
Nabila sudah menyadari tatapan permusuhan dari Zahra sejak ia menginjakan kakinya di rumah sakit pagi tadi. Tapi ia abaikan karena tidak ingin membahas persoalan yang membuat sahabatnya marah karena hatinya sedang tidak mood untuk membahas itu sepagi ini. Mungkin nanti agak siangan jika perasaanya sudah mulai membaik.
Dia berjalan ke arah meja suster Naomi yang bertempat tepat berada di depan ruanganya. “ Nom, hari ini ada berapa pasien yang udah bikin janji?”
Wanita muda itu tersenyum sebelum menanggapi.
“ Lima kayak... , eh… tujuh deh dok “ Jawabnya sopan.
Nabila mendesah lelah, padahal jam dinding masih menunjukan di jam delapan pagi “ Bisa tolong cariin dokter koas gak buat bantuin saya hari ini?”
Suster Naomi mengernyitkan dahinya menatap Nabila menelisik “ Loh tumben? Dokter Nabila sakit ya, kok mukanya pucat gitu? kalau sakit istirahat aja dok di ruangan dokter Aisyah. Biar nanti semua pasien dokter yang udah bikin janji saya alihkan aja ke dokter Faisal.”
Nabila menggeleng tak setuju “ Gak kok, saya gak apa-apa hanya sedikit kecapean saja. minum obat juga nanti pasti akan segera membaik. lagian kamu ada-ada aja nyuruh saya istirahat di ruangan dokter Aisyah, kalau saya tiduran di sana terus pasien nya nanti mau di taruh mana? di bawah kolong! ”
Suster Naomi tergelak, kemudian terkekeh ringan menampilkan deretan giginya yang rapi “ Ruangan beliau untuk hari ini kosong kok dok, soalnya dokter Aisyah hari ini ijin gak berangkat dan tadi nyuruh suter talita buat Alihkan semua pasien nya ke dokter Yuli. " Dia mengibaskan tangan nya ke muka dengan mengerlingkan matanya jahil " Lagian dokter bercandanya bisa aja, ya kali dok pasien mau di taruh di bawah kolong? yang ada gak pada sembuh malah tambah sakit donk semuanya! hehe” Jelas suster Naomi yang sukses membuat rasa penasaran Nabila muncul kepermukaan.
Nabila mengerutkan dahinya penasaran “ Loh? jadi dokter Aisyah izin hari ini? padahal ada sesuatu yang mau saya tanyain loh ke beliau penting ” ujar Nabila bohong yang di balas dengan anggukan saja oleh wanita berparas ayu di hadapan nya.
Nabila kemudian menegakan tubuhnya dengan sedikit merapikan kemeja Snelly nya sebelum kembali bertanya.
“ Ekhm….." Nabila berdehem, memajukan tubuhnya ke depan memicingkan matanya penasaran " Ngomong... ngomong sus, kamu tahu gak dokter Aisyah gak berangkat itu kenapa? ” pancingnya pada gadis tersebut, yang di rasanya ia perlu menanyakan keberadaan Dokter kandungan itu untuk memastikan sesuatu yang sejak tadi subuh sudah menarik seluruh energi dan pikiran nya.
Nabila pikir, keberadaan Dokter Aisyah mungkin saja ada hubungan nya dengan kepergian suaminya subuh tadi karena Ibrahim lah yang tadi pagi menghubungi suaminya sebelum pergi.
Jadi.. mungkin saja saat ini suaminya sedang bersama pasangan suami istri tersebut, yang notabennya adalah sahabat dari Bhintara suaminya. Sebab kejadian hari ini serasa saling terkaitan jika di hubungkan, bukan hanya kebetulan semata.
Suster Naomi menggidikan bahu tanda ia tak tahu menahu tentang alasan di balik ketidak hadiran dokter Aisyah pagi ini, yang di bales dengan hembusan napas berat dari Nabila “ Yah, sayang sekali sus, padahal saya lagi butuh banget sama dokter Aisyah untuk menanyakan sesuatu.”
Nabila mendengus pasrah, sedangkan suster Naomi malah memberikan selembaran kertas daftar nama-nama pasien yang sudah membuat janji hari ini.
“ Sesuatu? apa itu ! “ Sergah suara bariton dengan nada sedikit tinggi dari arah samping.
Kedua wanita itupun menoleh. Perempuan yang satu menyambutnya dengan senyum berbinar terang, sedangkan yang satunya lagi menatap laki-laki itu dengan malasmalasan.
