Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Wanita keras kepala yang angkuh


__ADS_3

Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orang-orang di masa lalu, akhir nya Nabila mantap mengambil sebuah keputusanya sendiri tanpa memperdulikan perasaan sang Bunda yang sedari awal sangat mengharapkan lamaran tersebut akan berhasil.


Bukanya ia egois hanya ingin mementingkan perasaanya sendiri, bukan. Justru keputusan itu dia ambil karena lebih mengutamakan perasaan Bunda di atas segala-gala nya.


Dia takut umur pernikahanya nanti tak bertahan lama karena tak ada Cinta di dalam nya. Meski di dalam hati nya ada sedikit rasa ingin menerimanya, tapi buru-buru ia enyahkan karena takut jika nanti membuat mereka semua terutama wanita yang melahirkanya tak bahagia dan kecewa. Bukankah perasaan seorang ibu itu sangat sensitif terhadap anak-anak nya? jadi mana mungkin ia bisa mempertaruhkan kebahagian beliau di atas pernikahan yang tak ada sama sekali cinta di dalam nya


Lagi pula saat dirinya melihat sorot mata laki-laki itu seperti nya tak ada sedikitpun ketertarikan terhadap nya, dan dari semua pembicaraanya yang ia saring sejak tadi, pria tersebut juga seperti nya sangat terpaksa dengan acara lamaran ini. Jadi... tak ada alasan Nabila untuk menerimanya.


“Pakde…batalkan saja semuanya, karena Nabila tak akan menikah dengan siapapun. Dan saya yakin Gus Bhintar juga tidak pernah menginginkan lamaran ini terjadi….” Ucap nya dengan nada bergetar.


“Tidak nduk. Jangan ! " Selak Kyai Abdullah yang sedari tadi hanya diam saja kini mulai angkat bicara " Abah mohon jangan tolak lamaran ini, pertimbangkanlah dulu matang-matang sebelum mengambil keputusan. Kalau perlu Abah akan berikan waktu untuk nduk Nabila berfikir ulang atau...jika di perlukan mintalah petunjuk dulu pada Allah dalam sholat istikhoroh, nah... baru setelah itu beri kami jawaban.” Usul nya.


Semua orang yang ada di sana seperti sudah di setting untuk menolak segala Ucapan Nabila dan mendukung lamaran dadakan ini, bahkan saat ekor mata nya melirik ke arah dapur di mana dua sahabat nya berada ke duanya seperti mengisaratkan persetujuan meski hanya di lihat dari gestur tubuh serta sorot mata mereka.


Nabila menghembuskan napas nya kasar, menggeleng lemah lalu menunduk pasrah. Entah semua orang akan mengartikanya apa teserah ! Mungkinkah ia terima saja lamaran tersebut demi melihat senyum mereka? Tapi apa nanti dia bisa bahagia seperti apa yang di inginkan semua? Nabila bingung, benar-benar bingung.


“Nabila?”


Mendengar pemuda itu menggumamkan ulang nama nya, Nabila pun mengangkat kepalanya.


" Ya? "


Dia melihat laki-laki yang sejak tadi diam itu kini sudah berdiri dan melihat ke arah nya dengan tatapan tajam yang sulit sekali ia artikan.


Bentuk mata,bibir,hidung, Alis, dan wajah itu dengan cepat langsung ia kenali dengan baik sebab entah mengapa semenjak pertemuan pertama kali dengan pria tersebut wajah nya selalu terngiang-ngiang di ingatan. Bahkan tak jarang sesekali dua kali melimpir masuk ke dalam mimpi nya.


“Bisa kita bicara sebentar di luar?” ucap nya lagi dengan langsung memutar badanya ke arah pintu keluar tanpa mau mendengar jawaban Nabila terlebih dahulu.


Dan aneh nya tubuh Nabila seolah otomatis mengikuti, langsung berdiri saat mendengar ucapan pria itu yang lebih mirip seperti sebuah perintah dari pada permintaan.


Tak lupa ia meminta izin pada sang Bunda terlebih dahulu. " Bunda, Nabila mohon izin untuk bicara berdua dengan Gus Bhintar. "

__ADS_1


" Iya Nak, bicarakanlah baik-baik denganya. Kami di sini akan menunggu keputusan yang terbaik dari kamu dan Bhintar, karena bagaimanapun kalian berdualah yang nanti nya akan menjalani bukan kita. " Jawab Bunda Arina bijak.


Nabila mengangguk, kemudian berdiri mengikuti langkah Gus Bhintar yang membawa nya ke sebuah Gazebo yang berada di halaman rumah nya, lalu duduk saling bejarak dengan tatapan mereka yang lurus ke depan tanpa mau menoleh satu sama lain.


“Kenapa kamu menolak lamaran saya?” tanya Bhintar to the point.


Nabila masih tak bergeming dari pandanganya. ” Aku tak bisa mempertaruhkan kebahagian orang tuaku.” jawab nya mantap.


” Maksud nya? Aku tak mengerti.” Bhintar menoleh ke arah wanita yang menolak nya dengan memicingkan mata, membuat wanita ber gamis putih itu malah semakin menunduk.


Nabila meremas samping gamis nya dengan kuat, takut melihat ke arah lawan bicara nya. Dalam hati ingin sekali ia menjawab tapi bibir nya serasa kelu hanya tertahan di tenggorakan.


" Kenapa hanya diam dan terus menunduk ! dimana keberanianmu lima belas menit yang lalu saat menolak ku? apa wajahku semenakutkan itu hingga membuatmu enggan melihatku? " Bhintar masih saja melihat ke arah Nabila menuntut sebuah jawaban, tapi yang di ajak bicara masih saja diam membisu.


