Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Kebohongan


__ADS_3

“ Lo beneran mau ikut gue pulang ke rumah Bil?”


”…..” Nabila tidak menjawab, ia justru malah menatap datar ke arah depan dimana serentetan Mobil berjejer rapi di sana. Karena memang mereka masih di area parkiran sekarang ini.


“ Kok gak di jawab? kepala lo masih pusing?” Tanya Zahra lagi.


Nabila hanya menggeleng. Dan lagi-lagi sahabatnya itu masih tetap diam, membikin rasa penasaran yang sejak tadi bercokol di dalam pikiran Zahra semakin meronta.


Zahra mengurungkan niatnya untuk menyalakan Mobilnya. Memilih menyampingkan badan nya ke arah Nabila untuk lebih memperhatikan sahabatnya itu dari dekat.


“ Bil, sebenarnya elo itu kenapa? Diam muluk dari tadi. Kalau ada masalah itu cerita, jangan diem terus kayak gini. Gue juga ikutan pusing tahu gak ngelihatnya?!” Selorohnya tak tahan lagi dengan bungkam nya Nabila.


Merasa di perhatikan dengan tatapan tajam oleh Zahra, Nabila akhirnya menoleh. Membuang napasnya kasar sebelum menyahuti. “Ra, Gue mohon…jalankan saja Mobilnya dulu.”


Nabila bukanya tak mau menceritakan masalahnya pada Zahra sekarang, hanya saja ia masih berfikir harus ia mulai darimana untuk menceritakan nya. Dia sangat yakin jika ada sesuatu hal besar yang telah di sembunyikan suaminya, tapi ia juga masih belum bisa menemukan bukti nyatanya. Jadi apakah di benarkan jika ia menceritakan prasangka nya saja pada Zahra? Apalagi ini menyangkut masalah rumah tangganya. Seharusnya ia sendirilah yang harusnya mencari jalan keluarnya, bukan malah melibatkan orang lain di dalam nya.


Zahra terlihat menghela napasnya kasar sebelum berdecak lirih. “ Pokoknya gue gak mau tahu! Lo utang penjelasan ke gue! “ Jawabnya pasrah sambil memberenggut kesal. Kemudian terpaksa melajukan mobilnya perlahan ke jalanan.


“ Jadi …sekarang kita harus kemana? Rumah Gus Bhintar apa ke Rumah?!” Zahra kembali membuka percakapan saat laju mobilnya sudah lumayan jauh dari area Rumah Sakit. Sedikit memancing perhatian Nabila yang sejak tadi masih saja terus diam menatap kosong ke depan.


Hening.


Tak ada jawaban ataupun suara yang keluar dari Nabila.


" Bil....?" Panggil Zahra lagi dengan penuh tekanan.


Nabila menoleh “ Apa di rumah masih ada stok Mie instan? Gue lapar.”


Zahra langsung melirik ke arah Nabila cepat, Menaruh curiga. Dia yakin ada sesuatu hal yang sedang menimpa sahabatnya itu. “ Bil, mending lo cerita sekarang aja deh, sebelum gue mati penasaran!”


“ Ra biarin gue makan dulu, janji deh setelah kenyang pasti nanti gue bakalan cerita. SEMUANYA. Jadi kita harus cepat sampai Rumah dulu.”


Tiba-tiba Zahra langsung menambah laju kecepatan nya, mengabaikan pekikan Nabila yang menjerit kaget karena ulahnya.


“ Astagfirullah Ra! Lo…..?”


“ Diem! “ Sergah Zahra tegas.


Tin….tin!...tin……!!


Terdengar suara bunyi klakson Mobil yang saling bersahut-sahutan mengiringi perjalan mereka, membuat Nabila yang mendengarkan nya menjadi ngeri sendiri.


Lagian ini kan yang di inginkan sahabatnya itu? Jadi jangan salahkan Zahra yang sekarang ini sedang ngebut agar segera sampai ke Rumah, seperti yang di bilang Nabila tadi.


“ Ra! Ya Allah….Astagfirullahadzim! Lo itu kenapa? Pelanin laju Mobilnya! “


Zahra pura-pura tak mendengarkan ucapan Nabila dan malah semakin menambah laju Mobilnya. Dia sudah di buat gemas dengan sikap Nabila yang menjengkelkan sedari tadi, jadi gak ada salahnya donk! Jika dia sedikit memberi balasan untuk sahabatnya yang cantik jelita itu, karena sudah mendiamkan nya.


Nabila yang sudah mulai frustasi karena segala ucapan nya tak di dengarkan, akhirnya menyerah “ IYA! YA FINE. GUE BAKALAN CERITA SEKARANG! TAPI LO BERHENTI DULU.”


Seketika laju mobil pun berhenti setelah menepi. Zahra menyunggingkan senyum nya. Akhirnya dia juga yang menang melawan ego si perempuan keras kepala itu!.

