
Di dalam keheningan tiba-tiba terdengar suara tarikan pintu yang di buka dengan pelan, namun terasa begitu nyaring di telinga seorang wanita yang saat ini sedang melamun sembari memandangi mangkok bekas makan malamnya yang terus ia cuci berulang kali.
“ Assalamualaikum.”
Kepala yang sejak tadi terus menunduk seketika mendongak, saat suara laki-laki yang begitu di kenalnya menyeruak. Membuat si pemilik tubuh ringkih itu langsung waspada dengan kedatanganya.
“ Ya Rabb…Bagaimana ini?“ Gumamnya lirih, panik sendiri.
Saat ini Nabila belum sanggup melihat si pemilik suara tersebut, sebab hati nya masih belum ia tata. Dan sekarang kini dia malah datang secepat ini untuk menjemputnya.
“ Nabila! Sayang….?” Panggil suara itu lagi dengan nada setengah berteriak, sebab tak lekas mendapatkan sahutan dari si pemilik nama tersebut.
Nabila bingung, harus bersikap bagaimana dengan keadaan ini. Haruskah ia berpura-pura tak tahu dan menganggap kejadian tadi tak pernah terjadi? Ataukah dia harus langsung marah saja pada suaminya itu dengan meminta penjelasan atas apa yang telah di lihatnya tadi saat di parkiran Mall? Tapi….apakah dia sudah siap, dengan segala jawaban nya nanti.
Nabila hanya diam saja di tempat nya, enggan bergerak ataupun bersuara. Dia masih bingung dan sedikit cemas. Hati nya belum siap mendengarkan penjelasan atas segala pertanyaan yang sejak tadi telah memenuhi pikiran nya.
Takut. itulah yang di rasakan nya sekarang ini, haruskah dia merasakan kecewa lagi setelah segala penyerahan yang ia berikan pada laki-laki tersebut?
Nabila menggeleng. “ Gak! gak. Aku belum siap, dan gak akan pernah siap untuk itu. Jadi ku mohon Ya Rabb, bisakah semuanya berjalan seperti malam-malam sebelum nya. Tolong, hamba minta untuk sekali ini saja buatlah aku seperti tak pernah melihat kejadian itu sama sekali. “ Mohon Nabila pada satu-satu nya penolong saat ini. Namun serasa percuma sebab sudah pasti itu semua tak akan pernah terjadi. Tubuhnya masih sehat wal'afiat di tempat ini, kecuali dirinya sedang mengalami kecelakaan lalu amnesia, itu baru mungkin akan terjadi.
Sungguh. Sekalut itu Nabila sekarang. Sampai-sampai mengharapkan sesuatu di luar nalar begitu.
Dengan menarik napas dalam, Nabila membalikan tubuhnya. Menerbitkan senyum saat melihat sang suami berjalan ke arah nya. Mencoba bersikap seperti tak terjadi apa-apa. “ Oke Nabila, berpura-pura lah buta dan cobalah percaya pada suami mu. Kamu ingin bahagia bukan? ini lah cara nya.” Batin nya menyemangati diri sendiri. Mengenyampingkan kenyataan yang ada.
“ Mas! kok cepat banget nyampai nya? Padahal gak perlu repot-repot jemput loh. Sebenarnya tadi aku mau langsung pulang kok setelah nganterin Zahra.” Ucapnya di buat sebisa mungkin, meski hatinya ingin sekali berteriak meminta penjelasan. Namun ia tahan demi mempertahankan kebahagian yang baru saja di rasakan nya.
Bhintara memejamkan mata saat mendengar suara Nabila mengudara, Sedikit bisa menghela napas lega. Tak menyangka bahwa sang istri justru bersikap biasa saja.
Bhintara bisa melihat jelas sekali bahwa Nabila sedang memaksakan diri dengan berpura- pura tegar memperlihatkan senyum palsunya. Dia tahu wanita nya sedang tak baik-baik saja. Tapi kenapa dia malah menyakiti hatinya sendiri dengan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kenapa?
