
Hari pertama masuk setelah satu minggu full mengambil libur di lewatinya dengan sukses, tanpa ada halangan-halangan kecil yang biasanya selalu membuat mood nya menjadi anjlok.
Setelah selesai mencuci tangan dan menaruh jas putih ke banggaanya di kursi, ia berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju ke ruang kerja dokter Aisyah. Karena dia sudah janji mau mentraktir makan di Restoran langgananya sebagai ganti kado pernikahan yang tak sempat ia berikan.
Ya, selain Zahra yang mengetahui pernikahanya ada satu lagi seseorang yang ia beri tahu. Yaitu dokter Aisyah. Dan dia sudah janji akan merahasiakanya dari siapapun sebelum Nabila sendiri yang mengatakanya.
Di tengah perjalanan, mata nya tak sengaja menatap dinding ruangan berukuran 3x5 itu dengan tatapan kosong. Pikiranya berkelana entah kemana.
Mas Bhintar, apakah dia sudah pulang?
Apakah dia masih marah? Sehingga tak membalas satupun pesan yang dikirimnya sejak tadi siang ?
Dan...sebenar nya siapa perempuan bernama Aulia itu? apa hubunganya dengan suaminya?
Beberapa pikiran negatif terlintas begitu saja dalam benak nya, sampai ia tak menyadari jika di hadapanya saat ini sudah ada seorang laki-laki yang sedang memperhatikanya dari jauh.
Pikiranya kembali saat dia melihat seorang dokter sedang menyandarkan badanya di kusen pintu ruang Oprasi, dengan menyilangkan tanganya ke depan. Sedang melihat ke arah nya.
Pria itu masih menggunakan baju oprasi lengkap. Dan meski hampir seluruh wajah nya tertutup masker. Nabila sudah bisa menebak dia siapa, dari caranya menatap nya saja Nabila tahu itu dokter Iqbal.
Sepertinya dia baru saja akan masuk ke ruangan itu untuk melakukan oprasi, di lihat dari tubuh nya yang masih segar bugar bersemangat 45. Tak seperti dirinya yang sudah kuyu dan layu, karena sudah lelah bertempur dengan segala macam alat-alat kesehatan seharian penuh.
“Bee?” panggil nya pada Nabila.
Nabila berhenti “ Eh, kak. Baru dateng, dapat sip malem? Tumben.”
Laki-laki itu menggeleng “ Oprasi dadakan, sorry seharian ini belum sempet ke ruangan untuk menyambut kedatanganmu. Tadi aku……”
“Its okey kak, gak papa. Lagian siapa aku? Yang kedatanganya harus di sambut oleh anak pemilik rumah sakit. Bukan anak presiden juga iya kan? ”
jawab Nabila sok santai, padahal irama jantung nya sedang berdegub cemas.
Apa ini waktu yang tepat untuk memberitahukan segalanya? Tapi…..
“Permisi dokter Iqbal, anda sudah di tunggu di dalam. Oprasi akan segera di mulai.”
Sela salah satu perawat yang ikut dalam oprasi tersebut.
Bhintara hanya berdehem kecil menjawab ucapan suster tersebut “ Hem.”
Sedangkan Nabila hanya bisa tersenyum canggung di tempat nya. “ Ya udah gih cepetan masuk, aku juga mau ke ruangan dokter Aisyah. Good luck kak ! ” ucap Nabila mengakhiri.
Mungkin belum saat nya mengatakan semuanya.
__ADS_1
Kemudian Nabila meneruskan jalanya, namun teriakan dari seseorang yang kali ini hanya menyembulkan kepalanya saja di ambang pintu membuat nya tersenyum.
“ Btw Bee….I miss u so much.”
Kemudian laki-laki itu pun berlalu di balik pintu Oprasi, menerbitkan senyuman jengah dan gelengan kecil dari Nabila.
Dasar !
Nabila berbalik ingin melanjutkan jalanya lagi menuju ruangan dokter Aisyah, tapi malah terlonjak kaget saat di hadapanya sudah berdiri pemilik nama tersebut dengan tatapan horor yang membuat nya bergidik ngeri.
“Mau sampai kapan hem?”
Nabila mendelik, saat mendapatkan serangan pertanyaan itu secara tiba-tiba. “D-dokter Aisyah, sejak kapan di situ?”
“Bukan itu jawaban dari pertanyaan saya”
Nabila membisu, dia juga tak tahu harus menyembunyikan kebenaranya pada dokter Iqbal sampai kapan.
“ Udah lah dok, kita bahas itu lain kali aja oke? Aku lagi gak kepengen untuk bercerita. Bisa kah kita langsung pergi saja? “ elak Nabila sambil mengelus-ngelus perut rata nya dengan memicingkan alis nya atas bawah. “ Cacing di perut aku udah pada demo dari tadi, pliisss….” Rengek Nabila manja.
