
Budayakan sebelum baca Follow dulu cerita ini dan masukin ke vaforit kalian.
" Sayang, tunggu ! " panggil Bhintara namun sudah terlambat
Laki-laki itu menjambak rambut nya frustasi. Membungkukan badanya termenung, mencerna semua kejadian yang terjadi malam ini.
Dia yakin ada yang aneh dengan gelagat sang istri tadi, terlihat seperti marah tapi di paksa untuk tenang. Sangat kentara sekali dari sorot mata perempuan itu yang sama sekali tak berbakat untuk bohong.
Tak lama ia tersadar. Buru-buru merogoh saku celana, mencari-cari keberadaan Handpone milik nya.
“Hallo..halo Dek Nabila.”
Bhintara menghembuskan napas nya lega. Panggilan itu baru terjawab pada dering ke empat.
“Halo asalamualaikum Mas, iya ada apa?” jawab Nabila dengan suara serak.
Apakah Nabila sedang menangis? jika iya, maka terkutuklah ia yang senang sekali membuat wanita itu menitikan air mata.
“Sayang, kamu udah sampai mana? Berhenti di sana ya nanti Mas susul, kita pulang bareng.”
Tak ada jawaban.
“ Nanti mas dari sini bisa cari taxi, jadi.. tunggu ya .” Usul Bhintara tak mau menyerah.
Hening masih menyapa. Wanita di seberang sana masih diam membisu tak mau bicara.
" Nabila kamu masih dengarkan? Hallo... hallo ! "
Bhintara masih memanggil-manggil nama sang istri agar menjawab ucapanya, Namun bukanya mendapat jawaban dari Nabila ia justru di buat terjingkat saat suara wanita lain memanggilnya.
“ Kak Bhintar ! “ panggil seorang perempuan dari arah belakang.
Bhintara langsung menoleh, dan mendapatkan Aulia sedang berdiri cemas di tempat nya.
Dia kemudian sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya “ Dek, kamu ngapain keluar ? udah aku bilangin tunggu di dalam dulu. Udara di luar dingin banget, bentar lagi hujan.”
Jawab Bhintara penuh perhatian, tak sadar jika di balik telepon itu masih ada Nabila yang setia mendengarkan.
Bhintara berjalan mendekat ke arah Aulia kemudian mengusap puncuk kepala wanita itu dengan sayang “ Udah masuk gih, bentar lagi aku susul.”
Perintah nya yang di indahkan langsung oleh sang punya Nama.
Wanita itu mengangguk tanpa suara, nurut dan patuh dengan apa yang di perintahkan oleh Bhintara tanpa mau menanyakan alasanya.
Setelah melihat Aulia pergi masuk ke dalam, Bhintara langsung menempelkan kembali Hp milik nya. “Dek.. dek Nabila, sayang ! kamu dengerin mas kan? ”
“ M-mas.. aku gak papa pulang sendiri, kamu lanjutin aja di sana.” Akhir nya wanita yang sejak tadi diam, membuka suara meski terdengar lirih.
Bhintara menggeleng “ Enggak ! kamu harus tungg……..”
Tut..tut..tut..
Sambungan telepon terputus.
Bhintara kembali meremas rambut nya bingung, lalu tanpa menunggu lama dia langsung berlari kembali ke dalam restoran untuk berpamitan kepada semuanya.
Dia ingin segera menyusul Nabila segera.Tak lupa ia titipkan Aulia kepada pasangan suami istri yang ada di sana agar mengantar nya pulang.
"Bro, gue pulang dulu ya ada urusan mendadak "
Pamit Bhintara dengan langsung menyambar kunci Mobil milik Aulia yang tergeletak di atas meja tanpa meminta ijin dulu pada yang punya.
“Gue titip Aulia tolong anterin sampai rumah dengan selamat.” lanjutnya lagi sambil berlalu.
Semua mata yang ada di sana mengernyit heran, bertanya-tanya sebenar nya apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Kenapa terlihat buru-buru sekali sampai lupa mengucapkan salam perpisahan. Bukan ciri Khas Bhintara sama sekali.
“ Oke, lo tenang aja ! waalaikum salam.” Teriak suami dokter Aisyah, namun tak sempat Bhintara balas karena dia sedang terburu-buru.
" Ck.. ada apa dengan laki-laki itu? Aneh. " Ucap suami dokter Aisyah jengah.
__ADS_1
Di dalam Mobil tak henti-hentinya Bhintara menghela napasnya kasar. Merasakan gusar luar biasa hingga tanpa sadar sudah mengendarai mobil nya dengan ugal-ugalan.
Dalam fikiranya dia harus segera menemukan keberadaan sang istri, sebab ia tahu betul jalan menuju pondok pesantren jika sudah malam begini akan sepi.
Apalagi sebentar lagi akan turun hujan, Bhintara tak bisa membayangkan bagaimana kesulitanya nanti perempuan itu melewati tikungan tajam yang terdapat di beberapa belokan.
