Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Kenapa bibir ini selalu terdiam hem?...


__ADS_3

Mungkin usul Zahra sedikit gila, seperti terlalu ingin menjatuhkan harga diri Nabila sampai ke dasar- dasarnya.


Tapi…kalau di fikir-fikir tak ada salahnya juga mencoba dan menurutinya.


Toh, ini juga demi kebaikan mereka. Jadi gak ada salahnya donk! Jika Nabila melakukan itu semua?


Sekarang jam sudah menunjukan pukul empat sore, Nabila membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Bergegas untuk segera pulang guna ingin menyambangi Bhintara ke kampus di mana laki-laki itu mengajar.


Sambil berjalan menuju parkiran dia sesekali melihat jam yang melingkar di tanganya. “ Harusnya sih dia masih di kampus kalau jam segini.” Gumamnya pada diri sendiri.


Sebenarnya Nabila sempat bertanya-tanya, apa saja sih yang di lakukan laki-laki itu di kampusnya sampai larut malam begitu kalau pulang? Berangkat pagi-pagi dan pulangnya terlalu malam sekali.


Wajar jika Nabila sedikit mencurigai.


Meski Nabila cuek selama semingguan ini, tapi dia tetap diam-diam mengamati aktivitas yang di lakukan sang suami dari dia bangun sampai tidur lagi. Semuanya tak ada yang luput sedikitpun dari penglihatan Nabila.


Salah jika ada seseorang yang bilang jika Nabila tak menggunakan hati untuk memahami sang suami, karena nyatanya dia selalu menggunakan perasaan jika sudah menyangkut perihal laki-laki penuh teka-teki itu.


Jujur saja ia sempat curiga dengan segala aktivitas yang di lakukan suaminya selama ini, seperti tak wajar di pandangan Nabila dan itu salah satu yang membuatnya ragu terhadap Bhintara.


Namun dia mencoba mengenyahkan fikiran-fikiran negatif itu, demi mewujudkan keinginanya untuk mengganti Nama Aulia menjadi Nabila di hati Bhintara.


Bukanya ia tak mau berbicara pada suaminya, hanya saja dia masih marah dengan laki-laki itu. Butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi dan menerima segalanya agar menjadi mudah, tak menyakiti hatinya lagi.


Tapi sepertinya keadaan memang sudah semakin menjadi-jadi jika di biarkan terus-terusan begini.


Dan jadilah Nabila, yang kali ini harus lebih dulu mengalah. Mengenyampingkan ego demi kelangsungan rumah tangga itu nanti.


Nabila menghela napas pelan, udara masih sangat panas menyengat. Penampilanya ia bikin serapi mungkin, serta makeup tipis mampu menyamarkan wajahnya yang pucat berkat sapuan blush on warna pink di pipi bulatnya.


Dia harus tampil secantik mungkin, meski hati rasanya acakan-acakan sekali. Tapi tak apa demi menyenangkan hati sang suami, sekali-kali boleh lah begini.


Sambil menunggu taxi pesananya ia mengangkat telpon untuk menghubungi Dokter Aisyah, guna menanyakan dimana letak kampus tempat suaminya mengajar.


“ Asalamualaikum Bil, ada apa? Mbak lagi di jalan nih, bentar lagi nyampek rumah sakit. Kamu gimana, udah baikan? ”


“ Alhamduilah Dokter sudah agak baikan, ini Nabila juga sudah mau pulang. Oh iya, alamat kampus tempat mas Bhintar mengajar dimana ya dok? “ tanya Nabila.


Hening tak ada sahutan.


Mungkin dokter Aisyah bingung, dengan pertanyaan yang dilontarkanya. Namun peduli apa? lagian wanitu itu juga sudah sedikit tahu tentang masalahnya. jadi Nabila cuek saja menanyakan tempat suaminya mengajar yang seharusnya ia sendiri tahu.


Akhirnya taxi yang di pesan Nabila datang juga, ia segera masuk kedalam mobil berwarna biru itu dan langsung menyandarkan badanya di jog kemudi mencari kenyamanan. Sebab udara di luar cukup membuatnya kepanasan.


“ Dokter Aisyah……”


“ Eh? Iya Bil. Sory…sory, itu.. kamu sekarang posisinya ada di mana?”


Kini giliran Nabila yang terdiam, “ Kenapa pertanyaanya harus di balas dengan pertanyaan juga sih?” batin Nabila menggerutu.


“ Sekarang saya udah di dalam taxi Dok, emangnya kenapa?” jawab Nabila apa adanya.


“Gak apa-apa sih Bil. Emm... Kamu Universitas Tunas Bangsa tahu gak ?”


