
Ada yang bilang masa-masa pengantin baru adalah hal paling menyenangkan se umur hidup.
Hari dimana dua insan saling memadu kasih, mengenal antara satu sama lain untuk menciptakan moment-moment indah yang tak akan pernah terlupakan meski nanti Zaman akan berubah.
Tapi seperti nya itu tidak berlaku untuk pernikahan Nabila. Sebab meski sudah SAH menyandang predikat seorang istri dari seorang gus sekaligus dosen bernama Bhintara Nakhla Al Rasyid, dia masih saja menutup hati dan enggan membuka diri.
Selama seminggu ini hubungan mereka terlihat biasa-biasa saja, tak ada kejanggalan yang terlihat dari pernikahan tersebut. Cenderung normal seperti pengantin baru pada umum nya.
Nabila menjalankan peranya dengan sangat baik selayak nya istri yang berbakti kepada suami, menyiapkan segala kebutuhan Bhintara dari yang terkecil hingga ke hal besar sekalipun. Di mulai dari laki-laki itu membuka mata sampai menutup nya kembali.
Semuanya sempurna di pandang mata, Nabila begitu cekatan mengurus suami nya.
Tapi…siapa sangka? Di balik ke sempurnaan itu ada ke cacatan di dalam nya, yaitu belum bisa menjalankan kewajibanya sebagai seorang istri dengan memberikan malam pertama untuk sang suami.
Nabila benar-benar belum siap akan hal itu, karena dia masih ragu dan butuh waktu untuk meyakinkan diri.
“Mas…” panggil Nabila sambil mengeluarkan beberapa pakaian dan barang bawaan dari dalam koper untuk di tata ke sebuah almari besar yang berada di pojok ruangan.
Bhintara menoleh, berhenti dari fokus nya pada Handpon dan beralih mempehatikan istri nya sebentar lalu memandangi layar Hp nya kembali.
“Iya sayang.” Sahut Bhintara tanpa sadar.
Blussss…….
Nabila seketika berhenti dari kegiatanya, membelalakan mata sebentar tapi kemudian malah semakin menundukan kepala karena malu saat mendengar kata mesra tersebut.
Jujur saja, di panggil se sensual itu oleh Bhintara membuat debaran jantung Nabila ikut menggila. Menimbulkan desiran aneh di dalam tubuh nya, sebab untuk yang pertama kali ada seorang laki-laki yang memanggil nya dengan kata-kata sayang.
“Ap..apa sih mas? Mulai deh gombal nya.” jawab Nabila malu-malu dan gugup, semakin sibuk mengaduk-ngaduk koper tidak mau menoleh ke sumber suara karena tak ingin sang suami melihat rona merah di pipi nya.
“Dek…….”
“Mas, ini pakaian aku boleh gak di taruh di sebelah baju kamu? “
Hening tak ada sahutan.
Bhintara masih sibuk mengetik balasan di benda pipih milik nya, hingga tak terlalu fokus pada ucapan Nabila dan membuat sang istri tiba-tiba merasakan perasaan tak enak dalam hati nya.
Nabila mengigit bibir bawah nya ke dalam, kemudian tersenyum miris menertawai diri sendiri.
Sadar Nabila, sadar ! kamu itu hanya seorang istri yang belum sepenuh nya menyerahkan diri. Jadi jangan pernah memposisikan diri kamu layak nya seperti seorang istri sungguhan di pernikahan ini. Lagian siapa kamu di hidup Bhintara? Hanya orang baru yang belum tentu bisa menggeser wanita itu di hati suami kamu. batinya.
Nabila menggeleng, setelah pergulatan batin yang tadi ia lakukan. Kini dengan gerakan cepat kembali memasukan pakaian nya kedalam koper lagi.
“ Itu…anu mas, gak jadi deh. Biar baju-baju saya di koper saja gak papa, nanti tak taruh di sana ya mas supaya gak terlalu memakan temp……….”
