
...Sejatinya, tujuan Allah menciptakan hati hanyalah untuk menunjukan...
...cinta-kepada nya....
...-Ibnu Taimiyyah-...
Malam semakin larut, hanya menyisakan sunyi dan bunyi suara hewan yang saling bersahutan memecah keheningan.
Membuat wanita berambut hitam panjang itu asyik melakukan kegiatan yang sangat dia sukai. Merenung sambil melihat ke arah luar jendela di salah satu kamar milik santriwati yang tadi sore terpaksa di ungsikan sementara waktu ke kamar sebelah, di karenakan mereka berdua telah memilih tempat tersebut untuk menginap malam ini.
Ya mereka. Tepatnya Zahra dan juga Nabila, ke duanya sekarang ini sedang berada di dalam pondok pesantren putri guna memenuhi permintaan Umi Khadijah sore tadi agar tinggal lebih lama lagi di sana.
Dan akhirnya setelah melewati perdebatan cukup panjang dan alot dengan Umi Khadijah, yang kekeh sekali agar mereka tinggal di rumah utama saja, setelah mengeluarkan bujuk rayu pada mantan calon mertuanya, Nabila sekarang bisa bernafas lega saat wanita sepuh itu menganggukan kepala tanda setuju akan usulnya yang ingin bermalam di pondok pesantren putri saja.
Maka di sinilah mereka bisa beristirahat dengan tenang sekarang, meski tak di pungkiri sekali dua kali Nabila merasakan gelenyar aneh saat mata nya kembali melihat menemukan setitik dua titik kenangan di sana, yang sebisa mungkin ia enyahkan dari fikiranya, karena mulai sekarang Nabila bertekad akan mulai berdamai dengan semua.
Nabila mengernyitkan dahi saat netra matanya menemukan siluet wanita di dalam kaca sana yang hanya menggunakan celana pendek di atas lutut dan kaos besar kedodoran sedang mondar-mandir gak jelas, membuat nya seketika pusing tujuh keliling.
Siapa lagi kalau bukan Rika Zahra Amelia sahabatnya, yang sekarang ini lebih terlihat seperti gadis remaja zaman Now dari pada wanita muslimah yang biasa di tampilkanya saat di luar sana, lain halnya kalau sudah di hadapan Nabila seperti saat ini, yang kelewat biasa dan seenaknya sendiri.
Nabila sempat berfikir, apa sebenarnya sahabatnya itu adalah jelmaan remaja gaul yang sedang numpang hidup di raga wanita muslimah yang anggun?
Wallahhua'lam hanya ALLAH yang tahu !!
" STOP ! "
Ucap Nabila mengintrupsi, lalu memutar badanya menghadap Zahra dengan memijit pangkal hidungnya merasa pening saat melihat tingkah wanita gaul ala-ala itu. " Kamu ngapain sih Ra? bolak-balik kayak setrikaan? bikin pusing tahu gak !!! " Ucapnya kemudian.
Zahra melirik ke arah sumber suara, mengerutkan kening seraya menatap sahabatnya keheranan, melihat exspresinya yang seperti itu membuat seorang Nabila jadi ikutan ber exspresi yang sama.
"Ke.. n.. napa..? " tanya Nabila gugup, karena di tatap seperti itu oleh Zahra.
" Ya, kamu itu yang kenapa? " jawab Zahra malah balik bertanya.
Nabila menyatukan alisnya bingung, merasa pusing sendiri dengan jawaban Zahra yang malah seperti muter-muter gak jelas. " Maksud nya? "
Dia berjalan ke arah kasur kecil yang berada di kamar tersebut sembari menunggu jawaban Zahra yang malah membalasnya dengan memicingkan mata saja." Ngelihatnya biasa aja donk, ngeri ih tatapanya, udah ah aku mau tidur! " lanjutnya masa bodo dengan Zahra.
Kemudian Nabila membaringkan badanya di atas kasur, namun saat hendak menyelimuti tubuhnya tiba-tiba saja Zahra menariknya kasar.
" Issh..... apa sih Ra? " Sungutnya kesal.
__ADS_1
" Ck. !! kenapa malah tidur? aku belum selesai ngomong!! " balasnya tak kalah sebal.
Nabila bangun dari rebahanya, memasang badan serilexs mungkin siap mendengarkan." Kamu itu ya, kenapa dari tadi sore berdecak terus? kupingku sampai panas ngedengerinya, lagian jadi wanita muslimah itu mbokya yang lemah lembut dikit. "
Bukanya tenang mendengarkan Zahra berbicara Nabila malah terpancing dengan penampilan Sahabatnya yang terlalu sembrono, mengingat ini bukanlah kamar pribadi melainkan kamar milik santriwati. " Ini juga, kenapa mesti pakai baju kayak gini? gak ingat ini di mana? " cercanya lagi sambil menarik sedikit kaos oblong kedodoran yang di pakai Zahra.
Tanpa sadar Nabila berbicara dengan menggebu-gebu, membuat Zahra memicingkan mata nya ikutan bingung sama arah pembicaraan yang semakin ngalor ngidul gak jelas.
" Kenapa kamu jadi malah komentarin pakaian aku? " sungut Zahra tak terima. " lagian aku juga udah kunci pintunya jadi aman, gakda yang lihat. " sambunya lagi.
Nabila menghela napasnya jengah, lalu menyandarkan badanya di tembok pasrah. Percuma saja ngomong sama orang yang selalu punya banyak stok jawaban macam Zahra ini.
