Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Marah nya Dokter Iqbal


__ADS_3


Bhintara menghentikan laju Mobilnya tepat di depan gerbang Rumah sakit yang keseluruhan gedungnya hampir di dominasi oleh warna hijau tersebut, dengan lancar tanpa hambatan.


“ Apa ngak apa-apa dek Nabila turun di sini? Ini masih jauh loh dari pintu masuk. Mas masih keburu kok, buat anterin sampai depan sana.” Tunjuk Bhintara ke arah jam dua belas, sesaat setelah mematikan mesin Mobilnya.


Nabila menoleh ke arah sang suami dengan menampilkan senyum penuh pengertian. “ Gak apa-apa kok Mas, sampai sini aja. Bakalan riweh nanti kalau Jenengan harus muter balik lagi. “ Jawab gadis itu sembari melepaskan sabuk pengaman, lalu menjulurkan satu tangan nya ke hadapan Bhintara untuk berpamitan. “ Yasudah, aku turun dulu ya Mas, kamu hati-hati di jalan gak usah ngebut bawa Mobil nya. "


Bhintara mengangguk meng_ iyakan segala ucapan Nabila " He'em"


"Oh ya! nanti langsung ketemu di Rumah Umi ya mas, gak usah jemput ke sini. Biar nanti aku naik taksi saja pulang nya. “


Nabila memang sudah berjanjian dengan ibu mertuanya tersebut untuk makan malam di Pesantren pagi tadi saat berbelanja. Katanya, beliau sudah kangen dan ingin sekali menghabiskan waktu bercengkrama dengan nya lebih lama.


“ Gehpun, nanti selesai praktek langsung pulang ya dek. Gak boleh malem-malem loh sampai rumah nya. “ Pesan Bhintara yang sampai sekarang masih enggan untuk melepaskan genggaman sang istri dari tangan nya.


Nabila mengangguk menyetujui, mencondongkan dirinya ke arah sang suami untuk memberikan kecupan perpisahan di pipi laki-laki tersebut. “ Njih...kalau gitu aku turun sekarang ya Mas. Assalamualaikum.” Pamit Nabila untuk meng_akhiri segala percakapan pagi ini.


"Tunggu! " Cegah Bhintara yang kembali menarik jemari tangan sang istri.


Seperti nya Dosen ganteng itu masih tak rela melepas Nabila pergi, sebab dengan gerakan cepat ia menekan tengkuk sang istri ke arah nya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir Nabila dengan sebentar, lalu buru -buru melepaskan nya. “ Mas sayang sama dek Nabila. Semangat kerja nya ya! Sampai ketemu nanti sore di Pondok Pesantren.“ Bisik Bhintara Mesra. Membuat Nabila tersipu saat mendengar nya.


Nabila menunduk malu merasakan perlakuan manis sang suami. menerbitkan senyuman bersamaan dengan anggukan semangatnya. Tak sia-sia ia menahan kecewa semalaman. Tak apa dia menahan ego jika balasan nya akan se_menyenangkan ini. “ Iya Mas. " Jawab Nabila malu-malu.


Nabila senang, sungguh bahagia rasanya. Bisa di perlakukan sepesial oleh pria kaku yang ada di hadapan nya sekarang. Dia merasa terbang melayang saat kata-kata penuh kasih sayang itu terus terlontar sejak pagi. Namun di saat berbarengan rasa kecewa itu juga tak terelakan, membuat hati nya kembali di buat meragu. Apakah kebahagian ini akan bertahan selamanya ataukah hanya semu semata, mengingat kejadian tadi malam yang masih banyak sekali menimbulkan tanya di hati nya.



Nabila memasuki ruangan prakteknya dengan wajah lesu tak bersemangat. Sekeras apapun dirinya mencoba untuk berpura-pura baik-baik saja menampilkan pipi merona di depan suaminya dan berusaha buta, tapi nyatanya hatinya masih saja tak benar-benar lupa dengan kejadian semalam yang begitu sangat membekas dalam ingatan nya. Bahkan Nabila sampai tak bisa tidur di buat saat memikirkan nya. Entah apa sebenar nya hubungan mereka? Atau lebih tepat nya kebohongan apa yang sedang Dokter Aisyah, Vika, mbak Hasna dan suaminya sembunyikan dari nya.


Semuanya terasa jelas di depan mata, tapi mengapa dirinya hanya bisa diam saja dan malah ketakutan sendiri jika di hadapkan dengan kenyataan yang nanti nya tak sesuai dengan harapan nya.


Semoga saja, semua pemikiran buruk yang sejak tadi malam menggelayuti kepala, tidak benar-benar akan terjadi nanti nya.


