Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Cinta tapi gengsi.


__ADS_3


Satu hal yang paling tidak disukai Nabila di dunia ini adalah melihat rencana yang sudah disusun matang olehnya berantakan. Segala perkiraan meleset, dan Nabila kebingun mencari cara untuk memperbaikinya.


Hari berganti di lalui Nabila dengan sangat berat. Rumah tangga yang baru berusia seumur jagung sudah memiliki masalah yang rumit.


Benteng pertahanan diri yang hampir terbuka kini kembali tertutup rapat, keduanya saling membisu tak ada satupun dari mereka yang mau memulai untuk bertegur sapa semenjak kejadian seminggu yang lalu.


Untung saja mereka sudah tak tinggal satu rumah dengan Umi khadijah dan Kyai Abdullah, jadi tak perlu berpura-pura baik-baik saja di hadapan para orang tua.


Karena dua hari setelah pertengkaran malam itu, Bhintara tiba-tiba saja mengajaknya untuk pindah rumah. Meski masih bertempat di area yang sama tapi setidaknya mereka sudah tinggal sendiri di sebuah rumah bergaya modern, lumayan besar yang bertempat tak jauh-jauh amat dari pondok pesantren.


Yang konon katanya rumah berlantai dua itu bisa berdiri megah dengan hasil jerih payah Bhintara sendiri, dari keuntunganya menggeluti bisnis di bidang kuliner sejak usianya masih muda.


Satu fakta lagi yang sekarang di ketahui Nabila, bahwa sang suami ternyata bukan hanya mengandalkan profesinya saja sebagai dosen untuk mencari Rizki. Melainkan juga merangkap menjadi seorang pengusaha di bidang kuliner, sama seperti keluarga Nabila di jogja.


Keduanya cocok bukan? Sama-sama menggeluti di bidang itu dan menjadikan profesi hanya sebagai bentuk penyaluran ilmu agar bermanfaat untuk umat.


Bhintara menjadi dosen hanya untuk menyalurkan pengetahuan yang di dapatkanya agar ilmunya bermanfaat dan tak sia-sia. Sedangkan Nabila menggunakan profesinya selain untuk menyembuhkan orang sakit, dia juga memanfaatkanya untuk membantu para pasien yang kesusahan atau kekurangan biyaya. Dengan diam-diam membayarkanya secara sembunyi-sembunyi.


Sungguh dua profesi mulia yang apabila di lakukanya dengan Lilahita’ala maka imbalanya adalah pahala.


Se-cocok itu memang mereka berdua.


Semuanya hampir sempurna, mereka tinggal menjalani hari-harinya dengan tenang dan bahagia. Tapi…kenapa mesti ada cobaan di tengah-tengahnya? Menghadirkan sosok Aulia di antara mereka. Membuat keduanya semakin berjarak saja.


Nabila akui, sekarang dia sudah mulai cinta pada Bhintara. Tapi…apakah laki-laki itu juga mencintainya? Dia tak tahu, karena belum pernah menanyakanya lagi pada suaminya semenjak hari itu.


Nabila pusing, benar-benar sangat pusing memikirkan hal itu. Sampai-sampai berimbas pada pola hidupnya yang berubah drastis dari yang tertata rapi menjadi tak beraturan. Makan telat dan tidur yang kurang itu sudah menjadi rutinitasnya selama seminggu ini.


“ Huek ! Huek ! Huek !!“


“ Bil, lo gak apa-apa? itu muka pucet banget loh?” Zahra bertanya khawatir. Dia langsung menghampiri Nabila yang baru keluar dari toilet kemudian menyodorkan tisu ke arahnya.


“ Gue baik-baik aja Ra, it's okey “ balas Nabila.


Mungkin kalau jika itu tidak Zahra, pasti lawan bicaranya akan percaya begitu saja dengan ucapan perempuan itu. Tapi ini sahabatnya sendiri loh ? yang biasanya selalu bisa mendeteksi kebohongan sekecil apapun, meski hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja.


