
Malam yang mendung untuk bulan yang basah seperti November. Dan lamaran yang meresahkan untuk hati yang masih terluka, serta tamu yang datang tanpa di harapkan kedatanganya.
Sebelum memasuki ruang tamu, rasa penasaran Nabila terhadap sang pelamar sedikit membangkitkan jiwa ke KEPO_anya. Dia melirik kearah depan rumah yang sudah di penuhi oleh deretan Mobil terparkir dengan rapi, dan menemukan ke dua sahabat nya beserta Mbok Lastri sibuk membantu mengangkati beberapa bingkisan-bingkisan yang mereka bawa.
Secara jelas Nabila bisa menafsirkan jika itu sebagai tanda lamaran sah nya yang siap atau tidak siap dia sudah terlanjur menerima dan menyetujuinya kemaren malam.
Ketika kaki nya sudah hampir masuk ke ruang tamu keluarga, Nabila tak berani mendongakan kepala nya. Meski rasa penasaran menggrogoti jiwa, bertanya-tanya siapakah laki-laki yang ingin melamar nya itu. Bahkan hanya untuk melihat siapa saja orang-orang yang telah hadir di sana ia tak sanggup karena terlalu gugup .
Hingga suara pakde Jarwo yang sedari tadi asyik bercengkrama dengan lawan bicaranya berhenti sebentar, yang tak lama setelah itu kembali bersuara.
“Nduk, angkatlah kepalamu dan ucapkan salam pada mereka.” Kata pakde Jarwo dengan suara lantang nya.
Dengan perlahan Nabila mendongakkan kepala. pandanganya menatap lurus kedepan dan langsung bertabrakan dengan sepasang mata yang sangat ia kenali dengan sangat baik. Dari mulai alis, bentuk mata,bibir,hidung sampai wajah nya. Sontak membuat mata Nabila membulat lebar, jantung nya terasa berhenti berdetak beberapa detik.
“Gus Bhintar?” ucapnya terkejut.
Nabila masih tak mengerti, apa yang sebenar nya sedang Allah rencanakan untuk nya? Kenapa? Kenapa harus Bhintar? Kenapa harus dia yang datang melamar? Apakah tidak ada orang lain selain kakak dari Ustadz Adam tersebut? Kenapa harus pria itu yang di pilih Bunda untuk menikahi nya. why ! Dari banyak nya manusia yang hidup di dunia ini, mengapa harus si muka datar bin nyebelin itu yang duduk di hadapanya?! takdir apa lagi ini?
Lihat saja wajah nya yang sedari tadi hanya terus diam tanpa exspresi? Bisa-bisanya menampilkan wajah setenang itu saat semua orang sudah hampir kehilangan napas sangking tegang nya. Sungguh Nabila di buat syog dan specles dengan apa yang di lihat nya saat ini.
Mengabaikan mimik muka Bhintar yang datar-datar saja, pandanganya langsung di tarik paksa ke sebuah sofa yang berada di sebelah jendela. Menemukan sepasang suami- istri yang dulu juga pernah datang ke rumah ini dengan tujuan dan niat yang sama yaitu melamar untuk salah satu putra lainya bernama Adam.
Dengan perasaan ragu dan hati-hati Nabila berdiri dan mendatangi Umi Khadijah serta Kyai Abdullah untuk menyalimi “ Asalamualaikum Umi, Abah.” Ucap Nabila sopan bercampur canggung.
Ke duanya membalas nya dengan senyum
merekah yang sema sekali tak ingin Nabila lihat untuk keadaan ini. Sebuah senyuman yang menyiratkan akan suatu pengharapan penuh pada di dalam nya, dan kalau sudah begitu ia yakin tak akan sanggup untuk menolak nya.
“ Apa kabar Nduk, bagaimana kabar nya?” tanya Umi Khadijah sambil mengelus kepala Nabila saat ia tertunduk untuk mencium tangan wanita sepuh itu.
“ Alhamdulilah Umi, kabar Nabila baik-baik saja.” Jawab nya seadanya sembari mundur setelah selesai menyalimi.
Dari ekor mata mata nya Nabila bisa melihat jika Bhintar selalu memperhatikanya sedari tadi membuat wanita berumur dua puluh delapan itu risih sendiri dan salah tingkah di buat nya.