Nabila menghembuskan napas nya kasar seperti kelelahan. Padahal ini masih pagi dan belum satupun pasien yang ia layani. Tapi rasanya tubuhnya sudah merasakan capek luar biasa, apa memang semua ini merupakan efek dari perang batin yang sejak tadi malam di lakukan nya?


Dia menggeleng kecil sesaat setelah tiba di depan meja ruang praktiknya, mencoba menegakkan tubuh dengan bertumpu pada meja, mengumpulkan semangat " Nabila ayolah…kamu harus profesional, gak boleh kamu campur adukan begini.” Gumamnya menyemangati diri sendiri.


Setelah dirasa dirinya sedikit bersemangat, Nabila berniat ingin menghampiri suster Naomi yang sempat di abaikan nya tadi untuk menanyakan berapakah pasien yang sudah membuat janji hari ini. Namun urung, sebab di depan sana tepat di pertengahan pintu masuk kini sudah terlihat se_ sosok laki-laki berdiri yang seharusnya ia hindari malah menatap nya dengan tajam.


Dokter Iqbal. Haruskah laki-laki itu datang menemuinya pagi-pagi begini? Kepalanya yang pusing kini rasanya ingin sekali mau pecah. Satu masalah belum terselesaikan kini sudah datang masalah baru lagi.


“ Allahu Akbar!! “ Tak Sanggup rasanya Nabila berhadapan dengan laki-laki itu sekarang. Rasa bersalah dan bingung masih saja selalu datang menerjang saat ia di hadapkan langsung dengan dokter posesif tersebut.


Bagaimana cara Nabila menjelaskan pada pria bebal itu dengan status pernikahan nya? Nabila bingung, sungguh ia benar-benar tak mengerti lagi untuk menghadapai situasi yang semakin rumit ini.

__ADS_1


“ Kak….., se...ssejak kapan di situ? Kenapa gak langsung masuk saja seperti biasanya? ” Tanya Nabila sedikit gugup karena takut dengan Aura yang di tampilkan dokter Iqbal pagi ini.


“ Sejak kamu turun dari Mobil di pinggir jalan hingga masuk keruangan ini dengan wajah frustasi. Selama itu aku di sini. " Jawab Dokter Iqbal penuh intimidasi.


Itu bukanlah suatu jawaban, melainkan pernyataan yang sanggup membikin jantung Nabila berdebar tak karuan. Apakah ini waktu nya untuk jujur saja? Sebab sepertinya laki-laki itu sudah melihatnya bersama Bhintara tadi. ”Astagfirullah, Cobaan apa lagi ini ya Allah." Batin Nabila menjerit frustasi.


“ Kak, begini. Aku bisa jelasin_________”


“ Gak perlu! " Potong nya cepat, " Jadi ini alasan kamu menghindari kakak selama ini Bee? “ Tanya dokter Iqbal dengan melangkah maju ke depan mendekat ke arah Nabila, yang reflek membuat perempuan berhijab peach itu memundurkan kaki kembali ke arah meja.


Kekecewaan. Itu yang bisa Nabila tangkap dari sorot mata laki-laki tampan itu menatapnya.


“ Stop! Berhenti di sana kak. Jangan maju lagi ku mohon. kakak membuatku takut. Aku bisa jelasin semuanya ke kakak.” Cegah Nabila sambil memperhatikan wajah dokter Iqbal dengan lekat. "Maafkan aku kak...." Batin nya meminta maaf.


Dokter Iqbal sedikit tersentak mendengar pengakuan Nabila yang saat ini takut melihat nya. Kenapa? Setelah sekian lama Nabila selalu terbiasa Dengan kehadiran nya, kini malah berbalik takut di saat sikap perempuan itu sendiri yang membuat nya ketakutan jika nanti nya akan di tinggalkan.


“ Oke, aku berhenti. " Ucap nya sambil mengangkat tangganya ke atas. " Dan sekarang, bicaralah. Karena sudah ku persiapkan banyak waktu untuk mendengarkan penjelasan mu saat ini." Tutur dokter Iqbal, yang kini malah terdengar seperti ancaman di telinga Nabila.


Nabila semakin gugup, meremas ujung jilbabnya berkali-kali. “ Kak, begini….emm….ini memang kedengaran nya sangat gak adil buat kakak, setelah berhari-hari lalu aku pernah mencoba memberikan kesempatan untukmu untuk mendekatiku. Tapi siapa yang tahu takdir kita kak? Aku sudah berusaha membuka hatiku untukmu, kakak sendiri tahu itu.” Jelas nya menunduk. Rasa malu sekaligus bersalah, bercampur menjadi satu.