“ Eh dokter Iqbal, Pagi dok. Senyuman nya manis bener pagi ini. Bikin diabetes saya melonjak naik saja. “ Goda suster Naomi pada dokter Iqbal.
Dokter Iqbal menatap wanita berambut hitam sebahu itu dengan tatapan datar. “ Oh..jadi situ udah berani godain saya ? Udah bosen bebas? gak takut dikurung lagi sama si Mada? “ Jawabnya slengean yang sukses membuat suster Naomi bungkam seketika.
Suster cantik itupun clingakclinguk mengawasi sekitar dengan hati-hati. dan setelah melihat jika sedang tak ada Dokter Mada berada di sekitarnya, ia baru bisa menghembuskan napasnya lega. “ Lo apa-apaan sih Bal ! puas banget ya lo ngelihat gue di siksa habis-habisan sama ponakan lu yang posesif gila itu?” sungutnya memberengut kesal.
Dokter Iqbal hanya tersenyum sungging menanggapinya, dan malah menyandarkan tubuhnya pada pinggiran meja dengan menopang kepalanya menggunakan satu tangan nya kelewat santai “ Biarpun gila, tapi tetap lu cinta kan?”
Sister Naomi, mengerlingkan matanya jengah “ Ish.... nyebelin! gak guna banget ngomong sama lo. Udah pergi sana.” usir nya langsung.
“ Eh, eh….berani-beraninya ya lu ngusir gue dari Rumah Sakit milik gue sendiri ? Siapa anda? Udah bosen dinas di sini? mau di pecat! “ Bhintara berdecak “ Ck, Untung lo teman kecil gue. Kalau gak? udah gue tendang lo jauh-jauh ke antartika, biar mampus gak bisa ketemu sama si Mada lagi! ”
Perasaan panik langsung muncul di wajah suster Naomi sekarang " Kok lo jadi ngancem gue sih? mana ada gue mampus cuman gara-gara gak bisa ketemu sama si Mada? yang ada dia kali yang bakalan gak bisa bernapas saat gak ada gue di sekitarnya. " bela suter Naomi yang sangat percaya diri.
Dokter Iqbal tersenyum sungging " Oh ya? yasudah kalau gitu balikin handphone si Mada sekarang! si Bella uring-uringan tuh gak bisa menghubungi pacarnya dari kemarin. "
Tanpa di duga-duga suter Naomi langsung menggeplak kepala Dokter Iqbal dengan gulungan kertas yang sudah ia cengkram sedari tadi sambil melihat-lihat sekitar " Lo kalau ngomong pelan dikit bisa gak? dasar mercon! " ucap suster Naomi penuh peringatan dengan menggerakkan giginya kesal.
" Makanya jangan macem-macem lo sama gue! gue bongkar. Selesai lo." Jawab Bhintara. Membuat Nabila yang sejak tadi tak mengerti dengan arah pembicaraan mereka mulai bersiap ingin beranjak pergi saja dari sana.
“ Tunggu! jangan pergi dulu.” cegah Bhintara sambil menarik ujung Snelly Nabila .
Nabila menoleh “ Kenapa lagi sih kak? masih belum puas godain Naomi nya sehingga masih mau jadiin aku korban selanjutnya?" tatapnya jengah " Aku mau siap-siap dulu sebelum terima pasien.”
Dokter Iqbal terkesiap, lalu berjalan lebih dulu sembari menarik Ujung jilbab Nabila membawanya menepi untuk di dudukan pada kursi tunggu pasien yang masih kosong “ Kalau boleh tahu, sebenarnya ada urusan penting apa kamu sama Aisyah? ”
Setelah melihat wanita itu sudah duduk dengan tenang, dokter Iqbal kemudian ikut duduk di samping Nabila, memiringkan tubuhnya untuk menghadap lawan bicaranya.
“ Mau nagih utang ! “ jawabnya ketus.
“ Loh? kok jawabnya kasar, kakak nanya nya baik-baik loh. Harusnya di jawab dengan baik-baik juga donk!”
“ Kak, please…jangan sekarang oke? aku lagi gak mood buat adu argumen sama kakak”
Dokter Iqbal masih tersenyum dan mencoba bersabar menghadapi wanita yang akhir-akhir ini sudah mulai menjauhinya “ Padahal tinggal jawab baik-baik, mungkin kakak bisa kasih tahu kamu loh dimana Aisyah berada sekarang ini ”
Binar mata Nabila yang tadinya sayu kini sudah berbinar terang saat mendengarnya “ Yang bener kak? “
__ADS_1
Dokter Iqbal mengangguk “ He’em, bener donk! memangnya kakak pernah bohongin kamu? enggak pernah kan. ”
“ Kalau begitu dimana dokter Aisyah berada sekarang kak?” Tanya Nabila mulai tak sabar.
