
Ada yang patah, tapi bukan ranting.
Ada yang tumbuh, tapi bukan Cinta.
Ada yang rindu, tapi bukan siapa-siapa.
Cuaca mendung membuat suasana di luar terlihat remang-remang walaupun waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
Sisa bekas hujan tadi subuh masih terasa, mengakibatkan genangan air di sana-sini dan macet. Alhasil karena tak ingin lebih lama lagi telat ke rumah sakit, Nabila terpaksa mengendarai mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata setelah tadi sempat terjebak kemacetan di jalanan ber jam-jam.
Dia melirik jam tangan cartier milik nya saat mobil yang ia kendarai sudah masuk ke pekarangan area parkir rumah sakit dan mendarat dengan tepat.
Ciiiiittt……….
Sebuah mobil Mini Coper merah berhenti dengan pas, dan menampilkan sosok Nabila yang selalu terlihat Cantik dan anggun meski umur sudah hampir memasuki kepala tiga, namun itu tak melunturkan sedikitpun pesonanya.
Dia berjalan memasuki koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa, mengerlingkan mata nya waspada. Belum siap jika harus ketemu dokter Aisyah ataupun dokter Iqbal, dua sosok yang ingin di hindarinya hari ini karena tak mau mendengar omelanya sepagi ini.
“Ya ALLAH, kenapa harus se rumit ini sih? Ini semua gara-gara dokter Iqbal ! “ gerutunya kesal sendiri sambil terus berjalan menuju ruang praktek nya dengan terburu-buru.
Nabila sudah sampai di depan pintu ruangan nya, ingin membuka tapi terhenti saat tak sengaja mendengar bunyi gusrak-gusruk di sekitarnya.
“ Guys, ada dokter Iqbal ada dokter Iqbal. Ganteng banget anjiiir”
“ Iya, ganteng nya gak ada obat !! over dosis gue lihat nya.“
“ Ini nih, devinisi dari kata Nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Yang sebenar-benar nya.”
" Kenapa setiap hari makin meresahkan saja sih dokter satu itu. "
Matanya melirik ke arah jarum jam dua belas, dan menemukan beberapa suster saat ini sedang bergerombol di salah satu meja yang berada di tengah ruangan dengan ke adaan tenang dan terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tak ada yang terlihat sedang berbicara atau bergosip.
Apa Nabila salah mendengar?
Dia menggeleng samar saat mata nya tak menemukan ada sesuatu yang aneh di sekitar nya, mungkin hanya perasaanya saja efek kelamaan di dalam mobil.
Nabila ingin membuka pintu di hadapan nya dengan segera, tapi saat ia ingin mendorong pintu tersebut, tiba-tiba panggilan aneh dari seseorang di belakang membuat gerakanya terhenti.
“ Bee.”
Nabila memejamkan mata, sungguh ia belum siap jika harus bersitatap dengan pemilik dari suara itu se pagi ini. Dia menghembuskan napas kasar sebelum menoleh ke arah sumber suara.
Bahkan sebelum melihat wajah orang tersebut pun Nabila tahu siapa gerangan orang yang memanggilnya dengan sebutan itu.
Meski sudah di larang dengan keras, tapi manusia menyebalkan itu tetap saja melakukan nya. Membuat nya risih karena selalu tak tau situasi dan kondisi saat memanggil nya dengan panggilan tersebut.
Seperti saat ini contoh nya yang asal main panggil saja dengan sebutan nama yang bikin Nabila geli setengah mati itu di halayak ramai, bahkan tak segan memanggilnya seperti itu meski di dalam ruangan rapat bulanan sekalipun.
Dan siapa lagi kalau bukan pria posesiv bernama dokter Iqbal yang ganteng nya tidak kira-kira itu ? Pujaan nya para suster maupun dokter jomblo yang ada di rumah sakit ini kecuali Nabila tentunya.
__ADS_1
Pantas saja Dia tadi seperti mendengar suara bisik –bisik semua orang, ternyata gara-gara pria nyebelin ini toh penyebab nya?