Mendengar ucapan Nabila yang seperti nya masih bersikap seperti orang lain, Bhintara langsung menegakan badan.
Menaruh gawai Hp ke atas meja, lalu berdiri dari kursi yang sejak tadi dia duduki.Mengabaikan beberapa pesan masuk yang belum selesai ia ketik balasanya.
“Sayang, berhenti. ” kata Bhintara dengan lembut.
Nabila mematung di tempat. Dia mendengar Panggilan itu lagi, meski reaksinya tak se hebat tadi tapi cukup membuat bulu-bulu halus di tubuh Nabila ikutan berdiri.
Nabila menggeleng, mengenyahkan rasa aneh di tubuh nya.
“ Mas, ini sebentar lagi selesai kok. Setelah itu aku mau mandi dan langsung nemuin Umi di bawah gak enak kalau…..”
Gerakan Nabila kembali terhenti. Sekarang tak ada lagi desiran aneh ataupun debaran jantung yang menggila, tapi kini itu semua tergantikan oleh tegangan hebat pada tubuh nya saat merasakan sepasang tangan sedang memeluk nya dari belakang.
__ADS_1
“Mau sampai kapan dek Nabila terus akan bersikap canggung seperti ini hem? “ Bisik Bhintara lirih di telinga Nabila, “ Aku ini suami mu loh? Semua miliku itu berarti milikmu juga, termasuk kamar ini dan se isi-isi nya. Mengerti ? ” kemudian dia menyandarkan dagu nya di pundak Nabila, semakin mengeratkan pelukanya.
Sebenar dari tadi Bhintara ingin sekali menjawab segala ucapan sang istri dengan segera, sebab jarang-jarang ia mendengarkan wanita kutub itu bersuara banyak di hadapanya. Tapi...mau bagaimana lagi? beberapa e_mail yang masuk di Hanponya lebih mendominasi pikiranya agar segera membalas pesan-pesan tersebut.
Hingga sebuah ungkapan kecil yang di lontarkan sang istri menarik segala atensi nya agar segera meninggalkan segala chat yang masuk dan beralih segera menghampiri Nabila.
Bhintara benci, benci sekali melihat sang istri selalu memposisikan dirinya seperti orang asing. Selalu menghindar jika ia ingin menghabiskan waktu bercengkrama lebih lama,dengan menjadikan sang Bunda sebagai alasanya.
Bhintara sudah jengah, ia sudah bertekad mulai sekarang dia tak akan pernah membiarkan makmum nya melakukan dosa lebih lama lagi dengan selalu menolak dirinya.
Cukup dengan satu minggu saja waktu di jogja ia membiarkan Nabila terus menghindari nya, karena untuk selanjut nya dia tak akan pernah mengizinkan atau membiarkan sang istri melakukanya di sini. Di kamar nya.
Ya, sekarang Nabila memang sedang berada di salah satu kamar yang dulu sering sekali ia lewati waktu menjalankan piket saat masih menjadi santriwati di pondok pesantren Nurul Qur'an ini.
Dan sekarang, justru malah ia tempati bersama seorang laki-laki yang sama sekali tak ada fikiran sedikitpun. Jika pemilik kamar itu lah yang di takdirkan tuhan untuk menjadi suami nya di masa depan.
Sungguh lucu bukan? dia mencintai siapa? dan yang jadi suaminya justru malah siapa !
"Mmaas...... " panggil Nabila gugup sambil ingin melepaskan tangan Bhintara dari perut nya, tapi gagal karena laki-laki itu semakin mengeratkan pelukanya.
"Mas aku sesak napas. " tepat nya tubuh aku lemas mas. terus nya dalam hati.
Tak di sangka Bhintara malah memutar tubuh Nabila untuk menghadap nya tanpa melepaskan tangan dari pinggang langsing milik istrinya, membuat si perempuan cantik itu mengernyit.