Dokter Iqbal menggeleng kecil, melihat kelakuan Nabila sekarang ini. Gemas sekali dengan ekspresi Gadis itu yang cepat sekali berubah-ubah seperti bunglon, ingin Mengacak jilbabnya tapi ia tahan, demi menjaga prinsip yang di pegang teguh oleh Nabila selama ini. Uh.. dia sudah tak sabar untuk memiliki gadis di depan nya ini.
“ Dia lagi ada di rumah Sakit Pelita Harapan. Kalau gak salah... lagi nungguin kerabatnya yang sakit.”
Nabila bergeming, bukanya sedikit lega dengan jawaban tersebut perempuan berlesung pipit itu justru semakin dibuat penasaran olehnya " Kerabatnya siapa kak?”
Dokter Iqbal memperhatikan Nabila dengan lekat, wanita di hadapan nya sekarang ini seperti sedang menyimpan banyak sekali beban pikiran. Terlihat jelas dari kerutan dalam di dahinya. Menampilkan wajah kecemasan dan penasaran membaur menjadi satu.
Entah apa sebenarnya yang ingin di ketahui Nabila dari segala gelontoran pertanyaan nya dari tadi. Sampai-sampai ingin mengetahui keberadaan dokter Aisyah segencar ini.
“ Kok kamu jadi Kepo? Ya kakak mana tahu itu kerabatnya yang mana.” jawab dokter Iqbal seadanya.
“ Oh….” Nabila mengangguk, namun raut kecewa sangat tercetak jelas di wajah cantiknya “ Tak kirain kakak tahu, yasudah kalau gitu kakak kembali keruangan gih aku juga mau siap-siap.” Ucap Nabila mengakhiri.
Dokter Iqbal masih saja terus duduk di depan nya tanpa ada keinginan untuk beranjak dari kursi tersebut sedikitpun. Masih terus memperhatikan Nabila dengan lekat.
Nabila berdiri yang di ikuti langsung oleh dokter Iqbal yang ikutan berdiri menghalanginya." Awas kak ah, minggir aku mau lewat! " rengek Nabila sembari memberenggut.
Dokter Iqbal masih terdiam, terus memperhatikan gadis dihadapan nya tanpa terputus.
Nabila geser ke kiri, Iqbal ikut melangkah ke kiri. Kemudian dia berjalan ke kanan, dan laki-laki menyebalkan itupun mengikutinya ke kanan juga. Apa sih maunya?
“ Kak ?! “ bentak Nabila kesal sendiri.
“ Kamu sekarang berubah Bee.” tuturnya dengan sorot mata menyendu.
Nabila mendongak dan…….
Deg!
Jantungnya terpacu dengan cepat, seperti ingin lepas dari tempatnya saat melihat sorot mata laki-laki posesif itu menatapnya dengan nanar.
“ Kak, aku….”
“ Kenapa? apa aku pernah buat kesalahan yang membuatmu jijik sampai kau pun tak mau berlama-lama bersamaku Bee? ”
Dokter Iqbal tertawa sumbang mendengar jawaban Nabila “ Hanya sebagai kakak ya eh? Bahkan kamu sendiri tahu bagaimana aku memposisikan dirimu dalam hidupku Bee.”
“ Dan kakak juga pasti sudah tahu, bahwa aku tak akan pernah merubah status itu di hatiku sampai kapanpun. Karena jalanya memang sudah begitu kak..., Jadi tolong jangan pernah meminta lebih dari itu. Karena aku takut sekali jika harus menjadi penyebab dari kekecewaan terbesar kakak nantinya.” sergah Nabila mencoba memberi pengertian.
Dokter Iqbal menyugar rambutnya kebelakang dengan frustasi “ Kalau begitu pemikiran kamu Bee. Sekarang tolong berikan kepadaku satu saja alasan yang kuat agar aku bisa berhenti memperjuangkan cintaku? ” Tantang dokter Iqbal yang masih kekeh dengan perasaanya.
Nabila menghembuskan napasnya kasar, sepertinya penjelasanya kali ini akan percuma saja seperti waktu-waktu sebelumnya.
Tapi dia harus tetap berusaha mencoba, agar laki-laki yang sudah ia anggap kakak itu merubah pemikiran nya dan tak keras kepala dengan terus memaksakan perasaan cintanya lagi pada Nabila.
