Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Before merried


__ADS_3

Seumur hidup Nabila tak pernah menyangka bahwa dia akan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak mencintai nya. Yang dengan terang-terangan memberi tahu  jika di dalam hati laki-laki yang sekarang ini sudah menjadi suaminya tersebut, ternyata ada nama wanita lain yang masih bertahta di dalam nya.


Awal nya Nabila kaget dengan kejujuran Bhintara. Ingin sekali mundur dan menjelaskan alasanya baik-baik dengan sang Bunda nanti, tapi tidak jadi karena seperti nya ucapan yang di lontarkan suaminya minggu lalu cukup mempengaruhi Nabila. Yang pada waktu itu berjanji akan berusaha untuk mencintai dan membuka hati nanti nya.


Kita lihat saja! Apakah Bhintara mampu dan bisa?


Jujur Nabila ragu, tapi tak ada salah nya kan? memberi kesempatan untuk membuktikan janji itu. Siapa tahu Bhintara memang jodoh yang benar-benar dikirimkan tuhan untuk nya. Pikir Nabila pada saat itu, yang merupakan hasil dari pembicaraan yang di lakukan dengan Bintara minggu kemaren.


Sekarang ini Nabila sedang berada di kamar nya, duduk di depan meja rias sambil menghapus Makeup tebal di wajah dengan sesekali termenung memikirkan nasibnya yang miris.


Sudah bukan lagi wanita lajang, melainkan seorang istri dari laki-laki menyebalkan. Yang se_enak nya sendiri mengatur hari pernikahan tanpa membicarakan terlebih dahulu padanya.


Menyebabkan Nabila kelimpungan sendiri karena jadwal yang sudah ia susun rapi dari jauh-hari, seketika menjadi berantakan hanya karena ke inginan Bhintara yang ngotot sekali menikahi nya hari ini.


Untung saja, dia punya dokter Iqbal yang selalu bisa ia andalkan. jadi tak perlu repot-repot ijin sana-sani hanya untuk meminta cuti, sebab apapun ucapan yang di gelontorkan Nabila pasti akan selalu di turuti.


Secinta itu memang, dia pada Nabila.


Ngomong-ngomong soal dokter Iqbal, bagaimana ya reaksi dari pria posesif itu jika sampai tahu jika wanita yang di cintainya selama lima tahun ternyata sudah menjadi milik orang lain?


Nabila menghembuskan napas berat nya, menatap bayangan wajah nya sendiri di dalam cermin sambil memikirkan bagaimana cara untuk memberi tahu pada dokter Iqbal kalau penantianya selama ini harus segera di akhiri, karena itu sudah tak mungkin lagi.


Sangking Asyiknya berkelana dengan fikiran mumet nya, tak sengaja Nabila kembali teringat kejadian minggu lalu. Waktu pertemuanya dengan Bhintara di pondok pesantren, yang membuat Nabila sampai bersembunyi di dalam kamar mandi di rumah Umi Khadijah lumayan lama. Guna menghindari rasa canggung yang tercipta di meja makan.


Waktu itu……


Setelah pertemuanya dengan Abay yang mengharu biru, Nabila, Zahra dan juga Vika langsung di sambut hangat oleh Umi Khadijah. Menggiring para wanita cantik itu ke meja makan, menjamunya dengan berbagai macam makanan lezat yang membuat perut ketiga nya bergejolak minta segera di isi. Menyisakan Kyai Abdullah dan juga Bhintara saja yang tidak ikut serta di dalam nya.


Nabila sempat menggurutu kesal, alih-alih ingin segera berbicara dengan Bhintara dan langsung pergi secepet mungkin dari sana.. sepertinya gagal lagi.


Mengingat jika waktu pada saat itu sudah menunjukan pukul setengah sembilan, yang otomatis mereka akan di tahan tak boleh pulang karena sudah malam.


Dan sial nya keadaan sepertinya malah mendukung dengan tak ada satupun dari mereka bertiga yang membawa kendaraan pribadi.


Mungkin Bhintara memang sudah tahu, jika dirinya akan mempunyai pemikiran seperti itu. Jadi dia sudah merencanakan semua dari awal dengan menawari seorang supir untuk menjemput nya.


Sungguh Nabila sangat menyesal, seharus nya..dia biarkan saja si Vika


membawa Mobil kuning berwarna super ngejreng mengikuti nya dari arah belakang.


Bukanya malah memperingati Bu dosen cantik itu dengan berbagai macam ancaman, yang membuat Vika ketakutan jika di tinggal sendirian. Dan tak mengizinkan ikut jika masih ngotot ingin membawa Mobil norak tersebut.


Bodoh ! seperti nya akhir-akhir ini kebodohan senang sekali singgah di diri nya. mengingat hal-hal yang seharus nya ia tahu itu di hindari. Eh.., tapi malah di lakukan dengan menghampiri.


Bahkan permintaan Zahra pada Umi Khadijah untuk berpamitan pulang malam itu, kembali di tolak mentah-mentah. Hanya karena rengekan Abay yang tiada henti meminta Nabila dan juga Zahra agar tinggal lebih lama di sana.


Semuanya di per_riweh dengan bocah laki- laki itu yang terus saja mengglendoti nya, tak mau jauh-jauh dari Nabila barang sedikitpun. Membuat dokter cantik itu klimpungan sendiri tak dapat menolak.


Nabila tertegun, menatap sepotongan wajah nya yang pucat dalam cermin di dalam kamar mandi. Kentara sekali jika malam itu dia sedang gelisah.


“Apakah kamu yakin?” tanya Nabila pada pantulan diri nya di dalam cermin.


Nabila menggeleng.


“Tidak, aku tidak yakin!”


Sampai-sampai dia seperti orang gila yang berbicara pada diri sendiri, kemudian juga menjawabnya sendiri. Sampai se frustasi itu.


Batinya ingin sekali menjerit melontarkan penolakan tapi tak kuasa, hanya bisa mencengkram tempat tisu yang terdapat di bawah cermin dengan kuat sebagai


pelampiasanya.Ini adalah pilihan yang terbaik, demi Bunda dan juga semua.


Jika memungkinkan terimalah Nak Bhintar, bantu Bunda Agar bisa hidup dengan tenang.


Kalimat sang Bunda terus menerus berdengung dalam kepala Nabila.


Dia sudah berjalan sejauh ini dan sekarang ia tak mau mundur lagi.


“Kamu harus melakukan ini Nabila, malam ini tanyakan semua yang membuat fikiranmu gundah dan temukan jawabanya dari orang nya langsung ” gumam nya pada bayanganya sendiri di cermin.


Nabila menunduk, tak sanggup menatap wajah pucat nya sendiri. Kemudian mengoleskan lipstik ke bibir nya lalu bergegas keluar ingin menemui semua orang yang ada di meja makan.


Dia baru saja keluar dari ruangan basah itu sambil menunduk ingin menutup kembali pintu kamar mandi. Tapi..dia malah di kejutkan dengan kehadiran Bhintara yang ternyata sudah berdiri di depan pintu menunggu Nabila sejak tadi.


“Allahu Akbar ! “ pekik Nabila.

__ADS_1


Bhintara masih berdiri di tempat nya, tanpa exspresi dan…sedikit aneh.


“Gus Bhintar ! se..s..s.. ejak kapan di situ?” ujar Nabila tergagap.


“Baru saja, kenapa kamu lama sekali di kamar mandi ? padahal saya ingin segera menggunakanya.” Pandanganya mengarah ke mata Nabila langsung membuat nya menahan napas.


“Oh…..yaudah pakai saja kamar mandi nya sekarang, saya sudah selesai.” Kata nya sambari membalikan badan untuk pergi.


Nabila menelan ludah nya kuat-kuat, lalu menatap ke arah meja makan untuk menemui para sahabat dan juga Abay.


Tapi..ternyata sudah tak ada satu orang pun di meja makan. Dia bahkan sampai menyipitkan mata, sekali lagi ingin mencari keberadaan mereka. Nihil, ternyata masih sama yaitu tetap tak ada para wanita itu di sana.


Entah karena Nabila yang kelamaan di dalam kamar mandi atau mereka saja yang sengaja ingin meninggalkan nya sendiri.


Sambil berjalan maju Nabila mengedarkan pandanganya, mencari-cari keberadaan dua sahabat nya yang sama sekali hilang tak berjejak.


Dia baru saja ingin kembali ke dapur, terpaksa memberanikan diri ingin bertanya pada Gus Bhintar. Tapi lagi-lagi saat dia membalikan badan, dirinya kembali di buat terkejut oleh keberadaan pria itu yang ternyata sudah ada di belakang nya.