__ADS_1


“ Oke, sekarang lo cerita ke gue! “ Tuntut Zahra langsung tanpa basa-basi.


Nabila menggigit bibirnya dengan sekuat tenaga. Apakah ia ceritakan saja semua masalahnya? siapa tahu Zahra bisa memberikan solusi seperti biasanya." Huft...Bismilah saja lah..."


Sembari menahan sesuatu rasa yang sejak tadi menyesakan dada. Nabila akhirnya mulai menceritakan nya. “ Mas Bhintar Ra….” Ucapnya terhenti, pita suaranya tiba-tiba tercekat sebentar di tenggorokan “Sepertinya Mas Bhintar punya perempuan lain selain aku.”


Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari bibir mungil Nabila meski terdengar bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca saat mengucapkan nya. Membuat Zahra yang mendengarnya seketika bungkam.


Dokter magang itu hanya bisa mencengkram setir mobilnya dengan erat sampai jari-jarinya terasa sakit. Menelan ludahnya kasar karena tiba-tiba saja merasakan gugup luar biasa, tak menyangka jika Nabila akan mengetahuinya secepat ini.


" Tadi malam pukul tiga, Mas Bhintar mendapatkan telpon dari sahabatnya Ibrahim, suami dari dokter Aisyah."


Zahra mengernyitkan dahinya penasaran, mulai tak sabar ingin segera mengetahui kelanjutan ceritanya " Terus....?"


" Ya gue curiga, karena sehabis itu Mas Bhintar seperti terburu-buru pergi dari Rumah." Lanjut Nabila.


Zahra mulai bingung dengan maksud cerita Nabila. Apa hubungan nya suami dokter Aisyah dengan punya wanita lain? Seperti tak nyambung sama sekali. " Ke intinya aja deh Bil, jangan muter-muter kayak sepur. Gue lagi malas buat mikir!"


Nabila menghembuskan napasnya kasar " Intinya gue yakin perempuan simpanan laki gue itu masih ada hubungan nya dengan dokter Aisyah sama suaminya, dan gue curiga sama si pemilik nama Aulia itu yang tempo hari pernah gue tanyain ke elo!"


Zahra menelan ludahnya susah " Jadi lo udah kenal sama si Aulia itu Bil?" Tanya Zahra pura-pura tak tahu.


Nabila mengangguk " Iya. Bahkan gue udah pernah lihat orangnya dua kali. Dan gue yakin Perempuan simpanan suami gue adalah DIA."


Deg.


Zahra bingung harus melakukan apa atau bereaksi bagaimana, setelah mendengar penuturan sahabatnya yang sebenarnya ia sudah mengetahuinya sedari awal.


Zahra menggeleng lemah, ia di lema. Apa sebaiknya ia katan saja yang sejujurnya pada Nabila? Tapi dia belum siap di diamkan kembali oleh perempuan itu. Ah, masa bodoh dengan janji! Mungkin nanti Vika bisa memakluminya. " Ya Allah...ampunilah hamba yang telah ingkar janji ini "


" Bil? Gue…Sebenarnya…..”


“ Itu masih dugaan saja sih Ra, belum terbukti. Apa mungkin itu hanya perasaan gue saja ya? yang ketakutan sendiri jika kembali di tinggalkan.”


Zahra tersentak kaget saat tiba-tiba jemari Nabila menyentuh tangan nya. Memotong ucapan nya, padahal dia tadi sudah mau jujur dan menceritakan semuanya. “ I…i…iya Bil, mungkin itu hanya perasaan lo aja yang berlebihan, maklumlah kan udah tumbuh benih-benih cinta?”


"Maafin gue Bil, karena harus membohongi elo lagi." Batin Zahra menjerit penuh penyesalan.


Zahra Balas menepuk pelan tangan Nabila yang terasa dingin saat ia pegang untuk sedikit menyalurkan ketenangan lewat sentuhan nya. “ Emm...Gimana kalau kita makan di Restoran lo aja, yang dekat Mall itu. Mau gak?” Tawarnya penuh antusias.


Nabila mengangguk menyetujui, mungkin dengan pergi ke sana akan sedikit mengembalikan kegundahan yang dirasakan nya sejak pagi.


“ Yasudah ayok, tapi nyetirnya pelan-pelan aja ya Ra? Gue takut soalnya.”


...…...


Setelah menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit dengan kecepatan sedang, akhirnya mereka berdua sampai di area parkiran. Nabila segera melepaskan sabuk pengaman nya, menatap kearah depan sebentar kemudian menoleh ke belakang ingin meraih tas miliknya yang ia taruh di jog penumpang.


“ Ra…nanti gue……” Ucapnya terhenti. Dia seperti menyadari sesuatu yang dilihatnya tadi sewaktu melihat ke depan.


Dengan cepat Nabila menoleh kembali ke depan untuk memastikan. Mengernyitkan dahinya saat netra matanya menemukan sebuah Mobil yang dirasa tak asing lagi olehnya.

