
“ jika sudah selesai cepatlah kemari “
Bukan main riuh nya hati Nabila sekarang, ingin menjerit senyaring-nyaring nya meluapkan beribu kecewa yang begitu sesak di dada dan berlari dari kamar itu sekencang-kencang nya, sejauh mungkin menghindar dari laki-laki itu tapi kini dia tak bisa lagi. Sebab tak ada alasan untuk melakukan itu.
Dalam keterkejutanya Nabila langsung berbalik dan berjalan menunduk menghampiri Bhintara, setelah sampai di jarak satu meter dimana laki-laki itu duduk ia berhenti.
Perasaan Nabila bingung,sedih,takut semua campur aduk jadi satu. Masih belum terbiasa berada di dalam satu ruangan bersama seorang pria dengan keadaan se intim ini.
“ Nabila “
Nabila masih enggan mendongakan kepala, justru malah semakin kuat meremas tangan begitu panggilan terhubung dengan nama nya.
“I..i..iy..a ?”
“Kenapa kamu terus menundukan kepala? Saya di hadapan kamu loh bukan di bawah kamu.”
Blussh….pipi Nabila memerah malu.
Bisa-bisa nya berbicara penuh ambigu begitu di situasi seperti sekarang, Apa Bhintara tidak tahu jika Nabila sudah menahan napas sejak tadi? Sebentar-sebentar serius, lalu kemudian ngelucu dan sedetik kemudian serius lagi. Benar-benar menarik ulur hati dan emosi Nabila seperti lorell coaster yang naik turun membikin jantungan.
“ Gak lucu ! “
Bhintara terkekeh, tersenyum renyah saat mendapati pipi Nabila yang merah padam. Ternyata asyik sekali mengerjai perempuan satu itu.
“ Memang nya aku lagi ngelawak, Sampai harus terlihat lucu di depan kamu? enggak kan.” Ucap Bhintara semakin ingin menggoda Istri cantik nya.
Rasa cemas yang di rasakan Nabila sejak tadi, sudah menguar begitu saja. Berganti dengan perasaan sebal dan dongkol yang mengusai diri saat ini.
Merasa lelah dan kesal pada diri sendiri, Nabila malah menagis terisak entah perasaan mana yang ia tangisi sekarang. Dia hanya merasa cepek saja terus di permainkan takdir tiada henti.
Bhintara terdiam, hening tiba-tiba menyergap ruang hati nya. lagi-lagi dia penyebab wanita itu menitikan air mata.
Bhintara tahu betul, mereka sama-sama merasakan kesepihan, ke pedihan dan kekecewaan atas takdir ini. tapi bisakah istri nya itu tak menangis di hadapanya? Sebab Bhintara tak suka melihat itu.
Kerapuhan yang di sembunyikan di balik ke angkuhanya begitu sangat kentara sekali meski sekuat tenaga ia tutup-tutupi. membuat batinya tersakiti.
__ADS_1
“ Berhentilah menangis, maaf jika ucapanku tadi telah menyakitimu.”
Tubuh Nabila membeku semakin bertambah kaku saat tangan Bhintara menyentuh pipi nya, menulusuri sampai ke leher dan berhenti di pundak.
Nabila merinding seketika, baru di sentuh begitu saja dia sudah meremang. Apalagi jika nanti sudah……..
Ah..!! Nabila sampai tak berani membayangkanya.
“ Gg..guus…Bhintar.” panggil Nabila tergugu.
“ Heem..” sahut Bhintar tak mau lepas dari wajah natural Nabila yang masih saja terlihat cantik meski tanpa balutan makeup sedikitpun.
“Aku belum siap. Aku_”
Gus Bhintar kehilangan kata-kata, sebuah kalimat yang sudah sejak tadi di rancang mendadak hilang entah kemana. Bola mata Nabila yang melebar dan menatap lekat mata nya, membuat dia terpesona.
Mungkin Bhintar terlalu percaya diri, tapi dari sorot mata itu seolah menunjukan ada cinta yang besar di dalam nya.
Seperti ada sebuah magnet yang menyedot nya dengan kuat, Bhintara menarik Nabila sampai jarak di antara mereka benar-benar hilang. Memeluk dengan lembut penuh kasih sayang.
“ Nabila, terimaksih.” ucap Bhintar sambil memejamkan mata.
Tak di sangka di detik terakhir saat Bhintar ingin melepaskan diri, sentuhan tangan di belakang punggung nya mengurungkan niat nya. tidak terlalu terasa, namun cukup meyakinkan dia bahwa Nabila juga menginginkan pelukan itu sebesar dirinya.
“Terimakasih untuk apa?”
