Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Hujan Pengahantar Rindu


__ADS_3

Sepanjang perjalan menuju pulang, Nabila terus berfikir. Ada yang aneh dengan Helm yang di pakainya saat ini.


Bagaimana bisa suaminya sudah begitu priper menyiapkan satu buah helm yang berwarna Pink, mirip kepimilikan dari seorang wanita? sedangkan laki-laki itu sendiri saat ini sedang memakai helm berwarna hitam kepunyaanya.


Padahal Nabila sama sekali tak pernah memberi tahukan bahwa dia akan menghampiri Bhintara sebelumnya. lalu bagaimana bisa ada dua helm di motor suaminya.


Nabila curiga. Tapi bagaimana cara menanyakanya langsung pada Bhintara? yang bisa saja memancing pertengkaran kembali di antara keduanya. Baru saja mereka berbaikan beberapa menit yang lalu, masak harus kembali diam-diaman lagi? akan sia-sia donk! usahanya tadi.


Sekarang Nabila hanya bisa menarik dan membuang napas kasar, begitu terus sampai rasa sesak yang menghantam dadanya sedikit berkurang. Sampai rintik-rintik air hujan datang menimpa keduanya.


“ Dek, hujan. gimana kalau kita berteduh dulu.” Panggil Bhintara, namun tak langsung mendapatkan sahutan karena si penumpang yang sedang sibuk membuang sesak di dadanya.


“ Dek?! “ Ulang Bhintara sekali lagi dengan berteriak.


Nabila langsung menggercapkan matanya, terhentak “ I-iya mas kenapa?”


Bhintara melirik ke arah sepion untuk melihat kadaan Nabila saat ini, merasa ada yang aneh dengan mimik muka istrinya itu. Tapi…biarlah nanti saja jika sudah sampai rumah ia akan menanyakanya.


“ Hujan, kita cari tempat berteduh dulu ya.” usulnya sambil memandang istrinya lekat.


“ Cari Masjid atau Mushola aja Mas, sekalian sholat Magrib. Takutnya nanti gak keburu.” jawab Nabila yang langsung mendapatkan anggukan dari Bhintara.


...***...


Nabila dan juga Bhintara akhirnya sampai di sebuah masjid sekitar dua puluh menit menjelang waktu Isyak. keduanya buru-buru mencari kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, segera ingin menjalankan Sholat Magrib.


Setelah Nabila selesai duluan menjalankan kewajibanya sebagai umat muslim, ia memilih menunggu di serambi masjid meski cipratan rerintikan air hujan sedikit membasahi pakaianya. Dan itu tak masalah, karena sejujurnya dia sangat menyukai hujan. Apalagi malam ini.


Wajahnya ia tenengadahkan ke atas, fokus memperhatikan air hujan yang turun dengan termenung.


Teringat akan sebuah pesan yang sampai kini masih saja terkenang dalam ingatan.


" Dek Nabila harus janji sama mas, bahwa akan selalu bahagia meski dunia tak berhenti memberikan luka. Dan selalu tersenyum menghadapinya, karena mas sangat menyukai senyum itu. Kamu cantik jika salalu menebar senyum."


Tiba-tiba mata Nabila sudah memanas, saat teringat ucapan Ustadz Adam menggema dalam fikiranya.


Tes....


Satu tetes air yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata tak kuasa untuk ia tahan lagi.


"Apa jenengan akan bahagia juga mas di sana? seperti aku yang kini sudah mulai kembali merasakan bahagia berkat kakakmu? "gumamnya lirih. Bertanya-tanya pada angin yang siapa tahu bisa menghantarkan kerinduan pada sang jiwa yang sudah di lain dunia.

__ADS_1


Nabila tak mengerti, entah kenapa saat sedang menikmati hujan turun selalu mengingatkan ia tentang beberapa sepenggal kenangan Ustadz Adam terdahulu. Bahkan di saat dia sedang bahagia seperti saat ini, laki-laki itu masih saja muncul dalam benaknya. Apa Ustadz Adam akan ikutan bahagia? atau justru malah cemburu melihat kedekatan antara dirinya dan kakak kandungnya. Mengingat beliau yang dulu sangat posesif sekali terhadapnya.


Hanya dingin yang di rasakanya saat ini, masih tak mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang di lontarkan fikiranya sedari tadi. semuanya seolah membisu, enggan memberitahukan bagaimana kisah cintanya di masa yang akan datang, apakah akan selalu bahagia seperti ini atau justru jalan menuju kebahagian yang sesungguhnya akan lebih terjal dari yang ia lalui sebelum-sebelumnya.


Nabila memeluk dirinya sendiri, menghangatkan tubuhnya dari terpaan angin malam ini yang nyatanya mampu menggigilkan seluruh jiwa dan hatinya. Hingga sebuah jaket yang tiba-tiba saja terselampir di pundak mengagetkanya.


“Di luar dingin, kenapa gak tunggu Mas di dalam saja,hem?"


Nabila menoleh, dan tersenyum saat menemukan suaminya berdiri di belakangnya." Mas udah selesai? "


Bhintara mengangguk, kemudian maju tiga langkah mensejajarkan tubuhnya di samping Nabila. Ikut mengintip turunya hujan seperti dirinya tadi. " Sepertinya hujan tak akan berhenti dalam waktu dekat, jadi tak perlu memperhatikanya dengan segitunya. Sampai merah gitu matanya. "


Nabila lebih mengeratkan lagi jaket di pundaknya, menarik napas panjang dan membuanya dalam satu hembusan kasar.