__ADS_1


“ Ra?” Panggil Nabila pada sahabatnya, tanpa mau melepaskan penglihatan nya sedikitpun dari nomer plat mobil di depan nya.


“ Iya Bil, kenapa?” Zahra menoleh dari kegiatan nya yang sedang merapikan jilbabnya.


“ Bukanya itu Mobil Mas Bhintar ya Ra? Kok bisa ada di sini?”


Zahra mengikuti arah pandang Nabila, sedikit terbelalak karena matanya kini justru melihat segerombolan orang-orang yang ia kenali beberapa. Vika salah satunya. Dan Gus Bhintar ternyata juga ada di dalamnya. Sahabatnya itu sedang menuntun seorang wanita yang terlihat lemah. Sepertinya Zahra tahu siapa sosok perempuan yang sedang di gendeng Vika itu.


“ Ra….? Vika.. “ Panggil Nabila lirih.


Zahra tersentak kaget meski suara Nabila saat memanggilnya gak ada keras-kerasnya sama sekali, lalu menoleh cepat kearah Nabila menatapnya khawatir. " Nabila...." Gumam Zahra sendu.


“ Itu...,itu..Do..dok..dokter Aisyah….dia…dia juga…ada di san………”


“ Jangan di lihat!!“


Zahra langsung menutupi mata Nabila dengan satu telapak tangan nya, Seperti tak rela jika sahabatnya itu harus menyaksikan langsung sebuah penghianatan dari suaminya.


Nabila meremas tangan Zahra dengan erat, memilih menundukkan kepala dan menutup matanya rapat-rapat seperti yang telah dianjurkan sahabatnya.


Dia tak mau melihat pemandangan yang sekarang ini dapat menghancurkan jiwanya. Bahkan sekarang ia mau berpura-pura tak melihat apa-apa jika itu bisa membuatnya lebih baik. Tapi, ternyata tak bisa. Sebab meski dia sudah menutup matanya rapat kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan tanpa di sangka sudah menyakiti hatinya.


“ Ya Allah, Mas Bhintar..hiks..hiks..tega kamu mas sama aku...hiks"


Tangis Nabila pecah, suara isakkan yang terdengar memilukan keluar dari bibir Nabila. Entah apa yang di rasakan wanita itu saat ini, tak bisa terbayangkan oleh Zahra bagaimana hancurnya sahabatnya itu sekarang.


Zahra merasakan tremor di sekujur tubuhnya saat mendengar tangisan pilu Nabila setelah delapan tahun sudah tak pernah mendengarnya lagi. Sontak membuatnya langsung membekap mulutnya untuk meredam tangisan nya yang ikut merasakan sedih luar biasa melihat sahabatnya seperti itu.


Wajah Nabila memerah sampai urat-urat di sekitar keningnya tercetak jelas di penglihatan Zahra. Sinaran mata yang biasanya memancarkan keceriaan kini meredup seketika, tertutupi oleh sembab.


Zahra yang melihatnya saja ikutan merasakan sakitnya, apalagi Nabila yang ngejalaninya? Apakah kali ini wanita tangguh itu akan kuat seperti biasanya? Atau justru malah benar-benar tumbang karenanya.


“ Astagfirullah! " Zahra meraup mukanya kasar dengan salah satu tangan nya " Demi Allah Bil, lo tenang dulu oke? Gue bener-bener gak bisa mikir kalau lo nangis kayak gini.”


Pendengaran Nabila mendadak tuli, segala ucapan yang di lontarkan sahabatnya tak masuk sama sekali kedalam pikirannya, dia sibuk meredamkan hati yang saat ini sudah terasa panas dingin. Tidak menyangka setelah dia menyerahkan segalanya dan percaya, kini ia justru dikhianati.


" Mas Bhintar Ra, dia juga ada di sana." Adu Nabila di sela tangisnya sambil menunjuk ke arah depan dengan lemas tak berdaya " Bahkan dia juga ikutan menuntun tangan wanita itu dan menyentuhnya." lanjutnya dengan suara bergetar.


Zahra terlihat menghembuskan napas panjangnya. Lalu dengan perlahan dia mulai melepaskan tangan nya saat segerombolan orang tak tahu diri itu sudah masuk kedalam restoran. Bodoh! itulah satu kalimat yang sejak tadi terus di hapalkan Zahra untuk kecerobohan nya yang telah mengajak Nabila makan di sana.


Andai saja dia tak mengusulkan untuk makan di Restoran tersebut, mungkin kejadian nya tak akan begini. Dan semua kebohongan yang telah mereka sembunyikan selama ini tak akan secepat itu di ketahui oleh Nabila.


" Maafin gue Bil, maaf. Gue bukanlah sahabat yang baik buat lo! " Tangis Zahra menjerit dalam hati.


...***...


Gimana Perasaan kalian saat membaca part ini?


Jangan lupa, like nya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2