
...Umar bin Abdullah pernah berkata: Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda: ALLAH telah menetapkan ukuran-ukuran (takdir) 500 tahun sebelum dia menciptakan langit dan bumi....
...(H.R.Tirmidzi no.2309)...
“ Cukup hadapi semua, cobalah berdamai dengan hati dan fikiranmu ! teguhkan pendirian. Lagian mau sampai kapan kamu akan menghindar !! ?”
Kata-kata itu terus berdengung di kepala Nabila sepanjang perjalanan menuju pintu rumah Umi Khadijah, membentuk sebuah lingkaran di atas kepala yang membuatnya pening seketika.
Masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Saat ini hanya hening yang menemani karena tak tahu mengapa Zahra yang terkenal cerewet dan pintar sekali mencairkan suasana, kali ini tiba-tiba saja melempem ikut tak bersuara satu katapun.
Apa dia juga sama gugup nya seperti Nabila?
Tanpa sadar Nabila menghela napas panjang, menghembuskan rasa berat di dada, mengeluarkan semua beban fikiran. sembari mengucapkan Bismillah dalam hati. Dia menoleh ke arah Zahra dan mengeratkan genggaman tanganya saat tiba di depan pintu bercat putih itu.
Zahra menoleh ke arah Nabila saat remasan tangan Nabila semakin kuat, kemudian menampilkan sedikit sunyum yang lumayan berhasil membuat hati Nabila sedikit lega.
“ Semua akan baik-baik saja, percaya sama aku.” Ucap Zahra menangkan sahabatnya yang ia tahu sedang gugup luar biasa.
Nabila mengangguk tersenyum, menyerahkan semuanya pada Zahra. Percaya jika sahabatnya yang cerewet itu pasti akan bisa mengatasi kedaan nanti di dalam sana.
”Asalamualikum.” ucap mereka bersamaan.
“Waalaikum salam.”
Serentak semua yang berada di ruang tamu menjawab salam mereka berdua dengan tersenyum lebar, seperti menyambut kedatangan seseorang yang memang sudah mereka tunggu-tunggu sejak lama. Membuat Nabila yang tadinya sedikit tenang, kini kembali merasakan gugup tiga kali lipat dari sebelumnya.
Apa mereka tidak tahu? Jika jantung nya butuh di selamatkan sekarang juga? Apalagi tatapan semua orang yang berada di sana seperti tertuju hanya pada dirinya.
Rasa-rasanya ingin sekali membalikan badan dan langsung berlari meninggalkan tempat ini sekarang juga. Tapi itu tak akan mungkin, karena genggaman tangan Zahra yang begitu erat telah mengunci pergerakan Nabila, seakan sahabatnya itu tahu jika fikiran Nabila sedang merencanakan itu.
Di dalam ruangan itu terdapat empat pasang mata sedang memperhatikan ke dua wanita tersebut dengan tatapan masing-masing yang sulit di artikan, membuat wanita berkhimar coksu itu bergedik ngeri saat melihatnya.
Di dekat jendela ada Umi Khadijah yang duduk bersebelahan dengan Kyai Adullah di samping kananya, Sedangkan di kursi tengah ada laki-laki yang menggendong Umi Khadijah tadi dan di bawah kursi pojok ruangan ada juga si Mbok Marni sedang duduk di lantai, yang merupakan pemilik kantin pesantren saat dulu Nabila mondok, juga salah satu saksi dari perjalan kisah cintanya bersama Ustadz Adam dulu.
“ Nduk, sini duduk. Pasti kalian capek setelah mengantar Umi pulang tadi.” Ucap Umi Khadijah dengan tersenyum ramah, ingin berdiri dari duduknya menyambut kedatangan mereka berdua, tapi ia urungkan saat Nabila tiba-tiba saja langsung menghampiri nya untuk menyalimi beliau dan menyuruhnya agar duduk saja.
“ Umi gak perlu bangun untuk menyambut kami, jenengan harus banyak-banyak istirahat agar segera sembuh.” Katanya dengan tersenyum lembut perhatian.
__ADS_1
Umi Khadijah tersenyum mengangguk menurut , menatap wajah Nabila sebentar lalu merapikan jilbab gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu yang sedikit berantakan dengan penuh kasih sayang, kemudian kembali duduk dengan tenang.
Melihat Umi Khadijah sudah nyaman di kursinya, ia memundurkan kakinya tiga langkah ke belakang mengambil ancang-ancang duduk di bawah yang langsung di ikuti oleh Zahra di samping nya.
Selayaknya seorang santri yang menjaga tata krama pada sang Kyai agar merasa terhormati.
“ Loh? Kenapa kalian duduk di bawah? Duduklah di atas” protes Umi Khadijah yang ingin kembali berdiri menghampiri ke dua nya, namun kembali batal saat Zahra menggeleng dan mencegahnya.
” Gak apa-apa Umi, biarkan kami di bawah saja. ” balas Zahra dengan lemah lembut, membuat Umi Khadijah ingin kembali bersuara namun di cegah oleh Kyai Abdullah agar menurut saja.
“Iya Umi, lagian ini juga merupakan bentuk balas budi kami terhadap seorang guru yang sudah mengajarkan kami Ilmu, ber akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh kami lupakan sebagai seorang murid, dan sudah sepentas nya mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan Hak nya Mi.” sambung Nabila penuh kewibawaan saat mengatakan itu.
Kyai Adullah merasa kagum saat mendengar penuturan Nabila yang layak di puji itu, meskipun mereka sudah sukses tapi masih mementingkan Adab bertata krama pada yang lebih tua. Meskipun tak di pungkiri seiring dengan kemajuan zaman pemahaman itu sedikit terkikis.
“ Biarkan saja Mi, kalau mereka ingin duduk di bawah. Senyamanya mereka saja.” jawab Kyai Adullah menengahi dari perdebatan kecil yang terjadi antara mereka ber tiga.
“Subhanallah Neng, lama Mbok Marni gak pernah ketemu kalian berdua, sekalinya ketemu, Auranya terang bener.” Celetuk si Mok Marni memandang Nabila dan juga Zahra dengan kagum.
Sedangkan laki-laki yang di sebelah nya, hanya terdiam dan terus menatap ke arah Nabila dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
Nabila hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul, tapi lain halnya dengan Zahra yang malah balas membalas ucapan Mbok Marni. " Apa'an sih Mbok? awur-awauran makstunya? " canda Zahra yang menerbitkan gelak tawa semua orang yang ada di sana.
ليس منا من لم يجل كبرنا و ير حم صغر نا و يعرف لعالمنا حقه.
yang artinya: tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti Hak Ulama. (H.R. Ahmad dan di shahihkan Al Albani dalam Shahih Al jami). “ jelas Kyai Abdullah yang penuh kharisma saat mengucapkanya.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa mengangguk mengerti, sesaat semuanya hanya bisa diam tapi tak berlangsung lama saat suara Umi Khadijah memecahkan suasana
“ Oh iya, kenalin ini Bhintar, anak sulung Umi dan Abah yang sudah tak ceritakan tadi di mobil.” Kata Umi Khadijah memperkenalkan laki-laki yang sedari tadi hanya diam membisu tak bersura sedikit pun.
Nabila mendongak, melihat ke arah pria itu dengan kedua tangan yang di tangkupkan di dada dan memperkenalkan diri. ” Asalamualikum, perkenalkan saya Nabila dan di samping saya Zahra teman saya.” Ucap Nabila sambil menahan deguban jantung yang berdentum cepat, merasakan kaenehan pada dirinya yang entah mengapa ia juga tak mengerti.
" Iya. salam kenal saya Bhintar. " balas pria itu dengan datar.
Mendengar perkenalan Nabila yang hanya memperkenalkan dirinya dengan sebatas nama saja, membuat Umi Khadijah tak terima sebab selama ini meskipun Ustadz Adam telah tiada beliau masih menganggap Nabila sebagai calon manantunya dan akan begitu selamnya.
” Lebih tepat nya Calon menantu Umi, tunanganya adikmu Adam.” Sargahnya cepat karena tak terima, yang langsung mendapat elusan tangan dari Kyai Abdullah bermaksud menenangkan.
__ADS_1
” Umi ! “ potong beliau penuh pengertian.
