Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Muhammad Abay Al-Rasyid ( Abay)


__ADS_3

“ Jangan tegang ! “


Bahkan Zahra lebih gugup dari pada Nabila. Hanya Vika saja yang tampak sangat tenang, karena memang tak sepenuh nya tahu tentang kisah percintaan Nabila yang begitu rumit.


“Lo berdua itu pada kenapa sih, Kok mukanya tegang gitu ?”


“Diam ! “ Ucap Nabila dan juga Zahra bersamaan.


Vika langsung terbungkam, melipat bibir nya kedalam sambil menghentak kan kaki nya kesal. Merasa jadi kambing congek karena di sini dia sendiri yang tidak di kasih tahu apa-apa dengan permasalahan yang terjadi.


“Oke, oke ! gue diem !! puas kalian ? ” teriak nya memberenggut kesal.


Nabila dan Zahra membiarkan saja gerutuan Vika dengan kembali fokus ke arah depan, sebelum pertanyaan salah satu sahabat nya membuat mata Nabila teralihkan.


“Bil, lo beneran mau nikahin si Gus Bintar itu ?” tanya Zahra memastikan.


“Ya iya lah, yakin. Bukti nya dia mau nemuin si doi di pesantren “ sahut Vika judes.


Zahra melotot tajam ke arah Vika, mengisyaratkan dengan ekspresi wajah agar si cewek slebor itu diam saja.


Nabila mengangguk, “ Iya Ra.” kemudian mengalihkan wajah keluar jendela Mobil sembari meremas kedua tangan nya cemas.


Rasa-rasa nya hari ini seperti akan terjadi sesuatu yang besar, entah itu sebuah pertemuan,perpisahan, atau bisa jadi…….


Nabila menggeleng, memukul- mukul dada nya dengan pelan agar rasa sesak yang tiba-tiba datang segera berkurang.


Vika yang memang saat ini sedang duduk di sebelah Nabila, sadar lebih dulu dengan apa yang di lakukan Nabila sekarang.


“ Bil, ada apa ?” tanya Vika panik, langsung menarik tangan itu dari dada Nabila agar berhenti menyakiti diri sendiri.


Nabila hanya diam, tak mau menjawab.


Merasa ada yang aneh pada sahabat nya yang satu itu Vika pun melirik kebelakang ke arah Zahra.


“ Ra ? ” panggil nya seperti meminta jawaban ataupun penjelasan.


Dan Bukanya menjawab panggilan Vika, Zahra justru malah menyodorkan sebuah botol yang berisi air mineral ke arah Nabila.


“ Minum dulu gih, supaya lebih tenang.” Katanya sambil mengelus pundak Nabila pelan-pelan.


Nabila meraih botol pemberian Zahra, lalu menenggak nya seperti orang yang tidak minum seminggu dan menandaskan semuanya tanpa sisa.


“ Terimakasih Ra.” Ucapnya kemudian.


Vika merasa heran, untuk pertama kali dia melihat Nabila se kacau itu. Bertanya-tanya sebenar nya berapa banyak masalah yang sudah ia lewatkan selama ini? Sampai membuat nya terlihat bodoh sekali ! karena tak tahu apa-apa tentang apa saja yang di alami oleh sahabat nya itu.


Dan Sepertinya… dia nanti harus menodong jawaban nya dari si cicak di dinding. Karena jika harus bertanya ke orang yang bersangkutan langsung, rasanya percuma saja. Pasti pengalihan topik lagi yang akan di gunakan Nabila untuk menghindar.

__ADS_1


Setelah melihat Nabila sudah mulai tenang, Zahra mulai bertanya kembali.


“ Bil, gue mau tanya sekali lagi. Lo beneran udah yakin? ” ulang Zahra untuk yang ke dua kali nya.


Nabila masih diam, pikiran nya masih berkelana jauh entah sudah di mana. Jujur, sebenar nya dia ragu, tapi ya mau bagaimana lagi? memang hanya keputusan itu lah satu-satu nya jalan keluar untuk membahagiakan sang Bunda.


Meski Nabila sendiri tahu betul, betapa susah dan berantakan nya nanti kehidupan rumah tangga yang akan dia jalani.


“Yakin Ra, Bismillah demi Bunda.” jawab nya pada Zahra, di barengi dengan senyum palsu khas Nabila.


“Oke kalau begitu.”


Zahra menyerah, percuma saja mempengaruhi Nabila. Dia sungguh sangat keras kepala sekali Jika sudah menyangkut perihal keinginan dan tekat.


Mobil yang di kendari mereka kini sudah belok ke kanan. Memberi peringatan di otak Nabila jika pondok pesantren tinggal beberapa meter lagi.


Nabila menoleh ke arah Vika yang sekarang sudah mengganti pakaian nya dengan terusan gamis Syar’i milik Zahra dan menatap nya tersenyum.


“Subhanallah…kamu sangat cantik Vik dengan penampilanmu yang seperti ini.” Puji Nabila sambil menoleh ke arah Zahra, meminta persetujuan “ Iya kan Ra ?”


Zahra mengangguk kan kepala tersenyum tulus “ Iya Cantik banget.” Jawab nya sembari menjulurkan tangan untuk merapikan sedikit rambut yang mencuat ke luar dan memasukkan nya ke dalam jilbab.


Merasa mendapatkan perhatian yang begitu penuh dari ke dua sahabat nya Vika pun tersenyum, lalu meraih salah satu tangan mereka masing-masing untuk ia genggam.


“Terimakasih, karena kalian tak pernah membeda_bedakan teman meski penampilanku yang tak sama dengan kalian. Doain gue agar segera mendapat hidayah, berhijrah seperti lo pada, hanya karena Allah. Bukan yang lain “ Tutur Vika di barengi hati yang membuncah bahagia.