“ Ada wanita lain yang begitu sangat mencintai kakak, yang lebih berhak mendapatkan cintamu dari pada aku. Seorang wanita hebat yang setiap malamnya merengek pada sang maha pencipta agar bisa menjadikanmu sebagai jodohnya. Yang tak pernah bosen menyelipkan nama kakak di setiap doanya tanpa terlupa. Bukankah kakak harusnya mendapatkan wanita seperti itu? kakak akan merasa beruntung bisa memilikinya”
Dokter Iqbal terkekeh, tersenyum meremehkan saat mendengar penuturan Nabila yang menurutnya ngelantur kemana-kemana. “ Apa kamu sedang mendongeng Bee? atau hanya akal-akalan mu saja agar aku menyerah untuk mendapatkan cintamu! kalau Iya, maka semua ucapan mu tadi percuma saja karena aku akan tetap berusaha mendapatkan mu bagaimanapun caranya.” kekeh nya masih keras kepala. Masya Allah Ra, laki-laki mu sangat batu sekali!!
“ Silahkan kalau itu maunya kakak, tapi siap-siap saja merasakan kecewa karena sampai kapanpun aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita.”
Dokter Iqbal tersenyum sungging menatap Nabila, mengangkat dagunya angkuh “ Ok kalau begitu jika itu mau mu, kita buktikan saja. Cepat atau lambat kamu akan menjadi milik ku Bee ” ucapnya penuh tekat dan percaya diri.
Sorot mata Nabila tiba-tiba meragu, hatinya di landa panik saat melihat sebuah tekat yang besar ada di dalam mata laki-laki tersebut. Dia harus segera mengakhiri percakapan ini sebelum ucapan makhluk posesif itu semakin tak terkendalikan.
“ Kakak! udahlah jangan keras kepala terus…aku jadi takut tau gak? lihat Aura kakak yang seperti itu, aku mohon..” rengek Nabila yang sudah menyerah, karena bagaimanapun laki-laki yang ada di depan nya ini memang sulit sekali di patahkan kemauan nya jika sudah menginginkan sesuatu. Dan selalu harus di akhiri dengan Nabila yang lebih dulu mengalah dari pada nanti bisa dipermasalahkan sepanjang hari.
Dokter Iqbal terkekeh melihat kepanikan di wajah Nabila, merasa gemas sendiri pada kelakuan gadis itu yang sok ingin menantangnya padahal ia sama sekali tak mempunyai nyali.
“ Lagian kalau ingin mengarang cerita mbok ya...yang nalar dikit to Bee, mana ada wanita yang seperti itu di era Modern seperti ini? Huh dasar pengarang amatiran!”
Nabila melotot tak terima mendengar penuturan tersebut, karena jelas-jelas masih ada wanita yang seperti itu di jaman sekarang. Zahra contohnya. “Eh…..jangan salah ya pak dokter, anda belum melihatnya saja dan menemukanya. Tunggu sampai takdir memainkan peran nya, Maka dokter Iqbal Putra Abraham yang terhormat ini akan tunduk di kakinya Ha…ha…., dan aku yakin cepat atau lambat kakak akan menemukan sosok itu segera.”
“ Oh ya? kalau begitu kakak akan segera menantikan nya. Aku jadi penasaran apakah wanita itu memang seistimewa yang kamu ucapkan? sampai-sampai membuat gebetan saya insecure dan mundur demi sosok yang tak di kenal ini?” jawab dokter Iqbal yang mulai ikut terbawa cerita Nabila tanpa ia sadari.
__ADS_1
“ Apa kakak pernah mendengar kisah cinta Putri Nabi yang bernama Fatimatuzzahro dengan Ali bin Abi Thalib?” Cetus Nabila tiba-tiba.
Laki-laki itu menggeleng kuat “ Kakak belum pernah mendengarnya. Memangnya itu beneran ada?”
Nabila mengangguk “ Ih dasar Kudet (Kurang Update), makanya sekali-kali baca kek buku-buku islami. Seru kali kak! jangan berkas mulu yang di pacari.”
“ Ya udah kalau gitu ceritain sekarang juga, kakak mau denger. ”
Nabila tersenyum mencemooh “ Ye…enak aja, aku udah di tunggu pasien-pasien aku ya kak. Gimana kalau nanti siang aja di kantin Rumah Sakit?” usul Nabila penuh strategi.
Terlihat dokter Iqbal mengusap dagunya dengan jari jempol dan telunjuknya seperti berfikir, tapi tak lama karena lima detik setelah itu ia langsung mengangguk menyetujui “ Oke, nanti siang kakak tunggu kamu di kantin.”
