Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Pertemuan


__ADS_3

𝑩𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏.


...π‘΄π’†π’“π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒕𝒖 π’π’‚π’π’ˆπ’Œπ’‚π’‰ π’‚π’˜π’‚π’ π’…π’†π’Žπ’Š π’Žπ’†π’π’„π’‚π’‘π’‚π’Š π’”π’†π’ˆπ’‚π’π’‚ 𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒂𝒏....



Jangan datang lagi cinta….


Bagaiman aku bisa lupa…


Padahal kau tahu keada’anya…


Kau bukanlah untu ku…


Jangan lagi rindu cinta…


Ku tak mau ada yang terluka…


Bahagiakan dia aku tak apa…


Biar aku yang pura-pura lupa….


Lagu dari Mahen yang berjudul pura-pura lupa mengalun merdu di dalam mobil, yang berisikan dua penumpang wanita berjilbab yang sedang terjebak dalam suasana canggung yang tiba-tiba melanda.


Nabila dan Zahra, dua sahabat itu seharusnya sekarang ini saling bercengkrama, menyalurkan kerinduan yang selama ini mereka pendam karena jarak yang memisahkan setelah empat tahun berlalu. Bukan malah sebalik nya, saling membisu karena sama-sama tak enak hati gara-gara mobil yang mereka tumpangi, lebih tepat nya pemilik dari mobil yang mereka naiki saat ini.


Wanita Berhijab putih itu berdehem, lalu bernyanyi mengikuti alunan lagu yang sedang di putar dengan suara lirih. Bermaksud menghilangkan rasa canggung, sembari sesekali melirik ke arah samping, dimana Zahra sedang duduk kaku sekarang.


Nabila menghela napas nya berat, merasa jengah sendiri dengan kelakuan sahabat nya itu yang terkenal sangat cerewet tiba-tiba saja berubah menjadi patung pancoran hanya karena menaiki mobil yang tak semestinya ia pakai untuk menjemput nya sekarang ini. Hingga selang lima menit kemudian terdengar suara getaran Handphone Nabila yang di simpan dalam tas milik nya berbunyi. Membuyarkan segala ke kecanggungan yang ada.


β€œRa, bisa tolongin aku lihatin siapa yang telepon?” Dengan masih terfokus pada jalanan yang ada di depan nya, Nabila meminta bantuan Zahra.


Hening sesaat….tak ada sahutan.


Nabila menoleh ke arah Zahra dengan mengernyitkan dahi nya penasaran sembari berfikir, sebenar nya apa yang terjadi dengan si cerewet itu? Kenapa seperti banyak pikiran dan diam membisu? Apa ini semua gara-gara Mobil yang ia pinjam ? Jujur sebenar nya Nabila tadi tidak mau memakai mobil itu, tapi di karenakan si pemilik yang memaksa akhir nya Nabila hanya bisa pasrah saja, dari pada akan di per lama menjemput Zahra.


Di tengah lamunan tiba-tiba Nabila seperti tersadar, saat bunyi klakson sebuah mobil berbunyi nyaring.


β€œ Astagfirullah.” Pekik Nabila kaget, lalu menggeleng mengenyahkan isi pikiran nya, dan kembali memanggil wanita ber_kimar pink itu dengan Nada yang sedikit keras.


Lihat saja, bahkan teriakan Nabila tak bisa mengalihkan perempuan itu dari lamunan nya saat ini.

__ADS_1


” Zahra !” Panggil Nabila akhir nya.


Mendengar namanya di panggil, Zahra pun jadi terjingkat kaget.


β€œ Ya Bil ?”


β€œ Astagfirullah, ya ALLAH Ra...!! Kamu ngelamun dari tadi, ada apa? ” Tanya Nabila penasaran, sedikit merasa jengkel sebab gara-gara memikirkan apa isi kepala Zahra, dia hampir saja terserempet kalau saja tak terdengar bunyi klakson menginterupsi nya.


Zahra menoleh gugup. β€œ Anu..anu…itu..it…” Kata nya terbata tak tahu harus menjawab apa.