"Mas... aku... "
"Mulai sekarang, aku akan memanggilmu seperti itu. Keberatan? "
Oke, sebuah permintaan yang lebih terdengar seperti pernyataan. Di barengi dengan tatapan mata dalam sampai-sampai Nabila di buat terkesiap oleh nya.
Untuk sesaat Nabila terpana oleh wajah sang suami, tersesat dalam mata laki-laki itu dan terlena menikmati maha karya Allah yang luar biasa indah nya dari jarak sedekat itu.
Nabila seperti terhipnotis, lagi-lagi dia hanya bisa mengangguk menyetujui seperti orang bodoh yang linglung.
Kekayaan, pangkat dan sekolah tinggi seolah mengecil dengan sendiri nya karena rasa ingin menghormati timbul begitu saja dalam hati.
"Nabila... "
Bhintara memandangi ke dua mata sang istri dengan tatapan memuja, meraih salah satu pipi kemerahan Nabila dengan salah satu tanganya.
Mendapatkan sentuhan selembut itu di pipinya membuat Nabila menggercapkan mata waspada.
" Mas... aku belum sia...... "
Bhintara menggeleng " Enggak ! kali ini dek Nabila gak boleh menghindar lagi"
Kemudian tangan Bhintara merambat ke kepala istrinya, bersiap melepaskan hijab nya namun di tahan oleh sang empunya.
" Kamu belum cinta aku mas "
"Apa kamu tidak melihat nya di mata aku dek? "
Nabila menunduk " Untuk saat ini aku belum melihat nya tapi... tidak tahu besok. "
Tawa hambar meluncur dari bibir Bhintara, di barengi dengan gelengan kecil. Dia melepaskan pelukan lalu kembali ke tempat duduk nya semula.
"Kadang aku berfikir, apa mata hatimu masih buta dan tertutup duka? sehingga dek Nabila tak bisa merasakan partikel-partikel cinta di sekitarmu."
Nabila berbalik menatap nya " Apa sekarang ini jenengan sedang mengungkapkan perasanmu kepadaku mas? "
__ADS_1
" Menurut dek Nabila bagaimana? "
Nabila menunduk ragu, menautkan jemari tanganya sebentar lalu mendongak. Menatap lurus pada pria yang sekarang ini sedang menunggu jawabanya dengan harap-harap cemas.
"Mas... itu..anu...,kadang kala nya seseorang bisa saja salah mengartikan mana itu cinta dan mana itu ***** "
Bhintara tidak menjawab.
"Maaf sebelum nya, bukan maksud aku meragukan perasaan mas. Tapi bukanya waktu itu jenengan sendiri yang bilang, kalau masih ada nama wanita lain di hati kamu dan membutuhkan waktu untuk menggantinya dengan namaku? jadi apakah salah jika aku masih meragu dengan perasaan mas yang berubah secepat itu? "
Lagi-lagi laki-laki itu hanya terdiam.
Bhintara menyunggingkan senyum, ia kembali berdiri dari duduk nya. Mendekati Nabila dan langsung mencium pipi nya. "Apa ini sudah cukup untuk menghapus keraguanmu? "
Dia memegang sebelah pipi Nabila dan kembali mencium nya lagi_kali ini lebih lama dari sebelum nya.
Tubuh Nabila memanas, bahkan semakin mendidih saat Bhintara beralih mendaratkan ciuman singkat di bibir ranum itu dengan hati-hati.
Kemudian beralih menempelkan kening nya dengan kening sang istri, Dan mempertemukan napas mereka yang saling beradu.
Laki-laki itu tahu betul, perbuatanya ini bisa saja mengakibatkan wanita di hadapanya sekarang semakin menjauh. Tapi masa bodoh dengan itu semua, karena untuk saat ini dia hanya ingin melakukan itu Agar sang istri bisa merasakan kalau detak jantung nya bergejolak se dahsyat ini jika hanya berdekatan denganya.