Seketika Nabila menunduk lesu, mengayun-Ayunkan satu kakinya pada angin.
“ Loh? kok gitu mukanya kenapa?”
Nabila mendongak dengan wajah murung penuh penyesalan “ Yah..sayang sekali kak, nanti siang aku gak bisa. Soalnya udah janjian sama temenku mau makan di luar. " Nabila mengetuk dagunya dengan telunjuk sembari berfikir yang sedetik kemudian langsung menjetikkan jarinya antusias.
" Gimana kalau Zahra saja yang menceritakan nya dan nemenin kakak makan siang di kantin? dia tahu juga kok cerita itu. Bahkan lebih tahuan dia malahan dari pada aku kak. “
Dokter Iqbal langsung terkejut.“ Dia lagi?” tanyanya dengan raut muka jengah “ Gak ada temen kamu yang lainya saja gitu! kenapa mesti dia melulu sih yang kamu sodori untuk gantiin kamu ke kakak? tadi malam kan udah, masak siangnya harus sama dia lagi. Berasa kayak minum obat tiga hari sekali tau gak Bee !” Protesnya tanpa henti.
Mata Nabila seketika melotot, namun kemudian tersenyum renyah penuh arti
“ Loh? emangnya kenapa. Ada yang salah dengan Zahra? dia cantik, anggun, berwibawa dan penuh pesona. Bukanya wanita yang seperti itu yang di idam-idamkan para kaum laki-laki seperti kalian? Dokter Davi aja bahkan sampai bucin parah sama Zahra, masak kakak enggak?! ”
" Ya itu sih Davin nya in aja yang kegatelan, kakak sih enggak ya? " Jawabnya jengah " Lagian apa sih istimewanya si zahra-zahra itu? sampai para dokter singel di rumah sakit ini pada ngestalkingin dia! dasar pada gak ada kerjaan. " lanjutnya menggerutu yang lebih mirip seperti cemburu.
Nabila mengernyitkan dahinya dalam. " Kok jadi ngomel? kakak cemburu? " goda Nabila.
" Aku cemburu? mana ada. Kakak kan cintanya sama kamu. " Elaknya tetap bersikeras.
" Oh.... oke kalau begitu! semoga saja kakak benar-benar gak cinta, kasihan sama dokter Davi jika harus bersaing sama kakak. Secara Zahra emang Tipenya dokter Davi banget kalau di lihat-lihat kak" Sulut Nabil ingin sedikit memancing dokter Iqbal. " Bukanya tipe kakak juga seperti itu? "
Dokter Iqbal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Iya sih kakak akui itu, dia memang tipe wanita idamanku ataupun kaum kami para laki-laki. Tapi, hanya saja……” aku takut jika rasa cintaku padamu teralihkan padanya, karena entah mengapa hatiku menjadi berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Dan selalu hilang fokus saat wanita itu sedang berbicara.
“ Apa sih kak, gak usah pakai tapi-tapian deh. Pokoknya nanti aku siang hubungin Zahra untuk atur semuanya, kakak tinggal tunggu saja dia di sana oke?”
Dokter Iqbal terdiam, tak membalas iya atau pun tidak.
“ Fix. diam artinya setuju, ya udah aku mau masuk dulu. ”
...…...
Sejak kedatanganya subuh tadi, Bhintara belum bisa masuk kedalam ruangan yang di tempati salah satu wanitanya. Dia masih menunggu para dokter selesai menangani Aulia dengan kecemasan luar biasa.
Hingga pintu di depan nya kini sudah terbuka, menampilkan dua dokter wanita yang salah satunya adalah Aisyah sahabatnya.
Istri dari Ibrahim itu menghampiri Bhintara sembari melepaskan maskernya, yang langsung di sambut dengan tatapan penuh tanya laki-laki itu yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
“ Keadaanya sudah baik-baik saja, dia adalah wanita yang tangguh dan kuat yang pernah saya kenal. Jadi kamu tenang saja.”
Bhintara langsung mendongak, tersenyum tipis menampilkan kelegaan luar biasa.
“ Alhamdulilah kalau begitu. terus.... Bagaimana dengan kandungan nya?”
Maunya para reader bagaimana? mau di lanjut gak ceritanya.
Kalau mau?
Tinggalkan like, vote, and spam komen yang banyak biar aku bisa cepat upload part selanjut......
Kasihan😥 100 like aja sampai sekarang belum tembus.....
Tapi gak papa deh, demi kalian para reader.... apa sih yang enggak?
see u...........
__ADS_1
Terimakasih....
Please....... buat part selanjutnya 150 like di Bab ini bisa gak ya?