Suara decakan samar keluar dari bibir Nabila. ” Ck, aku lagi ngomong sama kamu dari tadi. Mau minta tolong, bisa lihatin Hp aku di tas? Siapa yang telepon, kalau perlu angkat sekalian. ” Pinta nya pada Zahra yang masih seperti orang linglung


Zahra mengangguk, kemudian mengambil handphone tersebut dan melihat nya, setelah muncul nama siapa yang ada di layar, dia terdiam sebentar lalu menyodorkan nya pada Nabila. ” Dokter Iqbal yang telepon Bil.” Tutur Zahra dengan nada bergetar seperti menahan sesuatu.


Nabila seperti kaget, lalu kemudian menetralkan ekspresi wajah nya setenang mungkin. β€œ Angkat aja Ra gak papa, bilang kalau aku sedang nyetir.”


β€œ Gak !!” Tolak Zahra tegas.


β€œ Kenapa?”


β€œ Aku gak mau !!”


Nabila berhubungan baik dengan dokter Iqbal layak nya saudara, bahkan dia sudah menganggap laki-laki tersebut seperti kakak nya sendiri. Sedangkan di sisi lain ada Zahra yang diam-diam telah mencintai laki-laki itu, yang selalu tak lupa menyertakan nama nya dalam doa. Tapi Aneh justru dia malah berusaha mengikhlaskan cinta masa kecilnya itu hanya untuk kebahagian Nabila.


Mendengar jawaban Zahra yang keras kepala, membuat Nabila menghembuskan napasnya lelah. Menepikan mobilnya lalu menatap wajah perempuan yang berada di samping nya itu dengan tatapan tajam, dan langsung mengambil handphone milik nya dengan kasar. " Sini kalau kamu gak mau! Biar aku saja. "


β€œ Halo, assalamualaikum kak.” Jawab nya pada si penelpon dengan tak melepaskan pandanganya dari Zahra.


Zahra menghadapkan badan nya ke arah depan, mencoba tak peduli dengan tatapan Nabila yang seperti mengintimidasi, lalu memasang handset ke telinga dan mengotak_ngatik Hp nya sebentar, Seperti sedang mendengarkan sebuah lagu.


padahal dari tempat Nabila duduk, ia tahu sahabat nya itu sedang tak mendengarkan apa-apa, hanya sebuah alibi saja.


β€œ Iya, iya kak. Nanti kalau udah selesai aku langsung kembali ke Rumah Sakit. Ya udah kalau begitu aku tutup dulu telpon nya ya...Assalamualaikum.” Ucap Nabila menyudahi.


Sekilas Zahra menoleh ke arah Nabila, saat mata mereka saling bertemu ia kembali membuang muka nya ke depan. Tapi bukan Nabila namanya jika dia akan terus bungkam dengan kecanggungan yang sedang terjadi di antara mereka.


Nabila mencabut handset yang tertempel di kuping Zahra dengan kasar. β€œ Mau sampai kapan kamu kayak gini Hem?" Ucap Nabila yang mulai tak sabar


Zahra menoleh, mengernyitkan dahi nya bingung.” Apa sih Bil, yang kamu maksud? gak ngerti deh. ” elak Zahra dengan wajah setenang mungkin yang langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Nabila tak habis pikir.


β€œMemang nya aku percaya? Melihat wajah dan gestur tubuhmu yang tidak sinkron saja semua nya sudah jelas jika kamu sekarang sedang berbohong !” sarkas nya tepat sasaran, lalu menghembuskan nafas nya kasar. β€œ Sudah aku bilang! Aku itu gak akan pernah bisa menerima cinta dari dokter Iqbal sampai kapanpun! hanya kamu yang berhak Ra, hanya kamu !!” teriak Nabila penuh penekanan pada setiap kalimatnya.

__ADS_1


Zahra menoleh, menautkan ke dua alis nya sebentar.” Bil, kamu itu ngomong apaan sih? Aku gak ngerti deh.” jawab Zahra dengan masih kekeh tak mau menceritakan penyebab kegundahan hati nya.


Nabila menunduk menghembuskan napas nya lelah, sudah tak mengerti lagi bagaimana cara nya menjelaskan pada Zahra bahwa antara dia dan dokter Iqbal tak ada hubungan yang spesial.