“Amin.” Jawab Nabila yang di susul Zahra kemudian.


Mata Nabila langsung terpaku pada sosok yang tengah berjalan membawa sebuah payung berwarna hitam besar ke arah Mobil yang dia tumpangi. Seketika Air mata Nabila meluruh tak terbendung, bahkan ia nyaris berteriak sangking tak kuasa nya melihat perawakan dari bocah laki-laki itu.


Dia masih tak menyangka jika kegundahan yang di merasakan nya sejak tadi ini lah penyebanya, akhir nya bisa melihat wajah itu lagi setelah beberapa tahun, bulan, dan hari terlewati.


“Abay ?” sebut Nabila tanpa mengalihkan pandanganya sedikitpun dari bocah si pemilik nama tersebut.


Rasa Rindu pada sosok kecil itu kini sedikit terobati, bersyukur pada sang ilahi ternyata Allah masih berbaik hati memperkenankan Nabila untuk kembali bertemu dengan nya lagi, meski dengan pergulatan hati sejak tadi.


Zahra menoleh, mengikuti kemana arah mata Nabila memandang.


“ Iya Bil itu Abay, anakmu.” Sahut Zahra terpana.


Mata Nabila enggan terlepas dari nya, mengingat_ingat berapakah sekarang umur bocah laki-laki tersebut ? mengapa badan nya sudah setinggi itu. Hampir saja ia tak mengenalinya tadi.


“Dia tinggi sekali dan tampan seperti Abi nya.” ucap Nabila dengan suara datar.


Bahagia,sedih dan haru. Kini menyeruak keluar dari dalam dada, ingin sekali langsung mendekap tubuh itu dengan segera.


“Apa ! lo punya Anak? sama siapa !! ” teriak Vika heboh sendiri, " Dan itu.....?" tunjuk Vika pada bocah laki-laki yang kian mendekat."

__ADS_1


Nabila hanya mengangguk mengakui.


Sedangkan Zahra langsung membekap mulut si Vika dengan cepat, berbisik lirih tepat di telinga


" Iya_in aja, nanti gue bakal jelasin. " suruh zahra penuh penekanan yang di indahkan langsung oleh Vika.


" Hah !.... hah ... hah...!! " Suara Vika terengah, meraup oksigen sebanyak-banyak nya setelah tadi sempat terhenti oleh telapak tangan Zahra.


Nabila mengedipkan mata lumayan lama, merasai tetes demi tetes air yang keluar dari kedua mata nya dengan keharuan yang menyelimuti.


Seharusnya dia tak se_emosional ini hanya karena melihat Anak itu, yang setatusnya bahkan bukan siapa-siapa bagi Nabila. Tapi urusan dengan hati...siapa yang dapat mengerti jika bukan diri sendiri dan sang ilahi saja yang tahu?


Nabila masih ingat, saat Abay memanggil nya dengan sebutan 'Ami' untuk pertama kali nya. Satu kata tapi begitu mengandung banyak makna, membuat nya terkejut sekaligus Syok pada waktu itu. Tapi aneh nya sangat membuat Nabila bahagia.


Dia di tenggelamkan di sorot mata nya yang teduh, seperti membawa sebuah pengharapan untuk hati Nabila yang masih hancur kala itu.


Senyum lucu dan cara bicara Abay yang cadel, bagaikan hiburan tersendiri untuk Nabila. Mengikis rasa benci yang telah banyak di torehkan oleh Abi dari bocah mungil itu, dan menggantinya dengan banyak nya rasa cinta yang semakin menggebu untuk Ustadz Adam.


Andai saja hujan lebat di luar sana tak menghalangi, mungkin sekarang Nabila sudah berlari menubruk bocah laki-laki itu dan memeluk nya dengan erat.


Muhammad Abay Al- Rasyid begitulah nama lengkap nya. Satu-satu nya harta paling berharga yang di tinggalkan Ustadz Adam sebagai penanda jika Abay lah penerus dari keturunan Al-rasyid selanjut nya, seperti arti nama nya 'Abay' yang berarti Sang penerus keturunan.


Meski bukan terlahir langsung dari rahimnya, Nabila meyakini jika Abay adalah Anak nya. Dia begitu sangat menyayangi bocah itu sepenuh hati seperti darah daging nya sendiri.


Bukan karena Nabila mencintai Ustadz Adam, bukan ! melainkan daya tarik anak itu sendiri yang menuntun hati nya agar memberikan seisi semesta nya untuk Abay.


Bukankah itu suatu perasaan yang hanya bisa terbentuk dari hubungan ikatan batin seorang Ibu kepada anak? yang rela memberikan segalanya hanya untuk sang buah hati tercinta.


Apalagi sejak kecil, Anak nya itu sudah menyandang gelar yatim piatu. Di tinggal pergi oleh ke dua orang tua untuk selama-lamanya. jadi... tidak salah kan jika Nabila semakin ingin mencurahkan seluruh kasih sayang yang ia punya selain untuk sang Bunda, dia bagikan separuh untuk bocah itu.


Huft...... Abay nya yang malang.


Klik.


Pintu Mobil terbuka.


“ Ami.”


...Ada yang kangen Abay gak nih?...


...Masih pada ingat gak? sama sosok yang satu ini?...


...jika ada yang pingin tahu Abay itu gimana kalian bisa baca di Novel aku yang berjudul...


..." kulepas dengan ikhlas "...


...Bab 31 ya guys......

__ADS_1


...Selamat bernostalgia sama sosok yang satu ini....


...Enjoy !...


__ADS_2