" Oke, oke aku dengerin ! mau ngomong apaan? cepetan GPL. "
Zahra menghembuskan nafasnya kasar, memajukan badanya agar lebih dekat ke arah Nabila. " Apa kita pulang aja malam ini Bil? "
" Ngomong apaan sih? jangan nglantur deh. "
" Gak... aku gak nglantur, ini beneran!! ayo kita pulang sekarang."
Nabila menyipitkan mata nya menilisik.
" Dan gak pamitan sama Umi dan Abah? "
Nabila menjitak kepala Zahra dengan keras, agar berhenti dari omonganya yang mulai kemana-kemana. " Rasain, lagian baru saja tadi sore di jelaskan sama abah tentang adab seorang santri, eh ini udah lupa aja, kayak nya lama di luar negeri otak kamu tertinggal di sana deh Ra, buruan ambil gih. "
" Yee.... enak aja, aku itu khawatirin kamu ya Bil, eh yang di kawatirin malah biasa aja, ya udah kalau gitu good night. " Ucap Zahra sembari beringsut tidur di sebelah Nabila, meng akhiri percakapan malam ini karena kesal sebab ke khawatiranya tak berpengaruh apa-apa pada gadis itu, ia kemudian menutup seluruh badanya dengan selimut dan memunggungi Nabila mengacuhkan.
Sedangkan Nabila hanya bisa memperhatikan gadis bawel itu dengan tersenyum sunging tanda ia mengerti, bahkan sangat mengerti jika sahabatnya itu terlalu khawatir denganya, tapi balik lagi ke rencana awal bahwa dia sudah bertekad akan ikut saja dengan takdir yang ingin membawa nya kemana.
Dia ikut merebahkan badanya di samping Zahra berniat untuk memejamkan mata namun ia urungkan karena dering HP nya yang tiba-tiba berbunyi.
Kemudian ia membuka ponselnya, dan menemukan satu pesan dari dokter Iqbal tertera di sana.
Dokter Iqbal.
Kamu gak di rumah?
Nabila menggercap melihat apa yang muncul di layar ponselnya, belum sempat ia memikirkan balasan apa yang akan dia kirim, kali ini panggilan telpon dari laki-laki itu malah muncul.
Kenapa harus telpon selarut ini sih? mana sedang ada Zahra lagi di samping nya, kan gak enak rasanya?
__ADS_1
Ia melirik sebentar ke arah Zahra yang sedikit bergerak dalam tidur nya, dan bisa di pastikan jika orang yang ada di samping nya itu belum sepenuhnya tidur.
Tapi ya... mau bagaimana lagi? jika dia tak mengangkat nya bisa-bisa semalaman akan mendapatkan teror telepon dari laki-laki posesiv itu.
"Ha... lo, asalamualaikum? "
"Waalaikum salam, kamu dimana? kok tadi aku mau mapir ke rumah gak ada, padahal aku udah bawain martabak telor kesukaan kamu."
Nabila gelagapan, berfikir dengan keras, siapa lagi yang akan ia tumbalkan ke dokter Iqbal kali ini? dan.... sepersekian detik secepat jentikan jari, nama seorang dokter spesialis kandungan yang selama ini lumayan dekat denganya gak tau kenapa melintas begitu saja di kepalanya.
" Ehm... itu..., anu... aku sedang di rumah dokter Ais..yah. Ya, dokter Aisyah. " Ucap Nabila gugup.
Dokter Aisyah..., maafin aku.. terpaksa kali ini aku meminjam namamu !! batin Nabila meringis membayangkan bagaimana marahnya wanita imut itu esok hari.
Hening tak ada suara....
Karena tak sabar ingin segera meng akhir telpon ini Nabila berinisiatif bicara lebih dulu. " Dok? ap..... _"
" Apa ucapan kamu kali ini bisa di percaya? "
" Ya ? " sahut Nabila yang malah seperti bertanya, semoga saja dokter Iqbal tak menyadari jika ada tanda tanya pada ucapanya, bisa makin runyam nanti urusanya.
" Oke, aku percaya. Yaudah kalau begitu habis ini langsung tidur jangan begadang malam-malam gak baik buat perempuan, dan......... "
" Dan apa? " sarkas Nabila penasaran.
"Dan.... jangan lama-lama buka hati nya buat aku. " jawabnya lirih seperti ragu-ragu.
Nabila termangu, mendengar penuturan Dokter Iqbal yang seperti menahan sesuatu dari nada bicara nya, dan kalau boleh jujur Nabila juga sebenarny nga mau terus-terusan membuat anak orang terus menunggu, tapi mau bagaimana lagi kalau kenyataanya hati Nabila sampai saat ini masih belum bisa terbuka.
" Kak ? aku....ak......_"
" Udah, udah. Gak usah terlalu di fikirin, selamat tidur jangan lupa mimpiin aku. aku tutup dulu telponya asalamualikum. "
" Waalaikumsa....... _"
Tut.... tut... tut...
Nabila terbengong, menatap HP miliknya lamat-lamat sembari memikirkan sesuatu, hingga ia terjingkat saat bunyi notifikasi ponselnya kembali terdengar, dan langsung mengusap benda itu lagi.
"Ternyata notif instagram." gumamnya sambil mengeklik layar, dan tidak lama dari itu tulisan pun muncul yang entah mengapa membuat jantungnya langsung berdegub kencang saat melihat deretan tulisan nama seseorang.
__ADS_1
Binthara Nakhla started following you