__ADS_1
Setelah dia kembali duduk, Hening tiba-tiba menyapa. Ruangan keluarga mendadak sunyi tak ada yang bersuara.
Tapi tak lama kemudian ucapan sang Bunda memecahkan ke canggungan.
“ Bagaimana sayang? Laki-laki baik yang ada di hadapanmu sekarang ini akan menjadikanmu pendamping hidup nya, apa kamu bersedia dan menerimanya Nak?” tanya Bunda Arina meminta jawaban pasti pada anak nya.
Pikiranya ngebleng, anatara terkejud dan bingung harus menjawab nya dengan bagaimana? Seperti terjebak pada ucapanya sendiri ia dilema. Antara terus melanjutkan rencana ini semua sampai kejenjang pernikahan, atau cukup di hentikan sampai di sini saja dan Batal? Nabila takut pilihanya akan salah dan membuat semuanya kecewa.
Nabila masih mununduk cemas, satu tanganya memainkan ujung hijab nya dengan cepat sembari berfikir keras.
Ya Allah..begitu rumit nya perjalanan cinta hamba ya Rabb.
“ Pakde berharap kamu beneran menerima lamaran ini dengan hati terbuka tanpa paksaan siapapun nduk, lagian Nak Bhintar ini sudah bicara banyak pada kami." Ucap nya sambil melihat Bhintar " Pakde yakin dia akan membuatmu bahagia ke depanya.” lanjut nya lagi yang malah seperti menyudutkanya.
Nabila melirik sang Bunda, dan beliau hanya membalas nya dengan tersenyum manis menantikan jawabanya atas lamaran Bhintar dan sekeluarga.
Awalnya dia yakin dengan lamaran tersebut, tapi setelah mengetahui jika keluarga dari Ustadz Adamlah yang telah melamar nya ia jadi ragu dan ingin sekali membatalkanya sekarang juga.
Tapi….apa tidak apa-apa jika ia membatalkanya? bagaimana nanti dengan perasaan Bunda yang seprtinya sudah sangat menginginkan pernikahan itu segera terjadi? Bagaimana dengan janji yang di ucapkanya di ambang pintu tadi sebelum turun?
Tak segera mendapat jawaban dari sang anak, wanita yang sudah berumur lima puluh lebih itu mulai tak sabar “ Nabila sayang, jawab Nak.” Desak sang Bunda di tengah kekalutanya.” Bukanya Nak Bhintar ini sudah termasuk dalam kriteria yang pernah kamu katakan ke Bunda? Dia laki-laki yang jelas asal-usul nya, dan insya Allah agamanya juga bagus. Jadi………”
Nabila meremas ujung kain sofa dengan keras, tak tahan mendengar ucapan semua orang yang sepertinya jadi menyudutkanya.
Dengan menarik napas nya panjang ia menghembuskanya kasar sebelum bersuara ” Bunda….” Panggil Nabila dengan sorot mata memohon.
“Umi mohon ! “ sarkas Umi Khadijah yang tiba –tiba membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut mengalihkan perhatianya pada wanita yang sudah mulai berkaca-kaca “ Jangan tolak lamaran kami nduk Umi mohon, karena hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menebus semua kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu.” Akhir nya keluar juga maksud dari lamaran tersebut.
Kedua mata Nabila sontak terangkat, pandangan mata nya yang buram kerena menahan sakit kepala dan hal-hal lainya sedari tadi kini menjadi jelas, dan akhir nya genangan air mata yang mengumpul di pelupuk mata nya menetes juga.
Jadi benar tebakan Nabila sedari tadi, bahwa lamaran ini hanya bermaksud untuk menebus semua kesalahan di masa lalu saja? yang entah mengapa membuat hati Nabila di landa kecewa. Padahal jika di fikir-fikir tak seharus nya ia merasa di kecewakan seperti itu karena kenyataanya memang di antara dirinya dan Bhintar tak pernah ada ketertarikan rasa yang menjurus ke Cinta. Sebab seperti nya perasaan itu hanya Nabila saja yang merasakanya, tidak dengan laki-laki itu.
Ya, dirinya akui semenjak pertama kali ia melihat pria itu perasaanya jadi tak menentu, getaran dalam dada yang sejak dulu mati seperti di hidupkan kembali. Sama persis dengan Gejolak yang pernah ia rasakan terhadap Ustadz Adam dulu.