Bhintara semakin di buat ngeri hanya dengan memikirkanya saja. Dia semakin menancap gas mobil nya di antara keramaian kota.
Hingga selang empat puluh menit berlalu matanya menemukan mobol Range Rover putih milik nya sedang parkir di pinggiran jalan.
Sekarang Bhintara dapat bernapas dengan lega, tak sia-sia ia menaiki mobil seperti kesetanan malam ini.
Tok....! tok...!
“ Nabila! buka pintunya! “
Untuk beberapa detik Nabila tak langsung membuka pintu mobil saat suara dari laki-laki yang malam ini mengahadirkan kecewa, menggedor dengan kerasnya dari arah samping.
Nabila masih mau menata hati yang tadi sempat di buat hancur lebur olehnya.
Merenung di dalam Mobil serta mengabaikan segala ucapan sang suami dengan menutup telinganya rapat-rapat tak ingin mendengar.
Untuk yang sekian kalinya ia kembali di buat bertanya-tanya sebenar nya apa hubungan mereka berdua? Kenapa bisa sedekat itu.
Apa benar dia wanita yang di maksud suaminya tempo lalu? yang di sengaja atau tidak sudah menjrumuskan Nabila menjadi wanita perebut pacar orang, meski sebenar nya tak ada niatan sedikitpun untuk merebut nya dari sisi Aulia.
Entah kenapa dia merasa bersalah pada wanita anggun tadi. Apakah ini salah satu penyebab Nabila sulit untuk menerima Bhintara di hidup nya? kalau tidak, mengapa ada rasa ketakutan sendiri yang di sebabkan oleh singkat nya pertemuan.
Mereka belum lama bertemu.
Mereka belum saling mengenal satu sama lain.
Dan juga masa lalu dari si pria yang sama sekali ia belum tahu dan paham betul sepak terjang dari Bhintara sebelumnya.
Tapi aneh nya, kenapa perasaan untuk Bhintara bukanya semakin meragu justru malah ikut berkembang pesat di saat semuanya terjadi dalam rentang waktu yang cukup singkat.
Entah mengapa itu membuat Nabila semakin takut dan kalut.
Merasa ada beberapa pertanyaan yang harus ia pastikan jawabanya langsung pada Bhintara, dia hanya membuka setengah jendela Mobil.
“ Sayang, buka pintu nya ada yang mau aku bicarain. ”
Nabila hanya melirik sinis ke arah Bhintara “Mas apa aku boleh menanyakan sesuatu?” ucap Nabila lirih.
Bhintara menatap nanar pada istrinya. Mengulurkan tanganya untuk mengahapus air mata yang keluar dari mata indah itu. Tapi Nabila malah menjauhkan wajah nya, tak mau mendapatkan sedikitpun sentuhan dari laki-laki tersebut.
“ Apa dia wanita itu mas ?” tanya Nabila langsung tanpa basa-basi.
Bhintara menggeleng “ Sayang jangan begini, bukain pintu nya dulu ya nanti aku baru jelasin.”
Kini giliran Nabila yang menggeleng sambil di barengi senyum masam yang membuat Bhintara pusing tujuh keliling “ Gak perlu jelasin mas, dari wajahmu saja aku sudah bisa menemukan jawabanya.”
Nabila ingin menaikan kembali kaca mobilnya namun di tahan, karena sanggahan tangan Bhintara yang menghalanginya.
“ Dek, tunggu ! mas bisa jelasin. Gak perlu nangis-nagis kayak gitu ! kamu salah faham. “
Nabila mengangguk tersenyum masam, kemudian menghapus air matanya sambil menunduk.
" Ya, semoga saja ini semua hanya salah faham. Bukan kenyataan. " jawabnya seperti berbisik.
Tidak mau mendengarkan ucapan suaminya lagi, Nabila langsung menancap gas Mobil nya. Tak peduli lagi bagaimana nasib tangan sang suami yang tadi menghalangi.
Benar kata Zahra, Berpura-pura kuat itu melelahkan. Ada kalanya jujur dengan perasaan sendiri itu lebih melegakan dari pada harus menyimpanya sendirian dan merasakan sesak kemudian.
Nabila memang sudah menyadiri jika dia sudah mencintai dari pertama kali ia melihat laki-laki itu, tapi dia hanya tak peka meraba hatinya sendiri dan mengakuinya duluan. Selalu mengelak perasaanya sendiri dengan bersembunyi di balik perkenalan singkat yang lama-lama berubah menjadi terikat.
Pada akhir nya Nabila tanpa di sadari Merasakan sakit, dia kecewa saat mendengar percakapan Bhintara dan si perempuan tadi di balik telepon. Ditambah lagi masalah kemaren malam yang belum terselesaiakan.
Menambah semuanya menjadi ruet dan mumet, membuyarkan segala rencana-rencana yang sudah ia susun rapi sebelum nya.
