
...Karna jiwa yang besar hanya di miliki oleh orang-orang yang memiliki ke tegaran tanpa batas....
Ciiiiiiiiiiiiiit……
BRUK !!!
Nabila di kejutkan dengan suara tabrakan yang tidak begitu keras namun sanggup membuat beberapa orang pengendara motor di depan nya tumbang bergilir layak nya domino dan macet.
“Astagfirullah haladzim. Bil. Hati-hati ! “
teriak Zahra kaget juga panik karena rem dadakan yang di lakukan Nabila secara tiba-tiba.
“Kayak nya di depan sana ada kecelakaan deh Ra.” kata Nabila dengan tak kalah panik nya.
Nabila membuka kaca mobil, lalu mendongak dan bertanya pada kendaraan dari arah berlawanan.
“ Pak maaf, mau tanya di depan ada apaan ya? Kok macet?”
“ Kecelakaan mbak, Ibu-ibu korban nya.”
“Innalilahi” sebut Nabila seraya menoleh ke arah Zahra yang terlihat sama terkejut nya.
Kecelakaan baru saja terjadi, satu buah motor ringsek menabrak pohon di pinggir jalan. Beberapa orang berhamburan mengrumuni motor tersebut.
Dan sebagian lagi terlihat sedang ber kerumun tak jauh dari tempat kejadian.
Keadaan saat ini terlihat sangat semrawut sebab kejadianya yang berada tepat di depan pasar.
Tanpa aba-aba ke dua nya langsung membuka pintu mobil. Sudah menjadi panggilan jiwa bagi mereka yang memang seorang dokter.
Nabila dan Zahra berlari menyusuri jalanan sempit di antara mobil-mobil menuju tempat ke jadian. Setelah sampai mereka tertuju pada dua orang yang menjadi koban.
“Ra, kamu kesana ! aku ke situ !” tutur nya setengah berteriak dengan menunjuk satu korban yang merupakan seorang bapak-bapak.
__ADS_1
Sedangkan Nabila berjalan cepat membelah krumunan dengan mengangkat satu tangan nya ke atas.
” Permisi, saya dokter! ”
Ucap nya seraya mendekat ke arah korban untuk melihat keadaan nya lalu tak lama setelah itu ia malah berteriak karena kaget. “Umi !” dia membekap mulut nya. “Astagfirullah haladzim ! ” ucap nya sembari menepuk-nepuk pipi korban.
“Umi, apa jenengan masih mendengar saya?” tanya Nabila panik melihat darah yang berceceran di sekitar.
Perempuan paruh baya itu mengangguk di sela sisa kesadaran nya yang tersisa.
Zahra yang mendengar suara teriakan Nabila, ia langsung berlari menghampiri sahabatnya itu meninggalkan si bapak-bapak yang memang hanya mengalami lecet saja di sekujur tubuh nya dan tadi dia sudah memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk memeriksakan keadaan nya lebih lanjut ke klinik terdekat.
“Bil, kenap.._ Umi !!”
Zahra terkejut saat melihat wajah si korban, bahkan Mata Nabila sudah berkaca-kaca tak sanggup melakukan tindakan apapun karena terlalu syok dengan kadaan saat ini.
“ Pak, tolong angkat Ibu ini ke dalam mobil yang terparkir di sana.” Minta Zahra pada beberapa bapak-bapak yang ada di sekitar mengambil alih keadaan.
Setelah sampai di mobil, Zahrapun langsung menancap gas nya untuk mencari kilinik atau rumah sakit terdekat agar bisa segera memberikan pertolongan lebih lanjut pada Umi Khadijah, yang merupakan ibu kandung dari Ustadz Adam mantan tunangan Nabila.
“Apa Umi merasa sesak?sakit? apa yang Umi rasakan?”
Umi Khadijah hanya menggeleng, Nabila mendiagnosa jika beliau sekarang ini hanya dalam keadaan syok saja secara psikologis. Dan dapat di simpulkan jika wanita berkhimar syar'i itu dalam keadaan tidak gawat.
“ Umi, tarik nafas yang dalam, terus hembuskan pelan-pelan lewat mulut ya Mi.” perintah Nabila pada Umi Khadijah yang langsung di ikuti oleh mantan calon mertuanya itu.
“ Nduk, terimakasih.”
Umi Khadijah tiba-tiba saja menggenggam tangan Nabila untuk di jadikan pegangan, menatap ke arah nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Umi. Sebenar nya apa yang terjadi? Kenapa jenengan bisa di sana sendirian tanpa satu orang pun santriwati yang menemani?” Tanya Nabila bertubi-tubi.