__ADS_1
Sungguh, ingin sekali rasanya berlari dan memeluknya. Meminta maaf atas segala apa yang terjadi. Tapi ia sendiri juga ketakutan jika harus mengatakan nya. Mungkin Diam dan mengikuti arus yang di buat Nabila akan lebih baik, dari pada memaksakan jujur tapi dia akan kehilangan istri nya.
Yah, Bhintara akan memilih diam, dan tak akan bicara sebelum Nabila sendiri yang bertanya. Semua ini ia lakukan demi mempertahankan Nabila agar tetap di sampingnya.
“ Sayang, begini. Aku...tadi...”
“ Mas! “ Sergah Nabila langsung yang tak ingin mendengarkan sama sekali penjelasan dari Bhintara untuk sekarang ini.
Anggap saja Nabila pengecut, ia tak apa. Sebab lebih baik dirinya tak tahu dari pada harus di beri tahu tapi menimbulkan kesakitan yang luar biasa untuk hatinya.“ Mas kesini buat jemput aku kan? Gimana kalau kita langsung pulang aja. Udah malam, kasihan Zahra dia juga butuh istirahat.”
“ Heh! iya, gimana?”
Bhintara sempat terdiam lama memandangi istrinya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang melatar belakangi sikap istrinya saat ini, yang memaksakan sekali ingin terlihat biasa-biasa saja di hadapannya. Padahal ia sendiri saja nyaris gila memikirkan jawaban-jawaban apa yang nantinya akan di berikan oleh Nabila atas segala pertanyaan nya.
Sungguh, ini semua membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang di rasakan istrinya saat ini.
...…...
Harusnya Nabila marah saja pada Bhintara, atau setidaknya menuntut penjelasan pada laki-laki itu langsung. Tapi kenapa kini ia malah memilih diam dan mengenyampingkan semuanya? Hanya karena dia ingin bahagia.
Padahal dengan memendamnya sendiri, bukankah itu malah semakin membuatnya tersakiti? Tapi Nabila juga tak mengerti dengan apa yang di inginkan hatinya. Dia ingin sekali marah, namun sisi lain dirinya juga merasa tak tega jika harus mendiamkan lagi suaminya.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada dirinya? Mengapa dia begitu lemah dan tak kuasa meluapkan amarahnya saat menatap mata laki-laki itu. Dan ada apa dengan sorot mata itu? Kenapa kini malah Bhintara yang justru terlihat lebih kesakitan di bandingkan dirinya.
Dan lagi, Sebenarnya yang bersalah di sini itu siapa? Kenapa justru malah dirinya sendiri yang merasakan berdebar seperti ini. Otak nya mendadak beku, tak bisa berfikir sama sekali. Bahkan dia bisa mendengarkan detak jantung nya sendiri yang bertalu-talu terus mengiri.
“ Dek?” Panggil Bhintara di tengah keheningan.
Nabila menoleh gugup. “I..iya Mas.”
“ Diluar hujan, tutup jendela nya. Dek Nabila bisa sakit nanti. “ Bhintara mengawali obrolan setelah sekian menit berlalu mereka hanya diam saja saling membisu.
__ADS_1
“ Oh..oke. Maaf.” Jawab Nabila yang langsung menaikan kaca Mobil sampai tertutup rapat. Lalu memilih langsung menyandarkan tubuh nya pada Jog Mobil seraya memejamkan mata. Berpura-pura tidur untuk menghindari obrolan dengan suaminya, sembari menenangkan hati nya
Bhintara tersenyum menoleh ke arah sang istri. Mengulurkan satu tangan nya mengelus kepala Nabila dengan sayang. “ Capek banget ya, hem? Sudah makan?”