Zahra menatap Nabila dengan tajam “ Kenapa? Lo ada masalah sama Gus Bhintar?”


Nabila menggeleng “ Gak lah, mana ada. Nikah juga baru satu bulan ya kali udah berantem aja Ra.” Jawab Nabila sambil mengalihkan pandanganya ke arah lain.


Melihat tingkah laku Nabila yang tak mau menatap wajahnya Zahra semakin yakin jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan sahabatnya itu “ Semuanya bisa di bicarakan baik-baik Bil sama Gus Bhintar, gak harus di simpen sendiri kayak gini. Ngerusak kesehatan sendiri tau gak lo ! “


Nabila hanya diam, masih membuang muka. Tapi meski begitu Zahra sudah bisa tahu jika tebakanya kali ini memang benar adanya.


Tanpa kata lagi Zahra langsung menarik tubuh lemas Nabila ke ruangan dokter Aisyah, selaku dokter kandungan di rumah sakit itu. Dia bahkan sampai lupa tak memberitahukanya dulu pada seorang perawat yang sedang berjaga di sana dan main langsung masuk saja.


“ Dokter Aisyah ! “ panggil Zahra panik. Membuat perempuan yang baru saja menyelesaikan cuci tanganya, menatap mereka berdua dengan kening berkerut.


“ Ra ! lo apaan sih ? gue itu cuman pusing dan muntah aja, di minumin obat juga paling langsung sembuh. Kenapa kok malah ke ruangan dokter Aisyah sih?” Gerutu Nabila di telinga Zahra.


Dokter Aisyah menatap dua dokter cantik itu dengan tatapan bingung. Memperhatikan keduanya bergantian “ Loh! Dokter Zahra kok malah di sini? Di cariin sama dokter Iqbal loh tadi.”


Zahra hanya membalasnya dengan senyum cengengesan


“ He..he.. Kabur bentar dokter. Urgent nih!. Tolong periksa Nabila ya dok, siapa tahu lagi Hamil. Soalnya dari tadi muntah-muntah terus”


Nabila langsung terbelalak kaget.


What ? Hamil ! jadi itu yang ada di fikiran Zahra sejak tadi.


Allahu akbar! Andai saja sahabatnya itu tahu, jika sampai sekarangpun dia masih perawan. Mungkin tak akan ada drama tarik-menarik di antara mereka seperti tadi. Pikirnya.


“ Ra, lo ngmong apaan sih? jangan ngawur deh ! gue itu cuman kurang tidur aja bukanya Hamil.” Ucap Nabila mencoba menjelaskan.


Bukanya mendapat dukungan atas penolakanya, kini malah Dokter Aisyah ikut-ikutan bersekutu dengan sahabatnya. Bahkan terlihat lebih panik dari Zahra, kemudian menggandeng tangan Nabila sampai ke brankar dan menidurkanya di sana.


“ Zahra ?” Panggil Dokter Aisyah.


“ Iya Dok “


“ Bisa tolong beliin teh anget dikantin? “ Suruhnya yang langsung di indahkan langsung oleh Zahra.

__ADS_1


“ Iya dokter,bisa.” Jawab Zahra.


Zahrapun keluar, meninggalkan mereka berdua saja di sana. Nabila tak tahu harus berbicara apa pada dokter Aisyah, ingin menceritakan keadaanya yang sebenarnya tapi dia tak tahu harus memulai dari mana. Hingga satu lontaran kalimat yang di ucapkan perempuan itu cukup membuat perutnya bergejolak kembali.


“ Embak tahu kamu gak hamil.” Ucap dokter Aisyah tepat sasaran.


Nabila mengernyitkan dahinya berfikir, dari mana dokter Aisyah bisa syakin itu jika dirinya tidak hamil? Apa dia…..