Berjarak dekat sekali dan hampir saja menabrak jika Nabila tak mempunyai pengendalian diri yang baik.


“Astagfirullah Gus ! bikin kaget saja. Kenapa anda ada di sini? Bukanya


tadi mau ke toilet ?” kata Nabila yang lebih mirip seperti dumelan karena terus saja di buat jengkel dengan kelakuan pria misterius itu yang sejak tadi selalu saja muncul


secara tiba-tiba.


Bhintara memiringkan kepala sambil memijit tulang leher nya, merasa kikuk karena kelakuanya sendiri.


“Ekhem. Itu anu…aku cuman mau ngasih tahu, kalau dua temanmu sudah di ajak Umi ke pondok pesantren putri untuk melihat kamar yang akan kalian tempati nanti untuk tidur.” Jawab Gus Bhintar.


Melihat wajah Bhintar yang lebih mirip seperti maling kepergok masa, Nabila semakin yakin jika ada sebuah konspirasi yang sudah di atur sedemikian rupa oleh


laki-laki menyebalkan itu, kenapa dari sekian banyak tempat yang bisa mereka datangi harus di pondok pesantren? dan satu lagi yang terasa amat janggal, yaitu kehadiran Abay yang secara tiba-tiba.


Apakah itu juga termasuk salah satu rencana agar Nabila menjadi luluh dan mau menerima pernikahan itu?


Entahlah !


Nabila menyungkin senyum jengah. “ Jadi…bisakah kita tak usah berbasa-basi lagi Gus? Langsung saja ke intinya. Emmm… saya ingin……..”


Ucapan Nabila terhenti.


Tak habis pikir, kenapa harus tempat itu yang dia pilih? masih ada ruang tamu atau di depan teras saja yang suasana nya lebih mendukung dari pada di sana.


Lagian yang benar saja, masak Nabila harus membicarakan hal sepenting itu di DAPUR ? Yang ada bukanya fokus, bisa-bisa kata yang sudah di susun nya dari sejak pagi hingga menjelang sore AMBYAR seketika.


Allahu Akbar…! BUYAR…! BUYAR..!!


Nabila terpaksa mengikuti Bhintara dari belakang, semakin di buat bingung saat pria tak romantis itu menyalakan keran air.


“Anda mau mencuci piring?” tanya Nabila heran.


Kini Bhintara yang dibuat melongo oleh pertanyaan Nabila yang asal bunyi.


“ Kamu bercanda ?”


Nabila semakin tak mengerti, sebenar nya di sini itu…siapa yang ngebercandain siapa sih? Kok jadi dia yang bigung sendiri begini.


Karena tak mau pembicaraan mereka semakin ngalor-ngidul gak jelas yang bisa menyebabkan darah tinggi karena keseringan emosi, akhir nya Nabila memilih diam saja. Menunggu laki-laki itu berbicara terlebih dahulu.


“Nabila.”


Untuk pertama kali nya Bhintara memanggil nya dengan sebuah nama, yang entah mengapa mendatangkan getaran yang aneh pada tubuh nya.


Sang pemilik nama pun mendongak,menatap tepat pada iris mata Bhintara tenggelam di sana.


“Ya?”


“Aku tahu, tempat ini jauh dari kata yang nyaman untuk berbicara. Tapi percayalah…di sini tempat paling


aman untuk kita membicarakan tentang semua hal, karena di sana….” Tunjuk nya pada sudut ruangan sebelah kanan “ Ada Mbok Marni yang sudah tak suruh


mengawasi kita dari jauh." jawab Bhintara mulai serius.


Nabila menunduk, meremas ujung gamis nya dengan cemas. Akhir nya waktu yang ditunggu nya seharian ini akan tiba juga.

__ADS_1


“Sekarang, tanyakanlah semua. Insya Allah saya akan menjawab nya dengan jujur.”


Nabila mengangguk ”sebelum nya, saya minta maaf dulu jika ucapan saya nanti dapat menyinggung perasaan anda. Karena ajuan pertanyaan dari saya sedikit personal "


“ Heem silahkan ”


“Kenapa anda tidak menolak?”


Bhintar menghela napas “Sebenar nya semua sudah di bicarakan baik-baik dengan Umi, jika aku sudah mempunyai wanita tambatan hati yang ingin sekali ku jadikan istri, dan tak bisa menerima perjodohan ini ” jawab Bhintara sangat santai.


Nabila terperangah kaget, hampir melontarkan kata-kata kasar tapi untung nya bisa ia redam.