Nabila langsung membuka dan menoleh “ Ya?” Sahut Nabila linglung, kemudian menggercapkan matanya sebentar saat netra mata nya bertatapan langsung dengan wajah Bhintara.
Dia ingin sekali meminta penjelasan pada suaminya itu, atau setidaknya bisa mendengarkan sebuah kalimat pembelaan yang dapat menenangkan gemuruh di hati nya. bahwa semuanya akan baik-baik saja, pasti itu sangat melegakan rasanya. Tapi dia tak berdaya? Sebab hati sama sekali tak mengizinkan nya.
" Apa ada yang ingin kamu tanya dek? Mas siap menjawab nya. " Tutur Bhintara kemudian, karena sudah tak sanggup melihat kegusaran wajah sang istri sedari tadi, " Dahi ini..." Dia menyentuh kening yang sejak tadi terus menerus memunculkan kernyitan, lalu beralih mengelus pipi Nabila dengan lembut. " Mas gak sanggup jika harus melihat wajah murung ini menekuk terus menerus, jadi kumohon tanyakan semuanya sampai kamu puas dan merasa lega. Insya Allah, Mas akan jawab dengan sejujur-jujur nya."
Nabila hanya membuang muka kesamping untuk menghindar, kemudian membuang muka ke depan menatap jalanan “ Mas itu ngomong apa sih? Aku tuh cuman capek aja, pasien aku tadi banyak. Dan tadi udah makan kok, sebelum Mas datang. Zahra sempet buatin mie rebus kesukaanku, dan udah lumayan bikin kenyang." Jawab Nabila bohong.
Bhintara tersenyum. Meraih tangan Nabila untuk ia genggam. Meski sang empunya sempat menolaknya dengan kuat. “ Maaf” Hanya satu kata itu saja yang mampu ia keluarkan dari mulutnya. Berharap bisa sedikit menenangkan hati Nabila saat ini.
" Maaf untuk apa, kamu kan gak salah? " Jawab nya serat akan sindiran. " Udahlah mas, aku cepek. Bisa kita pulang ke rumah kamu sekarang juga? Udah ngantuk banget, pingin istirahat. " Lanjut nya sambil pura - pura menguap.
" Apa! Rumah kamu? " Tanya Bhintara sekali lagi untuk memastikan.
Nabila menoleh " Iya, itu memang rumah kamu kan Mas?"
Bhintara langsung menepi memberhentikan laju mobilnya dengan mendadak. Lalu menatap tajam ke arah Nabila. " Hanya Rumah aku kamu bilang? Itu rumah kita! Rumah K-I-T-A sayang!!" Tutur Bhintara ngotot.
Nabila menggidikan bahu nya lelah, mengendurkan sedikit otot nya yang sedari tadi menegang berusaha mengalah. " Ya, ya. Terserah kamu saja. Dan sekarang, bisakah jalankan lagi mobil nya?"
Terlihat Bhintara meraup wajah nya dengan gusar " Astagfirullah Nabila....kamu bikin mas bin....."
" Mas! Udahlah...aku capek butuh istirahat, biarkan aku tidur. Dan tolong bangunkan aku, jika nanti kita sudah sampai rumah oke! "
Mulut Bhintara terbungkam dengan ucapan Nabila yang kembali ketus pada nya, dadanya sedikit merasakan nyeri di ulu hati. Sikap Nabila kembali dingin seperti di awal-awal pernikahan.
Akan Lebih baik jika sekarang ia mendapatkan tamparan atau pukulan saja dari istrinya tersebut, dari pada harus mengulangi ke acuhan Nabila yang dapat melukai hati nya.
__ADS_1
Bhintara mencengkram setir mobil dengan kuat sampai kuku jari-jari nya memutih, Menggigit bibir nya menahan diri agar jangan sampai lepas kendali." 𝑆𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑡𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑚𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢. 𝐴𝑘𝑢 𝑔𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑝." 𝑅𝑖𝑛𝑡𝑖ℎ 𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑡𝑖.