Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Penikahan Poligami.


__ADS_3

π‘±π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’Žπ’†π’Žπ’‚π’Œπ’”π’‚ π’”π’†π’”π’†π’π’“π’‚π’π’ˆ π’–π’π’•π’–π’Œ π’‘π’†π’“π’…π’–π’π’Š π’ƒπ’†π’“π’•π’‚π’π’šπ’‚ π’•π’†π’π’•π’‚π’π’ˆπ’Žπ’–.


𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 π’π’“π’‚π’π’ˆ-π’π’“π’‚π’π’ˆ π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 π’Žπ’†π’π’„π’Šπ’π’•π’‚π’Šπ’Žπ’– π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒔𝒆𝒓𝒂𝒕𝒖𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏 π’‘π’†π’“π’„π’‚π’šπ’‚ π’Œπ’†π’‘π’‚π’…π’‚π’Žπ’–.


𝑻𝒆𝒓𝒍𝒆𝒑𝒂𝒔 π’…π’‚π’“π’Š 𝒂𝒑𝒂𝒑𝒖𝒏 π’Žπ’‚π’”π’‚π’π’‚π’‰ π’šπ’‚π’π’ˆ π’”π’†π’…π’‚π’π’ˆ π’Žπ’†π’Žπ’ƒπ’†π’π’†π’π’ˆπ’ˆπ’–π’Žπ’–.


...-π΅π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘Ž-...


β€œ Apakah kamu ingin minum? Berbaringlah…biar kakak yang ambilkan.”  Aulia hanya mengangguk memperbolehkan, memilih menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal di belakangnya. Kemudian menerima satu gelas air putih yang diberikan Bhintara lalu meminumnya dengan diam.


β€œ Terimakasih.” Ucapnya lirih, sambil menyodorkan nya kembali gelas itu pada Bhintara.


Bhintara menaruh sisa air minum tersebut dan menaruhnya ke atas meja. Lantas duduk di samping Brangkar yang ditiduri Istrinya dan menatap wanita dihadapan nya lama. Membuat Aulia sedikit risih dipandangi seperti itu.


Aulia sudah tersadar dari satu jam yang lalu, setelah tiba-tiba pingsan di kamar mandi karena sudah tak tahan dengan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepala saat hendak mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat sunnah malam. Untung saja Ibrahim datang tepat waktu untuk menolongnya, sebab kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan wanita itu nantinya.


β€œ Kenapa kamu gak langsung hubungin kakak saja, malah memilih menelpon Ibrahim daripada suamimu sendiri hem? kamu udah gak menganggap Aku lagi?” Tanya Bhintara langsung.


Aulia menggeleng merasa bersalah β€œ Bukan…bukan begitu! Aku……aku hanya gak mau ganggu kakak, takut Nabila tahu dan curiga dengan hubungan kita?”


Bhintara menghempaskan napasnya kasar, inilah yang tidak disukai dari wanita. Sok-so’an kuat padahal keadaan nya sendiri sangat mengkhawatirkan. Kenapa mereka suka sekali menyembunyikan luka dibalik kata-kata baik-baik saja? Mengapa sulit sekali untuk jujur dengan keadaan yang sebenarnya.


β€œ Kalau memang itu yang kamu takutkan, kenapa kamu menyuruh Aku untuk menikahinya Hem?!”


Bhintara mulai tak mengerti dengan pemikiran wanita cantik yang ada dihadapan nya sekarang, jika dia sendiri saja tak tenang dan ketakutan seperti ini. Lantas kenapa harus mengambil keputusan yang jelas-jelas sangat memberatkan keduanya, terutama untuk dirinya sendiri.


Aulia hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya. Jujur saja sebenarnya dia juga tak rela membagi suaminya, tapi ia terpaksa. β€œ Karena aku tahu, Kak Athar sangat mencintainya dan akan bahagia jika bersamanya. Lalu sebagai seorang istri apakah aku salah jika ikut andil untuk membahagiakan suamiku sendiri?”


Bhintara menghela napasnya lelah, menggelengkan kepalanya tak setuju dengan pemikiran istrinya kali ini β€œ Iya sangat aku akui tujuanmu memang sangatlah mulia dan benar, hanya saja caranya yang salah. Aku memang sangat mencintai Nabila, tapi Aku juga tak mau jika harus mengorbankan perasaan istriku demi kepentinganku sendiri. β€œ Jawabnya seraya meraih tangan Aulia untuk ia genggam β€œ Seharusnya kamu gak perlu nyakitin


perasaanmu sendiri kayak gini Lia. Jujur saja Aku juga ikutan sakit jika melihat istriku menderita seperti ini.”


Bhintara sedikit menjauhkan tubuhnya dari wanita rapuh yang ada hadapan nya, tak sanggup melihat pancaran kesedihan dimata istrinya. Tapi Bhintara bisa apa? dia sama tersiksanya dengan pernikahan poligami ini, sungguh! Ini bukan kemauan nya sendiri. Dia dipaksa dengan keadaan yang kebetulan harus mengikut sertakan Nabila dalam kehidupan nya yang serba rumit.


Bhintara tak bisa menolak permintaan Uminya yang menginginkan nya menikahi Nabila pada waktu itu, tapi ia juga kesulitan jika harus meninggalkan Aulia sebatang kara sendiri di dunia ini tanpa seorangpun yang menemaninya. Apalagi wanita itu sedang hamil.


Allahu Akbar!! Bagaimana ini? Bhintara merasa jadi manusia paling bejat sedunia, sebab sudah menjadi penyebab kesakitan yang dialami Aulia. Dan sekaligus pendusta, karena sering sekali membohongi Nabila.


Bhintara meremas rambutnya frustasi, semakin hari hidup yang ia jalani semakin rumit saja. Dia kewalahan mengatur waktu untuk kedua istrinya. Padahal ia sudah berusaha sebisa mungkin bersikap adil terhadap mereka. Tapi masih saja kecolongan memperhatikan keduanya.

__ADS_1


Bhintara sangat mencintai Nabila, tapi dia juga tak bisa jika harus meninggalkan Aulia. Bingung. Itulah yang dirasakan nya saat ini. Bimbang dan gamang, Apakah sebaiknya dia jujur saja terhadap Nabila?


Kepalanya menggeleng keras, Matanya sudah memanas. Bahkan mukanya sudah merah padam akibat menahan sekuat tenaga agar genangan air yang muncul di pelupuk mata tetap berada ditempatnya. Bhintara takut dan kalut, bagaimana kecewanya Nabila nanti jika semua rahasia ini terbongkar? Apa dia akan di tinggalkan, sanggupkah dirinya untuk itu! Entahlah….kepala Bhintara sakit. Jujur ia tidak rela jika harus merelakan Nabila pergi lagi dari sisinya.


Tiba-tiba Aulia menarik tubuh laki-laki itu untuk mendekat kepadanya. Lalu merebahkan kepala pada dada Bhintara dengan hati-hati, takut jika apa yang dilakukanya semakin membuat laki-laki itu tersiksa karenanyaβ€œ Maafin aku kak, ini semua salah Aulia. Akulah penyebab dari semua ini terjadi. Andai aku tidak hamil dan Mas………..”


β€œ Stop! jangan di teruskan. Di sini tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Kita semua hanya korban keadaan, jadi dari pada saling menyalahkan, lebih baik jalani saja apa yang sudah ada didepan kita dengan meminta Allah sebagai penolongnya dan petunjuk jalan.” Sela Bhintara mencoba tenang, padahal hatinya sendiri sudah bergemuruh merasakan khawatir pada rasa kecewa yang akan diberikan Nabila untuknya nanti.


Aulia semakin mengeratkan tangan nya untuk memeluk tubuh suaminya, dia tahu laki-laki itu hanya mencoba tenang saja. Padahal dalam hatinya dia ketakutan. Terlihat jelas dari detak jantungnya yang berdebar kencang dan kegusaran di wajahnya.


β€œ Kumohon jangan membuatku merasa menyesal dengan keputusan yang sudah ku buat sendiri kak, sebab jika keraguan sampai menghinggapiku itu percuma saja karena aku sudah tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Nasi sudah menjadi bubur, nyatanya sekarang kamu bukanlah milik ku seorang melainkan ada dia juga di sana yang berhak atas dirimu.”


Dirasa cengkraman di ujung bajunya semakin kuat. Bhintara akhirnya membalas pelukan istrinya dan mengelus puncak kepala mantan tunangan nya itu dengan sayang, benar apa yang dikatakan Aulia. Semuanya sudah terlanjur terjadi, jadi percuma saja jika harus disesali kembali. β€œ Inilah yang Aku takuti dari awal, bahwa dirimu belum sekuat itu untuk menerima poligami ini. Harusnya kamu abaikan saja perasaanku pada Nabila dan lebih fokus pada kesembuhan dan bayi dalam kandungan mu.” Tukasnya sembari meraup wajah Aulia untuk mendekat ke arahnya. β€œCepatlah sembuh, kakak Benar-benar mengkhawatirkan mu.”


Aulia mengangguk lemah β€œPasti. Karena Lia juga sudah bosan selalu berada di ruangan ini kak.” Kemudian Aulia balas menatap Bhintara dan tersenyum kecil β€œ Emm… Dari kapan kakak ada disini?”


Bhintara balas menatapnya lembut β€œ Semenjak Ibrahim menelpon, kakak langsung buru-buru kesini.”


Lihatlah kedalam matanya? bagaimana mungkin Bhintara sanggup membiarkan nya sendiri hidup di dunia ini tanpa satu orangpun disisinya. Bhintara tak setega itu!


Aulia membelalakkan matanya terkejut, β€œ Apa! Jadi kakak disini sejak subuh, Lalu bagaimana dengan Nabila? Kakak ceroboh! Dia bisa saja curiga Kak!” Aulia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Bhintara β€œ Harusnya kakak menunggu dia berangkat ke Rumah sakit lebih dulu seperti biasanya sebelum kesini.” Lanjutnya lirih.


Bhintara mengeram lelah ” Apakah menurutmu Aku bisa mengulur waktu lagi jika mengetahui istriku yang lain sedang bertaruh nyawa disini? Nabila sehat dan baik-baik saja waktu Aku meninggalkan nya, sedangkan kamu disini lebih membutuhkanku dari pada dia. Mungkin nanti Aku akan mencoba kembali menjelaskan nya lagi padanya, jadi kamu tak perlu khawatir. Jangan dulu banyak pikiran karena itu tak baik untuk kondisimu saat ini.” Bhintara kembali mengusap kepala milik Aulia menenangkan nya, mendaratkan kecupan hangat di pelipis wanita itu penuh kasih.


Bhintara hanya diam, membiarkan saja Aulia berbicara sesukanya. Dia sudah amat lelah dan merasa bersalah. Jadi….diam adalah salah satu pengalihan nya dari segala masalah yang selalu membuatnya resah.


...Β ***...


” Heh..! Penganten baru!! Kenapa sih seneng banget ngumpanin gue mulu ke dokter Iqbal?!”


Nabila yang baru saja ingin memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuh di kursi, melonjak kaget ketika Zahra tiba-tiba masuk. Nabila berdiri saat itu juga. Rasa kantuk yang sejak tadi melanda kini buyar seketika.


β€œ Astagfirullah Ra! β€œ Ucap Nabila terkaget β€œ Lo itu kenapa? dateng-dateng kok Marah-marah. Mbok ya kalau masuk ruangan itu dibiasakan ucap salam dulu. Kebiasaan deh.” lanjutnya lirih sambil menata jilbabnya yang sedikit berantakan.


Zahra yang tadinya sudah ingin marah-marah pada sahabatnya ia urungkan, tatkala melihat wajah pucat Nabila yang memprihatinkan. β€œ Loh! Lo sakit Bil? kok muka lo pucat gitu. Berantem lagi sama Gus Bhintar? Masalah yang kemaren belum terselesaikan apa bagaimana?” Tanya Zahra mulai khawatir.


Seharusnya sekarang ini Nabila sudah pulang karena jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, namun ia masih enggan beranjak dari ruangan nya karena malas jika harus di Rumah sendirian.


Tadi selepas waktu makan siang berakhir, Nabila mencoba mengirimi pesan pada suaminya. Sekedar berbasa-basi menanyakan keberadaanya dan ingin pulang jam berapa. Tapi sayang, karena ia tak langsung mendapat balasan saat itu juga. Dan baru satu jam setelahnya suaminya itu mengabari kalau dia akan pulang terlambat sebab masih ada urusan yang harus diselesaikan nya.

