
Nabila melirik arloji hitam di pegelangan tangan kiri nya untuk kesekian kali. Lagi, wanita yang sudah berganti pakaian dengan gamis syar’i warna purple itu menghembuskan napas saat kendaraan yang di tunggu nya tak kunjung datang.
Bug !
Aouw !!
Nabila meringis kecil saat sebuah tas keluaran Chanel berwarna hitam mendarat mulus di punggung nya. Dia sudah hafal betul siapa pelaku dari perbuatan barusan tanpa perlu menoleh ke arah sumber suara.
“Lo kenapa sih? Dateng-dateng kok langsung baku hantam saja, sakit tahu gak ?” protes si Nabila dengan memberengut kesal.
“Biarin ! Habis nya lo main suruh-suruh aja tanpa pemberitahuan sebelum nya, lagian ngapain sih Suruh gue ganti baju segala? Mau kemana?” tanya Zahra penasaran.
“Udah, lo ikut aja. Nanti juga bakalan tahu sendiri.” jawab Nabila sambil clingak-clinguk ke arah jalanan menunggu satu lagi teman nya.
Melihat Nabila menoleh ke kanan dan kiri membuat Zahra juga ikut melihat jalanan dengan seksama, lalu memperhatikan Nabila mengernyit bingung. Sebenar nya apasih yang di cari sama sahabat nya tersebut ?
“Lo lagi nunggu siapa sih Bil, kok kelihatanya cemas gitu?” tanya Zahra bingung.
“ Si Vika. Tuh anak kemana aja sih kok belum nyampai-nyampai dari tadi? Heran deh.” Balas Nabila enteng masih dengan memperhatikan jalanan sore yang lumayan ramai.
“What ?” teriak Zahra tak menyangka. “ Bukanya tuh anak lagi di jogja? Kok malah lo tungguin di jawa timur. Gak salah lo Bil ?”
Nabila melirik ke arah Zahra dengan tatapan jengah, malas memberi tahu. Tapi… melihat raut muka gadis manis itu yang sangat penasaran ia jadi tak tega sendiri.
“Tadi siang dia Otw kesini, sengaja gak kasih tahu lo biar surprise kata nya.” Jelas nya pada Zahra.
Zahra berdecak lirih “Iyuuh..ngapain sih tu cewek slebor datang kemari? Begayaan pingin ngasih kejutan segala lagi ? Emang dia kira hari ini ulang tahun gue apa? Gak ngerti deh.” Gerutu nya kesal sendiri.
Mendengar omelan Zahra dia hanya terkekeh, menggidikan bahu pura-pura tak tahu dengan rencana yang sebenar nya sudah di ataur oleh Vika untuk sahabat nya yang satu itu.
“Udah gak usah ngomel, berkurang loh nanti cantik nya.”
Nabila kini lebih memperhatikan wajah Zahra dengan teliti, kalau di lihat-lihat temanya yang satu itu kelihatan muram sekali hari ini tak seperti biasanya.
”Kenapa muka lo? Asem banget gak kayak biasanya.” Tanya Nabila sambil meraih dagu Zahra sambil di bolak-balik , kesana-kemari seperti meneliti.
“Hiks…hiks….Huwa ! gue menderita Bil di siksa sama dokter Davi “ teriak Zahra berpura-pura menangis seolah paling menderita, yang di buat se_dramatis mungkin untuk menggoda Nabila.
__ADS_1
Davi Muhammad Zhammi, salah satu dokter ganteng yang bekerja di rumah sakit itu sekaligus dokter pembimbing Zahra di masa koas nya untuk satu setengah tahun ke depan. Begitu mengayomi dan juga ramah pada setiap calon dokter di rumah sakit itu.
“Apaan sih lo Ra ? gak lucu ih. “ ucap nya sembari menghempaskan pipi kanan Nabila pelan seperti menampar.
Zahra terkesiap “ Loh kok malah di tampar sih? Bukanya di tenangin. Dasar sahabat durhaka ! gue pulang nih.” Ancam Zahra masih berusaha ingin menggoda.
Wanita yang sedang mengenakan jilbab hitam itu pura-pura ingin meninggalkan tempat tersebut. Tapi baru dua langkah, laju jalanya langsung di hentikan oleh Nabila.
“ Gitu aja ngambek, harus nya itu gue yang kesel di sini karena udah lo godain dari tadi. Lagian gue mana percaya kalo dokter Davi bikin lo sengsara? bukanya doi lagi PDKT an sama lo?” tunjuk Nabila ke arah Zahra.
Zahra merapikan tas bawaanya dengan menarik rantai ke bahu dengan kasar. ” Huft…lo gak tahu aja Bil dokter Davi itu………..”
Ciiiit…….
Brak !
Terlalu sibuk beradu argument, Nabila dan juga Zahra sampai tak menyadari jika mobil BMW keluaran terbaru berwarna kuning ngejreng kini sudah berhenti di hadapan mereka dengan sedikit menabrak trotoar jalanan. Namun tidak begitu keras.
Zahra tersenyum sungging saat melihat warna Mobil kuning itu yang begitu kampungan. "Norak !" begitu pikir nya, lalu membuang muka kesamping. Sudah tahu jika kejadian barusan, merupakan unsur kesengajaan. Mungkin karena si pemilik Mobil ingin menengahi mereka berdua yang sejak tadi terus saja berdebat gak penting.
Pintu Mobil itupun terbuka.
Nabila memperhatikan penampilan sahabat nya yang satu itu dari atas sampai ke bawah, lalu menggeleng kecil.
