
...Terkadang ALLAH tidak memberi segala yang kamu inginkan,bukan berarti kamu tidak berhak mendapatkanya....
...Akan tetapi karena kamu berhak mendapatkan yang lebih baik....
Nabila tak mengerti sebenarnya apa yang salah dari dirinya, kenapa ALLAH seperti terus ingin menghukum dengan mendatangkan musibah yang bertubi-tubi silih berganti dan selalu mengaitkanya dengan masa lalu yang penuh kelabu.
Jujur dia sudah tak kuat lagi menerima coba'an berat dan menyakitkan yang di datangkan untuknya secara terus menerus, tak sanggup rasa nya jika harus kembali menerima ujian lagi.
Bukanya ALLAH tidak akan pernah membebani umatnya dan memberikan ujian di luar batas kemampuanya?
Lantas ini apa?
Seperti ingin mempermainkan hati Nabila yang belum sembuh betul, kenapa takdir kembali membawanya pada seseorang yang kemiripanya hampir menyerupai ciri fisik dari cinta pertama nya.
Nabila di buat syog seketika, saat melihat sosok laki-laki tersebut. Layaknya foto copyan, perawakanya mirip sekali dengan Ustadz Adam meski tak sepenuhnya. Hanya beberapa saja yang terlihat sama.
Kejangggalan yang membingungkan semakin menjadi saat dua bola mata indah Nabila membulat sempurna tanda terkejut saat tak sengaja bersitatap dengan mata elang milik pria itu, dia juga membulatkan mata kentara sekali jika sama terkejutnya.
1 detik….
2 detik….
3 detik…
Nabila segera memalingkan wajah dan merapalkan istigfar berkali-kali dalam hati, saat merasakan deru jantung nya semakin berdetak tak terkendali.
Lalu terdengar suara Laki-laki itu berdehem, ” Ekhem. Permisi saya mau mengangkat Umi, bisa anda memberikanya pada saya?” Ucapnya datar namun sanggup memporak porandakan isi fikiran Nabila yang memang sudah sangat semrawut sedari tadi.
Nabila menoleh, mengangguk kemudian tertegun saat mendengar suara milik orang itu. ” I..iya….silahkan.” jawab Nabila terbata karena gugup.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung mengambil alih Umi Khadijah dari pundak Nabila berniat untuk menggendongnya, tapi tiba-tiba saja telapak tangan pria tersebut malah menyentuh salah satu tangan Nabila yang menempel di punggung mantan calon mertuanya itu secara tak sengaja.
Niat hati ingin membantu dengan sidikit mengangkat Umi Khadijah agar pria itu tak kesusahan, tapi kini malah Hati nya sendiri yang membutuhkan bantuan untuk meredamkan seluruh gejolak tubuh nya yang tiba-tiba tak singkron, terutama untuk kinerja jantung dan hatinya.
Nabila langsung menarik telapak tanganya salah tingkah lalu dengan cepat menghadapkan badanya lurus ke depan membuang muka, untuk menenangkan debar jantung yang tiba-tiba saja terpacu seperti orang sedang lari maroton ber kilo-kilo meter.
Tapi bukanya semakin stabil, deguban itu malah bertambah menggila saat pria yang belum di ketahui nama nya itu kehilangan keseimbangan tubuhnya dan tersungkur ke arah Nabila, mengikis jarak di antara mereka yang bahkan deru nafas nya pun begitu terasa di wajah ayu miliknya.
Sejenak waktu seperti berhenti berputar.
Mata mereka kembali bertemu, seketika Nabila membisu tubuh nya serasa di paku di tempat, diikuti alunan dada nya yang berdentam keras. Jika jantungnya bisa meledak mungkin sudah dari tadi dia akan meledak di detik pertama saat melihat laki-laki tersebut.
Mimpi apa dia semalam!! kenapa sedari pagi dirinya selalu di kaitkan dengan orang-orang yang tak ingin sekali ia temui?
Di mulai dari ibu-ibu kompleks yang tiba-tiba saja membahas tentang Pondok Pesantren yang penuh kenangan, lalu secara tiba-tiba bertemu Umi Khadijah yang sebelumnya tak pernah ketemu sekalipun meski hidup di kota yang sama, hingga di pertemukan dengan sosok laki-laki yang kalau di perhatikan lebih dalam lagi sekelibat mirip sekali dengan Ustadz Adam nya.
Astagfirullah, ya ALLAH... apakah ini mimpi? jika iya. Tolong segera bangunkan hamba!!!
Bunyi dentaman pintu mobil yang di tutup membuat Nabila menggercap cepat, menyadarkan dirinya dari potongan-potongan kejadian yang tak masuk akal. Rasanya, seperti di bakar dengan api yang sangat panas lalu di guyur dengan air bongkahan es batu, semua perasaan dari rasa sakit, gugup, bingung, lega, semuanya melebur jadi satu.