__ADS_1


β€œ Gue cuman sedikit pusing, tapi tadi udah minum obat kok. Paling sebentar lagi udah enakan. Jadi lo gak usah pasang tampang panik kayak gitu. Gue gak mau ya? Lo seret lagi keruangan dokter Aisyah kayak waktu itu.” Jawabnya penuh sindiran.


Nabila berjalan kearah kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya yang dirasanya kucel, tanpa menutup pintunya ia mulai membasahi mukanya dengan air yang langsung mengalir dari keran. Sedang


Zahra hanya bisa mengikuti sahabatnya dari belakang. Tidak ikut masuk namun tetap menunggu sembari menyandarkan tubuhnya di samping pintu kamar mandi dengan menyilang kan kedua tangan nya ke depan dada.


β€œ Lo beneran gak mau cerita ke gue Bil? ” Tanya Zahra dengan pandangan sedikit melirik ke arah Nabila.


Nabila mematikan keran nya kemudian mendongak menatap kearah cermin untuk melihat siluet sahabatnya di luar. Sambil keluar ia tersenyum. Dia sampai lupa, jika sahabatnya yang satu ini kan memang sulit sekali untuk dibohongi. β€œ Kok elo masih di sini sih? bukanya seharusnya udah pulang dari jam lima?”


Terdengar Zahra seperti mendengus kesal di belakangnya. Nabila hanya melirik sekilas, kembali duduk di kursinya. Menarik beberapa tisu di atas meja lalu mengusapkan nya pada wajah basahnya. β€œ Duduk sini! β€œ Perintahnya hanya dengan kerlingan matanya.


Zahra menurut, menarik kursi yang ada di hadapan Nabila dengan kasar β€œ Sebenarnya gue mau marah sama lo! tapi gak jadi karena gue gak mau di tuduh menganiaya anak orang di saat orang tersebut sudah teraniaya duluan.” Sungut Zahra memberenggut kesal.


Nabila mengangguk setuju β€œ Maafin gue. Habisnya gue gak tahu lagi gimana menghindari nya.” Jawab Nabila yang sudah tau penyebab dari sahabatnya itu marah-marah.


β€œOke kali ini gue maafin, lupain aja! tapi untuk selanjutnya gak mau lagi. Ini yang terakhir Bil. Gue gak mau berurusan sama dokter Iqbal terus.”


β€œ Gue gak janji.”


β€œ Loh?? kok gitu! β€œ


Nabila berdehem mencoba tenang, kemudian menarik dua buah lipstik dari dalam tasnya lalu mengarahkan nya kehadapan Zahra β€œ Menurut lo gue pakai yang mana?” Ucap Nabila gak nyambung.


Zahra mengernyitkan dahinya dalam saat menatapnya, menampik dua lipstik itu kesamping kemudian memelototkan matanya kesal pada Nabila β€œ Lo apaan sih Bil, jangan ngalihin pembicaraan deh.”


Wanita berlesung pipit itu tersenyum saja menanggapinya, kemudian memilih lipstik berwarna merah gon jreng untuk ia sapu kan pada bibirnya dengan gerakan dibuat sepelan mungkin.” Ah, kayaknya merah bagus kali ya Ra! Buat nutupin bibir gue yang pucat.”


Nabila sudah Hampir mengoleskan nya, namun tinggal satu inci lagi lipstik itu mendarat ke bibirnya…Benda itu sudah di rebut paksa oleh Zahra dengan kasar β€œ Lo mau godain suami orang atau bagaimana? Warna merah gak cocok buat lo!” Kemudian Zahra meraih Lipstik yang berwarna pink Peach dan menyodorkan nya ke arah Nabila β€œ Pakai yang ini saja! β€œ TukasnyaΒ  dengan nada yang masih tak bersahabat.


Nabila menyunggingkan senyuman nya. Dia sudah memperkirakan nya tadi bahwa sahabatnya itu tak akan mungkin membiarkan nya menggunakan warna lipstik tersebut. Zahra adalah penyuka Fashion dan MakeUp, yang paling gak suka jika melihat orang terdekatnya berpenampilan norak di waktu yang tidak tepat.


Sambil mengaplikasikan Lipstik pilihan Zahra ia berujar.


Β β€œ Ra, gue pulang ikut lo ya?”


***


Jangan lupa tinggalin like, Vote,

__ADS_1


komen.Β  Dan masukin cerita ini ke favorit kalian ya….


Terimakasih.


__ADS_2