“ Gak begitu paham sih dok, tapi mungkin pak supirnya tahu.”


Nabila melihat ke depan ke arah sepion, dan saat matanya bertemu pandang dengan si bapak-bapak itu yang menganggukan kepalanya. Nabila balas tersenyum sembari mengangguk sopan sebagai ucapan terimakasih.


“ Oh kalau begitu, nanti kalau udah sampai sana kamu langsung aja cari gedung B, lantai dua, dari tangga pertama langsung belok ke kiri. Kayaknya nanti ada nama Bhintara tertulis di depan pintu deh Bil, kalau gak salah. Ngerti gak? ”


“ Emm…………sedikit bikin pusing sih dok, tapi nanti coba aku cari deh.” Jawabnya sedikit ragu.


“ Mumet ya? Sama aku juga ribet kalau mau nyari ruanganya mas Baim. Atau gini aja deh Bil, kamu tanya ke salah satu mahasiswa di sana. Terus minta anterin aja langsung ke fakultas Tarbiyah. Bilang aja kamu mau ketemu pak Bhintar gitu, biar cepet.”


“ Oke, kalau begitu dok makasih atas infonya aku tutup dulu ya telponya. Asalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


...***...


Butuh waktu sampai sekitar tiga puluh menitan untuk sampai di UTB (Universitas Tunas Bangsa ). Jangan di tanya lagi bagaimana keadaan Nabila saat ini, karena dirinya sekarang sedang sibuk ples bingung mencari-cari di mana letak gedung yang di maksud dokter Aisyah tadi.


Dia hampir saja mengirimkan Chat pada Bhintara untuk menanyakan dimana ruanganya berada, namun urung saat netra matanya tak sengaja menangkap keberadaan salah satu Mobil berwarna kuning gonjreng yang sangat ia kenali siapa pemilik dari Mobil norak itu.


Nabila mengernyit heran, bagaimana bisa Mobil itu ada di parkiran yang khusus di peruntukan untuk para dosen? Bukankah selama ini pemilik Mobil tersebut berada di Jogja sana? Kenapa tiba-tiba bisa nyasar di sini?


Aneh, sungguh membuat heran sekali.


Merasa keberadaan Mobil tersebut lebih menarik atensinya, ia kembali berselancar dengan hp miliknya. Mencari-cari kontak Vika di dalamnya. Dia ingin memastikan sendiri dengan apa yang di lihatnya sekarang ini, namun lagi-lagi urung karena Hanpond miliknya tiba-tiba saja habis baterai.


“ Ish….kenapa sih ini Hp kebiasaan mati saat keadaan sedang penting begini? Lama-lama gue ganti juga ini Hanpond. Bikin kesel ih ! “


Nabila uring-uringan sendiri sambil menatap benda pipih miliknya, dan baru berhenti menggerutu saat melihat satu mahasiswi cantik berhijab sedang melintas di hadapanya dengan menggunakan jas Almameter yang berlogokan Tarbiyah di belakangnya.


Tanpa membuang-buang waktu ia langsung menyetop laju jalan gadis tersebut.


“ Permisi dek, mau nanya Fakultas Tarbiyah di mana ya?”


Gadis itu tersenyum. “ Kebetulan bgt kak, saya juga mau kesana. Apa mau sekalian bareng aja?” tawarnya yang langsung di angguki Nabila.


“ Iya boleh dek, biar gak kesasar juga.”


Sambil berjalan beriringan Nabila melemparkan beberapa pertanyaan yang akan selalu di jawab oleh gadis itu dengan senang hati.


“ Oh ya, Kakak ambil jurusan apa di sini? Kok sepertinya saya gak pernah lihat.” Tanya gadis itu.


Nabila hanya tersenyum lalu menggeleng kecil “ Enggak kok, saya udah bukan seorang mahasiswa lagi, alias sudah lulus dari bertahun-tahun yang lalu hehe.”

__ADS_1


Gadis itu sempat menampilkan wajah terkejut namun hanya sebentar “Oh...Wow!! tapi kok gak kentara gitu ya kak masih kelihatan imut-imut banget? hehe”


Nabila terkekeh " Iya sangking imutnya malah kelihatan kayak marmut. " Jawab Nabila yang langsung menerbitkan senyum renyah di wajah mereka berdua.


Kemudian setelah itu keduanya kembali terdiam, gadis itu sesekali sibuk dengan Hp miliknya dan Nabila masih asyik dengan segala masalahnya.


Sejenak Nabila berpikir, apa dia suruh saja gadis itu untuk mengantarkanya ke ruangan Bhitara ya?


