
...Warning !!...
...Plis.... siapkan hati agar terhindar dari rasa jengkel dan sebel yang nanti nya akan melanda....
...Dan jangan lupa baca dengan pelan-pelan sambil membayangkan ibunya masing-masing agar feel nya bisa lebih ngena di hati....
...Enjoy......!...
Nabila masih enggan beranjak dari tempat nya, setia menengadarkan pandanganya untuk menangkap bentangan langit malam yang tengah terselimuti kabut mendung.
Sambil menetralkan degub jantung yang sedari tadi menggila ia mengucapkan istigfar berkali-kali dalam hati berharap dia tidak salah mengambil keputusan.
Untuk sesaat entah mengapa ia meragu dengan keputusanya, seperti ada yang salah. Tapi di mana letak kesalahanya tersebut ia tak tahu.
Sepuluh menit berlalu, dia masih asyik dengan segala fikiran-fikiranya. Hingga…sebuah suara gusrak-gusruk dari dalam rumah menarik seluruh atensi nya.
“Cepat buka pintu nya !! “ teriak suara laki-laki dari dalam rumah.
Brak !
Pintu di buka lebar-lebar secara kasar. Gus
Bhintar muncul dengan membopong tubuh Bunda Arina dengan raut muka tegang.
” Abah, Umi. Bhintar akan membawa Bunda Arina ke rumah sakit terdekat, jadi silahkan kalian menyusul setelah nya.” Kata nya dengan sedikit berteriak, membuat badan Nabila seketika menegang di tempat. Sulit bergerak karena terlalu terkejut dengan apa yang di lihat nya sekarang ini.
Meski pandanganya kabur, mata nya masih bisa menangkap kedua sahabat nya sedang lari tergopoh-gopoh menghampiri. Hati nya was-was tak sanggup mendengar ucapan apa yang akan mereka sampaikan pada dirinya.
“Bil.” Panggil Zahra lirih.
Vika menoleh ke arah Nabila, yang tidak lama kemudian ia langsung membekap mulut nya Syog karena melihat tubuh sahabat nya tumbang di tempat dan pingsan.
“Astagfirullahal Adzim Nabila ! “ pekik mereka bersamaan.
“Ya Allah…bagaimana ini Ra ?” tanya Vika panik sembari menepuk-nepuk pipi Nabila dengan keras.
“Kita bopong dia ke dalam Vik.” Perintah Zahra tak kalah kalut, tapi masih sedikit bisa tenang karena sudah terbiasa melihat dan menangani orang pingsan di Rumah sakit.
__ADS_1
..........................................................................
Nabila mematung di pintu ruang HCU.
Orang yang selama ini terlihat selalu baik-baik saja kini terbaring lemas tak sadarkan diri di ruangan perawatan itensif.
Nabila kalut, fikiranya bahkan sudah terbang entah kemana. Tak di sangka kejadian menakutkan empat tahun silam kini datang lagi menghampiri.
Di tempat ini, dulu dua orang yang sangat berharga di dalam hidup nya meregang nyawa. Menjadikanya seorang yatim karena harus di tinggal pergi oleh sang Ayah di usia yang masih muda dan di cap perawan tua kerena harus di tinggal mati sang pujaan hati.
Sungguh ironis memang kehidupan Nabila, dan sekarang lagi? Entah nasib sial apa yang mengikuti nya selama ini. kenapa cobaan seperti tak mau berhenti.
Hati nya kini seperti di remas sekeras-keras nya, bahkan sangking sakit nya ia sampai mati rasa tak bisa merasakan apa-apa.
“Bunda…” lirih nya dalam.
Sebagai Anak satu-satu nya, kini ia merasa telah gagal. Exsistensi nya sebagai seorang dokter kini patut ia pertanyakan. Nabila merasa tidak berguna untuk orang-orang yang di sayanginya, itu terbukti dari lalai nya dia menjaga satu-satu nya orang tua yang tersisa. Merasa kurang dalam memperhatian kesehatan sang Bunda dan mengabaikanya selama ini, membuat dia menyesal akan hal itu.