“ Iya nih mas sepertinya memang begitu, jadi... apa lebih baik kita terjang aja yah? lagian udah gak sederas tadi tinggal rintik-rintiknya saja.”


Bhintara menggeleng tak setuju dengan usul Nabila kali ini “ Gak! kita gak akan kemana-mana sebelum hujanya benar-benar reda. Kamu bisa sak……….” jawabnya terpotong.


“ Yaudah kalau begitu, mas sendiri aja yang nunggu di sini sampai pagi. Karena aku mau pulang sekarang.”


" Dek, jangan bandel. Kali ini nurut sama mas ya? kamu bisa sakit nanti" cegah Bhintara mencoba menjelaskan.


" Astagfirullah dek, susah banget sih di bilangin" Bhintara menggeram kesal melihat kelakuan gadis keras kepala itu, namun tetap saja mengikuti Nabila dari belakang sambil menggerutu kesal.


Bhintara berlari cepat agar bisa menyusul Nabila yang sudah jauh berada di depan sana. Dan saat tubuhnya sudah bisa menyamai langkah kaki istrinya, diapun langsung meraih pinggang wanita itu dan mendekapnya dengan erat seraya berbisik.


“ Tungguin Mas, jalanan licin hati-hati.”


Nabila sempat terjingkat kaget mendapatkan rengkuhan itu, tapi kemudian tersenyum saat satu tangan suaminya di taruh di atas kepala untuk melindunginya dari guyuran air hujan yang turun malam ini. Padahal itu tak berpengaruh banyak, karena nyatanya Nabila masih saja kehujanan.


Nabila menyunggingkan senyum menyadari, ternyata se-perhatian itu Bhintara pada dirinya.


Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Nabila terus mengembangkan senyum. Balas memeluk pinggang suaminya dengan erat mengikis jarak.


Dan begitu keduanya sampai di parkiran, Nabila sedikit menjauhkan tubuhnya dari Bhintara. Menyuruhnya menundukan kepala yang langsung di turuti sang suami tanpa bantahan apapun Dan……..


CUP.



Satu kecupan mendarat dengan mulus di dahi Bhintara. Membuat sang empunya linglung mendapatkan serangan mendadak seperti itu.

__ADS_1


Sadar bahwa sang Istri sudah menciumnya meski hanya di dahi, Bhintara tak mampu menahan rasa bahagia yang menyeruak dari dalam dadanya.


Dia tak menyangka Nabila bisa menciumnya lebih dulu seperti ini, padahal jika mengingat penolakan wanita itu sedari awal semua ini terasa tak mungkin.


“ Dek, k-kamu..... ? ” Bhintara tak mampu meneruskan ucapanya dan membiarkanya tergantung, karena untuk sesaat tiba-tiba saja pita suaranya mendadak hilang.


Nabila hanya bisa mengurai senyuman tipis, lalu beranjak mendekati Helm yang di taruh di setang Motor tanpa banyak bicara.


“ Apa ini nyata?” Dia kembali bersuara, bertanya-tanya apakah ini mimpi belaka? atau benar-benar nyata. Bhintara sampai tak dapat membedakanya sangking senangnya.


Nabila yang sekarang ini sedang sibuk menggenakan Helm menoleh, terlihat sangat cantik dan mempesona di bawah sinar lampu penerangan yang ada di tiang dekat mereka.


“ Cuman hadiah kecil dariku untuk mas yang udah bersikap manis banget hari ini. ” Jawabnya santai sambil menaiki Motor, mengabaikan keterkejutan di wajah Bhintara di hadapanya.


Hadiah kecil katanya? bagaimana bisa Nabila berkata se-enteng itu ! jika efeknya begitu sangat luar biasa untuk Bhintara. Kecupan ini adalah sesuatu hal besar untuknya yang membuat deguban jantungnya berdegup menggila karenanya.


...***...


Akhirnya setelah menumpuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, yang di temani dengan rerintikan air hujan sepanjang jalan. Mereka sampai juga di rumah dengan selamat, meski Nabila sedikit menggigil akibat pakaian basah yang tertiup angin sejak tadi.


Sewaktu Motor yang di kendarai sampai di depan pintu gerbang, Nabila buru-buru membukanya dengan wajah yang sudah biru akibat kedinginan.


“ Dek Nabila langsung masuk saja, cepetan mandi pakai air hangat biar gak masuk angin. Mas mau taruh motor dulu di garasi.”


Nabila mengangguk dan langsung berjalan ke pintu rumah mengabaikan tangan Bhintara yang terulur ingin memberikan kunci. “ Dek ini kun………”


Klek.


Dari tempat Bhintara berada saat ini, ia dapat melihat jika istrinya sudah bisa membuka pintu dengan sebuah kunci di tanganya, yang katanya dia lupa membawanya tadi pagi. Tapi nyatanya apa? istrinya itu bisa masuk sekarang ini.


"Ck.. dasar!! bandel. "


Bhintara menggeleng, saat menyadari jika lupa membawa kunci adalah sebuah alibi Nabila saja untuk mengelabuhinya.


Entah untuk alasan apa dia sampai berbohong padanya. Nanti saja dia tanyakan pada istrinya kalau sudah di dalam rumah. Sepertinya seru juga membalas mengerjai wanita menggemaskan itu.


Oke. Selamat membaca semuanya......... 😊


Untuk part selanjutnya tunggu sampai 80 like ya...


Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2