Dia tak akan banyak ulasan materi untuk membuktikanya, karena mulai hari ini ia akan langsung mempraktekanya dengan tindakan dan tak akan lagi banyak omong kosong.
"Mas Bhintar"
Nabila memundurkan wajah nya, tapi enggan melepaskan pandanganya dari ke dua mata milik Bhintara dengan tatapan kesal.
"Maafkan aku, karena sudah mencuri ciuman pertama kamu. "
"Mas udah janji, tak akan pernah menyentuh tubuhku sembarangan sebelum aku siap dan mengizinkanya kan? "
Bhintara mengangguk, lalu menyingkirkan jarak di antara mereka.
"Oke, aku salah. dan minta maaf sudah melanggar janjiku sendiri, tapi asal kamu tahu aku tak pernah menyesal melakukan itu. Karena di dunia ini tak ada seorang pencuri yang mencuri milik nya sendiri.
Laki-laki itu kembali memegang wajah Nabila dengan tatapan sayu, lalu beralih menyusuri hidung mancung Sang istri " Ini milik aku " kemudian berhenti di atas bibir sexy Nabila, memusatkan pandanganya di sana " Ini juga " serunya membuat Nabila mematung.
" Ini semua miliku dek. Hidung,pipi, mata dan juga bibir ini. Semuanya sudah menjadi Hak aku, terhitung dari satu minggu yang lalu sejak kata 'Aku terima' sudah terlontar dari mulutku. Jadi.. seluruh tubuh yang kamu miliki sampai tingkah laku dari yang baik hingga buruk sekalipun sudah menjadi tanggung jawabku. "
Untuk yang pertama kali nya Nabila melihat kilatan amarah yang bercampur dengan senyuman palsu terpancar di mata Bhintara, mengakibatkan dada Nabila berdebar keras untuk beberapa saat.
Nabila takut nya bukan main, salah tingkah dan ter duduk lemas di atas kasur sambil menunduk tak berdaya. Tak sanggup lagi menatap langsung mata sang suami yang serat akan kemarahan.
Bhintara terkekeh pelan, kemudian berbalik arah memunggungi Nabila berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar yang terasa menyesakan itu. Tapi langkah nya terhenti saat sampai di ambang pintu.
Tanpa mau menoleh kebelakang lagi ia berujar panjang.
" Pernikahan itu bukan hanya tentang hasrat dan ***** semata, kalau saja aku menuruti ke inginanku sebagai laki-laki normal mungkin aku akan memaksamu meberiku nafkah batin pada saat itu juga. Karena itu sudah menjadi Hak aku sebagai suamimu, tapi.. aku menghormatimu. memberikan banyak waktu lagi sampai kamu siap, tapi apa? selama ini kamu justru malah terus menghindariku dengan menjadikan Bunda sebagai alasanya. Apa aku sebuah Najis yang sangat kau hindari? sampai-sampai fikaran pun ikut kau nodai, Beranggapan jika aku hanya ingin memburu ***** saja dalam pernikahan ini." Geram Bhintara penuh penekanan di setiap kata nya. "Sudah aku bilang kita harus berjuang sama-sama, tapi seperti nya di sini.. hanya aku saja yang mati-matian berusaha. Kamu enggak sema sekali."
Jeda sejenak.
" Kalau begitu inginmu, aku menyerah. Maafkan aku "
Klek
Suara pintu tertutup pelan, memberhentikan percakapan mereka malam itu. Dengan Meninggalkan Nabila yang duduk termanggu lemas sambil menitikan air mata penyesalan.
Jadi... jangan lupa like, comen dan vote nya ya.....
__ADS_1
Oh iya, untuk next part selanjut nya mau nya di Up kapan nih? sorean,bakda magrib? atau tengah malem aja kayak biasanya.
Di tunggu ya jawabanya.