
"Nabila sayang, ingat baik-baik kata-kata bunda. Kamu itu sekarang sudah jadi seorang istri. Lakukan tugas mu dengan baik dan benar, nurut sama Kyai Abdullah dan juga Umi Khadijah. Sing rukun sama mbak mu Aulia. Setidak nya kamu coba dulu ya Nak. Bunda mohon. "
Serentetan ucapan sang bunda beberapa waktu lalu, kembali teringat dalam benak nya. Telepon yang sudah di tunggu-tunggu dari kemaren itu ternyata tak melegakan seperti dugaan nya, justru malah kebalikan nya. Membuat Nabila sedikit kecewa dengan keputusan sang Bunda.
Padahal sedari kepulangan wanita sepuh itu ke kampung halaman nya kemaren sore, Nabila sudah memohon berulang kali agar beliau ikut serta membawa nya. Tapi semua terasa percuma. Sang Bunda tetap kekeh dengan rencana awal nya yang begitu yakin, bahwa Nabila bisa menjalani pernikahan tiga hati itu tanpa kendala. Padahal dia sendiri sanksi bahwa diri nya mampu. Dia tak sekuat itu. Harus berapa kali Nabila bilang bahwa ini semua tak akan berhasil. Tapi semua orang seolah tuli, tidak ada yang mau mengerti sama sekali.
"Astaghfirullah! " Ucap Nabila. Terlihat sangat frustasi. Dia menghela napas berat nya berulangkali, mencoba menghilangkan sesak yang mungkin saja akan menghilang tapi semua percuma. Nyeri itu masih tetap bertahan di dada nya.
"Fokus Nabila. Fokus. " Gumam nya lirih sambil terus membolak-balikan rekam medis pasien di atas meja nya. Dia bahkan tak memperdulikan keberadaan suster Naomi yang berada di sana sejak tadi. Gadis itu sampai bingung sendiri melihat kelakuan dokter nya yang sejak pagi seperti sedang menanggung beban semua orang di seluruh dunia.
"Dokter Nabila. "
"Ya? " Jawab Nabila cepat dengan tatapan kosong.
Suster Naomi melirik ke arah jam tangan milik nya. Kemudian menatap Nabila lagi. " Sudah waktu nya istirahat nih dok, kita makan siang dulu yuk di kantin. Cacing-cacing di perut saya sudah berontak minta di kasih makan sejak tadi. "
Nabila melirik suster Naomi sebentar sebelum kembali lagi pada kertas-kertas di atas meja nya. " Oh ya sudah. Silahkan suster istirahat dulu. Saya sebentar lagi. " Jawab nya tampak tak tertarik sama sekali.
"Dokter, wajah anda sudah kelihatan pucat banget itu loh. Takut nya jika terus di paksakan dokter akan pingsan di tempat dan membuat semua orang di rumah sakit ini panik. Terutama dokter Iqbal. " Bujuk suster Naomi yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Nabila saat ini.
Nabila sempat tertegun sebentar saat nama dokter Iqbal kembali terdengar di telinga nya, setelah beberapa hari ini ia tak pernah lagi bertemu. Bertanya dalam hati, bagaimana kabar lali-laki posesif itu setelah kejadian tempo lalu? Nabila belum sempat meminta maaf dengan benar pada nya.
"Suster Naomi? "
"Ya dok. " Jawab gadis itu cepat.
"Em... itu. Bagaimana kabar nya dokter__ Iqbal? " Tanya Nabila dengan ragu.
Suster Naomi mengernyitkan dahi nya samar. Merasa aneh saja dengan pertanyaan Nabila yang bisa di bilang langka tersebut. Sebab selama ini Nabila selalu masa bodoh dengan dokter Iqbal, dan hampir selalu saja menghindar di setiap ada kehadiran laki-laki pemilik Rumah sakit itu. Tapi kenapa sekarang jadi perhatian begitu?.
"Tumben banget dokter nanyain dokter Iqbal? Biasa nya juga anti banget sama laki-laki pemarah itu. "
Seketika Nabila gelagapan sendiri. Ber_dehem sebentar untuk mengembalikan fokus nya. "Gak apa apa. Saya cuman penasaran saja, tumben sekali dia tidak mondar-mandir di depan ruangan seperti biasanya. "
"Haduh, haduh! Ada yang kangen nih kelihatan nya? " Goda suster Naomi pada Nabila dengan mengerlingkan mata jahil nya ke arah Nabila.
"Hus! Jangan ngawur kamu. " Elak Nabila memperingati.
Suster Naomi terkekeh pelan. Lalu berjalan ke arah meja Nabila ingin duduk. Berniat ingin berbicara sebentar. Tapi saat ia baru ingin menarik kursi yang ada di hadapan Nabila, tiba-tiba saja suara ketokan pintu dari arah luar membuat nya berhenti.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum! "
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar oleh kedua nya. Membuat Suster Naomi seketika menyingkir dari tempat nya berdiri dan Nabila menjawab salam tersebut.
