
Sholat subuh pertama yang di imami langsung oleh suami. Rasanya sungguh berbeda sekali, dua roka’at begitu cepat berlalu saat baca’an surat-suratan yang di lantunkan dengan indah mengalun merdu. Membuat Nabila kusyuk dalam menjalankan sholat nya.
“Anda mau di buatin sarapan apa pagi ini?” tanya Nabila sambil membereskan perlengkapan sholat.
Bhintara hanya diam, tak menjawab dan malah sibuk memperhatikan Nabila terus menerus, sampai ia jadi salah tingkah sendiri di pandangi seperti itu.
“Kenapa? Apa anda butuh sesuatu, biar nanti saya yang siapkan.”
“Hem” jawab Bhintar hanya berdehem.
Setelah selesai merapikan semua ke tempat semula Nabila menyelonjorkan kaki, enggan beranjak karena masih menunggu jawaban dari Bhintara.
“Jangan terus memandangiku seperti itu.” Kata Nabila menunduk malu.
Bukanya menjawab Bhintara justru malah merebahkan kepala nya di atas paha Nabila, menggunakan ke dua tangan untuk memeluk pinggang nya posesif.
“Gu..gu..gus.” panggil Nabila gugup.
Dia kaget nya bukan main, masih belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil yang di lakukan Bhintara. Ingin sekali menghindar, tapi tak bisa. Karena semakin ia berusaha melepaskan diri, maka semakin erat pula cengkraman di pinggang nya.
“Sebentar saja dek, Mas masih ngantuk.”
Lagi-lagi ucapan Bhintara kembali mengingatkanya pada seseorang di masa lalu, yang juga pernah memanggil nya dengan sebutan itu.
Kenapa suami nya itu selalu saja se’enak nya sendiri, mengubah panggilan dari aku-kamuan menjadi Mas dan Adek. Tanpa persetujuan dari nya.
Sekarang Nabila tahu, jika laki-laki di hadapan nya ini sangat agresif dan semaunya sendiri. Berbeda sekali dengan Ustadz Adam yang lebih kalem, selalu meminta izin terlebih dahulu kepada nya jika ingin melakukan sesuatu meski itu hal sepele sekalipun.
“Apa’an sih, dek ? memang nya saya adik anda ! “ tutur Nabila asal bicara, karena sudah di buat kesal dengan terus menahanya sejak tadi.
“Kenapa? Apa hanya Adam saja yang boleh memanggilmu seperti itu? “
Nabila terkesiap, sedikit terkejut dari mana Bhintara mengatahuinya? Padahal dulu waktu Nabila dan juga Ustadz Adam menjalin hubungan, Gus Bhintar sedang ada di luar negeri. Jadi mana mungkin laki-laki itu bisa tahu.
Dia penasaran sekali ingin menanyakanya, tapi tidak jadi karena gerakan yang dilakukan sang suami secara tiba-tiba membuat nya menegang menahan napas.
“Gus, tolong jangan seperti ini. geli ih.”
Nabila menunduk, ingin sekali melihat wajah Bhintara. Tapi tak ia temukan karena laki-laki itu malah menenggelamkan muka di perut nya, mencari kenyaman di sana.
“Jadi begini juga tidak boleh?” ucap nya jengah.
Nabila menggeleng, sebenar nya bukan begitu maksud nya tadi. Dia hanya asal ceplos saja karena rasa jengkel yang di sebabkan suaminya.
“Gus, aku…..tadi sebenar nya..bukan…” kata Nabila terhenti.
Seperti tak ingin mendengarkan penjelasan Nabila Bhintara langsung bangun dari pangkuanya, lalu berjalan ke arah tempat tidur dan berbaring kembali di sana.
Sedangkan Nabila hanya bisa bungkam sembari memperhatikan raut muka suaminya yang kelihatan sangat kecewa sekali kepadanya.
__ADS_1
Jadi dia marah apa cemburu?
“ Masaklah sesuka anda. Karena saya akan memakan apa saja yang telah di siapkan oleh istri saya.” Ucap nya formal seperti Nabila. Lalu memejamkan mata, kemudian meringkuk ke samping seperti menghindar dari tatapan istri nya.
Setelah mendengar nada suara suaminya yang sinis, Nabila semakin yakin jika laki-laki itu sedang merajuk.
Dia merasa bersalah sekali karena sudah membuat Bhintara kecewa di hari pertama mereka menjadi pasangan suami istri.
Karena, se_tidak cinta nya dia pada Bhintara ia masih ingin menghormati sang suami. Sebab dia lah yang akan di jadikan tempat Nabila mencari ladang pahala untuk bekal di akhirat nanti.
“Gus, dengarkan penjelasan aku dulu. Sebenar nya..”
“ Pergilah Nabila, dan segera bawakan sarapan. Karena saya sudah lapar.”
Mata Nabila sudah berkaca-kaca igin menangis, entah mengapa baru di abaikan sedikit saja oleh Bhintara sudah membuat hati nya sakit. Apa lagi nanti kalau suami nya itu tak kunjung jatuh cinta pada nya, apa dia akan kembali di tinggalkan lagi terus menjadi janda? jika sampai itu terjadi pasti rasanya akan lebih hancur lagi.
Enggak ! Nabila gak mau itu terjadi. Dia sudah bertekat dalam diri bahwa tak akan pernah menyerah untuk membuat sang suami mencintai nya. Mereka harus sama-sama berjuang, bukan hanya Bhintara saja yang akan berusaha, tapi Nabila juga akan melakukan hal yang sama.
Perasaan bersalah dan tak enak hati menyerang Nabila dengan sangat brutal, mendadak rasa kasihan saat melihat punggung suami nya muncul begitu saja.