“ Emm…oh ya dek, apa kamu keberatan jika mengantarkan saya ke ruangan pak Bhintar? ” pinta Nabila ragu.


Gadis itu langsung mengernyit bingung “ Pak Bhintar yang mana ya kak? Soalnya di sini ada dua dosen yang bernama Bhintar. Yang masih single atau sudah menikah? ”


Nabila tampak berfikir “ Yang bernama Muhammad Bhintara Nakhla Al-Rasyid." Nabila menjeda " Apa pak Bhintar yang itu masih Single? ”


Nabila penasaran, hanya ingin tahu saja. Suaminya itu mengakui pernikahan mereka atau tidak?


Dan diam-diam berharap semoga Bhintara tak pernah menyembunyikan status mereka yang sudah suami istri di depan semua orang.


Padahal jika mengingat dirinya sendiri yang lebih memilih untuk menyembunyikan itu semua dari teman-teman rumah sakit, rasanya tak adil jika Nabila menuntut itu semua dari Bhintara.


Sebab sejak di awal Nabila sendirilah yang masih menutup hatinya. Lain halnya dengan Bhintara yang lebih menghujaninya dengan segala perhatian laki-laki itu untuk merayunya.


Ah......, Nabila jadi semakin tak sabar segera menemui laki-lakinya untuk meminta maaf.


“ Oh…. Pak dosen yang ganteng itu toh kak? Bilang donk dari tadi, kalau yang itu sih sudah terkenal banget di di fakultas ini." Gadis itu tersenyum seperti menerawang " Beliau selalu jadi bahan perhaluan kami di kampus ini kak, gak tanggung -tanggung bahkan mereka yang sangat mengidolakan pak Bhintar sampai bersedia lahir batin jika di jadikan istri keduanya. "


Mata Nabila langsung terbelalak kaget, gak menyangka jika murid Bhintara sampai segitunya menggilai laki-laki itu. Padahal selama ini dia biasa saja.


" Kok bisa pada segitunya, memang apa istimewanya dia? " tanya Nabila mencoba memancing.


" Pesenonya itu loh kak, gak nahan pingin di peluk. Dan satu lagi yang bikin kita pada tambah klepek-klepek, Dianya sayang istri banget soalnya hehehe.” Beo gadis itu.


Wajah Nabila sempat bersemu merah, mendengar penuturan dari gadis tersebut yang memuji Bhintara secara terang-terangan. Dia bahkan sempat berfikir apakah Bhintar memang se-sayang itu padanya? Tapi dari mana mahasiswi itu tahu kalau suaminya sayang pada istrinya?


Apakah Bhintara memang tipe seorang dosen yang gampang mengumbar hal pribadi di depan para mahasiswanya?


Tuh kan? Lagi-lagi laki-laki itu penuh teka-teki yang bikin Nabila penasaran.


Auk ah….Nabila pusing, biarkan sang waktu saja yang nantinya akan menjawabnya.


Tak berapa lama-lama di tengah fikiranya yang entah kemana, gadis yang mengantarkanya tadi sudah berhenti di ujung tangga. Kemudian menunjuk ke sebuah ruangan yang memang di atasnya sudah tertera Nama Bhintara di sana.


" Kak itu ruanganya pak Bhintar. "


Nabila tersenyum mengangguk. “ Terimakasih ya dek udah anterin kakak sampai sini.”


“ Iya kak, sama-sama. Saya masuk kelas dulu ya kak.”


“ Iya silahkan.”


...***...


Tok…tok…tok…


“ Iya masuk ! “


Perlahan Nabila membuka pintu tersebut dengan menahan deguban jantungnya.


“Asalamualaikum.”


"Waalaikum.......... Nabila !! "


Mata Bhintara terbelalak kaget saat mengetahui siapa yang datang.


Nabila menatap sejenak Bhintara dengan tatapan nana. Bagaimana bisa dia sedang berduan dalam sebuah ruangan bersama seorang perempuan yang ia sangat kenali. Duduk saling berhadapan di depan meja laki-laki tersebut.


Melihat Nabila datang, Bhintara tampak terkejut. Namun rasa kaget yang di rasakan laki-laki itu tak sebanding dengan keterkejutan Nabila saat ini.


Tak menyangka ternyata kedatanganya saat ini sangat tidak tepat sekali.


Wanita yang ada dihadapan Bhintara langsung menoleh saat namanya di sebut. Namun hanya diam saja tanpa mau mengeluarkan suara, wajahnya seperti banyak mengisyaratkan sesuatu. Tapi sungguh Nabila sangat tak pandai dalam membaca ekspresi seseorang.


"Aulia..... " bisiknya dalam hati.


