Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Entah ini rasa Apa?


__ADS_3

...Seseorang merasakan segalanya di dalam hati nya....


...Dia merasakan siapa yang telah menghentikan cintanya....


...Dan dia juga merasakan siapa yang menunggu sebuah kata darinya....


...- Ustadz Zuhud rijal-...


Udara dingin yang menggigit, membuat dua orang wanita yang sedang terlelap tak sadar, jika mereka sekarang ini sedang berebut selimut dan saling mengeratkan tubuh masing-masing guna mencari sedikit kehangatan.


Suara adzan sayup-sayup terdengar di barengi dengan dering alrm yang saling bersahutan, terpasang di masing-masing ponsel milik mereka bedua.


Nabila bangun lebih dulu, mematikan bunyi henpond nya dan langsung membangunkan Zahra yang masih asyik dalam tidur nya.


“Ra, bangun. Mau ikut jamaah sholat tahajud di masjid gak?” tanya Nabila dengan mengguncang badan Zahra pelan.


“Bentar lagi Bil, lima menit lagi oke.” Gumam Zahra seperti merancau.


Nabila menyibak selimut ke samping, lalu bangun dari tidurnya berniat keluar menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


“Ya udah, kamu tidur aja kalau masih capek. Aku duluan ya.”


Mendengar ingin di tinggal sendirian di dalam kamar, Zahrapun langsung membuka mata dan bangun. ” Tungguin, aku juga mau sholat tahajud di masjid. Kapan lagi bisa sholat sunnah berjamaah kalau gak di sini.” jawabnya dengan mengikuti Nabila di belakang.


Sekilas Nabila hanya mengangguk samar, lalu menyambar mukena dan sajadah yang ia simpan di atas meja kecil dan keluar.


Setibanya di luar Nabila di buat kagum dengan para santri wati yang ternyata juga sedang berondong-bondong ingin menejalankan sholat berjamaah, meskipun sunnah mereka tetap saja tak mau rugi meraup keuntungan pahala berkali lipat dari pada hanya melakukan sholat sendiri- sendiri.


Subhanallah, ini lah yang Nabila sukai dari sebuah pondok pesantren selain mengajarkan banyak ilmu agama, tanpa di sadari, mereka juga mempelajari apa arti kedisiplinan yang sesungguhnya. Yang bahkan tanpa di suruh, mereka akan langsung bergerak sendiri mengikuti apa hal yang semestinya di lakukan.


Contoh nya seperti sekarang ini, yang hanya mendengarkan suara adzan saja mereka rela menganggu tidur malam nya meski hanya sholat sunnah, bayangkan saja jika sedang di rumah? sudah pasti kita akan bermalas-malasan untuk bangun apa lagi cuman untu mendapat pahala tambahan, yang sholat lima waktu aja kadang masih bolong-bolong.


Setibanya mereka tiba di masjid, Nabila sesekali bersanundung ria menyanyikan lagu sholawat kesukaan dengan di dampingi Zahra di samping nya.


Sembari menikmati pemandangan malam yang ada di sekitar Nabila berjalan santai, sebab jamaah tahajud akan di laksanakan di akhir waktu sepertiga malam. Hal ini di lakukan agar tidak terlalu lama menunggu jeda waktu menjelang subuh.


“ Ra, kamu duluan aja gih, aku mau ke kamar mandi sebentar kebelet pipis. Tungguin aku di sana ya.” Tunjuk Nabila ke arah serambi masjid.


“ Balik ke pondok lagi? Emang nya keburu?”


Nabila menggeleng, lalu menunjuk ke arah Kamar mandi masjid ” Enggak, aku pakai kamar mandi yang di sana aja.”


“ Perlu di temenin gak?”

__ADS_1


“ Gak Usah, kamu tungguin aku aja di sana oke ?”


“ Oke.”


Nabila berjalan dengan terburu-buru, bergegas hendak memasuki pintu kamar mandi namun sebelum ia masuk kedalam ekor mata nya tak sengaja menangkap perawakan seseorang yang tak asing baginya.