Betapa tak tak tahu malunya dirinya, karena sudah berani-berani nya memberikan harapan tapi kini dia pula yang mematahkan.


Dokter Iqbal terdiam, masih mencoba untuk mencerna apa maksud dari semua ucapan perempuan di hadapan nya saat ini.


“ Kak, begini…kita tidak ditakdirkan bersama, dan gak berjodoh. Jadi_________”


Nabila seketika mendongak, menatap penuh permohonan pada laki-laki itu agar berusaha mengerti dengan apa yang di katakan nya. “ Kak……” Panggil Nabila penuh peringatan, memohon agar kali ini saja laki-laki itu dapat memahami.


“ Apa Bee? Aku sama sekali tak mengerti dengan maksud dari ucapan mu sedari tadi? " Jawab dokter Iqbal memicingkan mata nya, benar-benar tak mengerti dengan segala ucapan yang di ucapakan Nabila sejak tadi" Kamu sedari tadi terus membicarakan itu-itu saja. Membuat aku pusing. Bisakah langsung ke intinya, Tanpa berbelit-belit seperti itu?” Ujar dokter Iqbal Skakmat. Membuat Nabila seketika bungkam.


Kedua nya bungkam, Pikiran mereka sama-sama buntu. Bhintara yang gencar sekali menuntut jawaban sedangkan Nabila malah bingung sekali memberikan jawaban.


Hening beberapa saat, sampai kemudian suara dokter Iqbal lah yang lebih dulu memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.


“ Oke, kalau kamu gak bisa ngomong dan menjelaskan semua! Biar kakak saja yang menjelaskan kepadamu sekarang.“


Jujur Dokter Iqbal mulai tak sabar, sebab sejak tadi perkataan Nabila semakin membuat dada sebelah kiri nya berdenyut nyeri. Di pandangi nya wanita yang lima tahun terakhir ini ia cintai, rasa kecewa, patah, hancur dan cemburu beradu menjadi satu sampai membuat sedikit mata nya memerah.


Bukan suatu hal yang sulit untuk mengartikan mimik wajah perempuan di hadapan nya sekarang ini. Bersama dan mengenalnya selama empat tahun, itu lebih dari cukup untuknya mengetahui gerak-gerik Nabila dan membaca pikiran gadis tersebut dengan hanya melihat ekspresi wajahnya saja. Dan kali ini gadis itu terlihat sedang kesulitan untuk mengungkapkan kebenaran.


Jadi....biarkanlah dokter Iqbal membantu nya sedikit membantunya sedikit agar mempermudah Nabila untuk mengungkapkan kebohongan.


Ck, sungguh membuat dokter iqbal geram sendiri di buat nya. " Pembohong! "


"Apa? " Sahut Nabila kaget, menatap tak percaya ke arah dokter Iqbal dengan lekat.

__ADS_1


“ Iya, pembohong. Kamu PEMBOHONG! Apa masih kurang jelas? Apa perlu aku jabarkan kebohongan mu itu? Aku tak habis pikir, bagaimana bisa kamu menjalin hubungan di belakang aku Bil? Padahal kamu sendiri bilang ingin memberiku kesempatan untuk lebih dekat sama kamu!! Tapi Apa? " Ucap Dokter Iqbal dengan suara meninggi. Yang mungkin bukan Nabila saja yang kaget, melainkan suster Naomi yang memang meja kerjanya berada di luar ruangan juga pasti bisa mendengar suara yang mirip teriakan tersebut.


Tubuh Nabila menegang kaku di tempatnya, perasaanya mulai Waswas. Baru kali ini dia melihat seorang dokter Iqbal yang selama ini selalu lembut dan perhatian kepadanya, kini berbalik membentak dan meneriakinya seperti itu.


Inilah yang di takuti Nabila sedari awal jika ia jujur, bahwa laki-laki yang sudah di anggap kakak itu akan hilang kendali seperti ini dan tak akan terima.


“ Sebegitu kah kamu tak ingin aku dekati sampai harus menjalin cinta diam-diam seperti ini? Lalu apa maksud kamu pada waktu itu dengan memberikan harapan palsu kepadaku?" Lanjut nya lirih. " Kakak, benar-benar cinta sama kamu bee... tapi mengapa harus se_sakit ini rasa nya? Kamu selalu berdalih di balik kata 'Tidak mau berpacaran' Tapi nyata nya apa? Seorang wanita dan laki-laki di dalam mobil berduaan sambil bermesraan. Itu apa Bil, APA?! "


Dokter Iqbal terlihat menggeleng lemah menatap ke arah Nabila dengan tatapan hampa " Aku sama sekali gak nyangka, wanita yang aku anggap suci karena menganggap kalau berpacaran itu Haram, kini sudah memunculkan keaslian nya. ” lanjut dokter Iqbal lagi disertai kekehan lirih. Menatap Nabila jijik.“ Kamu adalah wanita paling munafik yang pernah aku kenal tahu gak Bil!! MUNAFIK." Teriak dokter IQbal sambil mendorong kaki kursi yang ada di hadapan nya sampai terjungkal.