Perlahan ia mendekati bunda nya yang
terbaring di atas brangkar rumah sakit dengan menatap nya hancur. Wanita sepuh itu terlihat pucat dengan macam-macam kabel monitor yang menempel di badanya.
Nabila belum sanggup kehilangan wanita pemilik surga di telapak kaki nya itu sekarang ! dia masih ingin berbakti membalas kasih sayang tulus yang beliau kasih dengan merawat dan memberikan perhatian lebih di hari tuanya, tapi sayang nya perwujudan dari wanita mulia itu enggan menerima nya. Sebab beliau tahu anak nya bukan hanya milik nya seorang, melainkan milik semua orang yang konon katanya dia malah bangga bisa melihat anak nya bisa bermanfaat untuk banyak orang meski taruhanya dirinya sendiri terlupakan.
Apa mungkin semua Ibu di dunia ini yang mempunyai anak seorang dokter pemikiranya memang seperti itu? Apa bila iya, maka beruntunglah mereka semua. Tapi jika tidak, maka beruntunglah Nabila sendiri, yang di lahirkan dari rahim seorang wanita penyabar, banyak kasih sayang dan penuh pengertian seperti sang Bunda.
Lutut Nabila terjatuh di Samping Bed yang di tiduri Bunda Arina, dia meraih tangan renta itu kemudian mencium nya lembut penuh rasa terluka.
Tak ada kata yang tepat untuk mendevinisikan perasaanya saat ini, rasa sakit seorang Anak yang melihat orang tuanya terbaring lemah tak berdaya seperti cambukan tersendiri untuk nya.
Sedangkan ia yang berprofesi sebagai seorang dokter yang tugas nya menyembuhkan dan menolong orang sakit, kini hanya bisa melihat nya tanpa mampu mengusahakan ataupun melakukan apa-apa.
Menyesal. Yah, mungkin satu kata itu yang bisa mewakili perasaanya saat ini. tapi..sepertinya beribu-ribu penyesalanpun masih tak dapat menampung dan mengganti masa yang sudah terlewati kalau sudah begini.Seharus nya dia lebih banyak meluangkan sedikit waktu nya yang teralihkan pada hal-hal lain untuk lebih merindui orang tua yang selalu setiap detik nya merindukanya.
Nabila mendongak saat merasakan sentuhan hangat di pundak kananya, dia melihat Mbok Lastri yang sedari tadi diam memperhatikanya kini berkaca-kaca mencoba menguatkan meski semua itu sudah tak berarti.
“ Kenapa Mbok gak pernah bilang sama Nabila yang sejujur nya?” suara serak yang bergetar itu seolah menyayat relung hati bagi siapa saja yang mendengar nya.
__ADS_1
Yah, semua kompak menyembunyikanya dari Nabila. Mbok Lastri,Umi Khadijah,Kyai Abdullah, bahkan sampai Bhintara pun ikut merahasiakanya.
“Nyonya yang melarang nya untuk memberitahukan pada Non Nabila.” Jawab nya hati-hati.
Tega ! mereka sungguh tega !! bisa-bisa nya menyembunyikan sakit jantung yang di derita oleh sang Bunda darinya, dulu penyakit ini juga telah merenggut sang Ayah dari sisi nya dan kini dengan cara yang sama Allah ingin mengulanginya lagi? Sungguh jika boleh Nabila meminta keringanan, dia belum siap untuk hal itu.
Andai saja Nabila sudah mengetahuinya dari awal, mungkin peristiwa yang dulu pernah ia rasakan tak akan terulang lagi. Dan mungkin sekarang dia masih bisa melihat senyum di wajah sang Bunda karena bahagia anak satu-satu nya akhir nya menikah juga, meski ia harus rela hati menerima lamaran dadakan tersebut. Tak mengapa dia terluka yang penting sang Bunda bahagia.