”Dokter, aku……”


“ Mana ada seorang wanita bisa tiba-tiba hamil tanpa proses pembuahan terlebih dahulu? “ selak wanita itu lagi sambil tersenyum miring “ Mbak yakin kamu masih perawan.” Lanjutnya lagi membuat Nabila bungkam.


Deg !


Jantung Nabila seketika berhenti beberapa detik, ada raut kecemasan di wajah pucatnya. Bertanya-tanya sudah seberapa jauhkah dokter Aisyah mengetahui tentang masalah rumah tanganya? Apa Bhintara sudah menceritakan semuanya pada pasangan pasutri itu, yang diketahuinya sebagai sahabat dari suaminya.


Dia saja ragu ingin memberitahukan masalahnya pada Zahra, yang notabenya sahabatnya dari kecil. Tapi kenapa laki-laki itu malah dengan gampangnya mengumbar masalah pada orang lain? Harusnya merekalah yang menyelesaikanya sendiri bukan malah mengumbarnya seperti ini


Lagian bukankah urusan rumah tangga itu harusnya di urus sendiri? Sebab saling membeberkan kesalahan pasangan pada orang luar itu sama saja membuka aibnya sendiri. Apa suaminya itu tak takut dosa?


Nabila malu. Malu sekali pada dokter Aisyah, kenapa harus wanita itu yang mengetahui? Mengapa tidak yang lain saja!


“ Pasti kamu berfikir, dari mana aku bisa tahu. Iya kan?”


Nabila menunduk murung, percuma saja mengelaknya. Toh dokter Aisyah juga sudah tahu juga.


Dokter Aisyah menggeleng tak habis fikir “ Sebenarnya…tadi aku hanya menebaknya saja. Eh, gak tahunya itu benar.”


Ya, dokter Aisyah tadi memang hanya menebaknya saja. Tapi melihat ekspresi Nabila yang seperti itu dia justru tak menyangka jika tebakanya kali ini ternyata benar adanya.


Nabila langsung mengangkat kepalanya.


“ Apa maksut dokter? “


Istri dari Ibrahim El Zaid itu terkekeh pelan melihat wajah Nabila yang begitu pucat semakin pucat pasi. Dia memang sedikit banyaknya sudah tahu tentang hubungan penganten baru itu dari cerita suaminya. Bahkan dokter Aisyah tahu banyak mengenahi rahasia yang di sembunyikan oleh Bhintara.


Tapi dia tak bisa begitu saja memberi tahu Nabila yang sebenarnya tentang alasan di balik itu semua, sebab sudah bukan lagi masuk dalam kapasitasnya.


Nabila hanya bisa membuang muka ke arah kaca yang terdapat di ruangan tersebut dengan mata berkabut, tanpa ingin membalas segala ucapan dari ibu satu anak itu.


Tubuhnya yang lemas, semakin tak bertenaga saja mendengar penuturan yang di lontarkan dokter Aisyah kepadanya. Dia ingin sekali bicara tapi sudah kepalang malas karena fikiranya sudah mulai lelah memikirkan itu semingguan ini.


Andai saja dokter Aisyah tahu, jika dirinya juga sebenarnya tersiksa dengan segala penolakan yang di tujukan untuk suaminya selama ini. mungkin saja perempuan itu akan lebih berfikir dua kali mengatakan itu semua.


Tiba-tiba Nabila mengubah posisinya yang tadi terlentang kini berubah membelakangi wanita itu “ Dokter bisakah anda tinggalkan aku sendiri? Aku hanya butuh tidur sekarang. “ mohonya lirih.


Sekarang yang Nabila butuhkan hanyalah istirahat saja, memejamkan mata seraya menaruh otaknya agar mau berhenti berfikir sejenak. Dia capek, letih sekali.


Bukan hanya hatinya saja yang sakit saat ini, melainkan seluruh tubuhnya juga ikutan berdemo menyerangnya berkali-kali. Meski dia sudah hampir tumbang tak dapat bangun lagi.