Umi Khadijah tersenyum samar, ” Umi tadi sebenar nya sudah di temani, tapi kerena mobil sudah penuh dengan barang belanjaan umi menyuruh mereka berdua untuk pulang terlebih dahulu dengan pak Muh supir pesantren.” Jawab nya lembut tanpa melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1
“ Lalu umi di tinggal sendirian begitu? ” selak Zahra di sela obrolan ke duanya.
Umi khadijah menutup mata, memincet pangkal hidung nya dengan salah satu tanganya karena merasakan pusing.
“ Sebenar nya Umi tadi sudah menyuruh Bhintar untuk jemput Umi, tapi kok ya lama dateng nya.” jelasnya pada ke dua wanita yang sedang mengkhawatirkan keadaanya saat ini.
“ Bhintar ? ” Ulang Nabila dengan menyebut nama orang yang terasa tidak asing di telinga nya.
Nabila terdiam, berfikir sejenak sembari meng ingat-ingat nama yang seperti nya memang sangat ia kenali, namun dimana? Ia juga lupa.
Karena penasaran dengan wajah Nabila yang seperti nya tahu tentang pemilik nama itu, Zahra pun ikut menyahuti di balik kemudi. “ Bintar ? siapa itu Mi?”
Umi Khadijah mengulum senyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Zahra “ Bhintar. Anak sulung Umi, kakak nya Adam. Masak kalian gak tahu?” jelasnya heran.
Nabila menggercapkan mata nya, lalu fikiran nya terasa seperti di tarik ke masa lalu dan langsung mengingat nya. “Masya Allah Umi Nabila sekarang baru ingat. ” jawabnya antusias.
Bhintara Nakhla Al Rasyid, anak sulung dari Kyai Abdullah dan Umi Khadijah. Kakak kandung dari Ustadz Adam, berumur sekitar tiga puluh empat tahun. Lulusan dari universitas internasional Haigh scool di Al-Azhar. Yang saat ini berprofesi sebagai dosen di salah satu Universitas islam ternama yang berada di kota jawa timur.
Dulu, waktu Nabila masih bersama Almahrum Ustadz Adam beliau pernah bercerita sesekali tentang kakak nya itu, yang sedang menimba ilmu di kota piramid sembari merintis bisnis di bidang kuliner bersama teman-teman nya disana. Tapi sayang sekali, ia tak pernah melihat rupa dari orang tersebut, bahkan nama lengkap nya saja ia tak tahu, dan seingat nya, Ustadz Adam hanya menyebut nya dengan nama Mas Bhintar.
Zahra menggangguk paham, " Oh tak kirain Almahrum itu anak tunggal nya Umi, gak tahunya masih punya saudara. Maklum Zahra tak mengetahi karena memang tak pernah melihat nya di area sekitar ponpes dulu. " katanya dengan menambah laju kendaraan nya agar segera sampai ke Rumah sakit terdekat.
“Nduk Zahra, tolong antarkan saja Umi ke pesantren, gak usah ke rumah sakit atau ke klinik gak perlu. ” potongnya memohon pada Zahra.
Nabila menoleh ke arah Umi Khadijah khawatir. “ Loh…loh…kenapa Umi gak mau? Nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana? Kalau di rumah sakit kan nanti bisa sekalian di rongsen kepala nya Mi, takut nya ada yang cidera di dalam.” jelas Nabila pada Umi Khadijah yqng di balas dengan anggukan oleh Zahra. "Betul itu Mi. " timbrung Zahra melanjutkan.
Umi Khadijah menggeleng tak setuju.
”Gak Usah gak papa, cuman robek sedikit aja di dahi lagian kan sudah di obati sama dua dokter cantik ini, jadi pasti nanti bakalan cepet sembuh.” jawabnya dengan menggoda mereka berdua agar.
Dari ekor mata nya, Zahra melirik ke arah Nabila lewat kaca sepion, memberi isyarat untuk meminta persetujuan pada gadis yang wajahnya masih terlihat pucat. ” Gimana Bil?”
"Nduk Nabila pasti setuju, iyakan nduk?" sahut Umi Khadijah, menoleh ke arah Nabila dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
Nabila menghela napas nya panjang, menatap ke arah Zahra sebentar lalu menyambar botol minuman di gasbor mobil dan meminum nya, setelah menghabiskan setengah air dari botol tersebut kemudian ia melirik ke arah Umi Khadijah dan mengangguk menyetujui.
Membiarkan takdir yang ingin sekali lagi bermain-main denganya.