"Waalaikumsalam. Masuk! " Teriak Nabila dari dalam dan mempersilahkan masuk.
Untuk sepersekian detik Nabila sempat terkejut oleh kedatangan Dokter Aisyah di sana. Namun sesegera mungkin menguasai diri nya agar lebih tenang. " Loh! Dokter Aisyah. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu. " Ucap Nabila se_formal mungkin.
"Nabila, Apa Mbak bisa bicara denganmu sebentar? " Tanya Perempuan yang hampir saja di anggap kakak oleh Nabila tapi tidak jadi.
"Bisa dokter. Silahkan duduk. " Jawab Nabila mempersilahkan.
Wanita itu menggeleng pelan, lalu menatap ke arah suster Naomi sebentar sebelum kembali lagi pada Nabila. " Tidak di sini. Di ruangan ku saja, ada Bhintara juga di sana. Dia sudah menunggumu. "
Nabila sudah menduga nya dari tadi, Bahwa kedatangan dokter Anak itu ke ruangan nya, pasti masih ada sangkut paut nya dengan masalah nya. Nabila Muak! Benar-benar sangat Muak!!
"Dokter Aisyah, bukanya saya tidak mau. Tapi seperti nya tidak bisa, itu...., anu... "
"Suster Naomi! " Panggil dokter Aisyah tiba-tiba. Membuat Nabila tak bisa menjelaskan alasan nya menolak.
"Ya dokter Aisyah. "
"Boleh minta tolong tinggalkan kami berdua saja? " Pinta dokter Aisyah penuh penekanan. Membuat gadis berumur dua puluh tiga itu bingung bercampur kaget.
" Oh! Hem...., Iya dok. Saya juga mau keluar kok cari makan. " Jawab nya dengan sesekali mencuri lirik kerah Nabila yang semakin pucat di tempat nya. Dan dia tidak tahu kenapa?.
Setelah kepergian suster Naomi, Dokter Aisyah mendekat ke arah meja di mana Nabila duduk.
"Nabila. Mbak minta maaf sekali, terpaksa harus ikut mencampuri masalah keluarga mu sejauh ini. Kalian bertiga itu harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Bukan malah saling menghindar dan saling menyalahkan diri sendiri terus menerus. Mau sampai kapan hem? "
Nabila menghembuskan napas nya lelah. Membuang muka ke arah samping menyembunyikan wajah kecewa nya. Andaikan Nabila bisa, pasti dia akan menghadapi nya.
Apa mungkin? masalah ini bisa di selesaikan secara tuntas. Lagian sebenar nya buat apa lagi sih dia menghindar, toh juga sudah tak ada guna nya lagi kan. Pernikahan yang awal nya bisa ia jadikan batu loncatan untuk merengkuh kebahagian nya kini sudah hancur tak tersisa. Dan Yah, untuk memperjelas semua nya Nabila hanya perlu bicara enam mata dengan sepasang suami istri tersebut.
"Oke, kalau begitu. Boleh saya minta tolong ke dokter Aisyah untuk menyampaikan pada Bhintara Al Rasyid itu untuk menunggu saya di rumah nya nanti malam? Karena saya tidak bisa membahas masalah keluarga di tempat kerja seperti ini. Kelihatan sangat tidak profesional sekali jika sampai orang tahu. "
Ya. Nabila sudah bertekad, bahwa dia Sungguh-sungguh akan berbicara dari hati ke hati dengan Bhintara dan juga Aulia malam nanti.
Menyadari nada bicara Nabila yang terlewat formal dan angkuh Dokter Aisyah merasa bersalah sekaligus tak enak hati dengan perempuan cantik tersebut. "Nabila, mbak mohon jangan seperti ini. Aku minta maaf jika..... "
"Sudahlah Dok, sampaikan saja pesan itu pada Bhintara... dan maaf, seperti nya saya butuh istirahat. Jadi silahkan anda keluar dari ruangan ini dan tutup pintu nya, atau kalau mau tetap di sini juga ndak papa. Tapi saya tidak bisa menemani. Permisi dok. Asalamualaikum. "
Bhintara duduk termangu di sebuah sofa singgel di pojok ruangan milik Abraham sahabat nya. Sedangkan Suami dari dokter Aisyah itu hanya bisa memperhatikan laki-laki lusuh di depan nya dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
" Thar. Mending lo mandi dulu sana deh biar agak segeran dikit. Masak mau bujuk istri yang merajuk penampilan lo gak banget gini? Yang ada Nabila bukanya luluh malah tambah menjauh bego! " cerca nya seperti biasa.
Bhintara Hanya diam tanpa mau menanggapi. Perasaan dan pikiran nya benar- benar kacau setelah pertengkaran nya dengan Nabila waktu itu. Nabila dengan tegas nya menolak tinggal bersama dia lagi dan susah sekali di temui semenjak dua hari lalu. Pikiran nya semrawut, sampai tak tahu lagi harus mengambil keputusan apa agar tak menyakiti ke dua nya. Apalagi di tambah Aulia yang ikut-ikutan mendiamkan nya. Sempurnalah penderitaan laki- laki itu sekarang ini.