Sepertinya Allah memang sedang menghancurkan rencana Nabila sekarang ini, agar rencananya tidak menghancurkanya lebih dalam lagi nanti nya.
__ADS_1
Ditengah keraguan yang membuncah, Allah hadirkan rasa luka agar hatinya selalu siap mengahadapi bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai harapan. Manusia pandai berencana, tapi ingat Allah-lah yang lebih tahu segalanya tentang mengatur kehidupan yang baik bagi setiap hambanya.
Di sela-sela pemikiranya yang sibuk berkelana entah kemana, Nabila merasa ada yang aneh dengan kendaraan yang di tumpanginya.
Dia menepi, kemudian keluar untuk memeriksanya. Dan betapa terkejud nya ia saat melihat salah satu ban Mobil tersebut kempes.
“ Innalilahi…kenapa harus kempes sekarang sih? “
Nabila menghentakan kaki beberapa kali, menendang-nendang ban itu dengan perasaan kesal. Mengamati ban Mobil itu sekali lagi sambil terduduk di atas aspal menenggelamkan wajah di antara ke dua lengan yang terlipat.
Sungguh sempurna penderitaan Nabila malam ini.
Apa ini sebuah karma? karena dia sudah berlaku tidak sopan pada suaminya tadi?
Nabila menggeleng cepat.
Enggak! di sini bukan dia yang salah melainkan suaminya, karena sudah berani memperlakukan seorang wanita yang bukan muhrimnya se-intim tadi.
Nabila tidak buta, jelas-jelas dia melihat jika tatapan suminya pada wanita bernama Aulia tadi begitu berbeda. Ada kekaguman di sorot mata Bhintara saat sedang melihat ke arah wanita itu.
Telinganya juga masih normal belum tuli. Dia mendengar semua yang di ucapkan suaminya pada Aulia, begitu serat akan perhatian dan lembut tutur katanya.
Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya bersikap seperti itu pada wanita lain? meski ia tahu Bhintara masih belum seratus persen mencintainya, tapi setidaknya hargailah Nabila sebagai istri yang sekarang ini juga sedang berusaha menghadirkan cinta untuknya.
Dasar laki-laki buaya! Sebenarnya apa maksud dari Bhintara itu memperlakukan Nabila semanis itu selama ini? menjajikan segalanya namun di belakang nya ia bermain mata dengan wanita lain.
Nabila meremas jilbab yang ia pakai dengan kerasnya, menyalurkan segala sakit hati dan kecewa lewat remasan tersebut. Dari tadi dia terus bertanya-bertanya akan suatu hal namun tak kunjung mendapatkan jawabanya.
Allahu Akbar! Nabila ingin berteriak sekencang-kencang nya, agar perasaan sesak yang sejak tadi menderanya segera lega.
Sejenak Nabila merasa was-was. Di tatapnya kondisi jalan di mana ia berada saat ini.
Sepi.
Jalanan itu sepi sekali mengingat sekarang sudah hampir tengah malam, membuat Nabila bergidik ngeri.
Rintik-rintik hujan kini mulai berjatuhan, menyempurnakan duka yang terjadi malam ini.
Seperti tahu jika Nabila sangat membutuhkan air itu untuk meredakan rasa panas yang membara di dalam hati.
Nabila mengusap wajah nya tak berdaya. Kemudian berlari masuk kembali ke dalam, menyandarkan kepalanya di jog Mobil.
"Bunda... Nabila ingin pulang.Hiks...Billa takut Bund. " ucap nya lirih sambil menutup matanya.
Di saat seperti ini Nabila bingung, siapakah orang yang harus ia hububungi Malam-malam begini dan mau di repotkan olehnya?
Sejenak Nama dokter Iqbal terlintas difikiranya, karena hanya laki-laki itu saja yang selalu ada jika dirinya membutuhkan pertolongan seperti sekarang ini.
Nabila segera merai ponsel dan tampak menimbang-nimbang untuk menghubungi Dokter Iqbal, namun tak jadi karena dia lebih memilih menghubungi Zahra untuk menjemputnya sekarang ini.
“ Ra, hallo Asalamualaikum.”
“Waalaikum salam Bil, ada ap……..”
Tut..tut…
Nabila melihat benda pipih miliknya dengan tatapan jengkel. Tak percaya jika ponselnya juga ikutan mendukung dengan habis baterai di saat-saat genting seperti ini?
Nabila semakin ketakutan, pikiran-pikiran negatif sudah bermunculan di dalam kepalanya.
Entah bagaimana nasib nya nanti, masih bisa selamat dari malam yang mencekam ini atau justru malah hanya tinggal nama besok pagi.
Entahlah...... Nabila pasrah.
Di tengah kepasrahanya dengan kaedaan, tiba-tiba saja suara ketokan di kaca mobil menyentaknya.
Membuat Nabila ingin menagis sekencang-kencangnya karena ketakutan.
Tok.. tok... tok.... !!
Jangan lupa tinggalin like, vote and comen kalian ya guys. trimaksih.
__ADS_1