Dokter Aisyah membuang muka jengah, sembari menghela napas nya kasar
“ Oke, untuk kali ini adek gue yang cantik ini lolos. Tapi besok tak akan ku biarkan lagi.”
Jawab Nabila sembari berjalan, ia ter terkekeh melihat wajah ibu satu anak itu memberengut kesal, tapi justru kelihatan lucu.
“ Oh ya dok, kita pakai mobil aku aja ya, nanti pulang nya biar bisa aku anter sekalian.”
Dokter Aisyah menggeleng “Gak perlu nanti aku pulang nya bareng suami aku aja sekalian.”
Nabila menoleh binggung pada wanita di sebelah nya “ Bisa tolong di perjelas dengan kata ‘sekalian’ yang di maksud ?”
“ Iya kita dinner nya di restoran yan sama di mina suamiku juga sedang makan di sana, bersama para sahabat nya.”
“ Oh….oke kalau begitu, lets goooooo”
Pukul setengah tujuh malam Nabila dan juga dokter Aisyah sampai di tempat tujuan, setelah tadi sempat berhenti sebentar di salah satu masjid untuk menjalankan sholat magrib berjama’ah.
“ Kamu pesen apa dek?” tanya dokter Aisyah pada Nabila.
“ Samain aja kayak pesenan dokter, karena aku gak akan nolak. Soal nya udah laper banget.” Cengir Nabila terlihat lucu.
Ck “ Dasar ! yaudah aku pesenin sama kayak aku ya?”
__ADS_1
Nabila mengangguk.
Kemudian dia mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan itu dengan teliti. Mengamati sudut per sudut untuk ia jadikan bahan reverensi kedepanya.
Siapa tahu berguna sebagai bahan pertimbangan jika ada salah satu cabang restoranya yang membutuhkan inovasi baru untuk menggait para pembeli agar lebih banyak lagi.
“Dokter Aisyah.” Panggil nya di sela kesibukanya memperhatikan interior ruangan yang ada di restoran tersebut.
“ Suami dokter Aisyah yang mana?” tanya Nabila clingak-clinguk.
Dokter Aisyah langsung menaruh Hp milik nya di atas meja lalu mencari-cari keberadaan seseorang.
“ Itu dia suami saya Bil “
Tunjuk nya pada salah satu meja di pojok ruangan yang di isi oleh satu laki-laki berkemeja merah marun dan satu perempuan yang perawakanya sangat Nabila kenali, tapi tak bisa melihat wajah si perempuan itu dengan jelas karena posisi nya yang memunggungi Nabila.
“ Itu yang perempuan di sebelah nya siapa dok?” tanya Nabila penasaran.
“ Oh itu, dia si………”
“ Maaf permisi Bu, ini pesenanya.”
Ke dua nya menoleh ke sumber suara, mengabaikan jawaban yang ingin di ucapkan dokter Aisyah yang kini malah fokus pada makanan mereka masing-masing.
“ Hemm… enak juga makananya dok? Udah langganan ya makan di sini?” Basa-basi Nabila terlihat antusias di sela kunyahanya.
Dokter Aisyah mengangguk “ Lumayan Bil, suami sering ajak ke sini katanya biar ngirit uang jika makan di restoran milik sendiri. Hehe “ jawab dokter Aisyah sambil terus memasukan nasi ke mulut nya.
“ Loh, jadi ini restoran milik sendiri toh dok? Pantes enak gini rasa nya.” Puji Nabila.
Dokter Aisyah menggeleng “ Bukan milik sendiri juga, tapi lebih tepat nya milik mereka berdua.” tunjuk nya ke arah meja tadi.
Nabila mengikuti kemana jari telunjuk dokter Aisyah mengarah, dan betapa terkejut nya ia saat menemukan………
Uhuk ! Uhuk ! uhuk !!
Nabila sampai tersedak makanya. Menajamkan penglihatanya sekali lagi. Dan benar, dia menumukan laki-laki itu di sana. Sedang bercengkrama dengan Asyik nya sampai-sampai lupa membalas beberapa pesan dari nya, padahal Nabila bisa melihat jika pria menyebalkan itu sesekali membuka Hp milik nya.
Apakah dirinya tak sepenting itu bagi nya? sampai-sampai membalas pesanya saja ia tak sudi.
Sekali lagi Nabila melihat Chat terakhir yang di kirimkanya pada Bhintara tadi siang. Masih centang dua dan belum berubah biru.
Sungguh terlalu jika kalian semua tak meninggalkan like, comen dan vote nya.
__ADS_1
langsung Up dua bab padahal loh.......!