Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Nabila aku menunggumu.


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Kini keadaan Bunda Arina sudah mulai ber angsur membaik, meski sekarang Nabila harus bolak-balik jawa timur-jogja setiap satu minggu sekali untuk ikut memantau kesehatan sang Bunda.


Kali ini Nabila sedang berada di jogja, baru tiba pagi tadi dan harus kembali ke jawa timur esok hari. Memang sangat melelahkan, tapi mau bagaimana lagi? dia tak mau kembali kecolongan tentang keadaan sang Bunda meski ia sudah memperkerjakan satu orang perawat khusus untuk orang tuanya membantu mengurus beliau.


Nabila merenggangkan ke dua tangan sambil berdiri, lalu menepuk-nepuk leher yang kaku setelah mengahabiskan waktu sejak siang sampai sore begini. Dari tadi ia sibuk menunduk, mengerjakan beberapa laporan bulanan mengenai usahanya di bidang kuliner milik keluarga dengan serius dan fokus.


Di tambah lagi profesinya yang seorang dokter, membuat Nabila menjadi kewalahan sendiri semenjak di tinggal sakit oleh sang Bunda. Karena biasa nya beliau lah yang mengurusi itu semua selama ini.


Dengan segera mungkin Nabila ingin sekali menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu dengan cepat, kembali beraktivitas normal seperti biasanya. Tapi sepertinya itu hanya hayalan semata, sebab sangat mustahil jika mengingat hanya dia seorang yang menghendel semua sendiri tanpa ada satupun orang membantu.


Nabila jadi berfikir benar dengan apa yang di katakan Bunda bulan lalu bahwa cepat atau lambat pasti dia akan tiba pada vase membutuhkan pendamping dalam hidup. Dan sepertinya kali ini ia akan benar-benar merealisasikan permintaan sang Bunda meski dengan terpaksa jika keadaan terus begini.


Seketika Nabila tertegun saat ucapan permintaan sang Bunda terlintas di benak nya. Nabila berdiri di depan jendela dan merasakan angin yang lumayan kencang membelai wajah serta ujung jilbab nya.


Benarkah dia ingin menerima lamaran tersebut? Atau lebih baik ia bawa saja dokter Iqbal kerumah? meminta agar segera melamar. Sebab sepertinya menerima dokter posesif itu lebih bisa Nabila terima karena setidak nya dia sudah mengenal lama, tinimbang harus hidup berumah tangga dengan Bhintara yang jelas-jelas tak tahu-menahu tentang bagaimana sosok laki-laki tersebut.


Tapi….bagaimana nanti dengan Zahra jika ia menerima cinta dari laki-laki nya, Apa tidak apa-apa? Dan juga reaksi sang Bunda. Apa nanti wanita sepuh itu bakal bisa terima atau malah kembali kaget dan tambah mempengaruhi kesehatanya lagi?


Dia menggeleng, mengenyahkan segala fikiran-fikiran berat yang kali ini menyerang dengan ganas “ Ya Allah….tunjukanlah jalan yang terang agar hamba tak lagi salah mengambil keputusan.” Ucap nya lirih di iringi frustasi.


Nabila menyandarkan satu tanganya di jendela kusen, lalu menghela napas kasar sambil memperhatikan langit sore yang jarang sekali dia nikmati pemandanganya di jawa timur. Di tengah lamunanya dia tiba-tiba teringat dan tersadar bahwa di sini bukan hanya tentang dirinya, melainkan kebahagian semua orang yang kalau sampai Nabila salah mengambil keputusan lagi, maka dialah penyebab utama nya.


Saat dia sudah menyelesaikan pikiranya kemudian dia berbalik, Nabila terlonjak kaget saat mendapati sang Bunda ternyata sudah berdiri di belakangnya sambil membawa sepiring Buah mangga yang sudah terkupas.