“Anda………”tekanya menggantung.


Rasanya ingin sekali memukul lengan laki-laki itu dengan keras tapi tertahan.


“Bisa-bisa nya sudah mempunyai calon tapi masih setuju saja di suruh menikahi wanita lain, apa anda benar-benar mencintai nya?” kata Nabila serat akan ejekan.


Seharus nya Nabila tak menanyakan itu, tapi tak apalah dari pada dia merasa penasaran.


“Tentu saja.”


Nabila semakin heran, bisa-bisa nya masih si tenang itu.


“Terus…..?” tanya Nabila lagi.


“Maksud nya?” jawab Bhintara sedikit tak mengerti.


Nabila mulai tak sabar, laki itu benar-benar tidak tahu atau memang ber pura-pura bodoh saja di hadapan Nabila. tapi jika mengingat profesi nya yang seorang dosen, tidak mungkin kan? jika laki-laki itu tak mengerti maksud nya. Dasar ! bikin emosi saja.


Huuft……


Dia membuang napas nya kasar. kemudian menatap wajah Bhintara dengan tajam ” KENAPA ANDA TIDAK MAU MEMPERJUANGKAN WANITA ITU ! DAN MALAH MAU MENIKAH DENGAN SAYA ! ”


teriak Nabila sambil menahan tangis.


“ Ya,,karena mungkin dia memang bukan jodoh saya.” Jawab Bhintara seoalah tak ada beban sedikit pun.


Gila ! benar-benar laki gak berperi kemunisian sama sekali, segampang itu mengucapkan kalimat yang mungkin jika terdengar langsung oleh wanita tersebut


bisa saja mematahkan hati si perempuanya.


Nabila sempat berfikir, bagaimana mungkin ia akan di pimpin oleh seorang imam yang tak punya hati seperti Bhintara ini? Bisa -bisa dia akan buru-buru menceraikanya saat nanti rasa cinta itu tak kunjung datang.


Sama wanita yang di cintai nya saja seperti itu? apa lagi dengan diri nya yang merupakan orang baru di hidup Bhintara. Sudah pasti ia akan terhempas tak lama kemudian.


Beberapa saat kemudian, keduanya terdiam menyisakan suara air keran saja yang mengalun tenang di suasana malam itu. Nabila sibuk dengan jawaban-jawaban Bhintara yang ternyata di luar expektasi nya. Ia kembali di buat ragu, akankah semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana nya?


“ Jadi bagaimana? Apa kamu benar-benar akan menerimaku?” tanya Bhintara kemudian.


Nabila langsung membalikan badan dan meninggalkan dapur tersebut, karena ia merasa di permainkan di sana.


“ Aku tidak tahu.” Jawab Nabila sambil terus berjalan pasrah, menitikan air mata.


Melihat raut kecewa di wajah Nabila, Bhintara sedikit frustasi merasa kejujuranya kali ini menyebabkan wajah ayu itu menjadi sayu.


“AKU JANJI , AKAN MENCOBA MENCINTAI KAMU ! ” Kata Bhintara dengan suara tinggi dan penuh penekanan di setiap kalimat nya.


Nabila berhenti, namun masih enggan menengok ke belakang karena tak mau tangisanya terlihat oleh Bhintara.


“Hemm, lakukanlah semau kalian, karena aku sudah tak mendapatkan jalan kelua lagi. Maju salah mundur pun juga salah.” Ucap Nabila lirih dengan suara bergetar menahan tangis.


Kemudian Nabila berlalu, melanjutkan jalan nya dengan perasaan gamang yang rasa nya begitu sesak sekali di dada.


“Ya Allah…kumohon biarlah di hadapanmu saja aku Rebah, namun di hadapan manusia aku tabah.”


Ucap Nabila dalam hati,yang benar-benar ingin sekali mengistirahatkan hati dan


fikiranya dari masalah duniawi yang terus saja menyakiti tiada henti.


"Ekhem ! "


Nabila terkesiap, menggercapkan mata dan kembali tersadar dari sepenggal kejadian sebelum menikah.


Terlampau sibuk menghapus riasan sambil melamun, tanpa di sadari Gus Bhintar sudah berada di samping ranjang. Dia terlihat tertegun menatap Nabila dan menelan silavanya.

__ADS_1


" Gus? "


" Jika sudah selesai cepatlah kemari. " katanya kemudian.


__ADS_2