Nabila menggeleng bingung." Astagfirullahal Adzim,, apa lagi ini ya ALLAH ! " gumam nya lirih pada diri nya sendiri sembari menatap punggung laki-laki tersebut yang lamban laun semakin menjauh.
Nabila masih terdiam kaku di tempatnya, memincet-mincet ujung hidungnya sambil menunduk karena merasa pusing.
Cukup lama ia dalam posisinya, hingga suara pintu mobil terbuka membuatnya menoleh.
Klek !
Nabila menoleh sebentar ke sumber suara seraya menghembuskan napas nya kasar, lalu kembali menunduk saat melihat siap orang yang membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Dan siapa lagi kalau bukan sahabat nya Zahra !
"Bil... kam_.." ucap Zahra terhenti, saat melihat mata Nabila berkaca-kaca.
" Ra, apa urusan di dalam sudah selesai? aku ingin segera pulang." potong Nabila dengan masih memijat-mijat pangkal hidung nya lelah.
Zahra hanya diam tanpa menjawab, kemudian menutup kembali pintu mobil dan berjalan ke arah kemudi mengambil tas dan kunci nya lalu keluar lagi untuk menghampiri Nabila yang sedang menyandarkan kepalanya sambil menutup mata.
" Ayo !! " ajak Zahra langsung menarik tangan Nabila untuk keluar.
Nabila tersentak kaget, mengernyitkan dahinya bingung. " Kenapa kamu malah tarik aku keluar !! aku maunya pulang Ra! pulang !! " teriak Nabila dengan tak terkendali sampai membuat beberapa santriwati yang ada di sekitar melihat ke arah mereka.
Mendengar teriakan Nabila yang seperti kesetanan, Zahrapun berhenti, melepas genggaman tanganya kasar lalu menatap mata Nabila dengan tajam.
" Jangan jadi pengecut !" skakmat Zahra.
"What? " Nabila mengernyit bingung dengan ucapan Zahra." Apa maksud kamu bilang aku pengecut Ra? " lanjutnya tak mengerti dengan ucapan Zahra yang tak terima di tuduh pengecut.
Zahra mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya kasar karena frustasi, sudah tak tahu lagi bagaimana cara menasehati perempuan keras kepala itu. " Sudah aku bilang, cukup hadapi ini semua, coba lah berdamai dengan hati dan fikiranmu dan teguhkan pendirianmu ! lagian mau sampai kapan kamu akan menghindar hah? " Ucap nya terhenti, menghela napas nya kasar seperti menahan sesak di dada lalu kembali bersuara " Kenangan itu bukan untuk dihindari tapi di hadapi,tak peduli bagaimana rasanya hati nanti, yang pasti ini semua harus terlewati Bil." jabarnya pada Nabila tanpa berkaca pada dirinya sendiri.
Mendengar penuturan Zahra yang memang benar adanya, dia bukanya merenungi setiap kata-kata nya, Tapi malah menampilkan seringai kecil seperti mengejek di bibir tebalnya itu.
" Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan tadi Ra ! hem? "
Zahra menganggung mantap, lalu kembali meraih tangan Nabila. " Iya aku sadar, sesadar-sadarnya. Mungkin sekarang kamu fikir aku seperti menjilat ludahku sendiri saat mengatakan itu ke kamu, tapi itu aku lakukan karena tak ingin melihatmu menjadi wanita pengecut seperti aku." jawab Zahra dengan suara lantang tapi berkaca-kaca, membuat Nabila yang mendengarnya juga ikutan berkabut.
Nabila langsung memeluk Zahra dengan erat, tak ingin lagi mendengar ucapanya yang ngaco itu. " Oke, oke !! kita mampir ke dalam sebentar lalu pulang. " ucap Nabila pasrah di dalam pelukan.
Zahra menggeleng samar, lalu menguraikan pelukanya dan menatap Nabila dengan senyuman lebar " Tapi seperti nya takdir menginginkan kita lebih lama di sini Bil." Balas Zahra dengan memundurkan Badanya kebelakang semakin cepat dan cepat hingga berbalik membelakangi Nabila lalu berlalari kecil.
__ADS_1
Nabila menyipitkan mata nya saat melihat Zahra tertawa tanpa dosa sambil merapikan sampiran tas nya dengan kesal, lalu sedikit berjalan cepat untuk mengapai Zahra yang semakin menjauh. " Maksut nya apa Ra? " tanya Nabila sembari berteriak mengejar Zahra, yang hanya di balas dengan gelak tawa oleh wanita cerewet itu.
Dan begitulah uniknya persahabatan mereka, selalu saling menyakiti hati masing-masing, hanya untuk membahagiakan satu sama lain.