Dokter Aisyah terdiam sejenak, hanya bisa memperhatikan punggung Nabila dari tempatnya berdiri tanpa mau menyela kata lagi. Benar, sepertinya gadis ringkih itu sekarang ini memang sedang membutuhkan istrihat yang cukup untuk mengembalikan staminanya. Tapi………


“ Nabila…..”


“Dokter tolong….” Selak Nabila seraya memejamkan mata dengan posisi tubuh yang sama.


“ Oke Mbak akan keluar, tapi dengerin kata-kataku ini untuk yang terakhir kalinya. “


Suasana tiba-tiba menjadi hening.


Tapi..... tak lama, karena dokter Aisyah kini kembali bersuara. Membuat fikiran Nabila jadi resah, karena tiba-tiba sekelibat bayangan keadaan suaminya selama seminggu ini entah mengapa menghadirkan rasa iba di lubuk hatinya.


Nabila bisa melihat bahwa suaminya itu sama galaunya dengan dirinya selama ini, tapi mau bagaimana lagi? dia masih kecewa dengan kenyataan bahwa ternyata masih ada wanita kedua di hati suaminya.


“ Jangan terus-terusan menambah dosa dengan mendiamkan suami kamu seperti ini, kasihan dia Bil. Jika ada kesalah fahaman di antara kalian segerakanlah bicarakan denganya secara baik-baik , bukan malah lari-larian seperti ini." Dokter Aisayah mengambil jeda sejenak " Andai saja kamu tahu bahwa semingguan ini juga tak di lewati dengan gampang oleh Bhintara, dia juga sama sakitnya seperti kamu Bil. Tolong kali ini pakailah hatimu untuk sekali.... saja memahami posisi Bhintara suamimu. Insya Allah, Mbak yakin kedepanya rumah tangga kamu akan baik-baik saja. ”


Tes.


Tanpa bisa di cegah air mata Nabila menetes, hampir saja terisak jika suara pintu terbuka tak menghentikanya.


Ceklek !


“ Maaf dokter Aisyah, ini teh angetnya.” Seru Zahra dari arah belakang.

__ADS_1


Dokter Aisyah menoleh lalu tersenyum pada Zahra.


“ Taruh saja di meja dokter, tolong nanti langsung dikasihkan ke Nabila jika dia sudah bangun.”


Zahra mengangguk mengerti, kemudian berjalan ke arah meja kecil yang terletak di samping Bed menaruh minuman aget itu di sana.


“ Oh ya Dokter Zahra ! Saya mau istirahat sebentar makan siang di luar, kamu bisa kan jagain Nabila di sini.” Tanyanya sambil memasukan beberapa barang penting ke dalam tasnya.


“ Iya dokter bisa.” Jawab Zahra.


Wanita itu tersenyum “ Oke kalau begitu, saya duluan ya dok.Asalamualiakum.”


“ Waalaikum salam. “


Pintu kembali tertutup.


...***...


Zahra menghembuskan napas panjang setelah mendengarkan cerita dari Nabila. Ia memang sudah penasaran setengah mati dengan pembicaraan antara mereka berdua sejak tadi, sengaja tak langsung masuk dan lebih memilih menunggu di balik pintu mendengarkan semuanya.


Zahra mendekat ke tubuh Nabila langsung merenguhnya. “ Sabar ya Bil, semuanya udah terlanjur. Lo yang ikhlas, bisa saja di antara kalian memang ada sedikit salah faham. Benar apa yang di katan dokter Aisyah tadi, lo hanya perlu bicarakan Uneg-unegmu ke Gus Bhintar dengan kepala dingin. Gue rasa satu minggu udah lebih dari cukup buat saling intropeksi kesalahan Masing-masing.” Ucapnya sambil mengelus pundak Nabila yang tertunduk menahan air mata.


“ Gue yang takut sendiri Ra, belum siap jika harus mendengar kenyataan yang nantinya akan kembali menyakiti dan membuatku tumbang lagi seperti empat tahun yang lalu. Bener-bener belum siap! ” Lanjut cerita Nabila.