" Saya tidak menyangka jika wanita yang dulu sangat di elu-elukan oleh adik saya begitu sangat egois ! " katanya lagi yang langsung membuat seorang Nabila merasa tersentil dan mendongak menatap tajam ke arah lawan bicaranya.


"Atas dasar apa anda bilang saya egois? kamu tidak tahu menahu tentang saya jadi.... tolong jagan asal bicara jika anda tidak tahu apa-apa ! "


"Tunggu! "


Tangan kokoh itu tiba-tiba menghadang saat Nabila ingin melangkah di samping nya, membuat wanita yang sedang di liputi emosi itu langsung saja bergerak mundur selangkah sebelum tangan dari pria itu menyentuh lenganya.


Dia mendongak dan melihat laki-laki bernama Bhintar itu sedang menyunggingkan senyumnya. " Tolong... jangan seperti ini ! " desis Nabila tajam.


Bhintar menghela napas. " Okey... oke. aku minta maaf jika ucapanku tadi telah menyakiti egomu, tapi sungguh aku benar-benar ingin kamu memberi kesempatan untuk keluargaku terutama Umi agar perasaan bersalah tak lagi bersarang di dalam hati nya. "


Kali ini giliran Nabila yang menghembuskan napas nya jengah, tak tahu lagi harus memberikan penjelasan pada keluarga penyandang gelar Al Rasyid itu dengan cara apa? sejak tadi terus saja membahas tentang penebusan rasa bersalah. Itu terus dan terus sampai-sampai membuat nya pusing dan sakit kepala.


" Huft..... apa ucapan saya di dalam masih kurang jelas dan sulit di pahami? apa perlu saya perjelas lagi agar Gus Bhintar dan sekeluarga mengerti maksud saya?" tegas nya.


" Tidak! bukan itu maksud saya.. hanya_"

__ADS_1


Bhintar menurunkan tanganya yang menghalangi tubuh Nabila membuat wanita itu terdiam menunggu lanjutan ucapanya. " Ekhem, apa saya boleh menanyakan sesuatu? "


Nabila mengangguk, mencoba mengesampingkan emosinya dengan merapalkan kalimat istigfar berkali-kali dalam hati nya


" Apa? "


"Seberapa penting kebahagian orang tua untuk mu? " tanya Bhintar dengan pandangan lurus ke depan menerawang jauh.


Nabila menoleh dan menemukan mata itu menyayu, entah itu hanya perasaan dirinya saja atau tatapan itu memang pernah ia lihat sebelum nya.


Ya Allah, rasa-rasanya ia tak sanggup melihat nya. kenapa? kenapa harus kembali melihat mata tak berdaya itu lagi? Why?


Nabila berjalan dua langkah ke depan lalu menyandarkan badanya pada ganggang gazebo kemudian mengikuti arah mata laki-laki itu memandang di depan sana.


" Sangat penting. " jawab nya ikut menyendu karena terbawa suasana.


" Lantas.... kalau begitu, bisakah kita menerima ini semua demi kebahagian mereka? "


Nabila menoleh, mengernyitkan dahinya lalu tersenyum sungging. " Apa anda tahu Gus, jika kebahagian orang tua itu harus selaras dengan kebahagian kita? " kini giliran Bhintara yang mengangguk menyetujui. " Sekarang saya mau tanya, Apakah anda mencintai saya? "


Pria bermata sama dengan laki-laki masa lalu nya itu menggeleng dan masih tak bergeming di tempat nya. " Mungkin belum, tapi saya akan mencobanya. " jawab nya lirih.


Ada sedikit rasa nyeri di dada nya saat mendengar jawaban dari laki-laki tersebut, yang kenyataanya memang tak ada rasa sedikitpun pada dirinya. Entah mengapa memunculkan rasa kecewa menguar begitu saja.


Nabila tertawa miris menertawakan dirinya sendiri yang sangat berharap bahwa pria yang duduk di sebelahnya itu sedikit tertarik kepadanya, tapi kenyataanya tidak." Apa Gus tahu? hidup berumah tangga yang awal nya di dasari dengan Cinta saja lambat laun bisa saja goyah seiring dengan berjalanya waktu, apalagi yang dari awal sudah tak ada pondasi Cinta di dalam nya? mau di bawa kemana nanti pernikahan itu jika terjadi hem? "


Bhintara menoleh, menatap wajah ayu Nabila dengan tatapan tajam menilisik mencoba menembus isi fikiran dari wanita yang katanya berprofesi sebagai dokter tersebut. " Ternyata fikiran kamu dalam memaknai sebuah arti rumah tangga masih terlalu dangkal dan kekanak-kenakan, tak sesuai dengan omongan orang-orang yang selalu bilang jika kamu adalah wanita bijaksana. " Jawab nya lebih terlihat seperti meremehkan.


Kali ini Nabila membalas tatapan Bhintara dengan tak kalah tajam nya meski dalam hati menciut karena takut tapi ia coba memberanikan diri " Saya tahu anda ingin sekali membahagiakan Umi dan Abah, tapi.... apa Gus Bhintar yakin jika mereka nanti nya akan benar-benar bahagia, kalau kita saja enggak bahagia di dalam pernikahan ini nanti? Anda tentu pasti juga sudah pernah mendengar kan.. jika orang tua itu lebih mampu merasakan apa yang sedang di rasakan oleh anak-anak nya?" kata Nabila masih kekeh dengan keputusanya.


Bhintara berdiri, berjalan menuju ke dalam rumah melewati Nabila yang masih keras kepala dan mengabaikanya.

__ADS_1


Karena sepertinya percuma saja bicara dengan wanita angkuh tersebut. Meski berbagai cara dari mulai yang tegas hingga halus sudah ia coba, tetap saja jawabanya masih sama yaitu menolak nya.


__ADS_2