“ Sudah aku bilang, berhenti panggil aku dengan panggilan itu, gimana kalau semua orang ngira kita itu ada apa-apa nya?” protes Nabila sembari memutar badan nya ke belakang tak terima.
Dokter Iqbal tersenyum lebar, mengabaikan gerutuan Nabila dan malah gagal fokus ke arah wajah gadis itu yang entah mengapa hari ini terlihat lebih bersinar dari biasa nya.
” Malah bagus donk ! emang aku dari dulu berharap kita segera ada apa-apa nya.” Jawab nya santai sedikit menggoda, degan terus memandang bola mata indah yang di baluti dengan bulu mata lentik alami khas seorang Nabila.
“ Iissh,,,,kakak ! apa-apaan sih? Gak lucu ihh.” balas nya menggerutu kesal, tapi terlihat lucu.
Nabila menengadarkan pandanganya ke arah meja yang di penuhi oleh para perawat, memastikan jika obrolan di antara mereka tak sampai terdengar oleh orang-orang yang ada di depan sana. Karena kalau iya maka habislah sudah ketenangan Nabila untuk seminggu ke depan.
" Huft. "
Nabila menghembuskan napas nya lega, saat melihat seperti nya para fans-fans dokter Iqbal itu sedang sibuk dengan urusan masing-masing." Kak, mending kakak kembali ke ruangan gih sebelum aku masuk akun lembe-lambean di grup Whatshap hari ini"
" Kamu usir aku Bee? "
" Ck..., ya ampun kak, udah aku bilang jangan aku kamu-an jika di depan orang-orang ! malu ih kalau mereka dengar. " Decak Nabila kesal dengan makhluk satu ini yang bebel nya minta ampuni.
“ Aku suka sinar mata kamu hari ini Bee, terlihat cantik, akhir nya setelah sekian lama aku bisa melihat pancaran itu lagi.”
Bukanya menjawab ucapan Nabila, dokter Iqbal malah membalas nya dengan ucapan absurd nya lagi.
" Heh? " Sahut Nabila tak mengerti dengan arah pembicaraan kali ini.
Dokter ganteng itu terus saja mentap ke arah Nabila penuh arti, rasa rindu pada sosok Nabila yang dulu sedikit ter obati. Sebab entah mengapa sorot mata perempuan yang ada di hadapan nya saat ini seperti mengingatkan ia dengan satu orang gadis di masa lalu yang sekarang keberadaanya entah di mana.
Nabila sedikit tersipu dengan ucapan dokter Iqbal yang penuh rayu itu, membuang muka nya ke sembarang arah.“ Apa sih kak, pagi-pagi udah gombal aja gak mempan buat aku tahu gak? , udah ah mau masuk dulu.” Balas Nabila dengan masih tak mau melihat ke arah dokter Iqbal dan lansung membuka pintu di hadapanya.
“ Tunggu ! “ sargah nya dengan menahan pintu tersebut.
“ Apa lagi?”
“ Apa teman kamu yang bernama_..Siapa? aku lupa !! “
“Zahra.” sahut Nabila cepat.
“ Ah…iya, Zahra. Apa dia jadi mengajukan koas nya di sini ? ”
Mandengar Nama Sahabat nya itu di sebut, langsung membuat mood Nabila kembali melonjak dan bersemangat.
“ Ah iya kak, dia tadi tak suruh kesini sekitar jam sepuluhan, jadi aku mohon sama kakak nanti tolong Acc ya kak. Pliiisss ” rengek Nabila dengan menelangkupkan tangan nya di depan dada.
Melihat ekspresi Nabila yang seperti anak kecil yang sedang meminta mainan, Dokter Iqbal memicingkan mata nya jengah, heran dengan sikap Nabila yang gampang sekali berubah-ubah.
“ Gililiran soal sahabat nya saja langsung bahagia begini? Padahal tadi saja muka nya udah kayak mau makan orang.” Ejek nya pada wanita ber khimar marun itu, membuat sang empunya kembali memasang wajah kesal dua kali lipat dari sebelum nya dan langsung masuk ke dalam ruangan tanpa kata mengabaikan keberadaan lawan bicaranya.