Semua orang yang ada di ruangan itu kaget bukan main dengan penuturan Umi Khadijah yang seperti masih mengira jika Ustadz Adam masih hidup dan ada di sana bersama mereka, membuat kepala Nabila di landa pusing seketika dan mencari-cari pegangan untuk ia bersandar, karena badanya yang tiba-tiba lemas kehilangan keseimbangan.
Untung saja tangan Zahra langsung sigap memegangi punggung Nabila, berbisik lirih di telinga wanita berlesung pipi itu dengan setenang mungkin.” Longgarkan fikiranmu Bil, bersikaplah biasa saja aku yakin kamu pasti bisa.” bisik Zahra menyemangati.
Nabila hanya bisa tersenyum hampa, lalu mengangguk.” Iya, aku tahu bagaimana kali ini aku harus bersikap Ra.” Jawab Nabila mencoba menegarkan hatinya.
Ternyata selama ini bukan hanya dirinya saja yang masih belum bisa melupakan Ustadz Adam, dia lupa jika masih ada Umi Khadijah selaku Ibu kandung yang melahirkan beliau yang tentu hatinya lebih tersakiti berkali-kali lipat dari pada dirinya.
Bayangkan saja mana ada seorang ibu di dunia ini yang rela jika anak-anak mereka meninggal terlebih dahulu sebelum para orang tua? Jika pun mereka bisa mengubah takdir, Nabila yakin para mereka akan menukarkan takdirnya hanya untuk kebahagian dan umur panjang sang anak.
Tanpa di duga mata Nabila memanas, siap meluncurkan genangan air yang sudah terkumpul di pelupuk mata nya. Saat tiba-tiba saja teringat dengan sang bunda di jogja sana yang selalu tak pernah bosan menelfon dirinya hanya untuk mengingatkanya agar menjaga sholat,makan, dan istirahat yang cukup.
Nabila jadi kangen suara lembut nan penuh kasih sayangnya.
” اللهم ا غفرلي ولوالد ي وار حمهماكماربيا ني صغرا ” lirih nya dalam Hati.
Zahra menyenggol lengan Nabila yang sepetinya terlihat sedang melamun. “Bil, kamu baik-baik saja?” tanya Zahra masih dengan suara berbisik.
Nabila menggercapkan matanya tersedar.” I…i..ya..Ra, aku baik-baik saja kok.” jawab Nabila sidikit gugup.
“ Apa sebaiknya, kita pamit pulang sekarang? Sepertinya situasinya semakin tidak kondusif.” balas Zahra lagi dengan suara yang masih berbisik lirih.
Tanpa membalas ucapan Zahra Nabila langsung beranjak bangun dari duduk nya dengan menumpukan kedua lututnya di lantai, berjalan menghampiri Umi Khadijah dan juga Kyai Adullah yang terlihat masih berdebat kecil yang tak mereka mengerti.
Nabila siap mengulurkan tangan nya untuk menyalimi ke dua mantan calon mertuanya itu ” Umi, Abi, Kami berdua pamit pulang dulu, Umi banyak-bany….._”
“Gak ! “
Ke dua dokter muda itu saling pandang sebentar, lalu sama-sama mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dengan maksud dari ucapan Umi Khadijah.
“ Mak..maksut Umi bagaimana kami tak mengerti.”
Umi Khadijah langsung merosot kebawah dan mensejajarkan badanya sama dengan tubuh mereka berdua, lalu mengambil tangan Nabila. ” Umi mohon menginaplah di sini satu malam saja, Umi masih kangen sama kalian nduk.” Pinta nya penuh Harap.
Nabila langsung menengadarkan pandanganya merasa tak enak hati ke arah semua mata yang ternyata sedang memandang nya menunggu jawaban, lalu saat tatapan terakhirnya bersitatap dengan mata Kyai Abdullah, dia melihat anggukan samar di wajah tuanya.
__ADS_1
Membuat Nabila meringis tak enak hati sekaligus kasihan dengan mantan calon mertuanya itu yang sepertinya berharap jika Nabila mau menyetujuinya.
Lalu akhirnya dengan berat hati Nabila terpaksa mengangguk meng iyakan, membiarkan satu kali lagi takdir mamainkan skenario nya di tempat penuh kenangan ini.