“ Bunda ! “ Pekik nya kaget “ Kenapa gak bilang-bilang?" tanya Nabila sambil mengulurkan tangan mengambil piring yang beliau bawa lalu menarik nya untuk duduk di pingir kasur. " Sini. " ucap nya sambil menuntun wanita tua itu dengan hati-hati.


“Bukanya Bunda gak bilang, tapi dirimu saja yang terlalu fokus sama lamunan kamu. Sampai tak menyadiri jika Bunda sudah memanggilmu dari tadi.” Jawab nya sambil duduk di sebelah Nabila.


Bunda Arina mengambil salah satu tangan Anak nya dan mengelusnya lembut “ Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu fikiranmu Nak?” tanya Bunda Arina perhatian.


Nabila menghembuskan napas kasar sejenak, lalu menggeleng " Gak ada Bund, Nabila baik-baik aja kok" kemudian memperhatikan wajah penuh keriput itu sedikit lama sembari tersenyum simpul.


Bagaimana mungkin dia bisa mengecewakan ibu sebaik dan penuh pengertian seperti Bunda Arina? memikirkanya saja Nabila tak pernah.


“ Bunda maafin Nabila ya.. sudah jadi anak yang tidak berbakti dan banyak mengecewakan Bunda.” Ucapan itu terlontar begitu saja.


Bunda Arina menggeleng “Husst,,,,gak boleh ngomong begitu. Nabila itu adalah Anak terbaiknya Bunda, dan satu-satu nya kebanggan Ayah dari dulu. Bagaimana mungkin kamu bisa punya pemikiran seperti itu Hem ? jangan ngomong gitu ah…Bunda gak suka.” katanya sambil mencubit pipi tirus Nabila dengan gemas.


Nabila tersenyum, kemudian menyandarkan sebelah kepalanya pada pundak sang Bunda. Dia benar-benar capek dan lelah, membutuhkan sandaran.


"Bunda terimaksih sudah mau jadi ibu yang begitu luar biasa sabar nya untuk Nabila yang egois ini. "


Bunda Arina terlihat menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum berbicara “ Iya, sama-sama Nak," jeda sebentar " Emm…oh ya mengenahi tentang permintaan Bunda bulan lalu, lupakan saja jika itu sangat membebanimu. Jangan terlalu di fikirkan bisa-bisa nanti kamu sakit. “ katanya sambil mengelus kepala Nabila dengan penuh kasih sayang .


Seketika Nabila langsung bangun dari bersandar nya “Bunda gak gitu maksud aku……”


Bunda Arina menggeleng “ Gak apa-apa jangan di paksa Bunda gak mau…….”


“ Aku mau Bund ! “ selak Nabila cepat membuat Bunda Arina terbelalak karena terkejut dengan jawaban Anak nya.


"Kamu ngomong apa ? coba ucapin sekali lagi, Bunda kurang mendengarnya tadi. " jawab nya kembali ingin memastikan jika apa yang di dengar telinganya benar-benar kenyataan.

__ADS_1


Sambil menggigit ujung bibir nya Nabila menunduk untuk menyembunyikan wajah nya di sana, sebenar nya ia sendiri juga terkejut dengan ucapan yang di lontarkanya.


" Nabila mau menikah sama Gus Bhintar Bund. " ucap nya malu-malu.


Bunda tersenyum lebar, hampir berdiri dari duduk nya sangking bahagia. Merasa lega sekali seperti beban berat yang di pikul selama ini terhembas begitu saja setelah mendengar ucapan sang Anak.


“ Alhamdulilah, akhir nya kamu setuju juga."


Nabila mendadak tersipu sendiri dan mengangguk ragu, dalam fikiranya tak apa harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal, yang penting sekarang dia bisa melihat senyum itu lagi setalah berhari-hari sempat redup.


“ Bismillah Bund “ demi kebagaian Bunda. Terus nya dalam hati.


Mendengar persetujuan anak nya, Bunda Arina menengadahkan kepala nya ke atas menahan air mata agar tidak tumpah karena terharu. Lalu mencium kening Nabila berulang kali.