Dengan lirih Nabila akhir nya membalas ucapanya.
“ Mau memberikan kesempatan untuk belajar mencintaimu, meski aku tahu semuanya seperti memberatkan kamu.”
Mendengar penuturan itu membuat hati Nabila kembali gerimis. Terisak dalam tangisan.
Bhintara menguraikan pelukan, lalu
mengusap pipi istri nya lembut sekali dan menatap nya intens. “ Cukup, jangan menangis lagi. Aku janji tidak akan pernah menyentuhmu sebelum kau mengzinkanya.”
__ADS_1
Ucapan Bhintar kali ini membawa rasa sejuk di relung hati nya. ternyata hati laki-laki di hadapanya saat ini bisa mempunyai hati seluas samudra. Semoga ini menjadi awal dari terbentuk nya rumah tangga yang di impikan Nabila sejak dulu.
Tangisan Nabila seketika berhenti, Bhintara langsung mengajak nya sholat sunnah berjama’ah bersamanya. Meski dia bilang tak akan pernah menyentuh nya, tetapi tetap ingin melakukan amalan di malam pertama.
Tak lupa setelah sholat itu selesai dia meminta izin untuk mencium ubun – ubun Nabila dan merapalkan doa pengantin baru di sana. Awalnya dia ingin menolak, tapi tatapan teduh laki-laki itu membuat nya tak tega untuk tidak meng iya kanya.
Untuk yang kedua kali nya mereka berdua kembali mengikis jarak. Berada di sebuah rungan yang lumayan luas dengan AC yang sudah menyala, nyatanya tak perpengaruh apa-apa. Justru suasana malah semakin panas membuat dua pasangan suami istri itu kegerahan.
Degup jantung Nabila semakin bertalu-talu, bulu kuduk nya merinding saat dia merasakan napas hangat Bhintara secara langsung. Bahkan detak jantung pria halal nya itu terdengar lebih nyaring di telinga Nabila.
Kemudian Bhintar berjalan ke arah tempat tidur, mengambil sebuah bantal dan menaruh nya di tengah-tengah kasur.
“ Berubung di sini tak ada sofa panjang, aku boleh kan tidur di ranjang kamu dan menaruh guling ini sebagai pembatas di antara kita supaya kamu lebih nyaman.”
Nabila mengangguk “ Iya “
Sudah mendapat izin dari sang empunya, Gus Bhintar langsung merebahkan diri kesamping kiri dengan posisi meringkuk membelakangi tempat nya. Bersamaan Kedua tanganya yang saling mendekap.
Apakah dia kedinginan? sebenar nya rasa ke inginan untuk menyelimuti sempat terlintas dalam fikiran, tapi ia masih malu.
Setelah selesai merapikan perlengkapan sholat, Nabila ikut naik ke atas tempat tidur. Merebahkan dirinya terlentang sambil menaruh satu tanganya ke dahi memejamkan mata.
“ Ya Allah…ampuni Nabila karena sudah melakukan dosa besar dengan tak memberikan Hak pada suami hamba.” Batin Nabila mengadu.
Kemudian Nabila menoleh ke samping, merasa sudah tak ada pergerakan sedikitpun dari suaminya ia mulai memberanikan diri mengambil selimut yang masih terlipat rapi di bawah kaki mereka. Lalu menarik nya perlahan ke atas sampai dada, dan berisik lirih.
" Maafkan aku, belum bisa memberikan Hakmu sebagai suami. Kamu masih terlalu asing bagiku, biarkan aku terbiasa dulu atas kehadiranmu. Hingga nanti sang waktu bisa menuntunku menuju jalan arah pulang yaitu kamu.
Aku hanya butuh kesabaran dan ke ikhlasanmu menungguku, sampai hatiku benar-benar percaya dan yakin bahwa kamu memang sudah cinta padaku.
Bukanya angkuh atau egois mementingkan ke untunganku sendiri, tapi memang trauma itu masih ada. Tak ingin lagi di kecewakan dan di sakiti kembali.
Aku hanya ingin bahagia membina rumah tangga kita, jadi biarkanlah tubuhku menemukan rasa nyaman dulu berada di dekatmu. Baru sedikit-demi sedikit menerima kamu dengan sepenuh hatiku "
Bisa kah kalian tinggalkan like, comen dan simpan cerita ini ke favorit kalian? Biar aku juga semakin semangat buat nulis.
__ADS_1
Dari kemaren like semakin menurun, huhu sedikit membuat down dan malas buat buka leptop. Tapi berkat membaca komentar-komentar kalian yang bikin mood aku baik, aku jadi semangat untuk melanjutkan cerita.
Terimakasih All….