Tiba-tiba rasa pusing yang sejak siang melanda kini kembali Nabila rasakan, dengan erat ia memegang ganggang pintu untuk menahan beban tubuhnya.


Dia lemas di tempat, merasa keputusanya kali ini salah. Dan besok dia akan memarahi Zahra habis-habisan, karena sudah mengusulkan ide konyol tersebut.


Nabila terpaksa memasang senyum palsu di hadapan Aulia seraya mengangguk kecil lalu menatap Bhintara yang masih tampak terkejut.


Lagi-lagi dia di hadapkan dengan wanita berkharisma itu sekali lagi, membuat hati yang sejak tadi penuh tekad kini tiba-tiba saja menciut. Jika harus di bandingkan dengan perempuan itu Nabila benar-benar bukan apa-apa.


Aulia beranjak dari kursi dan langsung berpamitan pada Bhintara ingin keluar.


“ Yaudah kalau begitu kak, persilahkan tamunya masuk. Aku sudah selesai, duluan ya Asalamualaikum.”


"Waalaikumsalam warohmatullah... hati-hati di jalan. "


Lihat? bahkan di hadapan Nabila saja, mereka masih bisa seperti itu. Wajar kalau dia yang notabenya sebagai istri cemburu dan sedikit marah.


Mana ada Wanita yang tidak kesal jika melihat suaminya masih seperhatian itu dengan mantan calon istrinya?


Nabila yakin bukan hanya dirinya saja yang akan merasakan kecewa jika di tempatkan pada situasi saat ini? bahkan mungkin hampir dari 90 persen seorang wanita gak bakalan ada yang ikhlas. Iya kan?


Bhintara kemudian mengangguk kecil, sedangkan Nabila tersenyum menunduk. Enggan memandang kepergian Aulia, padahal dia masih di ambang pintu.


Sekarang hanya ada Nabila dan juga Bhintara saja di sana. Nabila masih berdiri di tempatnya. Dia ragu antara masuk atau sebaiknya mencari alasan saja dan keluar lalu pulang.

__ADS_1


Nabila masih sibuk berfikir, sedangkan Bhintara sudah mulai tak sabar menunggu istrinya.


Melihat tak ada niatan perempuan itu untuk masuk dan duduk, Bhintara langsung beranjak dari kursi berjalan mengahampiri sang istri.


Tapi.. lagi-lagi ia kembali mendapatkan penolakan dengan mundurnya Nabila dua langkah dari tempatnya berdiri.


“ Sayang…..” Akhirnya Bhintara mencoba menggapai tangan Nabila, namun perempuan itu malah menengadahkan tanganya ke hadapan Bhintra seperti meminta sesuatu.


“ Aku keseni cuman mau minta kunci cadangan saja, maaf jika mengganggu. Kunci yang biasanya aku bawa ketinggalan di kamar.” Sarkas Nabila yang Menghadirkan kernyitan di dahi Bhintara.


Bohong! Nabila hanya membuat alasan saja, karena sedari tadi kunci rumah masih tersimpan rapi di dalam tasnya.


Bukanya memberikan kunci yang di maksud Nabila. Bhintara justru malah masuk kembali ke dalam, duduk di tempatnya semula. Menyilangkan ke dua tanganya di dada sambil terus menatap mata Nabila.


Terpaksa Nabila memperhatikan semua gerakan yang di lakukan Bhintara, menahan kesal karena bukanya memberikan apa yang dia minta. Laki-laki itu justru malah kembali masuk.


“ Kenapa malah duduk lagi?! cepat berikan kunci itu dan aku akan segera pergi.” katanya sambil memberengut sebal.


Fix perang dingin antara keduanya akan terus berlangsung, entah sampai kapan? Nabila tak tahu. Tapi yang pasti rencananya untuk berbaikan akan gagal total, mengingat Nabila yang kembali menaruh egonya di atas segalanya.


“ Kemarilah sayang, ambil sendiri.” Bhintara menopang dagu di atas meja dengan menampilkan wajah angkuh yang semakin memancing emosi Nabila.


Nabila menyesal ! sungguh !!


Awas saja, ini semua gara-gara Zahra! tunggu saja besok. Dia akan memberi perhitungan sama gadis pemberi solusi gila tersebut.


“ Di mana? ” terpaksa dia berjalan menghampiri meja Bhintara dengan menghentak-hentakan kakinya. Lalu berhenti tepat di depan meja.


Niat hati ingin sedikit bermain dengan beralasan lupa meninggalkan kunci pintu di rumah lalu kemudian pergi, tapi kini malah dirinya yang terjebak dalam permainananya sendiri.


Ck..mengenaskan.