Nabila membeku, sekelibat bayangan started following atas Nama Bhintara Nakhla tadi malam tiba- tiba saja membuat ia salah tingkah dan gugup.


Nabila berfikir, Sebenar nya ada maksud apa laki-laki itu memfollow akun instagramnya selarut itu? dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan organ tubuh nya saat ini, kenapa selalu bereaksi berlebihan seperti ini? jika sedang berhadapan dengan orang yang sekarang ini juga seperti nya sedang terpaku menatap ke arah dimana ia berdiri sekarang.


Nabila menunduk, memejamkan ke dua mata nya rapat, entah mengapa perasaanya membuncah melambung tinggi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa semuanya serba abu-abu seperti ini. melihat nya sebentar ia seperti di tarik oleh magnet tak kasap mata yang sangat kuat menyedotnya, tapi semakin di perhatikan sorot mata nya begitu dingin menakutkan.


Dia membuka mata nya, ternyata laki-laki bernama Bhintar itu masih saja berdiri di sana, bahkan tak bergeser meski se incipun, Nabila melihatnya sebentar lalu tak lama kemudian ia melanjutkan langkah nya lagi masuk ke dalam kamar mandi dengan segera sambil menggelengkan kepalanya, menghalau fikiran-fikiran aneh yang mulai melanda.


Setelah sholat jama’ah shubuh, para santri melanjutkan kegiatan mengaji kitab yang di ampu langsung oleh Kyai Abdullah selaku pengasuh pondok pesantren, sedangkan Zahra memilih kembali ke kamar guna menyiapkan barang-barang mereka untuk di kemas lagi kedalam tas persiapan pulang.


Dan Nabila memilih mendatangi satu taman yang yang berada di belakang pondok putri, tempat di mana ia dulu sering menghabiskan banyak waktu di sana saat masih menjadi seorang santri waktu itu.


Nabila merentangkan ke dua tanganya, memejamkan mata dan menghirup udara segar subuh dengan rakus, setenang mungkin ia tak ingin terbawa suasana karena di sini banyak sekali kenangan dari awal hingga akhir, bahkan menjadi satu-satu nya saksi bisu tempat tumpah ruahnya air mata bahagia maupun kesedihan kala itu.


“ Huuuuuuufft……Rasanya begitu menenangkan.” Gumam Nabila lirih.


“ Aku tahu itu.’’ Ucap suara bariton dari belakang Nabila menimpali.


Nabila membuka mata, lalu menoleh ke arah sumber suara dan menemukan laki-laki yang bernama Bhintar berdiri disana. Refleks ia memundurkan langkahnya kebelakang, karena merasa keget dengan keberadaan laki-laki tersebut yang tiba-tiba saja ada di sana, padahal tadi waktu pertama Nabila menginjakan kaki nya di tempat itu tak ada seorangpun di sekitar.


Lantas dari kapan pria itu datang?


Allahu Akbar jantung ku !


Saat mata mereka beradu, Nabila langsung menundukan pandanganya ke bawah, menyentuh dada sebelah kiri untuk meredakan degub jantung nya yang tiba-tiba menggila.


“ Kenapa diam? Apa ucapanku salah ?”


“ Heh ?” jawab Nabila mendadak ngebleng.


Dia mendongak saat mendengar ajakan interaksi yang di bangun pria itu kepadanya, namun saat mata nya kembali bertemu dengan mata tajam itu lagi, Nabila buru-buru memalingkan pandanganya ke segela arah, tak mau menatap lama-lama pada pria tersebut.


“ Kenapa anda selalu menghindar? ini saya lagi bertanya, tak sopan rasanya jika selalu membuang muka pada lawan bicaranya "


Dengan terpaksa Nabila melihat ke arah pria itu mengikuti saranya. ”It…itu…anu…sejak kapan anda berdiri di sana?” tanya Nabila terbata seraya mengatur detak jantung nya.