Lalu tanpa di sangka-sangka Nabila mendongak dan langsung menampar pipi Zahra dengan pelan seperti menyadarkan.


Plak !


Zahra tercengang.


waktu seperti terhenti sesaat, menyisakan bunyi degup jantung yang saling berseru. Merasa kaget dengan tindakan Nabila yang tiba-tiba asal tampar saja.


Selama persahabatan mereka yang sedari kecil sudah terjalin, baru kali ini Nabila bertindak seberani ini pada Zahra. Namun alih-alih sakit hati dia malah balas tersenyum sungging seperti menertawakan diri nya sendiri lalu balas menampar Nabila dengan keras.


Plak!!!


β€œ Zahra kamu_ ?” tutur Nabila tak terima, dengan wajah cemberut.


β€œSakit kan?” suara itu sangat jelas, tapi terdengar bergoyang bersamaan dengan tetesan air mata yang mengalir dari pelupuk mata nya.


Sejujurnya Zahra juga ikut sakit saat menampar balik Nabila, tapi ia harus melakukan ini demi menyadarkan sahabat nya itu agar segera bangun dari kebodohan nya selama ini yang telah menyia_nyiakan seorang laki-laki yang baik seperti dokter Iqbal, meskipun yah orang nya pe_maksa dan menang sendiri tapi Zahra tahu laki-laki tersebut berhati baik, masa lalu nya saja yang merubahnya seperti itu.


β€œ Itu baru pipi, bagaimana kalau hati Bil?”


Nabila masih syok, dan memandang Zahra dengan tatapan sulit di artikan. Seraya memegangi pipi nya yang terasa panas, dia mengangkat wajah nya.” Maksud kamu apa Ra? Kenapa kamu balas tampar aku dengan keras? Padahal aku hanya menamparmu pelan.”


β€œ Kamu masih tanya maksud aku gimana Bil? Gak salah? Bukan nya aku di sini yang harus menanyakan itu padamu hem?”


Zahra menarik napas panjang, tak kuat lagi memendam. ” Dokter Iqbal Bil, dokter Iqbal ! mau sampai kapan kamu akan terus menyiksa nya seperti ini? empat tahun kamu suruh dia menunggu balasan cinta mu, apa kamu gak kasihan pada nya?”


Nabila terbungkam dengan semua kata-kata Zahra yang menohok hati nya, ia sadar memang dia adalah wanita kejam yang dengan gampang nya mematahkan hati Laki-laki yang mencintainya dengan tulus, selalu tak pernah bosan mengutarakan perasaanya meski terus ia tolak, laki-laki yang tak pernah sekalipun menampakan rasa kekecewaan pada nya malah sebalik nya ia justru sangat perhatian dan selalu tersenyum tulus.


β€œ Kamu tahu Bil, aku mengenal dia sejak aku di bangku SD, mengagumi pria itu diam-diam sejak kali pertama aku melihat nya, sosok nya yang lebih dewasa membuatku terpesona sejak saat itu, kelembutan nya, kesopanan nya, ke ramah tamahan nya, bahkan semua yang di lakukan nya selalu punya daya tarik lebih di mata ku, dan sekarang dengan tega nya kamu menolaknya?"


Nabila mendongak, menatap mata Zahra yang berbinar saat menceritakan sosok dokter Iqbal dengan antusias nya.” Lalu jika begitu_kenapa tidak denganmu saja? kenapa kamu malah menyakiti diri sendiri dengan menyerahkan nya padaku? Memang nya dia barang!" jawab Nabila lirih.


Zahra menghadapkan badan nya ke depan, mengusap air matanya lalu kembali bersuara. " Sudahlah Bil, aku capek butuh istirahat langsung saja kita ke Rumah kamu. " tutur Zahra pasrah.


Nabila hanya bisa menghembuskan napas nya lelah, selalu saja begini saat pembahasan tentang dokter Iqbal di angkat! Tak ada yang mau menurunkan ego masing-masing jika sudah menyangkut satu laki-laki itu.


"Oke, terserah kamu saja. " Jawab Nabila pasrah.

__ADS_1


__ADS_2