__ADS_1
Bahkan tak jarang di dalam tidur nya sekali-dua kali wajah pria itu selalu muncul di dalam mimpi nya.
Nabila sampai di buat kelabakan sendiri dengan keanehan yang di rasakanya akhir-akhir ini, semenjak pertemuanya dengan laki-laki bernama Bhintar tiga minggu lalu.
“ Umi…tidak usah sampai seperti ini, kita harus ikhlas dengan………”
“Tidak ! "
Wanita sepuh itu sampai berdiri, membuat semua orang terlonjak kaget
" Umi tidak bisa ! kamu tidak tahu betapa rasa bersalah ini selalu menghantui Umi." Tangis semua orang pecah mendengar nya. " Selama kepergian Adam, putraku. rasanya hidup yang selama ini saya jalani semua terasa percuma. Sesal begitu menggrogoti hati karena telah menolak permintaan nya waktu itu." Hisk.. hiks... "Sungguh ini semua membuat Umi merasa menjadi seorang Ibu paling jahat se dunia, karena gagal membahagiakanya. ”
Suara tangisan penuh pilu mulai terdengar memenuhi se isi ruangan membuat keadaan semakin berkabut akan air mata.
“Umi….” Panggil Kyai Abdullah yang sedari tadi diam menyimak kini mulai menyumbangkan suara untuk memperingati istrinya agar tenang dan berhenti sebelum hilang kontrol.
“ Gak Bah, enggak ! yang di sini semua harus tahu betapa Adam dulu sangat mencintai Nabila…………..” terus nya lagi masih kekeh ingin mengeluarkan uneg-uneg nya selama ini.
Nabila ikut terisak, menggelengkan kepala. Tak sanggup lagi menahan sesak di dalam dada yang sudah ia rasakan sedari tadi ” Berhenti Umi… berhenti, Nabila mohon jangan di teruskan.” Cegah nya dengan suara bergetar menahan tangis.
Umi Khadijah lalu berjalan menghampiri dan duduk di sebelah Nabila, mengambil satu tangan nya untuk ia genggam. “ Umi mohon tetap lanjutkan rencana ini sampai ke pernikahan dan jangan menolak nya demi kebaikan kita semua." Ucap seorang tua dengan segala ke egoisanya. " Kamu tahu nduk? Dengan melihatmu saja, saya seperti melihat Adam putra Umi yang telah tiada kini telah kembali hadir. Umi sudah terlanjur sayang padamu dan sudah menganggapmu seperti putri Umi sendiri, jadi izinkanlah Umi ikut bertanggung jawab atas kebahagianmu Nak.”
Umi Khadijah melirik ke arah Bunda Arina dan tersenyum simpul “ jadi, sebagai orang tuamu kami tak mungkin membiarkanmu menanggung penderitaan itu sendirian, bukan begitu Bunda?” tanya nya pada ibu kandung wanita itu meminta dukungan.
Nabila melirik ke arah Bundanya untuk mencari jawabanya di sana “ Iya Nak, benar. Bunda Mohon ringankan beban kami.” jawab nya dengan mengangguk mantap tanpa keraguan.
Nabila menghembuskan napasnya kasar dan lelah, menggeleng tak habis pikir bisa-bisa nya sang Bunda menyetujui permintan Umi Khadijah yang menurut nya konyol. Bahkan mengatur ini semua tanpa sepengetahuanya? tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Apa beliau tak mengerti jika keputusan yang di ambil nya ini nanti akan sangat memberatkan Nabila karena masih bersinggungan dengan masa lalu nya yang penuh luka?
Tidak ! sekarang sudah cukup.
Nabila tak mau lagi mengambil resiko untuk itu, jadi.... untuk kali ini dia tak akan mengambil keputusan yang salah lagi untuk kehidupanya di masa depan.
__ADS_1
Bismillahirohmanirohim..............
“ Bunda….maaf. sepertinya Nabila gak bisa, batalkan saja rencana pernikahan ini karena saya tidak akan menikah dengan siapapun." Nabila melirik ke arah di mana Bhintar duduk dengan ragu-ragu sebelum kembali meneruskan ucapanya" Lagian.... Nabila yakin pasti Gus Bhintar juga tidak menginginkan hal ini terjadi, iya kan Gus? ” Keputusan Nabila final.