"Ib. Istri lo kok gak balik-balik sih? " Ucap Bhintara yang tidak nyambung sama sekali dengan omongan ibrahim tadi.
"Ck! Lo pikir nge_bujukin orang yang sedang marah itu gampang? Lo yang suami nya sendiri aja gak bisa, apa lagi istri gue yang bukan siapa-siapa nya dia? "
" Benar juga ya, terus gimana? "
"Ya gak tahu lah! Lo tunggu dan sabar aja. Lagian ya Thar, meskipun si Aulia mengizinkan untuk nikah lagi harus nya lo gak langsung gitu aja meng_iya kan. Dari awal kan udah gue ingetin punya istri dua itu gak gampang! dan sekarang terbukti kan? Semuanya runyam. "
"Iya. Aku salah dan bodoh! Aku akui itu. Tapi Ib, andaikan kamu ada di posisiku pasti seorang Abraham juga akan melakukan hal yang sama untuk membahagiakan semua orang. "
"Heh! Jangan ngawur lo ya Thar. Kalau sampai di dengar Istri gue bisa di rujak lo sama dia. "
Bhintara lagi-lagi terdiam. Meremas rambut kepala nya dengan kasar merasa sangat frustasi. "Astagfirullah Ib.. Kepalaku serasa mau pecah. Nabila adalah cinta pertama ku, sedangkan Aulia merupakan salah satu amanah yang terpaksa harus aku jaga. Lalu Umi, beliau adalah surgaku. Kalau boleh jujur sebenarnya permintaan mereka sungguh sangat berat, membuatku lumayan tertekan. Tapi aneh nya aku juga tidak bisa jika menolak permintaan itu begitu saja. Melihat sendiri Nabila masih begitu tenggelam dalam masa lalu nya, hati nurani ku tercubit ingin sekali menarik gadis itu kepermukaan dan menolong nya. Sedangkan janjiku pada Abah Zamzuri selaku orang tua Aulia juga tidak bisa aku abaikan. Demi Allah, wanita itu yatim piatu dan sendirian di dunia ini. Aku mana tega jika di suruh abai pada Istriku yang satu itu. " Terang Bhintara dengan suara yang sudah bergetar.
Sejujurnya Ibrahim juga kasihan dengan sahabat nya itu. Jika dia yang berada di posisi Bhintara sekarang ini, belum tentu ia bisa menjalani nya. Sebenarnya jika di tilik lebih dalam lagi, semua kesalahan bukan hanya ada pada Bhintara saja. Melainkan waktu, takdir dan keadaan memang ikut serta dalam segala masalah ini. Apalagi di tambah dengan rasa tanggung jawab pada orang-orang di sekitar nya. Lengkaplah sudah semua nya.
" Ya kalau begitu, lo memang harus menghadapi cobaan penuh derita ini lebih dulu. Dan yakin bahwa setelah ini akan datang fase dimana lo akan bahagia nanti bagaimanapun cara nya. Serahkan sama Gusti Allah. Jika memang Nabila dan Aulia memang jodohmu pasti mereka akan bertahan di sisimu, tapi kalau tidak. Maka lo juga harus terima dan mengikhlaskan salah satu nya, jika mereka ada yang memilih menyerah dalam pernikahan lo ini. "
Bhintara mengangguk lemah tanda mengerti. " Ya. Aku tahu dan mengerti. Semoga saja kedua nya bisa hidup berdampingan denganku dengan saling mengasihi seperti aku menyayangi mereka berdua. "
"Hem, semoga saja. "
BRAKKKK.
"Thar. Gawat! "
Pintu yang sedari tadi tertutup itu kini terbuka lebar. Menampilkan sosok dokter Aisyah yang panik. Melangkah cepat ke arah Bhintara dan juga Ibrahim.
"Astaghfirullah. Sayang! " Ucap ibrahim yang langsung berdiri dari duduk nya. "Ada apa sih? Bikin kaget tahu gak? "
"Gawat ini yank! " Sahut dokter Aisyah menatap suaminya, kemudian beralih cepat ke Bhintara. " Thar. Aulia masuk IGD. Dia pingsan lagi, tubuh nya drop. Kata Bu nyai khadijah yang ada di luar katanya istri lo itu gak makan dari kemarin malam. Lo gimana sih thar, jadi suami gak becus banget. " Cerca dokter Aisyah yang memang selalu akan membela Aulia bagaimanapun keadaan nya.
.........
Jangan lupa kasih dukungan nya ya!
Awas aja kalau enggak, karena aku maksaβ Hehehehe
Happy Reading π
__ADS_1
Masih mau lanjut gak?? Kasih like 100 dulu baru di lanjut. setuju??? π