Nabila hanya bisa menggeleng lemah mendengar tuduhan itu dengan sesekali menyeka buliran air mata yang sejak tadi keluar tanpa henti. Hanya bisa membiarkan dokter IQbal mengeluarkan segala kemarahan nya. Nabila sadar, dia yang salah ia yang lemah dan juga sudah lelah. Jadi jika dengan membiarkan dokter Iqbal memarahinya itu dapat membuat laki-laki itu puas dan merasa lega, maka Nabila akan terima dengan lapang dada.


Jujur, sekarang ini Nabila di landa syok luar biasa, jantungnya berdebardebar takut. Tapi dia juga tak bisa menyangkal karena ketidak berdayaanya.


“ Kak…” Panggil Nabila seperti tercekat.


Dokter Iqbal mengumpat lirih, meremas rambutnya frustasi, tak kuasa melihat raut wajah sedih perempuan yang dicintainya selama ini terlihat ketakutan melihatnya? Dia Memalingkan muka kesamping tak mau melihat air mata Nabila yang kini sedari tadi turun membasahi pipi. " Sudahlah....lupakan saja. " Ucapnya pelan. Kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu sesegera mungkin, sebelum ia kesulitan untuk mengendalikan emosinya lagi. Sungguh! Dia tak mau dan juga tak tega membuat Nabila semakin takut kepadanya.


"Kakak, tunggu! " Cegah Nabila, yang sebenarnya masih ingin menjelaskan dan meminta maaf.


“ Sudahlah Bil, mungkin kita memang tak jodoh seperti katamu tadi. “ Kata dokter Iqbal lemah, " Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihan kamu itu. " Lalu perlahan melangkah untuk segera meninggalkan ruangan itu. Namun, ucapan Nabila membuatnya seketika memberhentikan langkahnya saat ia sudah hampir sampai di ambang pintu.


“ Aku sudah Menikah!” Seru Nabila Lantang.


Deg!


Tubuh Dokter Iqbal seperti tertancap paku, panas dan dingin merambat ke seluruh pembuluh darahnya. Mengakibatkan badan nya meremang. Tak di sangka, jika akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari bibir wanita yang empat tahun ini ia kejar cintanya mati-matian.


Merasa di bohongi dan dibodohi, tapi sialnya sampai detik inipun rasa itu tak mau pergi. Haruskah penantian nya berakhir seperti ini?


Dia segera pergi dari ruangan yang menyesakan itu, tapi sial nya lanjutan dari ucapan Nabila seketika membuat hati dan tubuhnya mati rasa.


“ Dan perlu kakak tahu, laki-laki yang mengantarkan ku tadi.... dia bukanlah pacarku. Melainkan suamiku. Pacar yang sudah Halal untuk ku kak. ”


Adakah orang yang bisa membantu menyeret tubuhnya dari ruangan terkutuk ini sekarang juga? Jika ada, maka dia akan membalas budi seumur hidupnya.


Hatinya sekarat, sudah tak tertolong lagi. Betapa teganya wanita itu mematahkan harapan nya hingga sebegini sakitnya sampai tak ada yang tersisa. Empat tahun dia menunggu, dan dalam waktu selama itu pula ia selalu berusaha dengan sekuat tenaga menggunakan berbagai cara untuk melakukan nya.


Tapi....ini Apa? Mengapa hasilnya tak sepadan dengan penantian nya selama ini.


Kalah. Kini ia benar-benar telah kalah, dan harus mengalah merelakan Nabila nya dimiliki oleh orang lain.


Bhintara kembali meneruskan jalanya ke depan meski harus menyeret kaki nya dengan sekuat tenaga, menutup pintu itu dengan keras. Meninggalkan Nabila yang jatuh bersimpuh ke lantai menangis tersedu-sedu menyalahkan dirinya sendiri.


Begini kah caranya ia membalas orang yang selama ini selalu ada untuknya? Sejahat itukah dia? Sampai menyebabkan seseorang yang selalu ingin melihatnya tertawa, kini malah dia sendiri penyebab orang itu berselimut duka.

__ADS_1


Nabila…….kamu sungguh tak tahu diri sekali terhadap dia.


__ADS_2