Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Siapa tamu itu?


__ADS_3

Malam ke dua di jogjakarta yang cukup melelahkan, bukan hanya fisik saja melainkan hati nya pun juga sama.


Setelah dari pagi hingga sore Nabila di sibukan dengan Riwa-riwi kesana kemari, mengantarkan berbagai macam bingkisan oleh-oleh khas kota jawa timur yang sudah di siapkan oleh sang Bunda untuk ia bagikan ke tetangga serta sanak saudara terdekat, akhir nya malam ini selesai juga.


Gadis dengan tinggi badan 168 sentimeter itu sekarang ini sedang mengeringkan rambut nya yang masih basah sehabis selesai mandi. Setelah agak kering ia menyampirkan handuk kecil yang di gunakanya tadi ke tempat semula lalu melangkah menuju tempat tidur dan ambruk di sana, merentangkan ke dua tanganya seraya memejamkan mata karena kelelahan.


Berharap ia akan segera tertidur dan melupakan semua ucapan orang-orang yang cukup menguras hati, tapi apalah daya, fikiranya kali ini tak mau di ajak kompromi barang sedikit pun. Bagaikan kaset rusak semua wejangan dari sanak keluarga seperti terpampang nyata di hadapanya, semua seperti sudah berjanjian membrondongi Nabila dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan ia sendiri belum tahu jawabanya yaitu Kapan menikah? dua kata saja namun sanggup mengundang beberapa pertaanya berikut nya lagi dan lagi. Hingga membuat Nabila capek dan bingung sendiri.


“Ya Rabb, berikanlah kepadaku calon Suami yang terbaik dari sisimu, suami yang juga jadi sahabatku dalam urusan agama ,dunia dan akhirat amin. ” gumam nya lirih masih terpejam.


Bruk !


Satu benda empuk sukses menghantam kepalanya, dia membuka mata sembari mengucap istigfar. Orang yang selalu menunjukan kasih sayang nya dengan nyleneh itu tak lain dan tak bukan adalah Vika si ratu biang onar sekaligus rusuh sejak masih di bangku SMA sampai sekarang.


“ Astagfirullahal Adzim, Vika !” pekik nya sambil bangun dari tidur nya.


“ Dasar teman jahannam ! bisa-bisa nya pulang gak ngasih kabar !! lo lupa? ada temen satu yang nylempit di kota ini?”


Jika wanita yang berpenampilan modis itu menampangkan ciri khas nya yaitu mata melotot, hidung kembang kempis juga suaranya yang menggelegar sudah ia keluarkan. Maka Nabila harus segera menghampiri dan menenangkan agar situasinya kembali terkendali.


“Sorry Vik, gue belum sempet pegang Hp. Tapi tadi udah mau ngabarin kok, beneran….gak bohong ! “ jelas nya sembari berjalan maju dan merentangkan ke dua tanganya siap memeluk.


“ Ck..Dasar tega ! lo itu temen ter nyebelin yang pernah gue kenal tau gak Bil? heran deh, sebenarnya masih anggap gue ini sahabat lo atau bukan sih? udah tunangan gak ngabarin, mau nikah juga enggak ngasih info, bahkan sampai batal nikah pun gue tetep gak di kasih tahu ! ih....sebel gue ! ” protes Vika dengan segala ocehan ber nada ketus, tapi tetap saja menghambur ke pelukan Nabila dengan hangat.


Vika dengan segala omongan ngalor ngidul nya, membuat Nabila hanya bisa menghembuskan napas kasarnya saja tanpa ingin menimpali omongan sahabat nya yang selalu bikin ribet dengan segala fikiran-fikiran Absurd nya itu.


Bukanya tak mau membalas atau menceritakanya, hanya saja malam ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita mengorek luka lama. Karena saat ini ia sedang capek dan bener-bener butuh waktu untuk mengistirahatkan badan serta jiwa nya dari segala gempuran omongan orang yang tadi siang datang melanda.


“Lo tahu se sayang apa gue sama lo Vik ?” katanya sambil mendekap erat serta mengelus punggung wanita cantik itu agar emosinya mereda. Dan nyata nya itu cukup berhasil karena setelah nya ia mendapat anggukkan kepala dari gadis tersebut. ” Gue tahu lo butuh jawaban dari semua pertanyaan itu, gak perlu khawatir karena pasti nanti dengan senang hati akan gue ceritain semuanya tanpa terkecuali. Tapi... pliss, gak sekarang okey? Gue bener-bener capek butuh istirahat.” Terang nya dengan hati-hati agar langsung di mengerti.