Zahra.............sebutnya geregetan sendiri dengan si pemilik nama tersebut.


Dalam hati, tak henti-hentinya dia menyalahkan Zahra sebagai penyebab dari ini semua terjadi. Andai saja ia tak menuruti ucapan ngawur perempuan itu, pasti dia sekarang sudah istirahat dengan nyaman di kamarnya dan meneruskan marahnya entah sampai kapan.


“Kuncinya aku simpan di laci.” Bhintara melirik ke bawah mejanya, yang langsung bisa di tebak oleh Nabila jika di situlah kunci itu berada.


Nabila ingin lari saja keluar dari sana, tapi jika itu ia lakukan maka sama saja dia akan membongkar kebohonganya sendiri di hahadapan laki-laki menyebalkan seperti Bhintara.


Nabila masih diam di tempat. Sedangkan Bhintara sudah memundurkan tubuh beserta kursinya kebelakang menjauh dari meja. Seperti ingin memastikan jika dia tidak akan mempersulit Nabila untuk mengambil kunci tersebut.


“ Semakin cepat dek Nabila mengambilnya maka akan cepat pula kamu mendapatkanya dan bisa segera pulang.”


Bujuk rayunya begitu mengahanyutkan, membuat Nabila frustasi mendengar nada perintah yang setengah mengejek itu. Nabila benci, benci sekali melihat senyum licik yang tersungging di bibir laki-laki tersebut.


"Dasar tukang perintah ! tahu begini aku diamkan saja dia terus."


Merasa tak ada pilihan lain lagi, Nabila terpaksa maju semakin dekat ke arah meja itu. Langsung membuka laci dengan cepat, namun nihil. Ternyata di dalam sana hanya ada beberapa kertas saja.


"Bohong ! dasar laki-laki tukang tipu !! "


“ Mana kuncinya? Gak ada apa-apa di sini.”


Nabila Masih serius membolak-mbalikan kertas itu berulang kali, menajamkan penglihatanya namun tetap tidak ada.


Hingga bunyi derit kursi mengagetkan Nabila. Dia menoleh.


" Mas apa yang kam..... "


Deg!


Tiba-tiba saja tubuh Nabila di tarik dengan kuat oleh kedua tangan Bhintara. Wanita itu terkejut setengah mati saat suaminya menempatkan ia di pangkuanya. Mengurung dan membelit Nabila dalam pelukanya yang erat dari belakang.



“Mas, apaan sih lepasin gak?” ucapnya sambil menggeliat di dekapan Bhintara agar segera terlepas.


Bhintara menggeleng.“ Enggak, mas gak akan lepasin kamu segampang itu.”


Nabila terdiam kaku di pelukan Bhintara, membiarkan saja tangan laki-laki itu memeluk perutnya dan satu tanganya lagi mengusap pipinya dari belakang.


Asli, tengkuk Nabila langsung merinding. Bahkan bibirnya bergetar tanpa di minta saat ia merasakan sebuah kecupan-kecupan kecil mendarat di bahunya yang terhalang oleh jilbab.


“ M-mas, jangan kayak gini. Lepas dulu, oke kita bisa omongin ini baik-baik.” rengek Nabila yang justru malah semakin membuat Bhintara mempererat pelukanya.


“ Kamu selalu bilang kayak gitu sama mas, tapi nyatanya apa? Dek Nabila selalu kabur dan semakin menjauh tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.” Ucapnya sambil membalikan tubuh Nabila dengan cepat mehadapnya.


Nabila tersentak kaget dengan satu gerakan yang di lakukan suaminya. Mata mereka langsung bertemu.


“ Apa kamu tahu? bahwa sikap dek Nabila yang selalu diam selama seminggu ini udah bikin hati mas resah? ”


Pandangan mereka sama-sama terpaku, kembali saling pandang dari jarak sedekat itu membuat Nabila benar-benar gugup setengah mati.


Nabila memejamkan matanya saat merasakan usapan lembut di bibirnya.“ Kenapa ini selalu terdiam hem? Mas gak suka.” lanjut Bhintara dengan terus menyentuhnya menggunakan jari jempolnya.


Fikiran Nabila melayang, sentuhan Bhintara kali ini membuatnya melambung ke awang-awang.


Apa mungkin suaminya itu sudah mulai sayang?


Entahlah...... Authornya pusingnya bukan kepalang.


jangan lupa tinggalkan like, comen and vote biar bisa cepetan begulir ke BAB selanjutnya.


Tungguin part selanjutnya ya.... buat lanjutin baper yang tertunda ini...


2746 kata, gila gak tuh?

__ADS_1


__ADS_2