“Alhamdulilah…trimaksih Nak….trimaksih. Sudah mau menuruti permintaan orang tua yang banyak mau nya ini.”


Nabila tak menyangka, keputusanya bisa seberpengaruh itu terhadap kebahagian sang Bunda. Menatap wanita bersahaja itu lama kemudian memeluk nya dengan erat dan berjanji pada diri sendiri, bahwa tak akan lagi membiarkan satu-satu nya orang tua yang tersisa kembali merasakan kesedihan selama dia masih hidup.


Bunda Arina menguraikan pelukan lalu mengambil piring yang di bawa Anak nya menyuapkan satu potongan buah Mangga ke mulut Nabila dengan perasaan bahagia “ Habiskan biar gak selalu makan-makanan junkfood melulu, gak baik buat kesehatan.” tunjuknya pada satu kotak pizza yang di letakan Nabila di meja dengan ujung dagu, dan langsung mendepatkan cengiran halus dari wanita cantik itu.


“ Gak sering kok Bund, cuman sesekali aja kalau lagi pengen “ Elak nya.


Nabila kemudian mengambil garfu yang sudah di letakan Bunda Arina di atas piring dan menyuapkan buah itu sendiri ke mulut nya “ Biar Nabila makan sendiri, Bunda Istirahat aja gih.”


Bunda Arina mengulum senyum “ Ya udah kalau begitu, Bunda taruh di meja ya Buah nya.” Ucap Bunda Arina. Menaruh piring yang di bawanya tadi ke atas meja kemudian beranjak ingin pergi.


“ Bunda……”


Nabila meletakan garpu yang buah nya sudah dia gigit separuh, meraih air minum yang selalu ia letakan di meja sebelah tempat tidur dan mengalirkanya ke dalam kerongkongan. Setelah di rasa sudah tidak ada halangan dokter cantik itu mulai bersuara.


“Bbb.. unnda... boleh Nabila minta nomer ponsel Gus Bhintar. Aku ingin bicara denganya secara pribadi.”


Bunda Arina seperti terkejut, mungkin kaget dengan permintaan Nabila. Badanya terlihat kaku tapi sejurus kemudian wanita berumur lima puluh lebih itu mengangguk dan tersenyum


” Iya nanti Bunda kirim nomer Nak Bhintar langsung ke Hp kamu.” Jawab nya dengan sedikit mengerlingkan mata menggoda kemudian berlalu.


“ Terimakasih Bunda.” Teriak nya karena sudah melihat sang Bunda berada di ujung pintu hampir menutup nya.


..............................................................................


Pukul setengah sembilan malam, Nabila pikir ini adalah saat yang tepat untuk dirinya menelpon Gus Bhintar. Karena biasanya jam-jam segini waktunya istirahat dan bersantai bukan?


Nabila memandang ragu pada nomer yang mengembang pada layar ponsel nya. Antara menelpon sekarang atau besok pagi saja takut mengganggu.


Tapi kenapa Nabila malah menggeleng tidak setuju atas pemikiranya sendiri.


Iya kalau laki-laki itu sedang santai, jika malah kebalikanya bagaimana?


Bukankah Bhintara itu hidup di lingkungan pesantren selakigus Ustadz di sana? Jadi bisa saja dia sekarang ini sedang mengajar di Aula di jam-jam segini. Karena…menurut pengalaman Nabila yang dulu pernah nyantri di tempat itu, biasa nya segala kegiatan pondok akan selesai jika jam sudah menunjukan pukul sepeluh malam.


Nabila masih termanggu di balkon kamar nya, dada nya semakin bergejolak, tubuh nya meremang. Bahkan sedari tadi memegangi ponsel dengan gelisah.

__ADS_1


“ Ayo Nabila ! hubungi dia segara.” perintah nya pada diri sendiri.