Vika mengangguk paham, tapi mulut nya sepertinya tak selaras dengan isi kepalanya. ”Huft.... Gue kadang iri sama si Cicak, yang selalu ada di kala lo butuhin. Gak kayak gue! yang hoby nya ngilang mulu, bener-bener seorang sahabat yang sangat buruk dan tak berguna !” Oceh Vika dengan segala omongan ngelantur nya merendahkan dirinya sendiri.


Tuk !


“Aouw ! ishhh….sakit tahu? Dari dulu gak hilang-hilang ih..mainya nge geplak kepala mulu ?” ringisnya sambil menggaduh marah. melepaskan pelukan.


“ Biarin ! habis nya otak nya ngawur mulu sih dari dulu? Heran deh gue Vik, jika Dosen nya aja model nya kayak beginian terus apa kabar sama mahasiswa nya?”


Nabila berjalan ke arah balkon kamar yang sejak tadi memang di biarkan terbuka lalu berdiri di sana.

__ADS_1


“ Apa sih lo Bil, ngapain coba bawa-bawa profesi gue? Beda haluan tahu gak? Lagian mahasiswa gue anteng-anteng aja tuh, kenapa jadi lo ungkit-ungkit? pada bangkit tahu rasa lo! ” jawab Vika nyleneh, yang mulai terpancing dengan pengalihan topik yang di buat Nabila.


Ya, Vika adalah seorang Dosen. Lebih tepat nya seorang Dosen paling antik, cantik dan kece se antero kampus yang terkenal killer dan pelit Nilai. Tak di sangka dengan fikiranya yang pas-pasan waktu SMA nyatanya takdir mengantarkanya pada profesi yang satu itu.


Nabila membalikan badanya ke belakang ke arah Vika. “ Ya iyalah anteng, lawong Bu dosen nya aja galak nya gak ketulungan begini? Takut mereka Vik ! “


“ Eh...eh..jangan asal bicara ya Bu dokter ! mentang-mentang kalem, terus anda bisa menghujat saya begitu saja? Ish….” Vika mengelengkan kepala dan melipat kedua tangan nya ke dada “ Untung saja gue gak punya mahasiswa yang bentukan nya kayak lo dan juga Zahra, bisa habis gue tiap hari kenak toyoron lo ber dua muluk? bisa-bisa turun reputasi yang gue jaga selama ini Bil di tangan kalian ! “


Nabila menyunggingkan senyum geli, tapi kemudian menggangguk kecil sambil terkekeh “ Makanya banyakin syukur sama Allah karena telah di hindarkan dari gue dan juga Zahra…” Ucap nya terjeda karena selakan yang di lontarkan Vika” Alhamdulilah, terimakasih ya Allah, engkau telah hindarkan hamba dari godaan syetan yang terkutuk ! ” sambung Vika di buat se dramatis mungkin, yang sejurus kemudian kembali melemparkan bantal ke arah nya, membuat Nabila tersulut ingin kembali menjitak kepala sahabat nya tapi tak berhasil karena gadis berambut coklat itu keburu menghindar.


" Eh dodol, berani-berani nya ya lo katain gue setan ! gak terima ya gue! " pekik Nabila sambil mengejar Vika.


" Bodo amat ! " balas Vika yang malah menaiki tempat tidur.


Gala tawa kedua nya kini memenuhi se isi ruangan yang di barengi dengan kejar-kejaran di dalam kamar dengan membawa masing-masing bantal empuk di tanganya, bersiap memukul jika nanti salah satu nya menyerah dan tertangkap.


" Hey! sini gak lo? awas aja ya gue bongkar ke O'onan lo sama mahasis.... " teriak Nabila yang kembali menggantung.


" Oke..oke..oke.. Stop! gue nyerah." selak Vika berhenti saat dirinya sampai di balkon kamar sambil ngos-ngosan.


" Dasar ngancem mulu bisa nya ! yaudah nih pukul " lanjut nya sambil merapatkan mata nya rapat-rapat bersiap di pukul.


Nabila berhenti, memandangi wajah sahabat nya itu dengan lekat-lekat lalu membuang bantal yang ia pegang kesembarang arah. Berjalan mengahampiri Vika dan berdiri di samping nya.


Vika membuka mata, mengernyitkan dahi nya melihat ke samping di mana sumber suara itu berasal. " Untuk? " tanya Vika tak mengerti.