Melihat kekesalan Nabila seketika dokter Iqbal di dera kepanikan dan langsung melangkah tergesa mengikuti Nabila dari belakang.
__ADS_1
“ Oke, oke. Aku bakalan Acc teman kamu itu tapi ada syarat nya.”
Nabila berhenti. “ Syarat ?” Ulang nya lagi sambil membalikan badan nya.
“ Iya syarat, mau atau tidak?” tawar dokter Iqbal mencoba peruntungan, meski tanpa syaratpun sebenar nya dia akan menyetujui nya, apalagi itu permohonan langsung dari Nabila yang selama ini ia kejar-kejar cinta nya.
Nabila mengernyitkan dahi nya menilisik menerka, sebenarnya apa isi fikiran dari pria di hadapan nya saat ini? jika dia meng iyakan apa itu tidak apa-apa?
Ah, masa bodo lah dengan syarat tersebut, karena sekarang yang terpenting adalah kelancaran sahabat nya agar bisa koas di sini bersamanya, untuk yang lain-lain di pikir nanti saja.
“Oke. Tapi aku gak mau yang aneh-aneh loh ya .” Jawab Nabila menyetujui.
Dokter Iqbal tersenyum,“ Oke Deal “ ia menjulurkan tangan nya berniat menjabat tangan Nabila namun tak kunjung berbalas, sangking bahagia nya ia sampai lupa jika wanita di hadapan nya ini pantang menyentuh tangan laki-laki lain yang bukan makhram nya.
Menambah rasa Cinta nya pada Nabila semakin bertambah dan meningkat saja.
Nabila hanya membalas dengan anggukan. “ Hemm, ya udah balik gih aku dah mau Open.” Tutur Nabila sebelum terdengar pintu ruangan di ketuk dari luar.
Tok…tok…tok…!!
Nabila dan dokter Iqbal menoleh bersamaan, menemukan suster Naomi berdiri di sana dengan membawa satu buah buku jurnal yang berada di genggaman tangan nya.
“ Permisi dok, bisa kita open sekarang? Soal nya para pasien sudah mulai berdatangan dan menunggu.” Ucap nya sopan yqng langsung di balas anggukan oleh Nabila.
“ Iya sus, mulai sekarang aja lagian kita udah selesai kok bicara nya, bukan begitu dokter Iqbal?” jawab nya dengan memicingkan mata nya bertanya pada orang yang masih saja masih tak bergeming dari tempat nya.
Dokter Iqbal mengangguk paham, sudah mengerti jika dirinya di usir secara halus. Dan itu tanda nya ia harus segera bergegas meninggalkan ruangan tersebut jika tak ingin rencana nya gagal total
"Oke. oke fine. aku keluar. " Jawab nya dengan melangkahkan kaki nya ke arah pintu dan menganggkat ke dua tangan nya ke atas, tapi masih menghadapkan badan nya pada Nabila.
Nabila hanya bisa balas menatap tajam ke arah laki-laki super aneh itu dengan tajam seperti memperingati yang malah di balas dengan cengiran manis dari pria di hadapan nya.
" Dokter Iqbal !! " Geram Nabila kesal.
" Aku suka senyum kamu hari ini Bee, terlihat manis. " jawab nya absurd.
" Aku hitung sampai tiga, kalau gak cepetan keluar aku bakalan batalin semua nya. " Ancam nya tak sungguh-sungguh.
Satu.......
Dua.......
Tig..............
Klek...
Suara pintu tertutup rapat, meninggalkan bau harum parfum nya saja yang masih tertinggal di ruangan tersebut.
Nabila menghembuskan napas nya lega, lalu melangkah ke meja kerja seraya menyunggingkan senyum geli pada kelakuan makhluk ngeselin seperti nya, tapi sangat cukup untuk menghiburnya selama ini.
__ADS_1
"Dasar!! dokter aneh. " Gumam nya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.