
Waktu sudah menunjukkan pukul jam setengah dua belas malam. Keadaan Pondok Pesantren sudah sangat sepi, Karena hampir keseluruhan para santri sudah masuk ke dalam Asrama Masing-masing sejak jam sepuluh tadi. Namun tidak dengan Nabila, karena wanita itu masih betah duduk di serambi Masjid sambil menatap langit gelap yang sudah hitam pekat.
Mungkin sebentar lagi akan hujan, pikir Nabila saat ini, tapi Nabila tak perduli karena hati nya sedang sunyi.
Nabila sempat tersenyum sebentar saat menatap ke area sekitar, tapi beberapa detik kemudian senyum lebar nya tergantikan oleh senyum kesedihan. Lalu menunduk untuk melihat beberapa chat yang tidak bisa terkirim kepada suami nya sejak tadi.
Dia menghela napas nya lelah, dada nya mulai terasa sesak beriringan dengan hati nya yang perih. Satu tetes air mata akhirnya jatuh juga, Ingin sekali Nabila menangis sekeras-keras nya. Meluapkan segala emosi yang ada di dalam dada. Tapi Nabila tak bisa!
Nabila kecewa, sungguh! Bahkan tak menyangka Bintara bisa lupa dengan Ucapan nya pagi tadi. Laki-laki itu sudah berjanji pada nya untuk menunggu nya di Pesantren, guna menyetujui ajakan makan malam bersama Umi dan Abah, tapi kenapa kini justru dia sendiri yang mengingkari? Membiarkan Nabila menunggu sendirian tanpa di beri kabar apa-apa.
Apa sebenarnya yang di lakukan suaminya di luar sana? Apakah benar ada wanita lain yang juga sama-sama sedang menunggu kedatangan suami nya untuk pulang.
Nabila menggeleng cepat, entah itu untuk yang ke berapa kali nya. Masih tak percayai jika suami yang belum lama ia nikahi akan melakukan itu.
" Pasti ini hanya pikiran jelek ku saja, mana mungkin Mas Bhintar seperti itu. Dia sangat mencintai ku. Yah, sangat Cinta! " Gumam nya lirih untuk meyakinkan keraguan hati nya sendiri dengan mengusap sudut mata nya yang berair berulang kali.
Perempuan yang masih menggunakan Mukena itu kembali menunduk memperhatikan layar Hp nya, lalu men scroll beberapa nama yang tersimpan di kontak Handphone nya ke atas, kemudian berhenti saat satu nama yang tiba-tiba saja terlintas di pikiran nya terpampang di depan mata.
"Dokter Aisyah. " Begitulah bibir Nabila berucap.
Dia ingin sekali menghubungi wanita itu, tapi takut mengganggu karena ini sudah larut malam. Namun Nabila juga sangat yakin jika dokter Aisyah pasti mengetahui sesuatu tentang suami nya. Lagian... bukankah suami dokter Aisyah bersahabat dekat dengan suaminya? Jadi_____
"Halo... Assalamualaikum. "
__ADS_1
Nabila sempat tersentak kaget saat mendengar ucapan salam tersebut, Mengernyit bingung saat menyadari jika tangan nya ternyata sudah lancang menekan panggilan tanpa memberi tahu diri nya terlebih dahulu.
"Halo... Wa'alaikumussalam dokter Aisyah. " Jawab Nabila akhir nya, meski ragu.
"Iya Bil, ada apa? Kenapa malam-malam begini menelpon, ada yang bisa Mbak bantu? " Sahut dokter Aisyah yang seperti kaget saat mendapati diri nya yang menelfon malam-malam begini.
Nabila sempat terdiam sebentar, bingung ingin menjawab pertanyaan dokter Aisyah dengan kata yang bagaimana? Haruskah ia to the poin saja dengan langsung menanyakan keberadaan suami nya. Tapi apa nanti nya yang akan di pikirkan ibu satu anak itu mengenai diri nya?Bagaimana bisa dia menanyakan keberadaan suaminya sendiri pada wanita lain. Perempuan itu malu! Mau di taruh di mana muka Nabila! kelihatan betul kalau diri nya tidak becus menjaga suami dan rumahtangga nya.
Nabila masih sibuk dengan meremas ujung Mukenanya, menggigit bibir nya sendiri karena merasakan cemas dan ragu.
"Nabila..... Hey! Kamu masih di sana kan? " Panggil dokter Aisyah untuk memastikan jika yang di telepon masih ada di tempat nya.
"Dokter..... " Sahut Nabila tak sampai, karena keburu isak kan lirih yang sejak tadi ia tahan keluar tanpa bisa di cegah.