“ Tidak sopan rasanya jika seseorang bertanya malah di balas dengan balik bertanya.” Ucap nya yang kembali membawa embel-embel adab kesopanan dalam pembicaraan unfaedah ini, membuat Nabila tersulut rasa jengkel dengan pria satu itu, sedikit melupakan rasa gugupnya karena saat ini malah berganti dengan emosi.

__ADS_1


Apa seseorang yang baru kenal harus semenjengkelkan itu? Jika iya, tolong ingatkan Nabila agar segera menghindar saat bertemu pria ini lagi.


Tapi tunggu ! sepertinya ada yang salah dari pengharapan Nabila di atas? Apa bisa di bilang, secara tidak sadar Nabila berharap bertemu dengan laki-laki itu lagi? Oh tidak ! Nabila tidak mau ketemu untuk yang kedua kali nya, cukup kemaren dan hari ini saja. Karena untuk besok, Nabila gak mau.


Bukanya apa-apa, hanya saja Nabila tak sanggup jika harus mengidap penyakit jantung di usia dini, sebab bertemu dengan pria itu membuat kinerja jantung nya menjadi tidak normal, dan jika di biarkan terus-menerus sudah pasti akan berakibat fatal untuk otak nya yang tiba-tiba saja O’on seperti tak berfungsi.


Tanpa sadar Nabila menghentakan kaki nya kesal, meremas gamis nya dari samping lalu bersuara.” Sepertinya anda yang kurang mengerti akan adab berbicara terutama dengan orang yang baru saja anda kenal tuan Bhintara ! “ tutur Nabila dengan memberengut kesal.


Bhintar menerbitkan sedikit senyum tipis saat melihat wanita di hadapaan nya sedang merajuk, alih-alih menampilkan wajah Marah, ia malah kelihatan sangat menggemaskan di mata Bhintar.


Dan itu memang salah satu daya tarik yang hanya di miliki oleh Nabila untuk menarik lawan jenis, yang tak di sadari oleh sang empunya.


“ Menarik.” Gumam Bhintar tanpa sadar, yang ternyata masih bisa di dengar oleh Nabila meski samar.


“ Apa ?”


“ Tidak apa-apa, lupakan saja.”


“ Oh….oke, kalau begitu sebagai orang yang menghormati adab berbicara saya mau mengucapkan pamit Undur diri, asalamualikum.”


Nabila melangkahkan kaki nya berniat meninggalkan tempat tersebut dengan sedikit melipat bibir dalamnya menahan senyuman, mengabaikan tatapan Bhintar yang masih saja memperhatikan nya.


“ Tunggu ! “


Nabila berhenti, menoleh kebelang dan melihat pria menyebalkan itu malah menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Nabila, membuat nya menggercap tak mengerti.


Apa maksud nya ini? sudah di bilang kan jika otak nya akan mendadak O’on jika sudah di hadapkan dengan pria itu.


“ Minta Nomer kamu ”


What? Apa lagi ini? seoalah tak puas dengan membuat nya terlihat bodoh seketika, ini di tambah lagi dengan Aku-kamu-an membuat bulu kuduk Nabila merinding seketika.


Kenapa laki-laki ini beda sekali dengan Ustadz Adam nya yang lemah lembut dan sangat sopan terhadap wanita, yang sangat taat sekali akan agama. Sedangkan di hadapanya saat ini kenapa tak memiliki kemiripan satu sifatpun yang sama dengan Almahrum kecuali wajah nya saja.


“Allahu Akbar ! sebenar nya ini ada apa ?” jerit Nabila dalam hati. Yang tiba-tiba terasa migren.


Belum selesai Nabila di buat syok dengan sikap terang-terangan pria itu, kini ia kembali di kejutkan dengan ucapanya lagi. ” Boleh tuliskan di sini.”


Nabila mengangga.


Spechles, sudah tak tahu lagi mau berbuat apa, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Bhintar di sana tanpa memberikan nomer ponsel nya.


Ya ALLAH, lindungi hamba dari godaan syetan yang terkutuk !!

__ADS_1


__ADS_2