“Mbok, Nabila itu anak nya Bunda. Jadi, aku berhak tahu segalanya tentang Bundaku termasuk hal ini. Nabila itu seorang dokter Mbok ! DOKTER ! bagaimana seorang penyembuh orang sakit bisa kecolongan terhadap penyakit orang tua nya sendiri ?!” teriak Nabila sambil terisak kecewa dengan diri nya.
“Nyonya hanya tak ingin membebani non Nabila dengan kabar buruk itu, sebab beliau tahu hidup Non Nabila sudah berat. Jadi… beliau tidak mau menambah nya lagi dan memilih merahasiakanya dari Non Nabila.” Jelas nya yang masih sulit di terima di telinganya.
Egois ! kenapa orang tua harus se-egois itu? Mereka fikir dengan menyembunyikan kesusahanya dari sang Anak itu pilihan yang terbaik? Padahal mereka salah jika berfikiran seperti itu, justru dengan menyembunyikan semua kabar buruk yang melanda malah yang membikin seorang Anak lebih terbebani.
Terkadang para orang tua lupa bahwa kebahagian mereka lah penyemangat sang Anak untuk menjalani hidup nya yang penuh lika-liku.
Orang tua selalu mengkhawatirkan Anak nya agar tidak terbebani, padahal tanpa mereka tahu menjadi tidak berguna untuk keluarga sendiri itu jauh lebih menyedihkan dan berat dari beban itu sendiri.
Lalu mereka bilang semua demi kebahagian sang Anak, tapi kalau sudah begini apa seorang Anak akan baik-baik saja? Menyaksikan orang tua nya bertaruh nyawa padahal dia sendiri seorang dokter?. Jika semua sudah terlambat, lantas apa yang bisa di lakukan? Hanya menangis dan menyesal kan? Bukankah itu malah menambah banyak beban pada Akhir nya?
“Non, sudah tenangkan hatimu, Mbok Lastri yakin Bunda akan baik-baik saja di tangan para dokter handal yang sama sepertimu.”
Nabila semakin mengeratkan genggaman tanganya, menumpukan kepala terisak di sana. Mendengar kata yang ter lontar dari wanita tua itu justru malah seperti tamparan yang menyadarkanya sekali lagi tentang tak bergunanya gelar yang di sandang nya untuk keadaan sang Bunda saat ini.
Ini semua gara-gara dirinya, ia salah mengambil keputusan yang berakibat fatal bagi kehidupan Bunda nya.
Bodoh ! sangat-sangat BODOH ! benar kata Bhintar ia adalah gadis egois dan keras kepala yang di beri kasih sayang tiada tara tapi dia malah membalas nya dengan ber liter-liter air tuba.
Rasa kecewa, sedih ,sakit berbaur menjadi satu. Merasa teriris dengan kenyataan kali ini.
Harus nya ia menyetujui saja lamaran itu demi orang tua nya, bukan malah mempertahankan harga diri nya.
Jika sudah begini, apa arti harga diri ? jika nyawa bunda sebagai taruhanya.
Entah mengapa Nabila merasakan ruangan itu mengecil dan menyempit, napas nya menjadi sesak tak bisa menghirup udara dengan Normal. Dia butuh tempat yang ludang dan luas untuk menyalurkan segala kegundahan hati agar sakit nya berkurang.
Kemudian Nabila berdiri dari berlutut nya lalu berlari kecil meninggalkan ruangan tersebut dan keluar menuju gerbang rumah sakit.
__ADS_1
Hingga sebuah Mobil Range Rover putih dengan jendela bagian penumpang nya yang sudah terbuka, mengklakson dengan panjang membuat nya kaget bukan main.
“Masuk.” Pinta si pengemudi tidak ada lembut-lembut nya.