"Nabila....... Hei, tenang dulu kamu kenapa? Jangan menangis, tanyakan saja pada mbak segala sesuatu yang ingin kamu tanyakan. InsyaAllah akan Mbak jawab. Tapi berhenti dulu oke!" Ucap perempuan itu percaya diri, seolah dia sangat yakin bahwa Nabila akan menanyakan sesuatu yang memang dia sudah pasti tahu jawaban nya.
Wanita bernama lengkap Shintia Azka Nabila itu semakin yakin, jika dia sekarang ini memang bertanya pada orang yang tepat. Sebab dari Ucapan nya saja sudah menjelaskan jawaban atas segala kegundahan hati Nabila Akhir_akhir ini.
Oke kalau begitu. Meski agak ragu tapi Nabila memang harus tahu. "Maaf mengganggu.. tapi kalau boleh dan dokter berkenan untuk memberitahu, boleh kah saya mengetahui di mana mas Bhintar sekarang ini berada dokter? "
Sembari bertanya, Nabila menahan sesak luar biasa di dalam dada nya. Menekan rasa malu serta sakit luar biasa. Mungkin ini adalah saat nya untuk mengetahui segalanya, sebab semakin di pendam lama ternyata Nabila tak bisa. Dan malam ini mungkin Allah sedang meridhoi nya untuk mengetahui segala nya.
Dan sekarang, justru malah giliran dokter Aisyah yang terdiam. Entah benar-benar tak memiliki jawaban atas pertanyaan nya, atau hanya sekedar bingung ingin memberi jawaban seperti apa kepada diri nya? Entahlah.....Hanya Allah yang maha tahu.
Cukup lama Nabila menunggu, namun tak kunjung menerima jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya simpel itu. Menambah rasa penasaran dan sudah tak sabar ingin segera mendengar balasan nya.
__ADS_1
"Dokter Aisyah...? " Panggil Nabila lagi.
"Iya Bil. "
"Dokter.... Aku tahu anda mengetahui sesuatu tentang suami saya, Ku mohon... sebagai sesama wanita yang sama-sama sudah bersuami tolong kasih tahu di mana Mas Bhintar berada sekarang? Anda pasti paham kan. "
Nabila sadar betul jika sekarang dia mungkin terlalu mendesak dokter Aisyah untuk menjawab pertanyaan nya, tapi mau bagaimana lagi ini adalah satu-satu nya cara agar dia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Nabila.... begini, Bhintara sekarang ini sedang berada di Rumah sa_____" Suara dokter Aisyah tiba-tiba terpangkas, lalu tergantikan dengan suara seorang laki-laki yang begitu sangat ia kenali. "Syah, Aku titip istri aku sebentar. Mau ke mushola dulu sholat isyak. "
Tubuh Nabila langsung membeku, detak jantung nya berdebar hebat tak menentu. Bahkan tubuh nya ikutan panas dingin saat mendengar kata Istri keluar dari bibir yang baru tadi malam mengucapkan kata cinta di telinga nya.
"Jadi benar tebakanku selama ini dokter? Kalian bersekongkol membunyikan ini semua dari aku? Salah aku apa, Kenapa kalian tega!" Jawab Nabila lirih sembari menekan dada nya yang terasa sakit sekali.
"Nabila, dengerin Mbak dulu____" Sebenarnya dokter Aisyah masih ingin berbicara dan menjelaskan semuanya, namun sambungan telepon tiba-tiba terputus begitu saja.
Nabila masih duduk di tempat nya. Menengadahkan kepala nya ke atas sebentar seperti sedang memohon pertolongan dan kekuatan, lalu menunduk dalam dengan bahu bergetar. Dia menangis hebat di antara ke dua lutut nya, menyembunyikan kepala dengan bertumpukan ke dua tangan nya. Sakit, begitulah semua organ tubuh nya menyiksa nya sekarang ini.
Dia kecewa, merasa di bohongi dan di khianati. Hati nya hancur lebur mengetahui sang suami ternyata memiliki istri lain selain diri nya, masih tak menyangka bahwa dengan mengetahui nya secara langsung, rasanya akan se_menyakitkan ini.
Sejujurnya Nabila sudah memprediksi ini semua, tapi sengaja ia membutakan mata untuk menyelamatkan hati nya.Dan ia akui dirinya memang bodoh! Bisa-bisa nya terlena hanya karena pernyataan cinta dari laki-laki yang baru saja menjadi suaminya. Ada sedikit rasa sesal yang menyelimuti hati Nabila saat ini, harus nya ia selidiki dulu masa lalu laki-laki itu sebelum menerima lamaran nya.
.........
__ADS_1
Hai...masih pada ingat cerita ini gak? Udah ber_ abad-abad kayak nya gak upload episode nya.
Masih pada mau lanjut gak ya kira-kira sama cerita nya?