" Untuk sebuah moment yang tercipta dari persahabatan kita " jawab Nabila


sambil menikmati lukisan tuhan yang begitu sangat indah bertaburkan bintang-bintang di atas langit sana dengan sunyi yang menghampiri.


Vika pun membalikan badanya, mengikuti arah mata Nabila memandang di atas sana dengan perasaan entah apa.


“ Gue kangen sama si Cicak, apa kabar dia ya Bil?” tanya nya tanpa mengalihkan pandanganya.


Nabila menoleh “ Lo kangen dia?” pertanyaan yang selalu di balas dengan pertanyaan lagi. Sungguh malam ini memang benar-benar penuh ke Absurdtan.


“ Iya lah gue kangen. Rindu lo ber dua tepat nya.” ucap Vika mulai serius.


" Dia baik seperti biasanya, tapi lo tahu sendiri kan baik-baik fersi Zahra itu yang bagaimana?."

__ADS_1


Vika mengangguk mengerti. " Hem... gue tahu semuanya, semoga masalah kalian berdua cepet nemuin jalan keluar nya. Gue pusing lihat nya. "


Hening tiba-tiba menyapa, tak ada jawaban selanjut nya. Hingga suara ketukan pintu memecahkan sunyi di antara ke dua gadis itu. Nabila menoleh kebelakang lalu membuka pintu nya.


" Mbok, ada apa? " tanya nya pada si pengetuk pintu yang ter nyata adalah Mbok Lastri.


" Maaf non, sudah di tunggu sama nyonya di bawah. Tamunya sudah datang. "


Nabila mengernyitkan dahi nya bingung, tak tahu menahu tentang siapakah gerangan orang yang datang. Sebab ia merasa tak berjanjian dengan siapa pun malam ini.


" Tamu? siapa Mbok? " tanya Nabila penasaran.


" Bukan kewajiban si Mbok untuk kasih tahu non Nabila." ucap nya dengan tersenyum sopan." Kalau begitu saya ke bawah dulu non. "


Mbok Lastri langsung berlalu tanpa memberi penjelasan sedikitpun meninggalkan Nabila dengan kebingungan yang meng hantui nya. sampai-sampai ia tak menyadari jika sedari tadi Vika berdiri di belakang ikut mendengarkan.


" Oh ya Bil, tadi gue lihat ada beberapa orang gitu di bawah lagi ngomong serius sama Bunda. Apa itu tamu yang di maksud? " kata Vika yang baru mengingat nya setelah mendengar ucapan Mbok Lastri.


" Hah? apa? "


" Iya tadi gue juga lihat di..... "


" Vika ! " bentak nya pada wanita yang sampai sekarang masih belum mendapat hidayah untuk menutup aurat nya itu. Sampai-sampai membuat sang pemilik nama terjingkat kaget.


" Apa sih Bil? kaget tahu gak! " jawab nya bingung sendiri.


" Allahu akbar......bisa darah tinggi gue kalau saben hari kudu ngadepin makhluk kayak lo? bisa-bisa nya gak ngasih tahu dari pertama masuk kamar. " ucap nya geregetan.


Bagaimana tidak kesal? jika dari sekian detik berlalu kenapa yang satu itu bisa terlewatkan? dan lupa memberi tahu jika ia melihat tamu. Di mana-mana itu sesuatu yang membikin penasaran pasti di tanyakan duluan bukan malah belakangan dan baru sadar setelah ada orang yang mengatakanya? Dasar gadis slebor !


Sekarang giliran Nabila yang marah-marah gak jelas membuat Vika terheran-heran sebenar nya ini ada apa sih? kenapa dari tadi omonganya isi nya pada ngegas mulu bawaanya.


" Memang nya siapa sih Bil tamu nya? sampai pucet, gemeter gitu? "


" Calon suami gue. " jawab Nabila ngasal.


Vika melotot kaget, mendengar ucapan Nabila yang entah benar atau tidak.


" What ? yang bener ? kalau ngomong jangan ngasal deh."

__ADS_1


Nabila berjalan melewati Vika begitu saja menuju ke arah lemari dan berdiri di sana sejenak, seperti berfikir sesuatu yang tak di mengerti oleh sahabat nya sama sekali.


" Vik, kelak di masa depan jadilah saksi atas keputusanku ini. Jika ini semua sudah benar. " katanya lirih sambil mencengkram ganggang pintu almari.


__ADS_2