Zahra menguraikan pelukanya kemudian beralih mencengkram bahu Nabila seperti menyentak “ Gue tahu…tapi lo juga gak bisa kan Jika harus terus-terusan kayak gini ? Mau sampai kapan coba ngumpetin Uneg-uneg itu sendiri ! nyiksa diri banget tahu gak. "


Nabila meraup mukanya dengan ke dua telapak tanganya, merasa frustasi. “ terus gue harus gimana Ra? Gimana !! ” ucapnya dengan nada putus asa.


Tiba-tiba saja Zahra menyodorkan sebuah Handpone tepat ke wajah pemiliknya. “ Nih...., hubugin suami lo gih? Minta dia buat cepet-cepet pulang.”


Nabila langsung mendorong benda pipih itu dengan kasar sembari menggeleng-geleng cepat “ Apaan sih Ra, Enggak ah! ya kali dia yang bikin ulah masak gue yang kudu minta maaf duluan? Yang bener aja.”


Zahra terkesiap, hampir saja menjatuhkan Hp tersebut jika ia tak gesit menangkapnya.


“ Astagfirullah….astagfirullah, ya Allah. Ampuni segala dosa sahabat hamba yang banyak gengsi ini ya Allah.” Ucapnya mendramatisir keadaan dengan menengadahkan kedua tanganya ke depan.


“ Plis...jangan lebay deh, mau muntah lagi nih!” Sahut Nabilasambil menghempaskan tangan Zahra.


Zahra terkekeh melihat ekspresi Nabila yang begitu lucu, sudah tak sepucat tadi.


“ Udah deh Bil, sekarang itu bukan waktunya buat Gengsi-gengsian lagi.”


Zahra menaruh Hp milik Nabila ke atas meja. Kemudian mendekati sahabatnya lagi dan duduk di hadapan perempuan galau itu dengan meraih tanganya untuk ia genggam, berniat memberikan semangat serta dukungan.


“ Sekarang gue tanya deh sama lo? Sebenarnya cinta gak sih sama Gus Bintar?”


Nabila langsung mengangguk. di sertai dengan sedikit rona di pipi bulatnya.


Zahra tersenyum “ Emangnya lo rela kalau si Aulia…Aulia itu lebih menguasai hati suami lo sendiri?”


Nabila menggeleng.


Kali ini Zahra semakin ingin melebarkan senyumanya melihat gerakan Nabila yang sedari tadi hanya geleng dan angguk-angguk kepala saja.


Duh ! gemes sekali sih sahabatnya itu. Cinta tapi kok gengsi.


“ Makanya buruan baikan sebelum keduluan Star sama si Aulia itu."


Nabila mengernyit "Keduluan Star gimana maksud loh? jelas-jelas sekarang gue yang di nikahain Mas Bhintar. " jawab Nabila tak terima.


" Sebenarnya lo pura-pura hilang ingatan apa bener-bener gak tahu sih Bil? " katanya geregetan dengan Nabila. " Bukanya tadi lo bilang sendiri kalau suamimu itu masih cinta sama man....."


"Oke, oke. Stop! jangan di terusin lagi " Nabila mengambil napas panjang " Terus sekarang gue mesti gimana? "


Zahra memicingkan matanya aneh ke arah Nabila, dan kali ini dia mengerti harus bagaimana mengahdapi perempuan gengsi itu.


" Gini aja deh Bil, gimana kalau lo samperin Gus Bhintar ke kampusnya? itung-itung ngasih kejutan ke beliau sebagai bentuk permintaan maaf ” Usul Zahra mencoba untuk mengambil tengah-tenganya.


Nabila diam. Berfikir, apa kali ini dia setujui usulan sahabatnya itu?


Mungkin Authornya perlu di kasih like,vote and comen biar kalian bisa tahu kelanjutanya deh ! iya gak sih ?


Terimaksih……..

__ADS_1


__ADS_2