan yang telah di gelontorkanya tadi.
“Kau lihat orang tua yang ada di sana itu.” Tunjuk Bhintara pada seorang laki-laki tua sedang duduk di depan toko sambil menumpukan kepala pada kedua lututnya, tenggelam di sana.” Mungkin saja Bapak tua itu tak mempunyai tempat tinggal sehingga menyebabkan dia duduk di emperan larut malam begini. Tapi lihat..dia tidak menangis kan? justru sepertinya dia sedang tertidur pulas meski tanpa beralaskan kasur empuk seperti punyamu di rumah.” jelas nya seperti ingin membuat sadar Nabila akan betapa beruntung nya dia di bandingkan dengan orang lain.
Nabila memperhatikan orang tua renta itu dengan seksama, rasa iba kerena tak tega tiba-tiba menyeruak keluar dari dalam dada. Begitu tak tahu malu nya dia dengan segala pemberian nikmat yang ia rasakan dari kecil hingga sekarang, yang tak pernah kekurangan suatu apapun di hidup nya. Bahkan semua yang di inginkan selalu terpenuhi, lalu... kenapa sekarang dia jadi manusia se_serakah itu? hanya karena sebuah cobaan yang seharus nya ia berterimakasih karena itu pertanda bahwa Allah masih ingin mengangkat derajat nya lebih tinggi lagi.
Nabila meraup muka dengan ke dua tanganya, menitikan air mata penyesalan. Semakin malu terhadap kelakuanya sendiri “ Astagfirullah haladzim, maafkan hamba mu yang tak mau bersyukur ini ya Allah.” tutur Nabila penuh penyesalan.
Mobil kini sudah mulai berjalan lagi, seperti perkataan Gus Bhintar yang enggan sekali untuk berhenti.
“ Terkadang yang membuatmu gelisah bukanlah masalah yang menguji, tetapi..bahasa Rindu Allah yang gagal kamu pahami.” Bhintara menoleh sebentar ke arah Nabila lalu kembali fokus ke jalan. “Lain kali Bedakan, mana ujian dan mana hasutan setan.”
Hening tak ada suara.
Nabila terdiam membisu tak mampu berkata, masih meratapi ke bodohanya. Hingga.......
Dert...dert...dret….
Tiba-tiba suara getar hanpond milik Nabila berbunyi, menampilkan sebuah Nama dan foto seorang laki-laki memenuhi layar. Sedikit memancing rasa penasaran Bhintara.
" Apakah itu pacar kamu? "
__ADS_1