“Astagfirullah Vik, lo mau ke pantai atau bagaimana? udah gue bilangin pakai baju yang sopan kalau bisa plus hijab nya juga ! kenapa loh malah pakai tengtop begini? Lagian gak kedinginan apa musim hujan begini kok buka-bukaan.”Ucap Nabila dengan satu tarikan napas “ Kita itu mau ke pondok pesantren ya, bukanya mau Clubbing. Yang bener aja lo pakai baju model beginian? Kelihatan udel lo sana-sini, Ogah gue ngajakin elo.” dumel Nabila tiada hentipada Vika.
Zahra yang dari tadi hanya diam saja saat melihat si ondel-ondel satu itu di ceramahi oleh Nabila tiada henti, kini malah terbelalak kaget.
“Loh ? jadi kita mau ke pasantren Bil, ngapain?” tanya Zahra dibuat terkejut.
Nabila menghembuskan napas nya kasar. Mulai merasa lelah jika sudah di hadapkan pada dua makhluk manusia yang serupa namun tak sama, tapi sangat kompak membuat nya sakit kepala dan mules seketika.
Nabila mengangguk " Hu'emb"
"Mau ngapain? bukanya lo udah tolak itu lamaran secara mentah-mentah? "
Zahra kebingungan sendiri dengan setiap kata-kata yang di lontarkan oleh sahabat nya itu. Begitu penuh misteri dan teka-teki sedari tadi, kenapa gak to the pint aja kayak biasanya sih? kenapa mesti di bikin mikir dulu, nambahin penderitaanya saja.
__ADS_1
" Ya elah Bil, gue kirain kalian berdua mau ngajakin jalan-jalan kemana gitu? eh... gak tahu nya malah ke pondok pesantren. Tahu gitu kan gue milih pakek baju dan jilbab kedodoran kayak lo ber dua tadi di rumah."
Zahra berdecak lirih " ck, emang dasar temen gak ada akhlak lo. lagian mau sampai kapan sih pamer aurat kayak gitu terus? gak ada niatan gitu buat insyaf biar rada adem gitu gue lihat nya? ngak ngerti lagi deh gue Vik sama lo ! "
Vika menatap Zahra dengan tatapan tajam. " Tumben omongan lo nylekit banget ya cak ! " jawab Vika tak kalah sengit.
Bukanya Vika tak mau behijab seperti Nabila dan juga Zahra, dalam hati kecil nya ia punya ke inginan tersebut. tapi ya, belum dapat hidayah saja untuk Istiqomah menutup seluruh aurat nya. Sebab dia tak mau jika nanti sudah menutup seluruh badanya, wanita ber body sexy itu main buka tutup seenak jidat sendiri.
Jadi untuk masalah itu, Vika masih butuh waktu untuk memantapkan hati. Se simpel itu pemikiranya.
sepuluh menit sudah berlalu, Nabila masih melihat ke dua sahabat nya saling mengejek satu sama lain tiada henti. Padahal jika saling berjahuan mereka saling merindu layak nya sepasang kekasih yang terpisah jauh.
Namun lihat ? saat dekat seperti ini, ke duanya malah saling mencaci Membuat migren Nabila tiba-tiba kambuh. Yang langsung memijat-mijat pangkal hidung merasa frustasi.
“ Oke..oke Stop ! gue nyerah sama lo berdua.” Intrupsi Nabila sambil melambaikan ke dua tanganya ke atas merasa tak sanggup lagi menyaksikan perdebatan mereka yang sebenar nya sama-sama saling menyangi menahan kangen. " Gue gak kuat ! "
Kedua nya menoleh ke arah Nabila dengan tatapan sengit. " Lo kira kita berdua setan yang ada di acara uji nyali dalam televisi ! sampai bilang gak kuat segala? " protes Zahra yang di indahkan oleh oleh si vika sependapat.
Kalau sudah begini saja, mereka kompak !
Nabila ingin membuka suara membalas protesan Zahra, tapi ucapanya tertahan di udara saat mata nya tak sengaja melihat sebuah Mobil Alpard putih berhenti di belakang Mobil Vika. Menampilkan seorang bapak-bapak paruh baya sedang berjalan semakin mendekat.
" Asalamualikum, permisi non Nabila. Saya pak Tarno supir pribadinya Gus Bhintar."
Ketiga gadis itu menoleh, berhenti berdebat karena teralihkan oleh kedatangan supir tersebut.
" Waalaikum salam" ucap mereka ber tiga bersamaan.
" Oh iya Pak, kita langsung jalan aja ya...soalnya takut nanti keburu magrib. " jawab Nabila sopan. Melenggang masuk ke arah Mobil putih itu duluan, meninggalkan Zahra dan Vika di belakang.
Zahra terkesiap, otomatis langsung berlari kecil mengikuti Nabila. "Bil tungguin gue ih..!! " teriak Zahra kesal.
"Loh... loh... kok gue di tinggal sih? ini Mobil gue gimana Woi..!? " timpal Vika tak kalah kerasnya dari teriakan si Zahra.
"Bakar aja sana! Bakar. " kompor Zahra, memancing kemarahan si Vika, kemudian memanasinya dengan merangkul pundak Nabila dan bersama-sama masuk kedalam Mobil.
Tak lupa dia mengejek Vika dengan menjulurkan lidah nya agar si perempuan tanpa hijab itu bertambah sebal.
__ADS_1
" Kalian tega! tega... tega...tega !! "