Akhir nya dengan jari-jari gemetar dia menekan tombol panggil pada nomer Bhintara. Ingin membawanya ke telinga, tapi….mata nya malah di kejutkan dengan sebuah Nama yang muncul di layar ponsel nya. “ Loh? Aku sudah menyimpanya? ” Nabila mengernyit heran dengan lebih detail lagi memperhatikan nama serta nomer telepon tersebut bingung sendiri.


“ Bukanya ini nomer seseorang yang sebulan lalu selalu mengirimkanku chat Asalamualaikum tiga kali dalam sehari dari pagi, siang hingga malam menjelang tidur? “ ucap Nabila terheran-heran.


Dia terpaksa menyimpan kontak tersebut di teleponya. Bukan karena kurang kerjaan atau bagaimana. Tapi rasa-rasa nya pada saat itu entah mengapa hati dan fikran Nabila ingin sekali menyimpan nomer tersebut hanya kerena foto profilnya menampilkan sebuah tulisan ayat kaligrafi yang mengingatkan dia pada sosok Ustadz Adam di masa lalu.


Nabila menggeleng mencoba mengabaikanya dan di fikir nanti saja. Karena sekarang yang ter penting bukan itu lagi, melainkan menghubungi si pemilik nomer itu dengan sesegera mungkin, sebelum keberanianya menghilang.


Panggilanya terjawab pada dering ke dua.


“Halo..Asalamualikum.” Nabila mulai hafal dengan ciri khas suaranya yang berat dan juga tegas.


“Waalaikum salam. Gus Bhintar ini saya Nabila.” Wanita yang kali ini sedang menggerai rambut panjang itu menjawab dengan ucapan serak, karena suara nya yang terbawa angin lumayan ribut. Mungkin saja malam ini akan turun hujan lagi.


“ Nabila, ada apa kamu menelponku ? apa kabar ?” jawab nya sedikit melunak tak lagi tegas seperti tadi.


“ Apakah aku mengganggu? umm….saya ingin bicara dengan Gus. Kapan anda punya waktu ?”


“Besok aku free seharian, bagaimana jika bakda magrib saja. Aku akan menjemputmu nanti ”


“Mm…tidak, tak usah menjemputku. Cukup sebutkan saja dimana aku bisa menemui anda.” Tolak nya bersikeras.


“ Apa kamu keberatan jika kita bertemunya di pesantren saja? ”


Hening sejenak tak ada jawaban


“ Ekhem..kamu saja yang tentuin tempat nya biar nanti aku………”


“Oke. Kita ketemu di pesantren bakda magrib, biar nanti setelah pulang dari rumah sakit saya langsung kesana.Tapi….em….apa boleh saya mengajak teman saya ? ” usul Nabila ragu.


“Tentu saja boleh, kalau begitu biar pak Tarno saja yang akan menjemputmu besok” Nada nya mendesak, seperti Nabila adalah salah satu bawahanya.


“Gus?”


“ Kali ini jangan menolak, aku hanya ingin memastikan saja bahwa tamuku akan tiba di sini dengan selamat dan baik-baik saja.” Suaranya rendah tapi seperti tak sabar.


Nabila menghembuskan napas nya jengah, percuma saja menolak laki-laki pemaksa itu “ Baiklah kalau begitu, nanti biar aku kirim alamat rumah sakit tempatku dinas. Kalau begitu selamat malam, Asalamua…..”


" Tunggu ! "


Nabila terdiam, fokus mendengarkan.


“Nabila aku menunggumu. Waalaikum salam.”


Gus Bhintar mengakhirinya dengan nada


dalam. Seperti sudah menunggu-nunggu telpon dari Nabila dari jauh-jauh hari. Dan dari semua ucapanya seperti serat akan sebuah rencana.


Nabila segera menyingkirkan semua perasaan tak nyamanya, mencoba berfikir positif. Besok dia akan mendiskusikan hidup dan masa depanya. Jadi sekarang ia harus segera tidur agar pikiranya kembali jernih.

__ADS_1


__ADS_2