Bhintara seorang diri di sini, tak ada sanak saudara ataupun keluarga yang menemani nya kali ini. Terus apakah pantas jika Nabila yang selaku tuan rumah juga istri, balas mengacuhkan beliau? tidak! Nabila tak setega itu.
Perlahan namun pasti Nabila mulai mendekati sang suami, duduk di pinggiran ranjang kemudian memberanikan diri mengusap kepalanya lembut.
“Mmmmaass.” Panggil Nabila ragu.
Tanpa menunggu lama tak di sangka Bhintara malah langsung mengambil tangan Nabila yang berada di kepala, lalu mengecup nya dengan sayang berulang kali.
“ Aku hanya ingin membangun ke dekatan dengan istriku sendiri, apa itu salah ?” katanya secara tiba-tiba.
“Gu..mmas.., aku…”
“Kepalaku pusing setiap mendengar kamu terus saja bersikap formal ke padaku, padahal aku ini sudah sah menjadi suami mu. Segala tindak laku mu sudah menjadi tanggunganku yang nanti nya akan di mintai pertanggung jawabanya sama Allah.” Sela Bhintar, tak mengizinkan Nabila menyelesaikan ucapanya barang sebentar pun.
Nabila menunduk, akhir nya kini air mata yang sejak tadi di tahan luruh juga. Perasaan bersalah kini bertambah, tak tahu harus menjawab pertanyaan suami nya dengan bagaimana.
“Maaf.” hanya satu kata itu yang dapat Nabila katakan.
Bhintara menghembuskan napas nya kasar "Apa dek Nabila tahu, jika hubungan kita tak segera di bentuk itu akan membahayakan pernikahan ini? " kata Bhintar dengan suara sedikit tinggi.
Nabila semakin menunduk, masih takut mendongakkan kepalanya " I..i.. iya. Aku tahu, maafkan aku. " lirih nya sesenggukan.
Tidak tega melihat sang istri menangis, Bhintara langsung bangun dari rebahan menjadi duduk. Kemudian menyentuh dagu Nabila agar mendongak melihat ke mata nya langsung.
“Nabi, dengarkan aku.” tekan Bhintara serius.
Nabila pun mendongak, langsung menemukan iris mata Bhintara sedang memperhatikanya dengan tajam.
“Aku benar-benar serius dengan ucapanku minggu lalu, yang akan berusaha untuk membuka hati dan mencintaimu. Bukanya kamu sudah setuju untuk memberikan aku kesempatan itu? ”
__ADS_1
Nabila mengangguk “ I..i..iya.”
Mendengar jawaban sang istri, senyum Bhintara pun terbit. kemudian ikut mengusap pipi Nabila hati-hati sekali.
“Kalau begitu maukah kamu ikut membantu dengan menyetujui permintaan yang satu itu? Aku hanya ingin mendengar istriku memanggil suaminya dengan sebutan mas dan sebaliknya memanggilmu Dek, apakah hal sepele itu sangat memberatkanmu ? “
“Iya Mas.”
Kali ini Nabila hanya mengangguk pasrah, menurut saja dengan apa mau Bhintara. Tak akan menolak lagi apapun yang di ucapkan laki-laki tersebut.
Sebenar nya sedari tadi
Nabila ingin sekali menanyakan pada Bhintara dari mana laki-laki itu tahu jika Ustadz Adam dahulu memanggil nya dengan sebutan Dek, tapi..tak jadi.
Takut, jika dia akan kembali membangunkan emosi Bhintara lagi. sebab ternyata marah nya sang suami menakutkan juga.
Tak apa lah nanti saja jika situasinya sudah agak enakan. Pikir Nabila dalam hati.
“Nabila.”
“Iya mas ”
Bhintara mengarahkan tanganya ke kepala Nabila yang masih saja terbungkus khimar dengan sangat rapi.
“ Apakah aku boleh melihat ini ? ” usap tangan Bhintara menggoda “ Aku penasaran sekali bagaimana rupa bidadariku jika tidak memakai ini ” lalu tanganya merambat sedikit menyentuh ujung hijab Nabila. ” Apakah masih terlihat cantik atau justru malah semakin cantik “ tutur nya merayu.
Di goda seperti itu oleh sang suami bulu kuduk Nabila langsung berdiri, suhu tubuh nya merasakan panas dingin hampir membuat nya terlena.
Kalau boleh jujur, Nabila masih belum siap memperlihatkan sedikit aurat nya di hadapan laki-laki itu.
Tapi mau sampai kapan? Toh cepat atau lambat itu akan terjadi juga kan? Bhintara adalah suami nya yang sebenar nya sudah berhak jika ingin melihat mahkota Nabila.
Tapi…kenapa hati nya masih ragu, seperti ada sesuatu yang mengganjal di fikiranya.
Dia masih butuh waktu untuk menyelami hati suaminya lebih dalam lagi, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang sudah tersusun rapi, akan ia tanyakan nanti.
Dan rencananya setelah ia sudah yakin jika laki-laki itu tak menyembunyikan rahasia lagi. Dia akan menyerahkan segala nya pada sang suami tanpa terkecuali.
Jadi...Jika Nabila kembali menolak permintaan suaminya itu, apakah tidak apa-apa? atau dia akan semakin tersinggung dan lebih marah lagi denganya?
Allahu Akbar……….ya sudah lah, bismillah saja.
Nabila mengangguk menyetujui, mulai meraih tali bergo yang dia pakai namun terhenti saat ketukan pintu di kamar nya menarik atensi ke dua nya.
Tok... tok... tok...
Huft….”Alhamdulilah” syukur nya dalam hati.
“Maaf mas, aku bukain dulu pintu nya.”
__ADS_1
Mbak, mbak. Bisa bantu kasih komen, like dan vote nya dulu sebelum lanjut ke bab selanjut nya?
Terimaksih.